Chapter 171
"Plak-bret-dess!" Empat penjaga itu mengeluarkan teriakan keras.
Penjaga pertama sudah terpelanting dan terlempar ketika ditampar Beng An. Dia tidak kuat menerima *Tiat-lui-kang* dan terguling-guling.
Tiga temannya mencoba menangkis dan menusuk Bi-houw, tetapi serangan tombak mereka luput. Kuku harimau itu telah merobek kulit mereka. Bi-houw kemudian menubruk dan menyerang lagi. Harimau ini membuka mulutnya dan penjaga terdekat menjerit karena kepalanya siap dicaplok. Bi-houw menunjukkan sifat buasnya karena Beng An tidak mengawasinya.
Namun, ketika Beng An membentak dan menyambar harimaunya, dia melihat bahaya pada penjaga yang diserang. Penjaga itu bergulingan, menyelamatkan diri, lalu meloncat bangun.
"Kau jangan membantu. Duduk diam dan mendekam di sana!"
Bi-houw terkejut. Bentakan dan cengkeraman Beng An menyadarkannya bahwa ia tidak boleh sembarangan; anak laki-laki itu akan marah jika ia tidak tunduk. Maka, ketika harimau itu menggeram dan menjauh, duduk, dan mendekam seperti perintah Beng An, Siauw-houw—harimau kecil yang tadi juga hendak bergerak menyerang—mengeluarkan suara lirih di samping induknya dan ikut duduk.
"Nah," Beng An menghadapi lawan-lawannya lagi. "Kalian boleh maju dan main-main lagi denganku, Pengawal. Atau kalian minta maaf dan berlutut di depan kakiku untuk mencabut hinaan tadi!"
Empat penjaga itu pucat. Mereka telah melihat dan merasakan kepandaian Beng An, terutama laki-laki pertama. Karena tadi anak itu dibantu harimaunya, mereka menjadi marah. Komandan jaga itu bergerak lagi dan golok yang tadinya belum sempat dicabut kini telah dikelebatkan di depan mukanya.
"Bocah busuk, kami tidak takut padamu ataupun harimaumu. Kalau kau menyuruh kami berlutut dan minta maaf, justru kami yang mengharapkan itu darimu. Mampuslah, dan lihat siapa yang akan roboh!"
Laki-laki itu berteriak pada tiga temannya untuk maju membantu. Mereka menerjang dan mengeroyok Beng An, menganggap anak ini memang patut dihajar, bahkan dibunuh. Namun, ketika empat senjata berkelebatan menyerang, Beng An berseru keras dan tiba-tiba lenyap karena ia telah menghindar dengan ilmu meringankan tubuhnya.
"Plak-plak-plak!" Empat penjaga itu berteriak kaget. Mereka menjerit karena tiba-tiba wajah mereka sudah digaplok anak laki-laki itu. Senjata mereka luput menyambar angin, sementara anak itu dengan sebat dan luar biasa balik menyerang.
Ketika semua terkejut dan Beng An tertawa mengejek, empat penjaga yang terhuyung itu membentak marah dan menyerang lagi. Beng An memang ingin menghajar mereka terlebih dahulu sebelum merobohkannya. Saat empat senjata kembali berkelebatan dengan serangan golok yang kejam, anak ini mempercepat gerakannya. Semakin cepat mereka menyerang, semakin cepat pula anak itu bergerak, menghindar, dan melancarkan serangan.
Beng An menampar atau menendang hingga lawan semakin kalap. Anak itu pun mulai marah karena lawan tidak tahu diri, beringas, dan tidak mau berhenti saat diperingatkan. Ketika Beng An mengeluarkan teriakan panjang dan mempercepat gerakannya, ia seolah lenyap. Para penjaga itu pusing karena Beng An kini tampak seperti bayangan yang tidak dapat diikuti mata. Tiga sampai empat kali mereka berbenturan dengan teman sendiri, dan akhirnya satu per satu roboh ketika Beng An menampar wajah mereka. Mereka mengaduh sambil mendekap mulut yang pecah berdarah. Senjata mereka terlepas entah ke mana.
Saat anak itu menghentikan gerakannya dan berdiri bertolak pinggang sambil tertawa, empat penjaga itu terkejut. Mereka sadar bahwa anak yang dihadapi bukan bocah sembarangan.
"Nah," tanya Beng An. "Kalian masih tidak mau minta maaf dan berlutut secara baik-baik? Kalian ingin aku mematahkan kaki kalian agar bisa berlutut di depanku?"
"Ampun...." Penjaga itu serentak bicara. "Kami tahu diri, *siauw-hiap* (pendekar cilik). Kami minta maaf. Tapi beritahukanlah siapa dirimu dan bagaimana kau ada di sini!"
Sebelum Beng An bicara, tiba-tiba berkelebat bayangan Tek-ciangkun dan Soat Eng. Gadis itu terkejut saat adiknya tidak kelihatan. Ketika ia teringat Tek-ciangkun dan meminta bantuan perwira itu untuk mencari Beng An, mereka mendapati Beng An baru saja menghajar empat lawannya.
"Hei!" Soat Eng terkejut. "Apa yang kau lakukan, Beng An? Kau memukul penjaga?"
"Dan kalian mengganggu putra Kim-taihiap!" Tek-ciangkun membentak empat penjaga itu, memotong perkataan Soat Eng. "Apa yang kalian lakukan? Kalian tidak tahu bahwa ini adalah putra Kim-mou-eng si Pendekar Rambut Emas? Kalian tidak menghormati tamu? Hayo berlutut, minta maaf!"
Tek-ciangkun menendangi empat penjaga yang terperangah itu hingga mencelat. Mereka terguling-guling, lalu meloncat bangun dengan gemetar dan ketakutan melihat Tek-ciangkun.
"Ampun, *ciangkun*. Kami salah!" Mereka cepat berlutut dan membenturkan jidat di depan Beng An. "Siauw-hiap, ampun, maaf. Kami tidak tahu bahwa kau adalah tamu..."
"Dan kami tidak tahu bahwa kau adalah putra Pendekar Rambut Emas!" tambah yang lain menggigil. "Kalau saja kami tahu, tentu kami tidak akan mengganggumu. Tapi ketahuilah bahwa kaputren ini bukan tempat yang boleh dimasuki sembarang orang!"
"Hm!" Tek-ciangkun segera maklum. "Kim-kongcu hendak memasuki kaputren?"
"Benar," jawab penjaga itu membela diri. "Kami mencegah, tapi Kim-siauwhiap memaksa. Karena kami harus melaksanakan tugas, maka kami bentrok!"
"Bukan itu yang membuat kita berkelahi!" Beng An tiba-tiba marah. "Kalian menghina ayah dan ibuku, Penjaga. Kalau tidak lancang dan bicara seperti itu, tentu aku akan baik-baik kepada kalian!"
"Ah, ampun. Kami memang salah!" Kepala jaga kembali membenturkan jidatnya karena mata Tek-ciangkun tampak berkilat. Perwira itu tadinya hendak meringankan kesalahan anak buahnya, namun kemarahannya bangkit lagi setelah mendengar alasan tersebut.
Beng An menceritakan asal mulanya, dan wajah perwira itu memerah. Ketika Tek-ciangkun menghardik dan menendang, empat orang itu kembali terlempar. Kaki mereka patah akibat tendangan perwira itu. Mereka disuruh pergi dan penjaga baru segera dipanggil sebagai pengganti.
Perwira itu segera menghadap Soat Eng dan adiknya, lalu meminta maaf atas kekurangajaran anak buahnya. Soat Eng merasa tidak enak karena adiknya juga bersalah karena keluyuran di tempat terlarang, sehingga ia meminta Tek-ciangkun memaafkan Beng An.
"Sudahlah, Kim-kongcu tidak tahu. Sebaiknya kalian berdua kuantar jalan-jalan atau kembali saja ke tempat istirahat!"
"Hm, kami akan kembali saja, *ciangkun*. Mungkin ayah dan ibu sudah menunggu di sana. Baiklah, terima kasih!" Soat Eng berkelebat menyambar adiknya, lalu kembali sambil mengomeli Beng An.
"Aku tidak bersalah," Beng An membela diri. "Aku tidak tahu bahwa tempat itu terlarang, Enci. Aku tidak tahu bahwa itu kaputren. Sebenarnya aku mau kembali kalau saja mereka bicara baik-baik. Tapi karena mereka membawa-bawa nama ayah dan ibu serta bersikap kasar, maka aku menantang dan memang ingin menghajar mereka!"
"Hm, mereka memang salah. Tapi benar atau tidak, kita harus tahu bahwa kita adalah tamu. Sudahlah, lain kali jangan keluyuran sendirian, Beng An. Kau harus tunduk padaku atau nanti aku yang kena marah Ayah atau Ibu! Kau mau dengar?"
"Ya, aku mau dengar."
Karena Beng An tahu kemarahan encinya, ia menahan diri. Bi-houw dan Siauw-houw berlari di belakang mengikuti mereka. Tidak lama kemudian, mereka tiba di gedung peristirahatan yang cukup besar. Ayah dan ibu ternyata sudah menunggu, dan Kim-mou-eng bertanya dari mana putrinya itu. Beng An diam-diam berbisik agar encinya tidak melaporkan kejadian tadi karena takut ayahnya akan marah. Soat Eng mengangguk dan berkata bahwa mereka hanya berjalan-jalan mengelilingi istana. Ketika gadis itu berkata bahwa Beng An ingin melihat-lihat, sang ayah berpesan agar mereka tidak pergi ke mana-mana lagi.