Chapter 18
Siang Le tertegun. Yang muncul di hadapannya adalah seorang gadis cantik yang usianya belum genap sembilan belas tahun. Seketika itu pula Siang Le ternganga. Namun, ketika gurunya tertawa terbahak-bahak dan Siang Le tersadar, See-ong berseru dengan mata berbinar, "Ha-ha, kau siapa, kuntilanak kecil? Bagaimana bisa kau ada di sini dan bersembunyi seperti maling?"
"Tutup mulutmu! Aku bukan pengecut atau maling, See-ong. Aku tiba di sini lebih dulu daripada kalian. Aku Soat Eng, Kim Soat Eng!"
See-ong tertegun. "Lebih dulu? Jadi kau ada di sini sebelum kami?"
"Benar, dan aku tidak takut padamu, See-ong. Meskipun kau memiliki Hek-kwi-sut, aku tidak gentar!"
"Ha-ha, bocah yang gagah!" Kakek itu tertawa terbahak-bahak. "Jadi kau telah melihat semua perbuatan kami, bocah? Kau melihat Hek-kwi-sut-ku yang luar biasa?"
"Cih, luar biasa apanya, kakek siluman. Itu ilmu iblis dan aku jijik. Hek-kwi-sut-mu hanya hebat bagi siluman atau hantu di istana ini!"
"Ha-ha, lihai. Mulutmu pandai bicara dan keberanianmu kuacungi jempol. Eh, apa maksudmu berada di sini, bocah? Dan siapa namamu tadi?"
"Aku Soat Eng, Kim Soat Eng. Dan maksud kedatanganku tidak usah kau tahu!"
"Hm, bocah yang pemberani, tapi kurang ajar!" Kakek itu mendongkol. "Eh, kau tangkap anak ini, Siang Le. Bekuk dan lipat mukanya agar dia mengaku!"
Tapi Siang Le yang tertegun tidak segera melaksanakan perintah gurunya. Ia hanya bengong memandangi gadis itu, putri Pendekar Rambut Emas. Entah mengapa, melihat keberadaan gadis ini di Istana Hantu, tiba-tiba Siang Le kagum. Ia takjub akan keberanian gadis itu, juga kecantikannya yang mempesona. Apalagi setelah bibir yang manis itu bergerak-gerak, memaki dan mendebat gurunya. Ketika ia masih bengong dan perintah gurunya seolah tak terdengar, tiba-tiba gurunya membentak dan ia terkejut.
"Hei, tangkap dia, Siang Le. Bekuk dan lipat mukanya!"
"Hm!" Soat Eng mendengus, tidak terlihat gentar sama sekali. "Aku yang akan membekuk dan melipat kalian, See-ong. Jangan suruh muridmu maju karena sebaiknya kalian maju berdua!"
Namun, sebelum kakek itu memaki atau membentak gusar, tiba-tiba Thai Liong, yang tak mungkin membiarkan adiknya sendiri, berkelebat dan berjungkir balik meluncur turun. "See-ong, masih ada aku di sini!"
Dua orang itu terbelalak. Tiba-tiba munculnya Thai Liong membuat mereka curiga. Jangan-jangan ada orang ketiga atau keempat di situ. Kakek itu marah. Ketika Thai Liong berjungkir balik dan melayang turun di depan kakek itu, See-ong membentak namun juga tertegun melihat rambut Thai Liong yang keemasan.
"Heh, kau siapa lagi, anak muda? Berapa orang kalian bersembunyi di sini?"
"Aku Thai Liong," Thai Liong menjawab, mengebutkan bajunya. "Kami hanya berdua, See-ong. Dia adikku dan aku kakaknya."
"Hm!" Mata kakek itu kini menatap tajam. "Rambutmu..." katanya. "Apa hubunganmu dengan...."
"Benar," Thai Liong sudah mendahului, memotong pertanyaan lawan. "Aku puteranya, See-ong. Kami berdua adalah putra-putri Pendekar Rambut Emas!"
"Ooh!" Dan Siang Le, yang kini mundur dengan mata terkejut, tiba-tiba kagum dan memuji pemuda itu, mendahului gurunya. "Kau kiranya putra Pendekar Rambut Emas, sobat? Ah, sudah lama aku mengagumi ayahmu, tak tahunya aku sudah berhadapan dengan puteranya!"
"Benar," Thai Liong tersenyum, merasa suka dengan pemuda ini. "Dan kau bernama Siang Le, bukan? Dan aku kagum akan watakmu, sobat. Kau agaknya tak sama dengan gurumu ini."
"Keparat!" See-ong membentak. "Pendekar Rambut Emas adalah musuh kita, Siang Le. Tak usah memuji atau memberi hati!"
"Kami tak usah dipuji!" Soat Eng membentak. "Kami bukan orang yang gila pujian, See-ong. Kalau kau mau menangkapku, cobalah, hayo maju!"
Siang Le tertegun. "Nanti dulu!" katanya. "Tunggu, suhu. Jangan menyerang dan biarkan aku bicara!"
Menghadapi gadis itu dengan gugup, pemuda ini bertanya, "Kim-siocia (nona Kim), apakah maksud kedatanganmu ke sini? Apakah masalah harta karun?"
"Cih!" Soat Eng melempar tangannya. "Tanpa harta karun, di sini orang tua kami tak pernah kelaparan, Siang Le. Kalau kau mengira itu, maka kau menghina kami!"
"Tidak, bukan menghina. Maksudku, eh...!" Siang Le gugup, tak tahan beradu pandang dengan mata yang bening indah itu, yang marah-marah kepadanya. "Maksudku, eh... begini, Kim-siocia. Kalau benar itu, biarlah harta karun kita bagi dua. Kau dan kakakmu sebagian, sedang aku dan guruku sebagian...."
"Wut!" Gurunya berkelebat, memotong pembicaraan itu. "Daripada banyak omong, lebih baik tangkap gadis ini, Siang Le. Hayo bekuk satunya dan jangan cerewet lagi!"
Namun, Soat Eng yang mengelak mundur dan membentak kakek itu, tiba-tiba diserang lagi. Ditampari, dan jari-jari See-ong memanjang seperti karet. Kelima jari kakek ini mulur, membuat Soat Eng terkejut, namun Thai Liong meloncat maju.
Ketika adiknya mengelak dan kakek itu masih menyambar dengan pukulannya, Thai Liong menggerakkan lengan menangkis. "Dukk!" Keduanya terpental. See-ong berseru keras dipental lawannya, Thai Liong terhuyung mundur, dan kakek itu melotot.
Ketika See-ong membentak dan Thai Liong menggantikan adiknya, kakek ini melengking dan menerjanglah pukulannya yang dahsyat. Anginnya berkesiur, dan Thai Liong menghindar. Namun, ketika tangan kakek itu tetap mengejar dan tak dapat dijauhi lagi, Thai Liong menggerakkan kedua lengannya, dan bertemulah empat tangan di udara. "Duk-dukk!"
See-ong terbeliak. Dua pukulannya tergetar, dan tubuhnya pun terhuyung, sama seperti tadi. Maka, memekik dan membentak lawannya, tiba-tiba kakek itu berkelebat dan keluarlah pukulan-pukulan sinkangnya, menderu dan bersiut, dan Thai Liong dipaksa berloncatan. Gerakan kakek itu kian cepat, dan terpaksa Thai Liong mempercepat pula gerakannya.
Ketika pukulan demi pukulan menyambar dari segala penjuru, dan See-ong tampaknya semakin beringas, Thai Liong membalas. Sambar-menyambarlah kedua orang itu, sama-sama tak mau mengalah. Siang Le kagum. Sekarang ia melihat seorang pemuda menghadapi gurunya, tangguh dan mampu menahan pukulan-pukulan berat. Lantai ruangan itu pun tergetar. Hebat getarannya karena mereka pun mulai terhuyung. Berkali-kali Siang Le berseru kaget karena getaran pukulan dua orang itu kian keras saja.
Ketika gurunya menyerang terus sementara ia terbelalak menonton, gurunya itu memakinya sambil bertanding. "Iblis! Kau jangan menonton saja, Siang Le. Tangkap dan bekuk siluman betina itu!"
"Hm," Siang Le terkejut. "Maaf, suhu. Apakah aku..."
"Aku-aku apa? Kau mau banyak cecowetan seperti monyet? Tangkap dan robohkan gadis itu, Siang Le. Atau aku akan menghantammu dan menendangmu dari sini!"
Terpaksa, karena gurunya marah-marah dan ia dibentak berulang-ulang, Siang Le menghadapi Soat Eng. Ragu, namun gadis itu mencibir. Lawan mengejeknya agar maju, gadis itu menantang, dan pemuda ini panas telinganya. Ketika Soat Eng bersiap dan menyuruhnya maju, apa boleh buat pemuda ini menyerang, perlahan dan agak bimbang karena mata gadis itu membetotnya. Siang Le tergetar oleh wajah dan kecantikan lawan. Tapi ketika Soat Eng mengelak dan sebuah tendangan mengenai pinggangnya, pemuda itu terlempar dan terkejut.
"Nah," lawan mengejeknya tertawa. "Tak perlu ragu, orang she Siang. Setiap pukulanmu pun aku dapat menahan. Hayo, seranglah!"
Pemuda itu memerah. Setelah sebuah tendangan diterimanya, ia pun tak ragu lagi. Maklum, sebagai putri Pendekar Rambut Emas yang terkenal, tentu gadis itu lihai, seperti kakaknya. Maka, membentak dan berkelebat maju, akhirnya Siang Le menampar. Namun, lawan menerima, tidak lagi berkelit, dan untuk pertama kalinya lengan mereka beradu.
Begitu ia terpental dan kaget berseru keras, belum apa-apa pemuda ini sudah terpelanting!
"Keparat, kerahkan segenap kepandaianmu, Siang Le. Putri Pendekar Rambut Emas itu tak perlu disungkani!"
"Hi hik." Soat Eng tertawa, mengejek See-ong. "Tak perlu berteriak-teriak memarahi muridmu, See-ong. Kalau dia memang punya kepandaian, biarlah dia maju!"
"Tentu!" Kakek itu membentak. "Muridku akan merobohkanmu, siluman betina. Dan kau akan dibekuk dan dilipatnya!"
Lalu, membentak muridnya agar bersungguh-sungguh, kakek itu sudah bertanding lagi melawan Thai Liong. Tadi melihat muridnya terpelanting, dan tentu saja kakek itu marah. Siang Le masih tergetar oleh wajah cantik lawannya, dan kakek ini mendelik.
Ketika Siang Le mengangguk dan meyakini bahwa lawan benar-benar bukan sembarangan, membentaklah pemuda itu menyerang lebih sungguh-sungguh, tenaga ditambah, dan Soat Eng mengelak. Namun, ketika kelima jari pemuda itu mulur dan memanjang, ke mana pun ia menghindar, ke situ pula lawan memburu. "Dukk!"
Pertama kali mereka sama tergetar. Soat Eng terdorong dua tindak, sementara lawan juga dua langkah. Siang Le telah mengerahkan enam bagian tenaganya, tidak terpelanting lagi, dan terbelalaklah lawannya.
Ketika Siang Le juga kagum karena lawan dapat menggetarkan tubuhnya, Soat Eng justru membentak menyerang dirinya. Berkelebat dan menampar, dan terjadilah pertandingan cepat di situ. Gadis ini mengeluarkan Lui-kong-ciang (Pukulan Petir), namun lawan dapat menahan. Dua kali pukulannya hanya membuat lawan tergetar, sementara lengan karet pemuda itu menyelinap dan hampir mencengkeram pundaknya.
Ketika Soat Eng melengking marah, sementara lawan juga berseru keras, mereka sudah sambar-menyambar seperti See-ong dan Thai Liong. "Duk-dukk!"
Siang Le kagum. Setelah sekarang Soat Eng berkelebatan dan melakukan tamparan-tamparan cepat, meluncurlah sinar merah dari lengan gadis itu, kian lama kian cepat dan juga panas. Hawa panas ini terasa membakar kulit, dan pemuda itu mengerahkan sinkangnya, melindungi tubuh. Soat Eng penasaran. Lui-kong-ciang meledak-ledak, sementara di sana kakaknya juga bertanding hebat dengan See-ong, kakek tinggi besar itu.