Halo!

Istana Hantu - Chapter 24

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 24

"Berhenti!" Bentakan itu menggetarkan tempat tersebut.

"Hentikan seranganmu, See Ong! Atau muridmu ini kubunuh!" See Ong tertegun.

Kiranya Siang Le, muridnya itu, telah ditangkap oleh si Raja Racun (Tok Ong). Siang Le tertangkap karena kehabisan tenaga. Maklum, pemuda itu sebelumnya sudah jatuh bangun menghadapi Ji Moi, yang kini tengah bertanding melawan Soat Eng.

Karena pemuda itu lemas setelah energinya dikuras oleh Nenek Ji Moi, Tok Ong akhirnya berhasil memukulnya hingga roboh. Pemuda itu ditotok dan jatuh ke dalam cengkeraman si kakek.

Ketika Tok Ong membentak dan mengancamnya, See Ong tertegun dan berhenti menghajar lawan-lawannya.

"Nah," See Ong mendengar seruan Tok Ong. "Berhenti dan menyerahlah, See Ong! Atau muridmu kubunuh!"

"Ha-ha!" See Ong tiba-tiba tertawa. "Kau merendahkan aku, Tok Ong. Kalau kau mengira dapat menundukkan aku, maka kau salah. Lihat, muridku sudah ada di tanganku... *wut*!"

See Ong menghilang lagi, lenyap dalam *Hek-kwi-sut*-nya, dan tahu-tahu segumpal asap putih menyambar Tok Ong. Si Raja Racun membentak dan menggeram. Tangannya bergerak, tetapi asap putih itu melejit cepat dan luar biasa, tahu-tahu sudah menuju ke tenggorokannya.

Ketika Tok Ong membentak karena gusar dan marah, asap itu pun ditangkisnya. Namun, asap itu pecah menjadi sepuluh, berhamburan, dan menyambarnya dari segala penjuru.

Karena Tok Ong belum mengenal adanya *Capliong-sut* yang amat hebat ini, dia menjerit ketika sebuah bayangan roh dari See Ong menamparnya, disusul lagi dengan sebuah tendangan dari roh See Ong yang lain. Kakek itu pun terpental sambil mengaduh-aduh.

Siang Le otomatis terlepas, dan kakek tinggi besar itu tertawa terbahak-bahak. Saat Tok Ong bergulingan dan meloncat bangun, Siang Le sudah direbut kembali oleh gurunya. See Ong pun tertawa terpingkal-pingkal.

"Nah," kakek itu menirukan ucapan lawannya. "Lihat dan buktikan ancamanmu, Tok Ong. Kau tidak berhasil, dan justru muridku kembali ke tanganku!"

See Ong membebaskan totokan muridnya dengan menggosok dan menepuk punggungnya. Bebaslah Siang Le dari pengaruh totokan Raja Racun. Tok Ong terbelalak dan tidak dapat bicara. Dia benar-benar terkejut.

Saat kakek tinggi besar itu menggeram dan saling pandang dengan teman-temannya, tiba-tiba Siauw Jin berbisik agar mereka maju menyerang lagi berlima.

"Sst, tidak usah mendongkol. Kakek itu memang hebat, Tok Ong. Sebaiknya kau bantu kami dan menyerang lagi!"

"Benar," Nenek Naga juga masih penasaran. "Bantu kami, Tok Ong. Bunuh dan balaskan sakit hati kita!"

"Ha-ha!" See Ong tiba-tiba kembali tertawa. "Kalian masih penasaran, nenek siluman? Ingin maju dan mengeroyok aku lagi? Baik, tapi jangan berlima, melainkan sebaiknya berenam. Nah, biarlah Ji Moi kupanggil dan kalian semua menghadapi aku!"

See Ong yang lenyap dalam *Hek-kwi-sut*-nya tiba-tiba membentak Ji Moi yang sedang bertanding melawan Soat Eng. Nenek itu dibentak agar menghentikan pertandingannya dengan Soat Eng, putri Pendekar Rambut Emas tersebut.

Namun, ketika Ji Moi tidak mau mengikuti perintah itu dan masih terus bertanding, tiba-tiba kakek itu menyelinap, menghantam, dan menamparnya hingga ia menjerit. Di tengah pertandingannya yang sengit, mendadak saja See Ong menyeruak, memukul, dan menyerangnya.

Karena saat itu Soat Eng sedang melepaskan pukulan dan nenek itu terkejut, ia pun menangkis. Namun, See Ong menggerakkan pula tangannya yang lain untuk mendorong Soat Eng.

"Plak-des!" Soat Eng dan Ji Moi sama-sama terlempar. Mereka terpelanting dan bergulingan sambil mencaci maki. Soat Eng membentak, sementara Nenek Ji Moi sendiri melengking marah.

Namun, ketika mereka meloncat bangun dengan tubuh terhuyung akibat serangan See Ong, Siang Le berkelebat mendekati Soat Eng, sementara kakek itu tertawa terbahak-bahak mengejek Ji Moi.

"Nah, sudah kukatakan berhenti, Ji Moi. Bergabunglah dengan lima temanmu dan hadapi aku. Gadis ini tinggalkan sejenak dan mari kita bertanding!"

"Keparat!" nenek itu memaki. "Kau sombong sekali minta dikeroyok, See Ong? Kau minta diantar ke akhirat?"

"Ha-ha, bukan aku, nenek siluman, melainkan kau. Kalau aku menghendaki, tentu kaulah yang ke akhirat!"

"Keparat! Kau...!"

Namun, Toa Ci yang berkelebat menahan adiknya tiba-tiba berseru, "Ji Moi, tahan! Biarkan kakek itu bicara dan bergabunglah dengan kami. Biarkan bocah perempuan itu di sana, kita hadapi See Ong. Kami berlima belum dapat mengalahkannya, jadi kau harus ikut bersama kami!"

Sambil menarik adiknya untuk menghadapi See Ong, nenek itu melengking marah melihat empat temannya yang lain sudah maju mengepung.

"See Ong, kau memang hebat. Tapi sekarang kami akan maju berenam. Nah, bersiaplah karena kau sendiri yang memintanya... *wut*!"

Toa Ci yang bergerak memberi aba-aba mendadak menggerakkan sendoknya untuk menghantam kakek itu. Namun, See Ong cepat menghilang dalam *Hek-kwi-sut*-nya. Empat temannya yang lain pun membentak, maju menerjang, dan Tok Ong menggerung.

Kakek berpakaian hitam itu baru pertama kali dipentalkan oleh See Ong. Ia merasa penasaran dan marah, lalu kini menyerang dengan ilmu *Hek*-nya. Bau amis menyambar, namun See Ong keburu menghilang.

Ketika See Ong tertawa terbahak-bahak dan Enam Iblis Dunia maju serentak, asap putih kembali berkelebatan sementara Nenek Ji Moi dan yang lainnya memaki.

"Keparat, perlihatkan dirimu, See Ong! Jangan bersikap seperti pengecut!"

"Ha-ha, kau yang bodoh, Ji Moi. Mengapa tidak dapat melihatku? Aku di sini, lihat...!"

See Ong muncul di belakang Ji Moi dan tiba-tiba menampar nenek itu, lalu menghilang lagi saat hendak ditangkis. Ia pindah ke arah Nenek Toa Ci. Nenek ini membentak. See Ong mempergunakan *Hek-kwi-sut*-nya untuk lenyap dan muncul lagi menyerang lawan-lawannya. Serangan itu dibalas, namun kakek itu licin seperti belut.

Ketika enam lawannya terpaksa mempergunakan ilmu hitam hingga ikut lenyap pula seperti See Ong, pertandingan menjadi kian hebat karena See Ong kini dikeroyok oleh Enam Iblis Dunia secara lengkap.

"Ha-ha, kerahkan semua kepandaian kalian, Tok Ong! Ayo maju dan robohkan aku!"

Keenam iblis itu mengumpat dan mencaci. Pertandingan sudah berjalan sangat cepat sehingga tidak ada orang biasa yang mampu mengikuti jalannya pertarungan ini. Mata biasa tidak dapat melihat mana See Ong dan mana lawan-lawannya karena mereka berputar begitu cepat, hingga asap hitam dan putih berbaur menjadi satu.

Saat Soat Eng tertegun dan membelalakkan matanya, tiba-tiba gadis itu didekati oleh Siang Le.

"Kim Siocia, sebaiknya kau menyingkir dari sini. Cepat pergilah dan jangan menonton!"

"Hm," Soat Eng terkejut, lalu menoleh memandang pemuda itu. "Kau kira siapa dirimu hingga berani memerintahku?"

"Maaf," Siang Le balik terkejut. "Aku tidak memerintahmu, Nona, melainkan memohon jika kau setuju. Guruku terlalu lihai dan kau tidak mungkin menang."

"Sombong! Kau kira gurumu bisa mengalahkan aku, Siang Le? Kalau dia tidak licik dengan ilmu hitamnya, tidak mungkin dia dapat merobohkan aku!"

"Hm, tidak perlu berdebat," Siang Le menarik napas. "Tempat ini berbahaya, Nona. Sebaiknya kau pergi mumpung guruku tengah menghadapi Enam Iblis Dunia itu."

"Kalau aku tidak mau?"

"Kau mencari penyakit!"

"Keparat, jangan sombong, marga Siang! Aku tidak takut padamu dan siap bertempur lagi!"

"Tidak." Siang Le cepat menggoyangkan tangan. "Kakakmu masih pingsan, Nona. Kalau kau dapat menahan amarahmu, tentu kau bisa berpikir jernih. Lihatlah, kakakmu perlu bantuanmu, atau mungkin keadaannya bisa bertambah parah."

Soat Eng terkejut. Tiba-tiba ia sadar bahwa kakaknya masih pingsan di sana. Ia segera menoleh dan berkelebat menghampiri. Ketika ia berlutut untuk menolong kakaknya, ternyata kakaknya bergerak dan mengedipkan sebelah mata.

"Sst, jangan khawatir, Eng-moi. Aku telah membebaskan diriku dari pengaruh pukulan See Ong dan tidak apa-apa. Diam saja, aku hanya pura-pura pingsan!"

Soat Eng tertegun.

"Bagaimana?" Siang Le berkelebat menghampiri. "Kakakmu tidak apa-apa, Nona?"

"Tidak!" Soat Eng merasa lega dan bangkit berdiri. "Aku tidak mengkhawatirkan kakakku, orang bermarga Siang, melainkan justru mengkhawatirkan dirimu. Kau kutangkap, menyerahlah!"

Soat Eng bergerak dan tiba-tiba menyerang, membuat Siang Le terkejut dan berseru keras. Pemuda itu mengelak dan menghindar, namun Soat Eng terus mengejar. Entah kenapa, mendadak gadis itu menjadi sengit karena gara-gara pemuda inilah dia dan kakaknya dirobohkan oleh See Ong.

Begitu membentak dan mengejar lagi, Soat Eng segera menyerang dan menerjang lawannya. Siang Le berkelit dan menangkis sambil berteriak-teriak kebingungan mencoba mencegah, tetapi tidak dihiraukan.

Soat Eng terus menyerang hingga sebentar kemudian pemuda itu terdesak. Siang Le menangkis dan akhirnya berseru marah.

"Duk!" Kedua orang itu terpental.

Soat Eng mengejar lagi. Siang Le melotot, dan apa boleh buat, ia terpaksa melayani lawannya ini. Maka bertandinglah mereka. Namun, lagi-lagi Siang Le kelihatan ragu dan tidak sepenuh hati melawan. Akibatnya, sebuah tamparan akhirnya mendarat di sisi telinganya. Pemuda ini terbanting dan berteriak.

Soat Eng mengejar dan lawannya kembali menangkis. Namun, karena Siang Le hanya setengah hati sementara Soat Eng bersungguh-sungguh, untuk kedua kalinya pemuda itu terkena tendangan.

"Des!" Siang Le mengeluh.

Dia terlempar bergulingan dan memaki gadis itu. Namun, makiannya tidak dihiraukan dan Soat Eng kembali berkelebat melancarkan pukulan-pukulannya. Siang Le merasa marah sekaligus bingung. Sebentar kemudian pemuda ini terdesak dan beberapa pukulan serta tamparan mengenai tubuhnya. Ia jatuh bangun, namun lagi-lagi murid See Ong itu memperlihatkan kekuatannya.

Sama seperti saat dihajar Nenek Ji Moi tadi, pemuda ini selalu bangkit terhuyung setiap kali terlempar. Ia begitu kuat dan tidak apa-apa, sehingga membuat Soat Eng merasa kagum di samping rasa marahnya.

Ketika gadis itu memperhebat serangannya sementara lawannya berkali-kali berseru agar tidak menyerangnya lagi, See Ong terkejut melihat kejadian ini.

"Keparat, lawan dia dengan sepenuh hati, Siang Le!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment