Chapter 27
"Apakah kami tinggal di sini, See-ong? Apakah kami tidak bertiga saja membagi pekerjaan bersama mereka?"
"Tidak, kau dan Cam-kong di sini, Tok-ong. Dan karena aku suka tinggal di pulau ini, maka kalian menjadi pengawal Istana Hantu!"
Tok-ong dan Cam-kong melirik ke kiri. Mereka melihat senyum gembira Siauw-jin, yang menyeringai dan hendak terkekeh, tetapi buru-buru ditahan. Tawanya bisa membuat See-ong marah, dan setan cebol itu menahan diri. Karena See-ong sudah menguasai mereka, dan Cam-kong serta teman-temannya tidak dapat membantah, maka mereka mengangguk dan pada hari itu juga menjalankan tugas.
Soat Eng, yang telah dibawa Siang Le, dijebloskan ke ruang bawah tanah. Pemuda itu tampak ingin membantah, tetapi tidak berani. Gurunya hendak menantang Hu Beng Kui dan Pendekar Rambut Emas dengan menyandera Soat Eng dan Thai Liong, putra-putri Pendekar Rambut Emas atau cucu Hu-taihiap, sang jago pedang hebat itu.
Ketika Ji-moi mendapat tugas dan mereka berkelebat pergi, Siauw-jin pun tertawa meninggalkan Sam-liong-to. Ia melaksanakan perintah, dan baru untuk pertama kali ini Enam Iblis Dunia yang kesohor itu berada di bawah pengaruh orang lain. See-ong telah menguasai mereka sehingga mereka tidak dapat berkutik, suatu hal yang luar biasa dan tentu akan menggegerkan dunia kang-ouw.
Ketika empat orang itu pergi meninggalkan pulau, dan Soat Eng serta kakaknya ditawan di ruang bawah tanah, Cam-kong dan Tok-ong menjadi penjaga Sam-liong-to!
"Keparat!" Kakek itu menyumpah. "Kalau bukan See-ong, tentu lebih baik aku mampus, Cam-kong! Sungguh memalukan bahwa kita Enam Iblis Dunia di bawah kekuasaan orang lain!"
"Sudahlah," Cam-kong, si Pembunuh Petir menghibur. "See-ong memang hebat, Tok-ong. Dan dia segolongan. Kalau Pendekar Rambut Emas yang menguasai kita, tentu aku sendiri lebih baik mati!"
"Dan kau puas sebagai penjaga pulau?"
"Ah, kami biasa hidup bebas merdeka, Tok-ong. Tentu saja aku juga tidak puas. Tapi apa mau dikata lagi? Bukankah See-ong memang luar biasa dan kita semua kalah?"
"Itulah, aku kagum tapi juga penasaran, Cam-kong. Entah bagaimana See-ong mempelajari Capliong-sutnya itu, juga Hek-kwi-sutnya yang luar biasa. Bedebah! Kalau tidak merasakan sendiri, tentu aku tidak akan percaya!"
"Sudahlah, kita di bawah kekuasaan orang lain, Tok-ong. Lebih baik kita menjalankan tugas. Kau menjaga di belakang, aku di depan."
"Baik!"
Dan Tok-ong yang pergi dengan uring-uringan lalu berkelebat menjaga bagian belakang pulau, berpisah dengan temannya. Cam-kong menjaga di depan. Kini Sam-liong-to dijaga dua dari Enam Iblis Dunia. Pulau itu sudah berada di bawah kekuasaan See-ong, dan kakek tinggi besar itu mengklaim pulau ini, menguasainya.
Ketika dua orang itu menjaga di tempatnya masing-masing, Soat Eng dan Thai Liong menjadi tawanan datuk atau Raja Dari Barat ini, tidak berdaya.
Lama kita tidak menjumpai tokoh yang tinggal di kota Ce-bu ini. Siapa lagi kalau bukan sang jago pedang, Hu Beng Kui? Jago buntung yang hebat itu tinggal di kota ini. Karena dialah Ce-bu menjadi terkenal, sejak zamannya Pedang Tiga Dimensi hingga perebutan Sepasang Cermin Naga. Siapa tidak kenal Hu-taihiap, si jago pedang yang gagah perkasa itu? Siapa tidak mendengar namanya yang kesohor di seluruh jagat?
Dulu, Hu Beng Kui atau Hu-taihiap ini adalah seorang laki-laki yang keras dan tidak kenal menyerah, pantang mundur, dan sang jago pedang itu memang hebat. Ketika peristiwa demi peristiwa dialaminya hingga jago pedang itu banyak dimusuhi orang, putranya Hu Beng An tewas dalam pertempuran sengit melawan datuk-datuk sesat yang menyatroni jago pedang itu.
Kini, masihkah jago pedang itu memperlihatkan giginya? Ditinjau dari umur, jago pedang ini sudah tidak seperti dulu. Hu-taihiap sekarang sudah merupakan seorang kakek yang mulai sakit-sakitan, sering diam di rumah, tetapi dia tetap memimpin dunia kang-ouw. Dua puluh tahun yang lalu, orang-orang persilatan telah mengangkatnya sebagai bengcu, pemimpin persilatan. Karena dia memang hebat dan tinggi kepandaiannya, maka kedudukan itu pantas dijabatnya.
Tidak ada seorang pun yang tidak mendengar nama si jago pedang ini, yang kini jarang mempergunakan pedangnya karena dia memiliki dua ilmu luar biasa yang disebut Khi-bal Sin-kang (Pukulan Bola Sakti) dan Jing-sian-eng (Bayangan Seribu Dewa). Dengan dua ilmunya itu, Hu Beng Kui dapat mengalahkan Enam Iblis Dunia, Cam-kong dan kawan-kawannya yang dahulu menyerah dihajar jago buntung ini. Karena sang jago pedang itu memang hebat dan kepandaiannya meningkat pesat berkat penemuannya akan sepasang Cermin Naga, Kim-mou-eng (Pendekar Rambut Emas) sendiri hampir tidak dapat mengalahkan jago ini.
Dulu, dua puluh tahun yang lalu, dunia kang-ouw geger. Cermin Naga, yang dilempar Bu-beng Sian-su, jatuh di langit selatan dan utara. Cermin yang jatuh di selatan didapatkan Hu Beng Kui, sedangkan yang meluncur ke utara akhirnya jatuh di Kota Raja, ditemukan Kwee Han yang kini telah tewas akibat perbuatannya sendiri, bekas menteri muda yang melonjak pamornya karena merupakan sahabat Kim-mou-eng. Sayang, karena bekas nelayan yang menjadi menteri itu mabuk dalam kesenangannya yang tidak terbatas, maka pemuda ini tewas dengan cara menyedihkan, dihajar dan dibacok teman-temannya sendiri, akibat ketidakadilan.
Bagaimana sekarang dengan Hu-taihiap? Masihkah ambisius dan ingin menguasai dunia? Tidak, kakek itu telah tua. Wejangan-wejangan dan nasihat Bu-beng Sian-su telah menyadarkan jago pedang ini. Hu-taihiap cukup puas dengan keadaannya sekarang dan tinggal tenang di Ce-bu, kota yang sejak lama ditinggalinya. Namun, karena usia semakin uzur, dan betapa pun penyakit selalu menghinggapi manusia, maka jago tua itu sering tinggal di rumah untuk menjaga kesehatannya.
Pada hari itu pun, jago tua ini terserang tidak enak badan. Sudah dua hari, dia meriang, hidung tersumbat, dan tenggorokan gatal. Ah, barangkali flu. Orang segagah Hu-taihiap tentu saja menganggap ringan penyakit begini. Tapi ketika panas tubuhnya tidak mau mereda dan Hu-taihiap jengkel, maka jago tua ini malah melompat keluar dan menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya, berlatih silat.
"Eh, jangan keluar rumah, Taihiap. Harap masuklah dan jaga kesehatanmu!" Uwak Lu, pelayan di situ, menegur. Ia kebetulan melihat dan kaget, menyiapkan minuman panas, namun Hu Beng Kui tertawa.
Jago tua ini tetap menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Ketika pelayannya menegur kembali dan tampak khawatir, kakek ini berkata, "Sudahlah, kau masuk ke dalam, Uwak Lu. Letakkan minumanku di situ dan kau pergilah!"
"Tapi..."
"Eh, kau tidak cerewet, bukan? Atau ingin kutendang?"
"Baiklah," Dan Uwak Lu yang meletakkan minuman di meja kecil akhirnya pergi. Ia tersenyum kecut mendengar seruan Hu-taihiap yang tertawa geli, meneruskan latihannya. Jago pedang ini segera berkeringat.
Dua jam berjemur di bawah matahari, akhirnya kakek itu merasa sehat. Panasnya menurun, dan dia pun berhenti berlatih. Ketika dia mengusap keringatnya dan duduk menikmati minuman panas, mendadak berkesiur angin dingin di belakangnya.
"Hu-taihiap, kami datang!"
Jago pedang itu terkejut. Tanpa disangka, tahu-tahu berkelebat dua bayangan di belakangnya, melepas pukulan. Jago pedang ini terkejut. Namun, karena dia adalah seorang jago, dan seruan atau bentakan itu membuatnya cepat membalik, maka secara otomatis dia menggerakkan lengan menangkis, berseru keras.
"Duk! Duk!" Dua orang itu terpental. Hu Beng Kui bangkit berdiri dan terbelalak, melihat seorang di antaranya terkekeh, sedangkan yang lain memaki.
Hu Beng Kui tertegun. Ia lantas mengenal dua orang itu dan menggeram. "Siauw-jin, kau kiranya?"
"Ha-ha!" Siauw-jin si setan cebol tertawa. Tadi bersama Naga Bumi dia menyerang jago pedang ini, ingin menjajal dan melihat bahwa jago tua itu masih hebat, meskipun tenaganya agak berkurang.
Ketika lawannya memandang marah dan muka Hu Beng Kui memerah, setan cebol itu buru-buru menjura. "Maaf," katanya. "Kami berdua datang untuk menyampaikan undangan, Hu-taihiap. Kau diminta datang ke Sam-liong-to kalau berani!"
"Heh!" Jago pedang itu membentak. "Undangan apa, Siauw-jin? Kenapa harus tidak berani?"
"Ha-ha, tidak perlu marah. Undangan ini resmi sifatnya, Taihiap, dari pemimpin kami yang hebat luar biasa. Kau diundang See-ong untuk menjemput cucu-cucumu!"
"Apa maksudmu?" Hu Beng Kui mengerutkan kening.
"Hi-hik!" Nenek Naga kini berbicara. "Maksud kami jelas, Hu-taihiap. Kami diutus See-ong untuk mengundangmu datang ke Sam-liong-to. Dua cucumu, Thai Liong dan Soat Eng, ada di sana di bawah kekuasaan See-ong. Kalau kau berani datang dan mengambilnya, tentu saja See-ong akan gembira!"
"Siapa itu See-ong?" Hu Beng Kui tertegun. "Kenapa aku tidak mengenal nama ini?"
"Ha-ha," Siauw-jin kini tampil lagi ke depan. "See-ong adalah pemimpin kami, Hu-taihiap. Dengan tidak malu-malu lagi kami menyatakan kalah kepadanya. Kau diminta datang untuk berkenalan dengan See-ong!"
"Keparat!" Jago pedang itu berkilat. "Kau membual omongan busuk, Siauw-jin. Aku tidak percaya, dan sebaiknya kalian duduk di sini! Wut!"
Jago pedang itu menyambar. Angin pukulannya menghantam, dan Siauw-jin menjerit. Setan cebol ini melemparkan tubuhnya berjungkir balik ketika diserang, menyadari bahwa pukulan Hu Beng Kui bukanlah pukulan biasa. Ketika dia lolos, namun sang jago pedang mengejar. Tiba-tiba, pukulan kedua menyambar saat dia melayang turun.
"Hei!" Si cebol itu berteriak. "Bantu aku, Nenek Siluman! Serang dia!"
Nenek Naga bergerak. Melihat temannya diancam, tiba-tiba nenek ini membentak, berkelebat, dan melepas pukulan ke punggung Hu Beng Kui. Karena pukulan ini mengganggu niatnya, dan Hu Beng Kui membalik, maka dengan marah jago pedang itu malah menghantam Nenek Naga ini.
"Dess!" Nenek Naga menjerit keras.