Chapter 22
Tapi ketika Siauw Jin berada di dekatnya dan berkata mau menyerang nenek Naga, sekonyong-konyong kakek itu menggerakkan lengannya ke kiri dan See-ong dihantam.
"Dess!" See-ong kaget terguling-guling.
Seumur hidup memang See-ong belum mengenal kebusukan lawan, bahwa apa yang dikata Siauw Jin bisa kebalikannya dan iblis cebol itu memang licik sekali.
Kecurangannya membuat dia dijuluki Si Busuk; apa yang dikata belum tentu dilakukan.
Maka begitu Siauw Jin menghantamnya dan nenek Naga terkekeh-kekeh, barulah See-ong sadar bahwa si cebol itu menipunya.
"Keparat!" See-ong meloncat bangun. "Bedebah kau, Siauw Jin. Benar-benar busuk dan licik!"
"Hi-hik!" Nenek Naga terkekeh-kekeh. "Kau yang bodoh, See-ong. Mana mungkin kami Enam Iblis Dunia saling bunuh sendiri? Otakmu yang bebal, satu kosong untuk kemenangan Siauw Jin!"
Dan nenek itu yang tertawa demikian geli tiba-tiba berseru agar Siauw Jin mengulang kecurangannya, menghantam kakek tinggi besar itu lagi. Tapi See-ong lenyap mengerahkan Hek-kwi-sutnya.
Kakek ini marah karena Siauw Jin menipunya; dia terkecoh mentah-mentah. Dan ketika dia lenyap dan Siauw Jin menyeringai mengerutkan kening, tahu-tahu See-ong berkelebat dalam bentuk badan halus dan ganti dihantamnya setan cebol itu.
"Awas!" Seruan Toa-ci terlambat. Siauw Jin melempar tubuh namun terkena juga. Pukulan See-ong menghantamnya dan kakek itu terbanting.
Dan ketika See-ong tertawa bergelak dan Siauw Jin maki-maki, maka kakek tinggi besar itu mengejeknya. "Nah, itu kebodohanmu, Siauw Jin. Gampang dipukul dan untung kau tidak mampus!"
"Keparat!" Kakek cebol itu melotot. "Kau lihai, See-ong. Tapi aku akan berhati-hati sekarang.... haitt!" Dan Siauw Jin yang mencelat mengambil senjatanya tiba-tiba membabat ketika asap See-ong menyambar, luput dan See-ong terbahak-bahak.
Siauw Jin menyerang lagi namun roh halus kakek tinggi besar itu lenyap lagi, benar-benar seperti siluman. Dan ketika Siauw Jin kebingungan, namun Toa-ci dan nenek Naga melengking tinggi, tiba-tiba mereka sudah maju membantu dan tampaklah kini asap putih dari roh See-ong yang dikejar-kejar tiga orang itu, dihantam dan dipukul tapi See-ong selalu menghindar. Gerak atau kecepatan roh kakek itu jauh lebih cepat dibanding gerak atau kecepatan lawan, padahal Toa-ci dan dua temannya adalah orang-orang yang sudah terkenal di dunia kang-ouw.
Dan ketika See-ong tertawa-tawa dan pertandingan menjadi aneh karena tiga orang lawan menyerang atau mengeroyok sebuah badan halus, maka di sana Siang Le justru jatuh bangun dihajar nenek Ji-moi.
"Keparat!" Nenek itu juga marah-marah. "Kau kuat dan hebat sekali, anak muda. Kekebalanmu luar biasa dan mengagumkan!"
"Hm," Siang Le bermandi keringat. "Kau yang hebat, nenek siluman. Tapi kau tak dapat mengalahkan aku!"
Soat Eng kagum. Sejak melihat pertandingan itu, gadis ini mendecak dan menggeleng berkali-kali. Apa yang dilihat memang mengagumkan hatinya dan mau tak mau dia mendesis. Setelah sekarang Siang Le mengeluarkan segenap kepandaiannya dan dapat melayani nenek Ji-moi, meskipun jatuh bangun, namun gadis itu memuji juga. Siang Le memiliki tubuh dan tulang yang kuat. Berapa kali pun dia dibanting, tetap saja pemuda itu dapat bangkit terhuyung dan melawan lagi, tak apa-apa. Dan itu semua berkat Sin-re-ciangnya. Ilmu Karet itu telah membuat tulang dan tubuh pemuda itu lemas, selemas karet; betapapun dibanting, tetap saja mental dan tak apa-apa.
Satu-satunya jalan barangkali harus mempergunakan senjata tajam, nenek Ji-moi mulai berpikir ke situ dan melotot. Maka ketika untuk kesekian kalinya lagi pemuda itu tak apa-apa menerima tamparannya, maka keluarlah senjatanya yang aneh, garpu ukuran besar yang pantasnya dipakai seorang raksasa. Lalu, begitu membentak dan lenyap lagi dalam ilmu hitamnya, tiba-tiba nenek itu telah berkelebat dan menghunjamkan garpunya ke tenggorokan pemuda ini.
"Awas....!" Siang Le terkejut. Dia bukan terkejut oleh serangan itu, yang dilihatnya, melainkan terkejut oleh teriakan Soat Eng. Gadis itulah yang berteriak dan teriakannya mengandung kekhawatiran. Siang Le tertegun tapi tiba-tiba bangga, girang!
Maka ketika garpu menyambar dan tenggorokannya ditusuk, tiba-tiba pemuda itu menangkis dan tenaga Karet dirobah menjadi tenaga Besi (Tiat-kang).
"Plak!" Garpu itu terpental. Ji-moi tersentak karena lawan merobah tenaganya, dari lemas menjadi keras. Dan ketika ia gagal dan Siang Le tertawa, maka pemuda itu menoleh pada Soat Eng dan berseru, "Terima kasih, nona. Perhatianmu membesarkan semangatku!"
Soat Eng merah padam. Sebenarnya tak ada maksud di hatinya untuk "membesarkan" semangat pemuda itu. Siang Le adalah musuhnya dan pemuda itu murid See-ong. Tapi karena teriakannya terlanjur diserukan dan pemuda itu menangkap, maka gadis ini melengos dan akhirnya diam saja, marah karena Siang Le berterima kasih. Aneh!
Dan ketika gadis itu melengos dan Ji-moi menyambar lagi namun gagal, maka nenek itu melotot memandang gadis yang roboh tertotok itu. "Siapa dia?"
"Kim-siocia!" Siang Le menjawab, bangga. "Kau sekarang tak dapat merobohkan aku, nenek siluman. Gadis itu mendorong semangatku!"
"Hm," Nenek itu mendengus. "Aku tak tanya dorongan semangatmu, bocah. Melainkan siapa gadis yang kurang ajar itu, yang rupanya ada perhatian kepadamu!"
"Dia Kim-Siocia, puteri Kim-taihiap!" Siang Le menjawab, meskipun mandi keringat. "Ada apa kau menanyainya, nenek siluman? Apakah takut?"
"Keparat, siapa takut? Siapa Kim-taihiap yang kau maksud?"
"Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas!" Dan begitu Siang Le menerangkan sambil tertawa, tiba-tiba nenek Ji-moi terkejut. "Apa? Pendekar Rambut Emas? Dia itu puterinya?"
"Betul, dia puterinya, nenek siluman. Dan kebetulan suhu menangkapnya. Ada sedikit kesalahpahaman di antara kami..... wut!" Siang Le menghentikan kata-katanya, mengelak dan kaget karena tiba-tiba nenek itu melepas garpunya. Senjata itu meluncur dan hampir saja mengenai matanya.
Dan ketika Siang Le membanting tubuh dan kaget serta berteriak keras, tiba-tiba Ji-moi berkelebat dan tertawa menyambar gadis itu. "Hi-hik, bagus kalau begitu, bocah. Gadis ini menjadi bagianku dan kau pergilah!" Ji-moi menyambar Soat Eng, meraih gadis itu namun Siang Le membentak dari belakang. Garpu yang hampir mengenai mukanya diraup, dilontar dan tiba-tiba senjata itu menyambar punggung Ji-moi. Siang Le masih menyusulnya lagi dengan lompatan panjang, mengulurkan lengannya dan keluarlah ilmu karet itu, Sin-re-ciang.
Dan ketika nenek Ji-moi terkejut karena jari-jari pemuda itu mulur dan mencengkeram lehernya, tiba-tiba nenek ini membalik dan terpaksa menyambut, berseru keras. "Dess!" Dua orang itu terpental. Ji-moi membiarkan garpu runtuh menyambar punggungnya, sudah melindungi diri.
Dan ketika Siang Le terguling-guling namun dapat mencegah lawannya merampas Soat Eng, maka pemuda itu berteriak dan melihat lagi dua bayangan di pantai, terkejut karena dari jauh terdengar geraman menggetarkan. Sesosok kakek tinggi besar muncul seperti gorila, pakaiannya hitam-hitam dan di sebelah kakek itu meluncur seorang kakek tinggi kurus yang lain, mukanya pucat dan seperti hantu.
Dan ketika bayangan itu berkelebat dan memanggil nama Ji-moi, tahu-tahu dua bayangan itu sudah berada di situ dan kakek tinggi besar ini menggerak-gerakkan lengannya. "Heh, siapa ini, Ji-moi? Dan siapa tua bangka yang dikeroyok itu?"
"Keparat, itu See-ong, Tok-ong (Raja Racun). Dan yang ini muridnya. Bantu kami!" Ji-moi berseru melotot, tadi marah karena Soat Eng gagal dirampas. Murid See-ong itu menyerangnya dan terpaksa dia melepaskan korbannya, mendelik dan kakek tinggi besar yang baru datang itu tertegun. Tapi ketika terdengar tawa aneh di mulutnya dan mata yang besar itu berkejap-kejap liar, tiba-tiba kakek ini menerkam Siang Le.
"Heh, kau robohlah!" Siang Le terkejut. Kakek seperti gorila itu menubruk, kedua tangannya tahu-tahu sudah dekat dengan pundaknya dan Siang Le marah. Dan karena dia tak mengenal siapa kakek ini namun dapat menduga tentu seorang di antara Enam Iblis Dunia, maka Siang Le membentak dan menangkis, membalik.
"Plak!" Kakek itu tergetar. Siang Le terhuyung namun tidak apa-apa, lawan menggereng dan tampak kaget.
Dan ketika kakek itu tertegun dan Ji-moi terkekeh, tiba-tiba nenek itu berseru, "Tok-ong, hati-hati. Murid See-ong itu cukup lihai!"
"Hah, kau mengejekku? Keparat, aku akan membekuknya, Ji-moi. Dan kau lihat..... wut!" Kakek itu menubruk lagi, tangan mencengkeram dan Siang Le menangkis. Dan ketika kakek itu tergetar dan kembali terdorong, maka Tok-ong, kakek ini terbelalak, maju dan membentak lagi dan keluarlah pukulan-pukulan yang amat dahsyat, kian lama kian dahsyat dan Siang Le kewalahan. Dia baru dihajar nenek Ji-moi dan mandi keringat, kini muncul lawan baru yang tidak kalah tangguh.
Dan ketika dia menangkis tapi roboh terlempar, maka kakek itu tertawa dan mengejar lagi, menggeram dan pukulan berbau busuk menghantam. Siang Le berkelit dan pukulan itu pun meledak di sisi kepalanya. Dan ketika tanah menjadi amblong dan dia sudah diburu dengan pukulan dan cengkeraman, tiba-tiba nenek Ji-moi terkekeh dan menubruk Soat Eng!
"Hi-hik, bagus, Tok-ong. Robohkan pemuda itu dan biar kutangkap si setan betina ini!" Siang Le kaget. Dia terkejut melihat berkelebatnya Ji-moi ke tempat Soat Eng, apa boleh buat menggulingkan tubuh ke sana dan Sin-re-ciang menyambar.
Dan ketika nenek itu kaget karena di saat sulit masih saja pemuda itu bisa menyerangnya, maka nenek ini menendang dan lengan karet pemuda itu terpental. Ji-moi mengumpat karena untuk kedua kalinya dia gagal menangkap Soat Eng.
Dan ketika Siang Le meloncat bangun dan jari tangannya bergerak, tiba-tiba pemuda itu membebaskan totokan Soat Eng dari jauh. "Kim-siocia, bangun. Aku tak dapat melindungimu!"
Soat Eng menggerakkan kakinya. Tiba-tiba ia bebas dan dapat bergerak, meloncat bangun dan berjungkir balik.
Dan ketika Siang Le diserang Tok-ong lagi dan repot menghindarkan diri, maka nenek Ji-moi tertegun memandangnya, melengking dan tiba-tiba berkelebat dan sebuah pukulan menyambar gadis ini.