Halo!

Istana Hantu - Chapter 30

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 30

Dan ketika pemuda itu mengelak dan perahu melejit ke kiri, Togura tertawa karena melihat jago pedang itu terhuyung.

"Ha-ha, simpan tenagamu, Hu-taihiap. Atau nanti kau tewas di Sam-liong-to!"

"Bedebah!" Hu Beng Kui merah padam. "Tiba di darat akan kuhajar kau, setan busuk. Kalau tak dapat menangkapmu, biar aku mati!"

Togura tertawa.

Saat itu tiga pulau terlihat di depan mata, kian jelas setelah perahunya mendekat. Ketika Hu Beng Kui juga tertegun melihat pulau itu, lawan pun memberitahu.

"Nah, ini wilayah kami. Itulah Sam-liong-to!"

Jago pedang ini menggeram. Dalam dua pukulan terakhirnya, dia muntah lagi, terpaksa mengerahkan sinkang dan menahan amarah. Perutnya melilit-lilit dan sakit bukan main, ususnya seakan dipelintir dan diremas-remas dari dalam. Kentut yang berulang-ulang adalah akibat pengerahan sinkangnya yang menahan sakit. Maklumlah, dia sekarang tersiksa luar dalam.

Tapi karena Hu Beng Kui adalah tokoh yang hebat dan jago pedang itu dapat menyembunyikan keadaan fisiknya, jago pedang ini menggigit bibir dan tidak menyerang lagi, mengejar dengan perahunya dan akhirnya mereka pun mendekat ke pantai.

Beberapa ombak lagi, pemuda itu akan mendarat. Hu Beng Kui menggeram dan sebuah pukulan siap dilepaskan. Betapapun, dia tidak akan membiarkan pemuda itu selamat dan jangan harap pemuda itu dapat meloloskan diri. Tapi baru saja dia membentak dan menambah dorongannya untuk melesatkan perahunya, mendadak Togura terjun ke laut dan tertawa bergelak.

"Ha-ha, silakan menyelam, Hu-taihiap. Aku sudah di tempat sendiri... Byur!"

Dan Togura yang lenyap di bawah air tiba-tiba menyelam dan entah ke mana, membuat Hu Beng Kui tertegun dan jago pedang itu mengumpat. Tubuh yang gemetar dan kemarahan yang memuncak membuat jago pedang ini tidak waspada, tidak mengira bahwa lawannya itu mendekati perahunya dari bawah. Perbuatan yang berani!

Dan ketika dia tertegun dan terbelalak ke depan, mengira pemuda itu berenang ke pantai, mendadak perahunya terguncang dan pemuda itu muncul dari bawahnya!

"Ha-ha, terjunlah, Hu-taihiap. Terjunlah...!"

Jago pedang ini kaget. Secepat kilat dia membalik dan menghantam ke bawah, pemuda itu lenyap dan pukulannya membuat air laut muncrat tinggi. Dan ketika perahu terguncang dan pemuda itu muncul lagi di tempat lain, mendadak lawan terbahak dan mengangkat perahunya.

"Hayo, terjun ke air, Hu-taihiap. Melompatlah... ha-ha!"

Hu Beng Kui pucat. Dalam perahu yang sudah terangkat tinggi dan miring ke kanan, tiba-tiba dia tidak dapat menguasai diri lagi. Ia terlempar. Namun, jago pedang ini berseru keras. Lawan di sebelah kiri dihantam dan perahu pun hancur. Togura menjerit dan rupanya terkena pukulan, lalu menyelam dan lenyap lagi di bawah air.

Dan ketika jago pedang itu berjungkir balik dan meluncur turun, papan perahu yang hancur akibat pukulannya pecah di kiri-kanan. Ia pun terhempas ke sana sambil meraung. Dia benar-benar merasa dipermainkan dan Hu Beng Kui marah bukan kepalang. Tubuhnya sampai bergetar hebat. Ia pun bergerak mencari pemuda itu. Papan perahu dipergunakan, dan kakek gagah ini meluncur di permukaan air laut sambil memaki dan membentak-bentak. Togura pun panik.

Di bawah air, tidak mungkin pemuda itu menahan napas selama-lamanya, dia bisa mati. Begitu muncul, dan Hu Beng Kui kebetulan melihatnya, jago pedang itu segera melancarkan pukulan, membuat pemuda ini menjerit.

"Des!" Air laut muncrat tinggi. Hu-taihiap sudah bergerak dan terbang mendekatinya. Di atas laut ataupun daratan, kemampuannya sama saja. Jago pedang ini begitu hebat sehingga murid Toa-ci itu pun merasa ngeri.

Dan ke mana pun ia muncul, di situ pula Hu Beng Kui menghadangnya dan melancarkan pukulannya. Akibatnya, Togura panik dan berteriak-teriak, lalu menyelam dan kini menuju ke pantai. Hu Beng Kui mengamati gerak-geriknya dari atas dan menggeram-geram. Empat pukulan sudah mengenai lawannya, namun Togura cukup kuat, mampu bertahan dan bermain kucing-kucingan di bawah laut. Togura terus menghindar, sementara kakek gagah itu terengah-engah. Kalau perutnya tidak melilit dan usus rasanya diremas-remas, tidak mungkin lawannya itu dapat lari lagi. Murid Tok-ong ini pasti tewas. Togura sendiri gelisah. Pemuda itu cemas dan menyelam lebih ke bawah, akhirnya tidak dapat ditembus pandangan Hu Beng Kui karena dengan lihainya pemuda ini merapat di bawah laut, bergerak dan berenang di situ sambil menahan sakitnya. Pundak dan punggungnya terkena pukulan. Kalau Hu Beng Kui dalam keadaan sehat, tentu dia tadi sudah tidak bernapas.

Dan ketika lawan mencarinya di atas dan Hu Beng Kui menggeram sambil mengamati segala penjuru, mendadak lawannya sudah muncul di pantai, megap-megap.

"Suhu, tolong...!"

Jago pedang itu bergerak. Sekali meloncat, tiba-tiba papan di bawah kakinya ikut terangkat, terbang, dan menyambar pemuda itu. Dan karena papan ini dipergunakan sebagai senjata yang mendahului tubuh Hu Beng Kui, Togura tidak dapat mengelak ketika telinganya tersambar benda keras ini.

"Aduh...!" Pemuda itu terjungkal.

Hu Beng Kui berkelebat, namun Togura bergulingan menjauh. Hantaman papan serasa menghancurkan telinganya dan kepala terasa berputar. Murid Liok-kwi-ong ini menjerit, dan wajahnya pucat. Ia menjauh, tetapi Hu Beng Kui menggerakkan tangannya. Dan ketika sebuah pukulan mendarat di pundaknya dan pemuda itu mengeluh, Togura pun terbanting lagi. Namun, Hu Beng Kui ikut mengeluh, berdiri terhuyung sambil mendekap perutnya.

Sebuah pukulan sinkang berarti pengerahan tenaga, dan efek obat itu pun bekerja kembali, membuat jago pedang itu terduduk. Dan ketika Togura meloncat bangun dan terhuyung melarikan diri, kentut nyaring keluar dari belakang tubuh jago pedang ini.

"Keparat, kau tidak boleh lari, bocah. Berhenti dan mampuslah dulu!"

Hu Beng Kui bangkit, terhuyung, dan maju mengejar. Pemuda itu pun lari. Togura jatuh bangun dan terseok-seok melangkah. Baik ia maupun Hu Beng Kui, sama-sama pucat pasi. Lawan menggeram mengejarnya, dan sedikit lagi jago pedang itu akan menerkamnya. Togura ngeri membayangkan apa yang akan terjadi, mungkin dia akan dicabik-cabik dan dikunyah jago pedang ini. Bayangan itu menakutkannya, dan tiba-tiba dia menerima sebuah pukulan lagi, tidak terlalu keras, namun pemuda itu terpelanting roboh.

Dan ketika Hu Beng Kui lagi-lagi menggeram karena menahan sakit di perutnya, Togura pun menjerit memanggil gurunya.

"Subo, tolong...!"

Hu Beng Kui melotot. Pemuda ini sudah di depannya, tinggal mencengkeram. Sekali disambar, tentu ia dapat menangkap punggung pemuda itu, membantingnya, dan akan menghajarnya. Tapi persis dia membentak dan terhuyung mengejar lawannya, mendadak muncul sesosok bayangan yang menyelamatkan pemuda itu, Tok-ong, Si Raja Racun.

"Hu Beng Kui, lepaskan muridku... Plak!"

Hu Beng Kui terdorong, jatuh terduduk, dan Togura berteriak menyambut Raja Racun ini, girang karena pertolongan datang. Dan ketika Tok-ong berkelebat di situ, dan Siauw-jin serta Nenek Naga Bumi muncul pula sambil terkekeh, tiga dari Enam Iblis Dunia menghadang jago pedang itu.

"Ha-ha, selamat datang, Hu-taihiap. Kau memenuhi undangan kami!"

Jago pedang ini menggeram. Terhuyung dan nanar memandang tiga orang itu, jago pedang ini serasa terbakar. Di sana Togura berlindung dan pemuda itu tampak berseri-seri. Tubuhnya letih, namun ia girang. Tiga orang gurunya sekaligus datang, dan ia pun menjadi tenang. Dan ketika jago pedang itu mendelik sambil mendekap perutnya, pemuda ini pun berkata.

"Suhu, Hu-taihiap telah menelan obat penghancur usus. Dia begitu bodoh menerima obatku dan kini marah-marah!"

"Heh-heh!" Siauw-jin tertawa. "Begitukah, Togura? Dan jago pedang ini menerima pertolonganmu dengan baik?"

"Benar, dia terlihat sakit, Suhu, ia terserang demam, dan kutolong. Tapi karena dia begitu bodoh dan menerima begitu saja pertolonganku, ia pun muntah-muntah dan sekarang mengejarku!"

"Tidak usah khawatir," kakek cebol itu berkata. "Ada kami di sini, Togura. Kalau dia mengejar-ngejarmu, tentu kami akan menghalangi. Sudahlah, beristirahatlah di situ dan lihat kami akan membereskan jago buntung ini!"

Dan Siauw-jin yang terkekeh menghadapi Hu Beng Kui lalu mengejek. "Eh, kau sudah muntah berak, Hu-taihiap? Mau bertemu See-ong atau mencoba kami dulu?"

"Jahanam!" Kakek itu menggeram. "Berenam pun aku tidak takut, Siauw-jin. Justru aku akan membunuh kalian bertiga agar tidak mengganggu dunia lagi!"

"Eh, dalam keadaan begini? Ha-ha, kau tidak mungkin dapat melakukannya, Hu-taihiap. Kalau dapat pun, tentu di neraka. Lebih baik kubereskan kau dan menghadaplah Giam-lo-ong (Raja Akhirat)!"

Siauw-jin berkelebat, tiba-tiba menyerang, namun Hu Beng Kui menangkis. Jago pedang itu mengerahkan Khi-Bal Sin-kang dan iblis cebol ini menjerit ketika tubuhnya terlempar tinggi, jatuh terbanting, dan terguling-guling di sana. Dan ketika iblis itu melompat bangun dan pucat memandang lawannya, muridnya pun berteriak agar dia berhati-hati.

"Suhu, jangan memandang ringan padanya. Kakek itu masih berbahaya!"

"Heh-heh," Siauw-jin tertawa. "Aku kira macan ini sudah ompong, Togura. Kalau dia masih garang, biarlah dua gurumu yang lain membantu!"

Setan cebol itu mengedip, memberi tanda pada Tok-ong dan Nenek Naga Bumi, dan dua orang itu mengangguk. Melihat kehebatan Hu Beng Kui, mereka pun ikut marah. Namun karena jago pedang itu sudah menelan obat penghancur usus, dan kini Togura memberitahu bahwa jago pedang itu sudah menginjak hari ketiga, Tok-ong pun berkelebat, dan Nenek Naga Bumi pun mencelat sambil melancarkan pukulannya.

"Baik, mari bereskan kakek ini, Siauw-jin. Kalian di depan, dan biar aku yang di belakang!"

Nenek Naga Bumi cerdik, mendahului lawannya dan bergerak di belakang. Tee Sin-kang menyambar dan Hu Beng Kui menggeram. Dan ketika Tok-ong serta Siauw-jin melejit dan menghantam dari kiri-kanan, tiga orang itu sudah susul-menyusul melancarkan pukulan.

"Plak-Des-Des!" Hu Beng Kui tergetar. Jago pedang itu mengerahkan Khikangnya dan lawan terpekik. Mereka terlempar oleh pukulan yang membalik. Namun karena Hu Beng Kui berkurang tenaganya dan racun yang mengamuk di perut bekerja lagi, tiga orang itu pun tidak terluka, dan mereka menyerang lagi, berkelebatan, dan terhuyunglah jago Cebol itu menghadapi lawannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment