Halo!

Istana Hantu - Chapter 28

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 28

Dia terlempar ke atas dan berjungkir balik seperti Siauw-jin, berteriak marah namun juga gentar. Ketika Hu Beng Kui hendak mengejar, Siauw-jin mencabut senjatanya sehingga dua buah sabit menyambar ke arahnya. Serangan itu ditangkis dan dikebut hingga Siauw-jin terdorong hampir terjatuh. Ia berteriak agar Hu Beng Kui menghentikan serangannya.

Saat jago pedang itu terbelalak marah memandang mereka, Siauw-jin berseru, "Hu-taihiap, jangan mengganggu utusan. Kami hanya diperintah! Kalau kau tidak percaya, harap lihatlah ini!"

Siauw-jin mengeluarkan bendera putih dan mengebutkannya di depan Hu Beng Kui. Jago pedang itu tertegun melihat bahwa Siauw-jin benar-benar seorang utusan, terbukti dengan bendera yang segera diacungkan di atas kepala si setan cebol itu; suatu hal yang tidak main-main.

Karena Hu Beng Kui tertegun dan mau tidak mau menjadi percaya, ia merasa terheran-heran sekaligus tercengang. "Kau benar-benar utusan? Kalian berdua di bawah kekuasaan See-ong?"

"Ya, kami bersungguh-sungguh, Hu-taihiap. Kami tidak berbohong. Karena itu jangan ganggu kami, kami hanya utusan!" Siauw-jin yang mengusap keringat karena gentar segera menceritakan maksud kedatangannya, bahwa dia benar-benar diperintah See-ong untuk mengundang jago pedang itu ke Sam-liong-to untuk berkenalan dengan pemimpin mereka yang hebat.

Karena semuanya terlihat sungguh-sungguh dan tidak mungkin orang macam Siauw-jin mau merendah untuk urusan seperti ini, mata Hu-taihiap berkilat dan ia mendengus. "Baiklah, kupercaya kau, Siauw-jin. Dan aku akan datang ke Sam-liong-to!"

"Nah," iblis itu merasa gembira. "See-ong tak sabar menunggumu, Hu-taihiap. Sebaiknya kau cepat berangkat dan kami pergi!"

"He!" jago pedang itu membentak. "Nanti dulu, Siauw-jin. Di mana teman-temanmu yang lain?"

Setan cebol itu menyeringai. "Mereka juga di Sam-liong-to, Hu-taihiap. Kalau kau takut, sebaiknya tidak usah datang..."

Plak! Hu Beng Kui menamparnya hingga iblis cebol itu berteriak. "Jangan macam-macam kepadaku, Siauw-jin. Dikeroyok berenam pun aku tidak takut!"

"Aduh, aku percaya...!" Siauw-jin mengeluh. "Tapi jangan semena-mena di sini, Hu-taihiap. Kami utusan dan kau tidak boleh mengganggu!"

"Baiklah, kalian boleh pergi dan akan kuhadapi si See-ong itu!" Hu-taihiap menendang hingga membuat dua orang itu mencelat.

Nenek Naga memaki. Jika tidak mengingat bahwa jago pedang ini seorang yang hebat luar biasa, barangkali dia akan menerjang dan membalas tendangan itu, betapapun dia adalah salah satu dari Enam Iblis Dunia. Namun karena Hu Beng Kui mengusir mereka, nenek ini berkelebat pergi sementara Siauw-jin mengaduh-aduh sambil mencaci dan mengumpat tidak keruan, mendahului Nenek Naga sebelum akhirnya dikejar oleh temannya itu.

Setelah mereka lenyap, Hu Beng Kui mengerotkan giginya dengan tatapan bersinar. "Aneh," gumamnya sendiri. "Siapa itu See-ong dan seberapa hebatkah dia? Betulkah Siauw-jin dan lima temannya roboh? Hm, aku akan mendatangimu, See-ong. Dan siapa pun kau, pasti akan kuhajar!"

Jago pedang ini marah teringat bahwa Thai Liong dan Soat Eng dikabarkan berada di sana. Karena percaya bahwa Siauw-jin mengundangnya atas suruhan See-ong, ia berkelebat memanggil Uwak Lu. Ia mengatakan akan pergi dan meminta pelayannya itu menjaga rumah baik-baik.

Uwak Lu tampak tertegun dan terkejut. "Taihiap tidak main-main? Mau pergi dan bahkan meninggalkan rumah?"

"Ya, aku ada keperluan, Uwak Lu. Aku mau ke Sam-liong-to!"

"Sam-liong-to? Di mana itu?"

"Aku tidak tahu, Uwak Lu, tapi aku dapat bertanya-tanya di jalan. Sudahlah, kau jaga rumah ini dan aku mau pergi!"

"Nanti dulu!" teriak uwak itu. "Sedemikian pentingkah urusanmu, Taihiap? Tidakkah perlu memberi tahu anak dan menantumu?"

"Hm, Kim-mou-eng?"

"Ya, beri tahu dulu pada Kim-mou-eng, Taihiap. Dan kalau perlu pergilah bersama dia agar kau selamat di jalan!"

"Ha-ha, seperti anak kecil saja!" Hu Beng Kui tertawa terbahak-bahak. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku sedemikian rupa, Uwak Lu. Aku dapat menjaga diri dan pasti kembali!"

"Tapi kau sakit, tak enak badan!"

"Ah, demam sedikit memangnya kenapa? Aku merasa cukup kuat. Tak perlu kau cemas, tinggallah di rumah. Aku pergi!"

Hu Beng Kui segera berkelebat meninggalkan perempuan itu. Ia tidak mau bicara lagi dan membiarkan pelayannya bengong ketakutan serta gelisah. Ketika Uwak Lu menyusul keluar, bayangan Hu Beng Kui sudah tampak jauh di sana.

"Taihiap, hati-hati...!"

Jago pedang itu tertawa. Dari jauh ia mengucap terima kasih dan menyuruh uwak itu masuk kembali. Perempuan itu pun menangis. Setelah Hu-taihiap lenyap meninggalkan Ce-bu, pelayan ini kembali masuk ke rumah, menutup pintu, dan tersedu-sedu di dalam kamar. Entah kenapa firasatnya menunjukkan hal lain; seolah majikannya itu tidak akan kembali lagi. Dalam kecemasan yang hebat, ia menyalakan hio dan bersembahyang.

"Thian Yang Agung, selamatkan dan lindungilah majikanku. Biarkan ia pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun!"

Hu Beng Kui tidak mengetahui doa pelayannya. Saat itu yang bergolak di hatinya hanyalah kemarahan. Mengingat Thai Liong dan Soat Eng ditangkap musuh dan menjadi tawanan See-ong, ia merasa sangat mendongkol. Ia mengerahkan ilmu lari cepat Jing-sian-eng hingga tubuhnya berkelebatan meninggalkan Ce-bu dengan amat cepat. Bayangannya tampak seperti asap yang meluncur di atas tanah. Orang akan mengira melihat hantu karena Hu Beng Kui seolah tidak menginjak tanah lagi.

Namun dua hari kemudian, saat ia memaksa diri menuju ke timur, mendadak sakitnya kambuh. Ia terserang panas dingin sehingga terpaksa berhenti. Ia menduga Sam-liong-to berada di timur karena di sanalah banyak terdapat gugusan pulau. Sambil mengobati sakitnya, ia menunda sejenak perjalanannya dengan perasaan dongkol.

"Eh, bukankah ini Hu-bengcu?"

Hu Beng Kui tertegun. Seorang pemuda tampan muncul sambil tersenyum dan langsung menegurnya. Hu Beng Kui terkejut karena langkah pemuda itu tidak terdengar. Jago pedang ini mengerutkan kening. Pemuda itu mendekat dan menjura dengan sikap manis, namun ia segera menyadari tubuh si jago pedang yang gemetar.

"Hu-taihiap, selamat bertemu. Agaknya kau sakit!"

"Hm, siapa kau?" tegur sang pendekar. "Bagaimana bisa muncul di sini dan datang tiba-tiba seperti siluman?"

"Ah, aku Bigur, Taihiap. Perantau muda yang kebetulan melihat bayanganmu tadi. Kukejar tapi kalah cepat, baru sekarang aku dapat menyusulmu."

"Hm, Bigur? Kau seperti pemuda peranakan, bukan Han asli! Di mana tempat tinggalmu?"

"Ah, tajam pandanganmu, Taihiap. Aku memang campuran Tartar dan Han. Ibuku orang Tiongkok sedangkan ayahku Tartar."

"Dan di mana kau tinggal?"

"Di bawah langit di atas bumi, Taihiap. Aku perantau. Eh, sebaiknya kau jangan banyak bicara karena tubuhmu menggigil!"

Bigur bergerak mendekat. Hu Beng Kui terhuyung karena serangan demam; tubuhnya menggigil hebat. Namun ketika pemuda itu hendak menolong dan menyentuh pundaknya, jago pedang ini menolak.

"Biarkan aku sendiri," katanya. "Aku dapat mengobati diriku, anak muda. Kau menyingkirlah!"

Pemuda itu tertegun. Hu Beng Kui sudah bersila dan mengatur napas dengan mata terpejam. Namun karena demam tidak kunjung mereda, ia membuka mata dan mendapati pemuda itu menyodorkan sebutir pil hijau.

"Telanlah, ini penawar demam, Taihiap. Kau agaknya terserang malaria!"

"Hm, siapa kau berani menolongku seperti ini? Menyingkirlah, aku tidak butuh pertolonganmu!" Hu Beng Kui kembali menolak dan hendak mengambil obat dari kantongnya sendiri. Namun ia tertegun melihat kantong obatnya kosong. Agaknya obat itu terjatuh di jalan tanpa ia sadari.

Bigur tersenyum tanpa merasa tersinggung, lalu kembali menyodorkan obatnya. Saat jago pedang itu melotot hendak membentak, pemuda ini berkata halus, "Hu-taihiap, tidak usah mempersoalkan budi. Aku tidak menuntut balasan, anggap saja ini obatmu yang hilang di jalan. Kau agaknya terburu-buru, biarlah aku pergi."

Pemuda itu meletakkan obat di depan si jago pedang, membungkuk hormat, lalu berbalik pergi. Baru dua langkah, Hu-taihiap tertawa dan berseru, "Hei, tunggu, anak muda. Aku mau menerima obatmu!"

Pemuda itu tersenyum dan memutar tubuh. Ia melihat Hu Beng Kui menelan obat tersebut tanpa ragu. Sikap pemuda itu telah menarik simpati sang jago pedang hingga Hu Beng Kui pun tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment