Halo!

Istana Hantu - Chapter 25

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 25

"Jangan bimbang atau mengalah!"

"Ah, tak bisa," Siang Le mengeluh. "Aku tak sanggup menghadapi gadis ini, suhu."

"Lebih baik kau pusatkan perhatianmu menghadapi lawan-lawanmu itu!"

"Terkutuk! Kau lemah melebihi perempuan, Siang Le. Kau diserang demam cinta! Heh, lawan dia, muridku. Keluarkan Sin-re-ciang atau Capliong-sut!"

"Aku tak berdaya...." Pemuda itu terhuyung-huyung. "Menghadapi gadis ini lebih baik aku mengalah, suhu. Aku tak dapat melawannya....." Dan Siang Le, yang lagi-lagi terlempar oleh sebuah tendangan, akhirnya membuat muka Soat Eng merah. Mendengar semua kata-kata itu, gadis ini memaki. Dia merasa direndahkan sekaligus dipermalukan. Pemuda ini, itulah pernyataan cinta yang terselubung, yang membuat dia merasa jengah tapi juga marah. Dan ketika lawan terlempar dan bergulingan ditendang, maka Soat Eng memaki dan mengejar lawannya. Dua tiga kali kembali mendaratkan pukulan, dan Siang Le mengeluh. Murid yang gagah dari See-ong itu ternyata tak mau melayani lawannya lagi, mengelak dan menghindar. Dan ini tentu saja membuat dia terdesak hebat. Dan ketika sebuah pukulan lagi diterimanya dengan setengah hati, dan Soat Eng berkelebat, akhirnya pemuda itu terguling, menerima sebuah totokan, roboh, dan memejamkan mata.

"Nah," pemuda itu bersuara lirih. "Kau boleh bunuh aku, Kim-siocia. Cepat bunuhlah, dan setelah itu harap kau pergi!"

Soat Eng tertegun. Beberapa gebrakan yang akhirnya berkesudahan dengan kemenangannya yang mudah ini justeru membuat ia tak puas. Siang Le jelas mengalah dan tidak melawan, tentu saja gadis itu mendongkol. Tapi ketika kata-kata itu diucapkan setulusnya, dan sudah roboh pun Siang Le masih ingin melindunginya dengan menyuruhnya pergi, maka Soat Eng termangu dan merah padam ketika pemuda itu membuka matanya, memandangnya lembut dan mesra.

"Kenapa kau tak segera membunuhku?" Pertanyaan itu serasa menikam. "Cepat bunuh dan pergilah, Kim-siocia. Aku tak akan mendendam!"

"Hm," Soat Eng jengah dan marah. "Kau pengecut, orang she Siang. Aku jadi muak dan sebal terhadapmu!"

Dan Soat Eng, yang berkelebat menendang pemuda itu, akhirnya membuat Siang Le tertegun karena Soat Eng tak membunuhnya. Gadis itu marah-marah tapi juga tak mau pergi. Dan ketika Siang Le tertegun karena Soat Eng mendekati kakaknya dan memanggul kakaknya, maka gadis itu berdiri angkuh dan menonton pertandingan.

"Hei!" Siang Le gelisah. "Kau pergilah, Kim-siocia. Pergi dan jauhi tempat ini!"

"Keparat!" Soat Eng marah. "Untuk apa kau mengurusi aku, orang she Siang? Kalau tak ingat bahwa kau pernah menolongku, tentu aku sudah membunuhmu!"

"Bunuhlah, aku tak marah!" Siang Le berseru. "Tapi segera tinggalkan tempat ini, nona. Atau kau akan tertangkap, dan guruku tak akan mengampunimu."

"Plak!" Soat Eng menampar, menghentikan kata-kata pemuda itu. "Jangan membuka mulut lagi, orang menyebalkan. Kau di sini dan biar bersama aku!"

Dan Soat Eng, yang menonton dan kini mencengkeram tengkuk pemuda itu, lalu membuat Siang Le bungkam karena urat gagalnya ditotok, tak dapat bersuara. Dan kini gadis itu melepaskan kakaknya pula. Thai Liong berbisik agar adiknya melepaskan dirinya. Pemuda itu sudah sadar dan sebenarnya sudah sembuh kembali. Apa yang dikehendaki kakaknya sebenarnya, Soat Eng tak mengerti. Tapi melepas kakaknya dan bersinar-sinar memandang pertempuran, maka di sana See-ong tertawa bergelak memuji gadis itu.

"Bagus, cinta muridku tak bertepuk sebelah tangan, bocah. Kalau begitu, biar kau di situ dulu dan lihat aku merobohkan musuh-musuhku ini!"

Soat Eng memaki. Berkali-kali diejek dan mendengar kata-kata See-ong, dia marah, mau menerjang, tapi Enam Iblis Dunia telah mengeroyok kakek tinggi besar itu. Pertempuran menjadi seru karena Tok-ong dan kawan-kawannya marah. Dikeroyok berenam, tetap saja See-ong mampu menghadapi dengan baik, hal yang membuat Tok-ong dan kawan-kawannya mendelik. Dan ketika semuanya berteriak dan mempercepat gerakan, tiba-tiba See-ong kembali mengeluarkan Cap-mosutnya.

"Awas!" Toa-ci berteriak. "Hati-hati, Tok-ong. Ini ilmu silumannya, Capliong-sut!"

"Grr!" Kakek itu menggeram. "Aku tak takut ilmu silumannya, Toa-ci. Tetap kepung dia dan jangan kendorkan serangan!"

"Ha-ha!" See-ong tertawa bergelak. "Kau boleh tak takut, Tok-ong. Tapi kalau aku telah menghajarmu, tentu kau takut!"

Kakek tinggi besar itu berkelebat, bayangan rohnya berubah menjadi sepuluh orang, dan menyambarlah kakek itu ke sana ke mari. Enam Iblis Dunia kini seolah menghadapi sepuluh See-ong, dan mereka tentu saja terkejut, mengelak, dan memaki, namun pukulan-pukulan See-ong mulai menyambar. Ke mana pun mereka lari, ke situ pula kakek itu mengejar. Dan ketika mereka menangkis namun mereka terpelanting, maka kaget dan terkejutlah Tok-ong, si kakek berpakaian hitam-hitam itu.

"Ha-ha, bagaimana, Tok-ong? Kau masih belum takut?"

"Bangsat, aku belum takut, See-ong. Kalau kau belum dapat merobohkan aku, maka selamanya aku tak kenal takut!"

"Bagus, kalau begitu aku akan merobohkanmu lebih dulu....." Dan See-ong yang menyambar melepas pukulannya tiba-tiba mengenai kakek itu dan ditangkis. Mengerahkan tenaganya, dan Tok-ong menjerit. Kakek berpakaian hitam-hitam itu terlempar dan jatuh bergulingan. Dikejar dan menangkis lagi, namun untuk kedua kalinya dia terbanting. Dan ketika yang lain membantu namun dihalau See-ong, maka pukulan ketiga tak dapat dielak kakek berpakaian hitam-hitam itu lagi, berteriak dan mengaduh, dan Tok-ong menggeliat. Kakek itu mencoba bangkit, namun See-ong tertawa, berkelebat, dan menotok rahangnya. Dan ketika Tok-ong terbelalak dan tak dapat menangkis lagi, maka akhirnya dia roboh dan rahangnya seperti disentuh bara api.

"Aduh, tobat, See-ong. Tobat.....!"

"Ha-ha, sekarang mengenal tobat? Bagus, kau tidurlah dulu, Tok-ong. Yang lain-lain ini akan kurobohkan pula....." Dan See-ong yang membagi-bagi pukulan sambil tertawa-tawa ke Enam Iblis Dunia yang lain, akhirnya disusul keluhan dan terbantingnya Toa-ci dan kawan-kawannya itu. Satu per satu menjerit dan robohlah mereka sambil merintih-rintih. Apa yang dialami Tok-ong telah mereka alami pula. Dan ketika See-ong mengebutkan lengan bajunya, dan kakek itu muncul lagi dalam bentuknya yang asli, maka Tok-ong dan kelima temannya telah roboh bergelimpangan di bawah kaki kakek ini.

"Ha-ha, bagaimana?" kakek itu tertawa. "Sekarang kalian kalah, Tok-ong. Kalau aku mau membunuh, maka hal itu dapat kulakukan dengan mudah!"

"Ampun.....!" Siauw-jin meratap dengan muka mengiba. "Kau ampuni aku, See-ong. Kau betul-betul hebat dan di atas kami!"

"Ya, tapi bukan si setan cebol itu saja, See-ong. Aku dan yang lain-lain perlu juga diampuni!"

"Ha-ha, mudah. Asal kalian mengakui aku sebagai pemimpin, tentu kalian kuampuni, nenek Naga. Katakan sekarang bahwa kalian tunduk kepadaku!"

"Kami tunduk!" Serentak enam orang itu bicara. "Ampuni dan bebaskan kami, See-ong. Kau benar-benar hebat dan kami menyerah kalah!"

"Nah, kalau begitu kalian bebas!" See-ong menggerakkan tangannya, menampar dari jauh, dan berturut-turut bangkitlah Tok-ong dan kawan-kawannya, pucat. Tahu-tahu See-ong minta agar mereka berlutut di depannya!

Tok-ong tampak ragu dan yang lain juga saling pandang. Maklum, mereka adalah Enam Iblis Dunia yang paling ditakuti di dunia kang-ouw. Hanya Bu-beng Sian-su, Kim-mou-eng, serta istri dan mertuanya saja yang mereka takuti, karena mereka itu pernah mengalahkan mereka. Tapi begitu See-ong memandang tajam, dan enam orang itu keder, tiba-tiba mereka mengangguk dan menjatuhkan diri berlutut di depan tokoh baru itu.

"Ha-ha," See-ong tertawa gembira. "Kalian tak perlu malu atau sakit hati berlutut di depan kakiku, Tok-ong. Aku adalah raja-raja dari semua golongan hitam. Kalian sudah kalah, dan kalian harus menyerah. Sekarang nyatakan kesetiaan kalian bahwa kalian harus tunduk dan di bawah perintahku!"

Tok-ong dan kelima temannya menggumam. Mereka mengangguk dan menyatakan kesetiaan. See-ong terbahak, dan keenam iblis itu merah mukanya. Kalau bukan See-ong, tentu sudah mereka gempur. Itu hinaan yang amat luar biasa bagi mereka. Tapi ketika mereka selesai, dan See-ong kini membalik, maka kakek tinggi besar itu memerintah Ji-moi.

"Kau," katanya. "Tundukkan gadis itu dan bawa ke mari, muridku, Ji-moi. Lanjutkan pertandinganmu dan robohkan sebelum lima puluh jurus. Sanggup?"

Ji-moi meloncat bangun. Diperintah seperti itu, tiba-tiba dia beringas. Soat Eng memandang kekalahannya tadi dengan bibir mencibir. Gadis itu mengejek Enam Iblis Dunia yang berlutut di depan See-ong, menerima kekalahan sekaligus hinaan. Maka begitu See-ong memintanya agar merobohkan gadis ini, tiba-tiba Ji-moi melengking dan sudah menyambar ke depan, tak perlu diperintah dua kali karena kemarahannya sudah menggelegak. Pertama oleh kekalahannya melawan See-ong, dan kedua karena gadis itu menonton kekalahannya, jadi nenek ini geram dan keluarlah pukulannya yang ganas, Mo-seng-ciang.

Tapi begitu Soat Eng berkelit dan pukulannya luput, maka gadis itu tertawa dan mengejek dengan kata-kata menghina. "Cih, kalah terhadap See-ong tak usah melampiaskan kemarahan kepada orang lain, Ji-moi. Kalau kau ingin menangkap aku, marilah kita main-main lagi. Aku pun masih gatal karena pertandingan kita belum selesai!"

Dan Soat Eng yang mengelak serta lincah berkelit menghindari lawan, tiba-tiba dikejar dan dibentak, melompat dua tiga kali tapi akhirnya dia menangkis. Dan ketika pukulan nenek itu bertemu dengan lengannya yang halus, maka Ji-moi terpental sementara Soat Eng sendiri terhuyung.

"Keparat," nenek itu gusar. "Aku tidak hanya menangkapmu, bocah, melainkan membunuhmu. Kau adalah putri musuh besarku!"

"Boleh dan cobalah, nenek siluman. Kalau kau mampu, tentu kau hebat....." Dan Soat Eng yang menangkis pukulan nenek itu akhirnya bertanding dan mengerahkan ginkangnya, berkelebatan dan naik turun menghadapi musuh yang lihai. Ji-moi adalah nenek sakti yang dulu ayahnya sendiri pun tak sanggup menghadapi, sebelum menerima Cui-sian Ginkang atau Lu-ciang-hoat dari Bu-beng Sian-su.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment