Halo!

Istana Hantu - Chapter 19

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 19

Dan ketika mereka berdua sambar-menyambar seperti garuda bertarung, pukulan mereka menggetarkan Istana Hantu. Tiba-tiba See-ong berteriak keras melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Kakek ini, seperti muridnya, juga menghadapi Lui-kong-ciang.

Hawa panas mulai membakar ruangan itu.

Thai Liong mengerahkan kepandaiannya karena See-ong benar-benar lihai. Kakek itu dapat menahan Lui-kong-ciang atau Tiat-lui-kangnya dengan baik, mengimbangi dengan pukulan-pukulan dingin hingga hawa panas teredam.

Namun, ketika dia menambah kekuatannya dan pukulan dingin tertekan, lawan terkejut karena ruangan itu serasa terbakar. Semakin panas lagi karena Soat Eng di sana juga mengeluarkan ilmu pukulan yang sama. Kakek ini mendelik dan penasaran.

Dan ketika pemuda itu mencoba mendesaknya dengan Tiat-lui-kang sementara dia geram dengan sambaran pukulan-pukulan dinginnya, See-ong mengeluarkan teriakan aneh. Dari kedua tangannya tiba-tiba menyambar sepuluh sinar hitam yang mencuat bagai kuku rajawali.

"Bret!" Thai Liong terkejut melihat See-ong, yang membentak dengan pukulan anehnya, tiba-tiba menggeliat.

Kakek itu menghantam ke depan sementara kesepuluh sinar hitam yang mencuat dari jari tangannya mengagetkan pemuda ini. Thai Liong mencium bau busuk dan terkejut karena rupanya sebuah pukulan beracun menyambarnya.

Dan ketika dia berkelit, namun kedua lengan kakek itu memanjang seperti karet, kesepuluh kuku jari kakek itu mencengkeram pundaknya dan bajunya hancur.

"Tok-ku-ciang!" "Ha-ha!" Kakek itu tertawa bergelak.

"Kau mengenal ilmuku, bocah? Benar, tapi bukan Tok-ku-ciang melainkan Tokciang!" Thai Liong terbelalak.

See-ong sudah menyerangnya dengan ilmu aneh ini, menggeliat dan menyambar. Tiba-tiba cakaran atau guratan kuku sudah mengancam seluruh tubuhnya.

Mulai dari kepala sampai kaki, bercuitan, dan sekarang bau amis itu makin menghebat.

Thai Liong pusing dan menahan napasnya, terlambat karena See-ong mengeluarkan Hek-kwi-sut. Membentak, dan lenyaplah kakek itu sebagai asap.

Thai Liong kurang pengalaman dan terhuyung.

Dan ketika pemuda itu tersentak karena lawan menghilang sebagai roh halus, sebuah totokan mengenai pundaknya.

"Plak!" Thai Liong terbanting.

Untuk pertama kalinya, pemuda itu mengeluh. Dia roboh, namun dapat menahan totokan, mengerahkan tenaga sinkangnya, dan jari kakek itu terpental.

Tapi ketika See-ong mengejar dan membentak lagi, tiba-tiba dua totokan beruntun menghajar pemuda itu.

"Plak-plak!" Thai Liong terbelalak.

Sekarang dia terbanting dan tidak dapat bergerak. See-ong menotoknya secara lihai, dan saat itu juga Thai Liong merasa bumi berputar.

Hawa beracun dari Tok-liong-ku-ciang keburu melumpuhkan pemuda ini. Thai Liong mengeluh dan terlempar.

Dan ketika pemuda itu tidak bergerak lagi karena totokan dan hawa beracun sekaligus menyerangnya, Soat Eng di sana kaget sekali.

"Liong-ko.....!" See-ong tertawa bergelak.

Sekarang kakek ini mengibas-ngibaskan lengan bajunya dengan sombong.

Sikapnya jumawa dan pongah sekali.

Soat Eng kaget karena kakaknya dilumpuhkan. Tentu saja perhatiannya pecah, dan Siang Le mendaratkan sebuah tamparan ke pundaknya.

Dan ketika Soat Eng terpelanting, kacau, serta gelisah, See-ong berseru pada muridnya agar segera merobohkan gadis itu.

"Ha-ha, robohkan lawanmu, Siang Le. Tundukkan dan bekuk seperti kataku!" "Keparat!" Soat Eng melengking. "Kau jahanam busuk, See-ong. Kubunuh kau!" "Ha-ha, hadapi dulu muridku, siluman betina. Baru kau dapat berhadapan denganku kalau dapat merobohkan muridku!" Gadis itu berteriak.

Setelah kakaknya roboh dan tidak bergerak di sana, Soat Eng menjadi kacau.

Perhatiannya terpecah karena dia tidak tahu apakah kakaknya pingsan atau tewas. Kakaknya itu tidak bergerak-gerak karena Thai Liong telah pingsan menghirup hawa beracun dari Tokciang. Terlambat menahan napas, dan See-ong pun tadi mengeluarkan ilmunya yang aneh itu, yang mampu mengubah wujudnya menjadi roh halus. Tentu saja tidak dapat dihadapi pemuda seperti Thai Liong yang kurang pengalaman, meskipun berbekal ilmu tinggi.

Dan ketika pemuda itu tidak bergerak lagi dan Soat Eng marah serta gelisah, Siang Le mampu mengelak semua serangan-serangannya. Sementara pemuda itu sendiri terus mendesak dengan pukulan atau tamparannya. Kedua lengan yang melar dan mengkerut, karena itulah Sin-re-ciang, menyambar dan membingungkan lawan karena dapat bergerak secara tidak terduga.

Di samping menyerang, tangannya juga tiba-tiba dapat ditarik sependek mungkin. Demikian pendeknya, hingga tangan dan bahu hampir menyatu!

Dan ketika Soat Eng gelisah dan konsentrasinya pecah tidak keruan, sebuah pukulan akhirnya mendarat lagi di bahunya.

"Plak!" Soat Eng terbanting bergulingan.

Gadis itu berteriak marah menjauhkan diri, meloncat, dan membentak.

Dan ketika lawan mengejar dan Siang Le melancarkan lagi sebuah pukulan karet, Soat Eng mengeluarkan Pek-sian-ciang dan dengan Pukulan Dewa ini, dia menangkis.

"Dess!" Siang Le ganti terlempar.

Pemuda itu bergulingan sambil berseru kaget. Dia mendapat perlawanan, dan kini Soat Eng melepas pukulan-pukulan itu.

Tiat-lui-kang tidak dipergunakan karena diganti dengan Pek-sian-ciang ini, menyambar dan meledak di tubuh lawannya.

Tapi ketika Siang Le dapat mengelak dan pemuda itu berubah mukanya, Siang Le pun mengeluarkan Tokciang dan pemuda itu berseru agar nona itu berhati-hati, menahan napasnya.

"Jahanam!" Soat Eng membentak. "Aku tidak takut Tokciangmu, orang marga Siang. Aku akan membunuhmu dan kau mampuslah!" Gadis ini menerjang.

Soat Eng menjadi kalap dan Siang Le tertegun. Mengelak, namun keserempet angin pukulan. Dia terhuyung, dan pemuda itu ragu.

Agaknya terjadi perang batin di hati pemuda ini, antara menghadapi lawan atau mengalah.

Maklum, pemuda ini tiba-tiba tergetar ketika melihat kemarahan gadis itu, sinar matanya yang berapi-api dan juga isaknya yang mulai terdengar.

Soat Eng marah dan cemas sekali melihat keadaan kakaknya yang tidak diketahui hidup atau mati.

Dan ketika Pek-sian-ciang kembali menyambar dan Siang Le terlihat mengendur, pemuda itu terlempar ketika pukulan itu mengenainya.

"Hei....!" Gurunya berteriak. "Jangan meleng, Siang Le. Pusatkan perhatianmu dan jangan meleng!" Siang Le bingung.

Sekarang air mata lawannya membuat dia semakin kusut.

Sebenarnya, sejak pertama kalinya beradu pandang, pemuda ini sudah tergetar. Wajah cantik itu serasa membetot sukmanya, dan pemuda ini mengeluh.

Bentakan atau teriakan gurunya justru membuat ia gugup.

Dan ketika Pek-sian-ciang kembali menyambar dan pemuda itu meleng, pundaknya meledak dan bajunya seketika itu juga hancur.

"Dess!" See-ong berteriak marah.

Kakek tinggi besar ini melihat gerak muridnya yang ragu-ragu, lengah, dan kehilangan semangat.

Muridnya terpelanting, dan untung tubuhnya dapat menahan pukulan itu, yang bahkan mampu menghancurkan batu karang.

Dan ketika Siang Le kaget dan berguling menjauh, lawan berkelebat dan tamparan serta tendangan mengejarnya bertubi-tubi. Dielak, tetapi kurang cepat, dan tiba-tiba saja murid See-ong ini terdesak.

Kakek itu melotot karena ini dinilai tidak wajar. Muridnya tidak mau membalas dan hanya menangkis atau mengelak saja. Sebuah pukulan lagi mendarat di punggungnya dan Siang Le terlempar.

Dan ketika pemuda itu menjadi bulan-bulanan lawannya dan Soat Eng beringas hendak membunuh pemuda ini, See-ong berkelebat dan menendang muridnya itu.

"Pergi kau!" Siang Le mencelat, didupak oleh gurunya.

Dan ketika Soat Eng menerjang dan pukulannya disambut kakek itu, bertemulah pukulan gadis ini dengan tangkisan sang kakek tinggi besar.

"Dess!" Soat Eng terlempar berjungkir balik.

Gadis ini menjerit karena tangkisan See-ong jauh lebih dahsyat daripada muridnya. Kakek ini bersungguh-sungguh, dan seketika itu juga putri Pendekar Rambut Emas itu terpental.

Dan ketika Soat Eng melayang turun dan kakek itu menggeram, See-ong membentak melancarkan Tokciangnya, menghantam. Dan Soat Eng menangkis, lalu terpental dan terlempar lagi tinggi ke udara.

Dan ketika kakek itu terbahak dan mengerahkan Hek-kwi-sutnya, tiba-tiba kakek itu lenyap. Tampak segulung asap mengejar di udara, menotok Soat Eng, namun gadis itu menangkis.

Tapi ketika asap bergerak dan berputar mengelilingi gadis itu, mendadak dua totokan mengenai jalan darah di pinggang, dan Soat Eng pun roboh terbanting.

"Brukk!" "Ha-ha," See-ong tertawa bergelak. "Roboh kau, siluman betina. Sekarang pergilah ke neraka!" See-ong muncul lagi, berubah wujud sebagai manusia biasa, dan kakek itu menggerakkan tangan kirinya ke kepala.

Sebuah tamparan akan menghabisi gadis itu dan mengantarnya ke alam baka.

Tapi ketika Siang Le berteriak dan berkelebat mencegah gurunya, pemuda itu menangkis, dan tamparan See-ong mengenai pemuda ini.

"Dess!" Siang Le terguling-guling, meloncat bangun, berteriak.

Dan ketika gurunya tertegun dan terperanjat gusar, pemuda ini buru-buru menggoyang lengan, terhuyung-huyung.

"Jangan.... tidak, Suhu. Jangan bunuh!" "Hm, kenapa?" See-ong melotot. "Pokoknya jangan dibunuh, Suhu. Aku, eh.... gadis itu tidak bersalah!" "Keparat!" Kakek itu memaki. "Tidak bersalah bagaimana, Siang Le? Bukankah jelas dia mengacau dan melawan kita?" "Tidak.... tidak!" Pemuda itu gugup. "Mereka tidak ada permusuhan langsung dengan kita, Suhu. Lagipula Pendekar Rambut Emas adalah ayah gadis ini!" "Eh, kenapa dengan Pendekar Rambut Emas? Memangnya kau takut?" "Tidak, bukan begitu, Suhu. Melainkan, ah... aku.... aku tidak suka kau membunuh gadis ini. Pokoknya kakak beradik itu tidak boleh dibunuh!" Dan gugup, tetapi berhasil mengeraskan dan menetapkan hatinya, pemuda ini sudah dengan gagah melindungi Soat Eng, juga Thai Liong. Gurunya pun tertegun.

Dua pasang mata tampak beradu pandang. Betapa keinginan pemuda itu tidak dapat diganggu gugat. See-ong terbelalak, tapi tiba-tiba tertawa bergelak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment