Halo!

Istana Hantu - Chapter 170

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 170

"Pantas, kau bilang apa saja padanya, Enci? Kenapa dia tertawa-tawa?"

"Aku menyuruhnya menjitakmu, tapi Tek-ciangkun tak mau. Hayo, jangan main-main lagi, Beng An. Tidak kau lihat tadi bahwa perwira itu tersinggung!"

"Tersinggung? Apa yang kulakukan?"

"Bodoh! Kau kira dia tidak tersinggung kau suruh datang lalu kau suruh kembali lagi? Dan kau tertawa-tawa padanya tanpa sebab. Tentu saja dia marah dan tersinggung karena merasa kau permainkan!"

"Ooh, aku tak tahu!"

"Dan aku ganti menerangkan padanya bahwa kau tak bermaksud mempermainkannya. Bahwa kau mendengarkan Coanbitku, baru perwira itu sadar. Kalau tidak, tentu dia tak senang padamu, Beng An. Dia bisa marah dan mungkin melapor pada Kim-taijin bahwa kita kurang ajar!"

"Ah, maaf, Enci. Aku memang tak tahu!"

"Sudahlah, kita masuk dan beristirahat, menunggu Ayah!"

Beng An tak berani membantah lagi. Setelah encinya menegur, dia merasa tidak enak kepada Tek-ciangkun. Untunglah perwira itu tidak marah dan encinya sudah memberi penjelasan. Ketika mereka masuk ke gedung yang disediakan, beberapa pelayan sudah menyambut mereka. Beng An menyeringai melihat minuman, makanan kecil, dan buah-buahan segar seperti apel atau jeruk yang tersaji di atas meja. Warnanya memikat dan baunya harum.

Para pelayan membungkuk dan mempersilakan mereka menikmati hidangan. Namun, ketika Soat Eng menyuruh mereka pergi dan berterima kasih karena tidak ingin diganggu, adiknya justru tertawa dan menyambar buah-buahan di atas meja.

"Hei, kami ada perlu. Tunggu dulu!" Para pelayan berbalik, sementara Soat Eng mengerutkan kening.

"Kongcu ada perintah apa?"

"Ada yang kurang!" Bocah ini langsung bicara, persis seperti pelayannya sendiri di rumah. "Aku minta daging segar lima kilo!"

"Beng An!" Encinya membentak. "Ada apa lagi? Kau mau menggoda pelayan?"

"Tidak, tidak!" Anak ini cepat menggoyang lengan, menunjuk Bi-houw dan anaknya yang mendekam di sudut. "Aku minta untuk mereka itu, Enci. Jangan marah. Bi-houw dan Siauw-houw juga perlu makan!"

Soat Eng sadar. Ia mengangguk dan para pelayan yang tadi heran segera tersenyum karena mereka tidak memperhatikan dua binatang buas itu. Beng An sengaja menaruh mereka di sudut agar para pelayan tidak ketakutan. Begitu pelayan pergi ke belakang, tak lama kemudian dua harimau itu mendapatkan makanan mereka. Sambil menjilat dengan lahap, Beng An menyambar buah-buahan di meja.

Soat Eng membisiki adiknya agar makan dengan sopan dan tidak rakus. Namun, Beng An tidak peduli. "Di tempat kita buah-buahan begini jarang. Kalau sekarang di sini ada banyak, kenapa tidak dimakan? Ayo, kau pun sebuah, Enci. Lihat apel ini begitu segar dan manis!"

"Hush!" Encinya menerima buah itu. "Jangan keras-keras bicara, Beng An. Dan jangan berkesan rakus!"

Anak ini tidak menghiraukan. Dia tetap tertawa dan makan dengan lahap hingga kenyang setelah menghabiskan tiga buah apel dan jeruk besar. Ia mengusap mulutnya, lalu Soat Eng ikut duduk dan membersihkan mulutnya pula. Ketika Beng An bertanya berapa lama mereka harus menunggu, encinya menjawab, "Aku tak tahu, tapi biarlah. Bukankah Ayah dan Ibu ada di sini? Kalau keperluan mereka sudah selesai, tentu mereka datang juga. Untuk apa kau bertanya ini?"

"Hm," anak itu menyeringai. "Aku ingin jalan-jalan, Enci. Mengagumi dan menikmati istana ini!"

"Keluyuran?"

"Bersama kau!" Beng An tertawa. "Aku tak berani sendirian kalau kau di sini, Enci. Tentu kau menjewer telingaku kalau nakal. Ayolah, daripada menunggu, kita jalan-jalan saja. Bukankah kau juga belum pernah ke sini?"

"Hm, Ayah membawaku dua kali ketika aku masih kecil. Bukan belum pernah sama sekali!"

"Ah, itu dulu!" Anak ini tertawa. "Dulu dan sekarang jelas berbeda, Enci. Sekarang tentu sudah semakin cantik dan memikat lagi. Ayolah, daripada duduk-duduk di sini, lebih baik kita melemaskan kaki dan jalan-jalan!"

"Bersama Bi-houw?"

"Tentu saja. Masa kita meninggalkannya di sini? Ayolah, Enci, kau antar aku!"

Soat Eng mengangguk. Dia harus menuruti permintaan adiknya, karena jika Beng An sudah merengek, anak itu tidak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi. Salah-salah, Beng An malah akan keluyuran sendirian. Setelah Soat Eng setuju, Beng An girang bukan main.

"Ha-ha, terima kasih, Enci. Mari Bi-houw, Enci memang baik sekali!"

Beng An keluar bersama dua harimaunya. Tek-ciangkun yang melihat mereka tertegun. "Ji-wi (kalian berdua) ada perlu?"

"Tidak," Soat Eng tertawa. "Kami hendak berjalan-jalan saja, Ciangkun, menikmati istana. Adikku mengaguminya."

"Ah, perlu kuantar?"

"Tidak, tak usah. Biarlah kami sendiri!"

Beng An berlompatan ke sana kemari menunjuk bangunan-bangunan yang menarik hatinya, sementara Soat Eng mengagumi taman bunga yang indah. Mereka terlibat dalam keasyikan masing-masing hingga Soat Eng lupa mengawasi adiknya. Beng An yang tidak sabar berjalan kaki segera menunggangi harimaunya. Ia tampak gagah di punggung harimau, sementara Siauw-houw mengikuti di belakang induknya.

Sambil menunggangi harimau, Beng An berkeliling hingga tanpa sadar memasuki wilayah kaputren. Wilayah yang terletak di sudut barat istana ini jauh dari tempat tinggal para pangeran. Karena tempatnya terpencil, para pengawal di sana terkejut saat melihat Beng An datang bersama dua harimaunya.

"Hei, siapa kau!" bentak empat orang penjaga yang muncul tiba-tiba. Mereka bertugas melindungi tempat tinggal para putri dan merasa terganggu dengan kehadiran bocah yang menunggang harimau itu.

Beng An berhenti dan tersenyum, menepuk-nepuk punggung harimaunya. Naluri binatang itu merasakan adanya musuh, sehingga mereka menggeram.

"Siapa kau dan mau apa berkeliaran di sini, bocah? Tidak tahukah bahwa ini terlarang bagi orang luar? Hayo kembali, atau kuhajar kau nanti bersama harimaumu ini!"

Beng An semula tidak berniat mencari keributan. Dia bermaksud menjelaskan bahwa dia adalah putra dari Kim-mou-eng, yang namanya sudah dikenal banyak orang. Namun, mendengar kata-kata kasar dan ancaman untuk dihajar, kemarahan anak itu tersulut. Matanya membelalak tajam.

"Apa? Kau mau menghajar aku? Kau berani bicara seperti itu? Eh, jaga mulutmu, penjaga lancang. Minta maaf atau kalianlah yang kuhajar!"

Empat penjaga itu terkejut dan marah karena merasa dihina oleh seorang bocah. Pemimpin penjaga mendengus, "Anak setan, rupanya kau tidak diajari sopan santun oleh orang tuamu. Kau berani karena merasa dilindungi kucing-kucing hutan ini? Turun, dan lihat kami akan melempar mayatmu kepada orang tuamu!"

"Wut!" Beng An tidak dapat menahan amarah lagi. "Kau semakin kurang ajar dan membawa-bawa nama orang tuaku, penjaga busuk. Coba kau hajar aku!"

Beng An melompat dari punggung harimaunya dan menyerang penjaga pertama dengan pukulan *Tiat-lui-kang*. Bersamaan dengan itu, Bi-houw menerjang tiga penjaga lainnya. Suasana menjadi gaduh saat para penjaga itu mengeluarkan senjata mereka dengan kemarahan yang meluap-luap.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment