Chapter 26
Saat nenek itu membentak dan melengking lagi, bertubi-tubilah pukulan atau tamparan menghujani gadis itu. Setelah menghindar dan menangkis, kedua orang itu segera bertanding hebat.
Soat Eng mengeluarkan Tiat-lui-kang atau Pek-sian-ciang, pukulan yang dulu ampuh, namun lawan mendengus. Nenek Ji-moi tentu saja tahu kedua ilmu ini dan dengan mudah ia menghalau atau mengibas. Lawan terpental dan Soat Eng mengerutkan kening. Gagal, ia mengubah gerakannya dengan ilmu silat lain.
Ketika nenek itu mendesak dan Mo-seng-ciang menyambar-nyambar dari segala penjuru, akhirnya ia merasa dikelilingi bayangan nenek itu yang bergerak kian cepat. "Plak-dukk!" Soat Eng terpental. Ia membentak, menambah semangatnya, marah karena dua ilmu pertama tak berhasil.
Saat nenek itu semakin cepat bergerak dan ia didesak serta dihujani pukulan bertubi-tubi, akhirnya Soat Eng berseru keras mengeluarkan Cui-sian Gin-kang (Ginkang Pengejar Dewa). "Slap!" Gadis itu lenyap, melengking tinggi, dan giliran nenek Ji-moi dikelilingi bayangannya.
Nenek itu terkejut karena inilah ilmu luar biasa dari Pendekar Rambut Emas. Cui-sian Gin-kang adalah ilmu yang setingkat dengan Jing-sian-eng (Bayangan Seribu Dewa), ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Hu Beng Kui, kakek gadis itu, ayah mertua Pendekar Rambut Emas.
Ketika Soat Eng tertawa berkelebatan mengelilingi tubuhnya, tiba-tiba saja pukulan dan tamparan bergantian menghujani nenek itu. "Hi-hik, sekarang balasanku, nenek siluman. Terimalah..... plak-dess!" Dua kali tamparan Soat Eng mengenai sasaran, membuat nenek itu terhuyung dan Ji-moi memaki gusar. Nenek ini marah karena ia seakan ditampar cucunya sendiri, cucu yang kurang ajar!
Saat Soat Eng tertawa dan berkelebatan lagi, Toa-ci, encinya, melotot di luar pertandingan. "Ji-moi, keluarkan ilmu hitammu. Kurung dan robohkan gadis itu!" Ji-moi mengangguk. Menghadapi Cui-sian Gin-kang, tiba-tiba ia kalah cepat. Ilmu meringankan tubuh itu memang hebat dan selama ini Pendekar Rambut Emas selalu unggul. Mereka berenam tak dapat mengalahkan pendekar itu dan kini anaknya mengulang kejadian lama, mempergunakan Cui-sian Gin-kang, dan tentu saja nenek itu marah.
Maka begitu encinya berseru dan yang lain juga mengangguk, nenek itu melengking dan membentaklah ia dengan kedua lengan terkembang. Ji-moi mengeluarkan suara aneh seperti suara kucing, kaki menghentak, dan tiba-tiba lenyaplah ia dengan bentakan ilmu hitamnya.
Saat nenek itu tak ada di depannya dan Soat Eng terkejut, menyambarlah dari mana-mana pukulan atau tamparan nenek itu, yang lenyap dalam ilmu hitamnya. "Nah," nenek itu berseru. "Mampus kau sekarang, setan betina. Coba hadapi ilmu hitamku dan lihat di mana aku berada!"
Soat Eng kebingungan. Menghadapi ilmu hitam begini memang ia tak biasa. Namun, melengking dan menggerakkan tangan kirinya, tiba-tiba ia menampar asap hitam di sebelah kiri, bayangan atau bentuk dari nenek Ji-moi yang bersembunyi dalam ilmu hitamnya. Karena ia mengeluarkan Lu-ciang-hoat, dan ilmu ini adalah pasangan dari Cui-sian Gin-kang yang hebatnya bukan kepalang, nenek Ji-moi menjerit ketika Mo-seng-ciangnya membalik. "Dess!" Nenek itu terlempar.
Ji-moi memekik kaget karena Lu-ciang-hoat ternyata juga dimiliki gadis ini, ilmu yang dulu membuatnya tunggang-langgang dihajar Kim-mou-eng. Saat ia berseru keras dan menghilang lagi dalam ilmu hitamnya, Soat Eng tertegun karena kehilangan lawan. Ia menghentikan serangan dan nenek itu tiba-tiba muncul lagi di belakang. Ji-moi hendak mempergunakan kelebihannya membokong gadis itu. Tapi ketika Soat Eng membalik dan tentu saja mendengar kesiur angin di belakang, kontan saja Lu-ciang-hoat kembali menangkis. "Dess!" Nenek itu lagi-lagi menjerit.
Soat Eng kini mulai terbiasa dan matanya dapat melihat asap hitam yang menjauh. Mengerahkan tenaga batin dan teringatlah ia akan nasihat ayahnya dalam menghadapi ilmu hitam, yakni agar ia diam di tempat dan menunggu lawan dengan mata terpejam. Baru menghantam kalau lawan mendekat.
Karena pertempuran macam begini baru kali ini dihadapi gadis itu dan Soat Eng masih mencoba membiasakan diri, nenek Ji-moi memaki-maki dan kebingungan sendiri. Muncul di kiri tapi disambut Lu-ciang-hoat, muncul di kanan tapi juga disambut pukulan itu. Dan karena Lu-ciang-hoat adalah pukulan ampuh di mana pukulannya sendiri selalu tertolak dan membalik menghantam diri sendiri, nenek itu bingung tapi juga marah. Akhirnya, lima puluh jurus berlalu dan See-ong bersinar-sinar. Tokoh luar biasa yang kini menundukkan Enam Iblis Dunia itu kelihatan kagum. Apa yang diperlihatkan Soat Eng memang mengagumkan.
Saat pertempuran kembali berjalan lima puluh jurus dan Ji-moi belum dapat merobohkan lawan, akhirnya kakek itu tertawa memerintah Toa-ci. "Kau bantu adikmu, tangkap gadis itu!" Toa-ci bergerak. Sekali berkelebat, nenek ini pun menghilang dalam ilmu hitamnya, menyerang dan mengeroyok Soat Eng. Tapi ketika Lu-ciang-hoat menyambut, dan memang terhadap ilmu ini nenek itu amat berhati-hati, ia pun terdorong. Marah, ia mengeroyok lagi, maju dan dikerubutlah gadis itu dari kiri dan kanan.
Tapi karena Soat Eng mulai biasa dan lama-lama mengenal di mana lawan berada, gadis itu mengimbangi dan Lu-ciang-hoat selalu menjadi andalannya, membuat dua nenek itu gusar dan See-ong tertawa bergelak. Untuk ketiga kalinya kakek itu menyuruh nenek Naga, yang sudah berkelebat dan mengeroyok Soat Eng. Dan begitu tiga lawan satu, Soat Eng mulai terdesak karena memang ia masih muda untuk menghadapi tiga nenek tangguh yang luar biasa itu.
"Ha-ha, jangan bunuh, nenek Naga. Tangkap dan robohkan saja!" "Ah, gadis ini berbahaya, See-ong. Sukar menangkap tanpa membunuhnya!" "Kau tak usah membantah, apakah kalian berenam harus maju semua? Ingat, tiga sudah cukup, Naga Bumi. Dan perintahku harus kalian jalankan!" Terpaksa, karena Soat Eng memang lihai dan menangkap gadis itu amat sukar kalau tidak membunuh, maka Naga Bumi berseliweran naik turun mengajak teman-temannya menghabiskan tenaga gadis itu, menguras. Dan Soat Eng melengking. Ia marah karena tiga nenek tak tahu malu mengeroyoknya, padahal mereka adalah tokoh-tokoh dunia yang namanya sudah terkenal.
Karena mereka bergerak silih berganti dan ilmu mereka yang bermacam-macam juga dikeluarkan sambil berlindung di balik ilmu hitam, Soat Eng kewalahan dan akhirnya terdesak. Ia memaki-maki dan See-ong di sana tertawa-tawa. Kakek tinggi besar itu memuji Soat Eng dengan seruan berulang-ulang, pujian yang sebenarnya membuat tiga nenek itu terhina dan terpukul.
Maka ketika lima puluh jurus lagi Soat Eng terhuyung dan mulai menerima satu dua pukulan yang berubah-ubah, satu tamparan akhirnya membuat gadis itu terpelanting. Ia menangkis dengan Lu-ciang-hoat, namun nenek Naga mengelak. Nenek itu memberi kesempatan pada temannya untuk memasuki kesempatan itu, menyambar dari kiri.
Dan ketika Toa-ci juga berkelebat dari belakang dan susul-menyusul mereka menyerang tapi juga mengelak, dua tiga pukulan membuat Soat Eng jatuh bangun. Ia mencoba bertahan tapi sayang Lu-ciang-hoatnya mengenai angin kosong. Tiga nenek itu cerdik untuk selalu menghindar, pukulan yang luput selamanya akan membuang tenaga yang besar. Dan karena taktik ini tepat sekali untuk merobohkan Soat Eng yang sudah kecapaian, satu ketukan akhirnya menimpa belakang kepala gadis itu. Ditahan, tapi totokan jari menyusul di pundak.
Soat Eng terhuyung dan memaki. Dua serangan itu membuat matanya gelap tapi gadis ini masih hebat. Ia membentak dan melepas Lu-ciang-hoat ke kiri. Tapi ketika lawan lenyap di muka dan belakang, dan tiga nenek itu membentak bersamaan, sebuah tendangan mengenai paha gadis itu dan tamparan di pelipis akhirnya membuat Soat Eng roboh. "Bluk-dess!" Soat Eng kalah pengalaman. Ia berteriak memanggil kakaknya, ambruk, dan pingsan.
Persis ia roboh, tiba-tiba tiga nenek itu berkelebat hendak menghabisi nyawanya, melepas pukulan terakhir, namun See-ong membentak. Kakek tinggi besar ini meniup dan terdoronglah tiga nenek itu. Saat kakek itu berkelebat dan kedua lengannya mengibas, Ji-moi dan dua temannya roboh terbanting. "Berhenti, jangan bunuh kataku!" See-ong marah. "Kalian tak boleh melanggar, nenek Naga. Atau kalian akan kubunuh di sini!"
Tiga nenek itu gentar. Mereka teringat dan segera sadar, bangun berdiri, dan menunduk. Saat See-ong melotot dan mereka diam saja, kakek itu menyambar Soat Eng dan membebaskan totokan muridnya. "Nah," katanya kepada Siang Le. "Kau bawa gadis ini, Siang Le. Dan bawa pula kakaknya, jebloskan ke ruang bawah tanah!" "Eh," Siang Le terkejut. "Maksudmu Istana Hantu, suhu?" "Ya, kenapa?" "Kalau begitu kita tidak jadi pulang? Tidak meninggalkan Sam-liong-to?" "Ha-ha, pikiranku berubah, Siang Le. Sekarang aku berniat tinggal di pulau ini. Sam-liong-to di bawah kekuasaanku, dan mereka berenam adalah penjaga!"
Toa-ci dan lain-lain terkejut. "Kalian tidak suka?" "Tidak, bukan begitu," Siauw-jin terkejut, menyeringai. "Tapi apakah kami tidak mendapat kebebasan, See-ong? Apakah kami hendak kau hukum dengan dikurung di sini?" "Ha-ha, tidak!" Kakek itu menjawab. "Tapi sekarang kalian harus menemani aku dulu di sini, Siauw-jin, kecuali tiga nenek ini!" "Ada apa dengan mereka?" "Mereka kusuruh keluar, menantang Pendekar Rambut Emas atau isterinya!" Siauw-jin tiba-tiba berseri. "See-ong, kalau begitu biarkan aku saja. Aku juga memberi tahu Hu-taihiap!" "Hm, jago buntung yang lihai itu?" "Benar, musuh kita bukan hanya Kim-mou-eng dan isterinya, See-ong, melainkan juga Hu Beng Kui itu. Dia tak kalah sombong dengan menantunya!" "Boleh, kalau begitu begini saja. Kau dan Naga Bumi menemui Hu Beng Kui dan Ji-moi serta Toa-ci menemui Pendekar Rambut Emas!" "Dan kami?" Tok-ong, yang tak boleh keluar, kecewa.