Chapter 29
Dan ketika obat lenyap memasuki mulut dan tak berapa lama kemudian Hu Beng Kui merasa hangat, maka jago pedang itu bangkit berdiri dan tertawa menepuk pundak pemuda ini.
"Ha-ha, obatmu manjur. Agaknya kau seorang tabib muda yang menyediakan banyak obat-obatan. Terima kasih, anak muda. Kau mengingatkan diriku pada menantuku!"
"Pendekar Rambut Emas?"
"Eh, kau tahu?"
"Ah, namamu dan nama menantumu tak ada orang yang tidak mengenalnya, Taihiap. Siapa tidak mengenal Kim-mou-eng dan Hu-taihiap? Kau dan menantumu adalah keluarga yang hebat, dan aku bangga karena kebetulan Kim-mou-eng dan aku satu suku!"
"Ha-ha, benar!" Hu-taihiap teringat. "Betul, anak muda. Kalau begitu kau... eh!" Jago pedang itu berjengit. "Kenapa perutku sakit? Augh, obat apa yang kauberikan padaku tadi, anak muda?"
Aneh, pemuda ini tiba-tiba tertawa. Hu Beng Kui terlihat menggeliat dan jago pedang itu menahan sakit. Mukanya tiba-tiba berkeringat dan kagetlah orang tua itu ketika rasa sakit semakin menghebat. Perutnya bergemuruh dan rasa panas yang membakar sekonyong-konyong datang lebih hebat daripada tadi. Kalau demam hanya terasa panas dan meriang, maka sekarang ini bercampur sakit dan nyeri.
Hu Beng Kui terkejut dan memandang pemuda itu. Dan ketika dia terbelalak kaget serta curiga, mendadak pemuda itu berkelebat dan menghantam mukanya.
"Ha-ha, kau akan mampus, Hu-taihiap. Obat itu adalah penghancur usus yang akan membunuhmu dalam waktu tiga hari... dess!"
Jago pedang ini terlempar. Ia mencoba menangkis tapi kalah kuat dan dia terpekik. Hu Beng Kui segera sadar bahwa pemuda tampan yang tampaknya halus itu kiranya musuh, entah siapa. Dan ketika dia terguling-guling, kaget serta marah, maka lawan mengejar lagi dan melepas pukulan. Hawa amis menyambar dan dia kaget karena mengenali pukulan itu sebagai Tee-sin-kang, pukulan yang dimiliki Nenek Naga.
Dan ketika dia menangkis namun terlempar lagi, maka pemuda itu menyerangnya lagi dengan ilmu pukulan lain, Mo-seng-ciang, dan sebentar kemudian berubah menjadi Hek-tok-ciang, lalu Cam-kong-ciang dan lain-lain pukulan yang semua dikenal sebagai ilmu pukulan milik Enam Iblis Dunia, yakni Siauw-jin dan kawan-kawannya.
Ketika Hu-taihiap mengeluh dan melompat bergulingan, dia menerima sebuah serangan lagi yang tepat mengenai tengkuknya.
"Ha-ha, selamat berjumpa sekaligus berpisah, Hu-taihiap. Kau akan kuantar ke neraka untuk menebus utang-utangmu... dess!"
Hu Beng Kui terlempar, memekik marah tapi cepat dia mengerahkan Khikang. Pukulan itu diterimanya dengan sepenuh kemarahan, membalik dan menghantam pemuda itu sendiri. Dan ketika pemuda itu berteriak dan terlempar oleh pukulannya sendiri, maka Hu-taihiap bangkit terhuyung dan gusar dengan muka merah padam.
"Keparat, siapa kau, anak muda? Apa hubunganmu dengan Enam Iblis Dunia?"
Pemuda ini pucat. Melihat Hu-taihiap tak juga roboh dan kini bahkan membentaknya dengan marah, pemuda itu merasa kecut. Obat penghancur usus yang ditelan jago pedang itu rupanya dapat ditahan, belum bekerja sepenuhnya di perut hebat jago pedang itu. Tapi sambil tertawa dan melompat mundur, pemuda ini menjauhi Hu Beng Kui setelah tadi meloncat bangun.
"Ha-ha, aku murid Enam Iblis Dunia, Hu Beng Kui. Dan kalau kau ingin tahu siapa aku, maka aku adalah Togura, putra ayahku yang gagah perkasa, Gurba!"
"Hah?" Hu Beng Kui terbelalak. "Gurba, suheng dari Kim-mou-eng? Jadi kau..."
"Benar," pemuda itu memotong. "Aku putra Gurba dengan mendiang Bi Nio, Hu-bengcu. Dan Kim-mou-eng yang menjadi menantumu itu adalah musuh besarku!"
"Keparat, dan kau sekarang meracuni aku, bocah? Atas suruhan Enam Iblis Dunia atau kehendakmu pribadi?"
"Ha-ha, yang menyuruhku adalah See-ong, Hu-taihiap. Dan aku ke sini atas suruhan Datuk dari Barat itu. Bukankah kau mau ke Sam-liong-to?"
"Benar," jago pedang ini menggigil. "Dan sekarang tahulah aku, anak muda. Kiranya kau bocah yang dulu dibawa Sepasang Nenek Naga. Ah, kau seperti mendiang ayahmu yang curang dan jahat. Kau setan cilik yang tidak tahu malu... wut!"
Dan Hu Beng Kui menyambar berkelebat ke depan, tiba-tiba menghantam dan menyerang pemuda itu. Serangannya dikelit, tapi jago pedang ini terus mengejar. Bigur alias Togura itu terkesiap juga melihat kegesitan lawan. Obat penghancur usus seakan tidak memengaruhi jago tua itu. Pemuda ini mengelak dan segera berlompatan menghindar.
Tapi ketika Hu Beng Kui terus mengejar dan pemuda ini menemui jalan buntu, Togura terpaksa menangkis dan mencelat terlempar.
"Dess!" Pemuda itu terbanting bergulingan.
Togura terkejut karena pukulan lawan masih hebat. Pundaknya seakan remuk, namun dia meloncat bangun lagi. Dan ketika Hu-taihiap menyerang dan terhuyung sambil memaki-maki, Togura terdesak. Pemuda ini selalu terlempar bila beradu tenaga dengan jago tua itu. Ia merasa kagum namun juga gentar, sehingga ia mulai bermain kucing-kucingan.
Hu-taihiap dipaksa mengejar dan sesekali pemuda itu berlindung di balik pohon, melepas pukulan dari belakang namun dia tertolak oleh gaya pental Khikang. Ilmu Bola Sakti yang dipunyai jago pedang itu memang akan selalu menolak secara otomatis setiap pukulan lawan; semakin kuat, semakin hebat pula daya tolaknya.
Hal ini membuat Togura gentar. Hu Beng Kui menggeram sambil mengejar dan mendekap perutnya. Akhirnya pemuda itu melompat jauh dan melarikan diri, berteriak menuju ke timur. Jago tua itu marah besar. Dia mengerahkan sinkangnya untuk menahan bekerjanya obat, sambil terus mengamuk mengejar pemuda itu.
Ketika lawan melarikan diri, Togura melakukan pertempuran dengan cara pukul dan lari. Hu Beng Kui mencak-mencak memaki lawannya, terus mengejar namun berkali-kali dia harus menahan sakit. Racun di perutnya seolah meremas usus, obat itu menyiksa perutnya sehingga berkali-kali dia harus mengerahkan sinkang.
Ketika Togura menuju ke timur, mereka akhirnya tiba di Tung-hai (Samudra Timur). Pemuda ini segera menyambar perahu dan mendayung cepat menuju ke tengah laut.
"Suhu, tolong! Subo, bantu aku...!"
Hu Beng Kui merah matanya. Seharian ini dia mengejar dan penyakit demamnya bercampur aduk. Racun di perut bekerja lagi namun ditekan, berhenti dan bekerja lagi setiap dia mengejar pemuda itu. Seharusnya dalam keadaan begitu jago pedang ini berhenti istirahat dan melawan racun itu dulu. Tapi karena jago pedang ini diamuk kemarahan dan pemuda itu selalu tak jauh di depannya, maka Hu Beng Kui lupa diri, hanya menggeram dan memaki-maki pemuda itu.
Lawan sudah puluhan kali dihajar jatuh bangun, namun pemuda itu hebat; selalu bangkit dan lari lagi. Dan karena pukulan jago pedang ini tak sekuat biasanya akibat racun, maka Togura selalu dapat melarikan diri setiap kali dihajar. Dia jatuh bangun namun selalu selamat. Hal ini disebabkan oleh gangguan yang dialami jago pedang itu. Kalau saja jago pedang ini sedang sehat dan tidak diserang racun atau penyakit lainnya, barangkali pemuda itu tak akan selamat.
Ini satu keuntungan bagi Togura. Murid Enam Iblis Dunia itu mulai menjauhi Hu Beng Kui dengan mengarungi laut, namun jago pedang itu juga menyambar sebuah perahu. Dan ketika Hu Beng Kui bergerak, perahunya tidak didayung melainkan didorong dengan angin pukulannya yang dahsyat, sehingga perahu si jago pedang ini melejit mengejar lawan.
"Hayoh, ke mana kau mau lari, bocah? Kau mau meminta pertolongan guru-gurumu? Hah, kubunuh kau, anak siluman. Kupatahkan lehermu nanti!"
Togura gentar. Kalau tidak melihat betapa pukulannya membalik dan selalu tertolak sendiri, barangkali pemuda ini akan berhenti untuk mencoba melawan lagi. Tapi karena Hu Beng Kui betul-betul kakek luar biasa dan dari jauh pun angin pukulan jago pedang itu membuat perahunya miring ke kiri dan kanan, pemuda itu menjadi pucat dan memanggil-manggil lagi keenam gurunya.
"Suhu, tolong...! Subo, tolong...!"
"Ha-ha!" Jago pedang itu tertawa bergelak. "Mampus kau sekarang, bocah. Di tengah laut ini tak ada siapa pun yang dapat menolongmu... bress!"
Perahu pemuda itu dihantam hingga mencelat terlempar, namun Togura dapat berjungkir balik dan hinggap di perahunya lagi. Jago pedang itu terbelalak. Lawan mendayung lagi dan Togura beradu cepat, mengerahkan segenap tenaga, namun Hu-taihiap tetap mengejar.
Seharian itu pemuda ini mandi keringat sementara lawan di belakang terus mengumpat-caci. Malam pun tiba dan Togura kebingungan. Ia terus melarikan diri dan Hu-taihiap tak mau melepas lawan. Setiap gerakan dayung ditangkap oleh telinga pendekar itu sehingga pemuda ini kewalahan. Ke mana pun dia lari, ke situ pula Hu-taihiap mengejar.
Ketika malam berganti pagi, Togura sudah pucat pasi sementara Hu-taihiap tetap menempel tak jauh di belakang perahunya.
"Ha-ha!" Jago pedang itu tertawa menyeramkan. "Ke mana kau lari, bocah? Tidak memanggil-manggil gurumu lagi?"
"Keparat!" pemuda itu memaki. "Kau hebat, Hu Beng Kui. Tapi racun di perutmu tak mungkin kau tahan terus-menerus. Ini hari ketiga di mana kau akan muntah berak!"
Benar saja, Hu-taihiap mengeluarkan suara kesakitan. Jago pedang itu mendesis dan terdengarlah suara nyaring dari tubuhnya. Untuk pertama kalinya terdengar kentut yang panjang seperti sirene ditiup. Dan ketika suara itu disusul lagi dengan bunyi memberobot mirip terompet rusak, Hu Beng Kui pun muntah darah untuk pertama kalinya.
"Ha-ha!" Pemuda itu ganti tertawa. "Racun kembali bekerja, Hu-taihiap. Kau tak akan tahan dalam beberapa jam lagi!"
"Jahanam keparat!" Hu Beng Kui murka bukan main. "Kau siluman busuk persis gurumu, bocah. Kalau bukan dari Tok-ong tentu dari Siauw-jin!"
"Benar, aku banyak belajar dari mereka, Hu-taihiap. Dan Siauw-jin adalah guruku yang paling pandai mencari akal busuk!"
"Kuhajar kau, keparat...!"
Dan Hu Beng Kui yang melepas pukulan jarak jauh tiba-tiba memaki karena bersamaan dengan itu perutnya kembali beraksi dengan bunyi nyaring, dan tidak sekadar nyaring, tetapi juga sangat bau!