Halo!

Istana Hantu - Chapter 31

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 31

Silih berganti mereka melepaskan pukulan. Hu Beng Kui marah dan menangkis. Namun, ketika lagi-lagi lawan hanya terpental tanpa terluka, Siauw-jin terkekeh sementara Nenek Naga tertawa nyaring.

"Hi-hik, macan ini ompong giginya, Siauw-jin. Galak di luar tapi lemah di dalam!"

"Benar, tapi tetap waspada, Nenek Siluman. Buruk-buruk pun dia memiliki Khikang!"

"Dan Jingsian-eng!" seru Tok-ong. "Awas kalau dia mengerahkan ilmunya itu, Nenek Naga. Hati-hati dan jangan lengah!"

Ketiga orang itu mengeroyok lagi. Sambil tertawa mengejek lawannya, Hek-bong Siauw-jin maupun Nenek Naga berkelebat cepat. Kini nenek itu mengeluarkan jarum emasnya, sedangkan Siauw-jin mengeluarkan sabitnya. Tok-ong menggunakan sepasang pukulannya dan Hek-tok-ciang yang menyambar-nyambar. Hu-taihiap membentak dan melayani lawan-lawannya itu.

Ketika mereka selalu menyerang setiap kali terpental, tiba-tiba jago pedang ini menggetarkan lengannya dan keluarlah ilmu Bayangan Dewanya. Ia berkelebat dan lenyap mendahului lawan seiring Khikang yang dikerahkan segenap tenaga. Lawannya terkejut karena jago pedang itu tiba-tiba seolah tak terpengaruh oleh racun; ia mendahului dan sudah membagi-bagikan pukulan ke arah mereka.

Saat Tok-ong menjerit dan terlempar oleh pukulan Bola Sakti, tiba-tiba kakek iblis itu roboh bergulingan sambil merintih-rintih.

"Aduh, tolong, Siauw-jin! Bunuh jago buntung ini!"

Siauw-jin terkejut. Melihat keberingasan dan kehebatan Hu Beng Kui, tiba-tiba dia menjadi gentar. Nenek Naga pun terkesiap dan kaget. Sebuah pukulan menghantam dan nenek itu pun menjerit. Saat Nenek Naga terlempar dan wajah Siauw-jin pucat, kakinya tertangkap lalu Hu Beng Kui membantingnya.

"Bress!" Setan cebol itu berteriak mengaduh-aduh. Jika bukan dia yang dibanting, barangkali punggungnya sudah remuk. Siauw-jin seakan dicengkeram kuku rajawali dan tak sempat menghindar; ia roboh dan dibanting dengan punggung lebih dulu hingga tanah meledak dan amblas sedalam setengah meter lebih.

Namun, ketika iblis cebol itu bergulingan menjauh—dan untungnya tenaga jago pedang itu tidak sedahsyat biasanya—Siauw-jin meloncat bangun dan berjungkir balik menjauhi lawan. Ia dikejar, namun Hu Beng Kui terhuyung. Sebenarnya dalam menghajar lawan-lawannya tadi, ia memaksakan diri. Racun mulai bekerja dan jago pedang itu mendesis karena rasa sakit yang amat sangat.

Karena ia keras hati sementara Siauw-jin serta dua temannya terkejut, Hu-taihiap membentak dan mengejar Tok-ong. Tok-ong berkelit dan ganti menubruk Nenek Naga yang juga menghindar. Mau tidak mau, Siauw-jin kembali berseru keras saat melihat pukulan Bola Sakti menyambar mukanya. Ketika iblis itu mengelak dan tunggang langgang melarikan diri, Hu-taihiap mengerang dengan mata sebuas harimau kelaparan.

"Ayo, antar aku ke Giam-lo-ong, Siauw-jin! Atau kau yang kuantar ke sana mendahuluiku!"

Siauw-jin gentar. Sekarang dia diburu dan harus menghadapi kemarahan lawannya ini. Ia berjungkir balik dan bersembunyi di belakang Naga Bumi. Saat nenek itu diserang dan memaki Siauw-jin, ia ganti berjungkir balik dan bersembunyi di belakang Tok-ong, menjadikan kawannya sebagai umpan. Tok-ong terkejut.

Seandainya Hu Beng Kui tidak sehebat ini, tentu Tok-ong akan menyambut, menghantam, dan melepaskan pukulannya. Namun, karena jago pedang itu masih tangguh dan Tok-ong memilih mengelak, kakek tinggi besar itu memaki Nenek Naga dan berganti sembunyi di belakang Siauw-jin. Mereka bermain kucing-kucingan.

"Keparat, jangan lari kalian, iblis-iblis busuk! Ayo maju dan hadapi aku!"

Ketiga iblis itu pucat. Mereka bermain sembunyi di belakang punggung satu sama lain, saling mengumpankan kawan. Tentu saja Nenek Naga maupun Tok-ong marah. Mereka mendongkol pada Siauw-jin yang licik karena dialah yang memulai tindakan itu.

Saat pukulan Hu Beng Kui menyambar dan kebetulan Siauw-jin kembali dikejar, mendadak iblis ini menarik baju Tok-ong untuk menyelamatkan dirinya.

"Hei!" Tok-ong terkejut. "Lepaskan bajuku, Siauw-jin! Pergi kau!"

"Aih, tidak! Lindungi aku, Tok-ong! Atau kita lari dan panggil See-ong!"

"Keparat, kau licik! Kau... dess!"

Tok-ong yang mencelat oleh hantaman lawan tiba-tiba memekik dan menghentikan makiannya karena kaget. Ia diumpankan oleh Siauw-jin dan menjadi korban. Hu Beng Kui memukulnya telak mengenai leher. Ketika Tok-ong mengeluh pendek dan muntah darah, tiba-tiba jago pedang itu memburunya, berkelebat, dan melepaskan satu pukulan lagi. Tok-ong berteriak meminta tolong kepada kedua temannya, namun malangnya Siauw-jin dan Nenek Naga malah melarikan diri.

Hu Beng Kui mendengus. Kakek itu bergulingan namun tidak dapat mengelak sehingga sebuah pukulan mengenai dadanya.

"Dess!" Tok-ong menjadi korban.

Di sisi lain, Siauw-jin sudah memutar tubuh menarik Togura. Pemuda ini pucat melihat kejadian itu. Namun, saat setan cebol itu menyentak lengannya dan melarikan diri, terdengar lagi dua pukulan menghantam Tok-ong. Kakek iblis itu menjerit dan terlempar. Dalam kemarahan yang luar biasa, Hu Beng Kui sekarang melampiaskan geramnya pada iblis tinggi besar ini. Tok-ong mencoba berkelit namun gagal.

Ketika sebuah pukulan lagi menyambar kepala kakek itu, Tok-ong berteriak. Tiba-tiba salah satu dari Enam Iblis Dunia ini roboh dengan kepala pecah.

"Prakk!" Togura ngeri.

Dalam keadaan seperti itu, jago dari Ce-bu tersebut masih dapat membunuh lawan. Siauw-jin terbelalak dan kabur dengan cepat, terbang ke tengah pulau. Saat Nenek Naga juga melengking ngeri dan kaget atas tewasnya Tok-ong, Hu Beng Kui mengerang mengejar mereka sambil mendekap perutnya.

"Heh, ke mana kalian lari, iblis-iblis busuk? Mau menyelamatkan diri? Tidak bisa! Aku akan mengantar kalian ke neraka. Berhentilah!"

Siauw-jin pucat. Geraman dan suara Hu Beng Kui yang dekat di belakangnya membuat setan cebol ini gentar. Jago pedang itu hebat bukan main dan ternyata tidak boleh diremehkan. Meskipun keracunan, ia tetap saja lihai. Saat Hu Beng Kui mengejar dan Nenek Naga melengking ketakutan, kedua orang itu terbang ke tengah pulau untuk memanggil See-ong.

"See-ong, tolong! Bantu kami!"

Nenek Naga dan Siauw-jin berlomba. Mereka berkelebat saling mendahului untuk menghindari kejaran lawan. Hu-taihiap mengerang dan melepaskan pukulan, sayangnya kurang bertenaga dan tidak sampai. Padahal biasanya dalam jarak sepuluh tombak saja ia sanggup merobohkan lawan.

Ketika kedua orang itu berteriak-teriak dan tiga bayangan berkelebat dari kiri-kanan, mendadak Toa-ci, Ji-moi, serta Cam-kong muncul.

"Ada apa? Kenapa?"

"Ah, Hu Beng Kui datang, Cam-kong! Bantu dan lindungi kami!"

"Mana dia?"

"Di belakang, lihat...!"

Cam-kong yang mendengar geraman menggetarkan itu tiba-tiba melihat sang jago pedang. "Hei!" serunya. "Mana Tok-ong?"

"Mampus!" teriak Siauw-jin. "Tok-ong tewas dibunuhnya, Cam-kong. Lekas panggil See-ong atau kau bantu kami!"

Cam-kong tertegun. Berita ini jelas mengejutkan iblis tinggi kurus itu. Cam-kong terbelalak dan tentu saja marah. Ketika Hu Beng Kui tiba dan mengerang padanya, mendadak iblis ini lenyap berkelebat menggunakan ilmu hitamnya.

"Hu-taihiap, kau manusia jahanam!"

Namun, jago pedang itu mendengus. Melihat Cam-kong lenyap menggunakan ilmu hitam, mendadak ia membentak. Tangannya bergerak ke kiri dan lengannya bertemu dengan segulung asap hitam. Ketika bunyi menggelegar terdengar, asap hitam ini terpental tinggi. Cam-kong berteriak karena terbanting, kembali ke wujud asalnya, lalu Hu Beng Kui mengejarnya. Kakek ini menghantam dan berganti Cam-kong menangkisnya. Namun, karena itu adalah pukulan Bola Sakti dan tangkisannya membalik mengenai diri sendiri, iblis ini menjerit saat terlempar lagi.

"Dess!" Mata Hu Beng Kui tampak nyalang.

Cam-kong sudah dibuat jatuh bangun, namun Toa-ci dan Ji-moi menyambar. Dua nenek bersaudara itu berteriak pada Siauw-jin agar kembali mengeroyok jago pedang ini. Saat Toa-ci serta Ji-moi melepaskan pukulan dari kiri dan kanan, Hu Beng Kui tergetar, namun kedua nenek itu justru mencelat.

"Heh, kubasmi kalian, manusia-manusia iblis! Tak akan kuampuni kalian, semua akan kuantar ke akhirat!"

"Keparat!" Nenek Toa-ci berjungkir balik. "Bantu kami, Siauw-jin! Panggil See-ong kalau kita berlima tidak dapat mengalahkannya!"

"Benar!" Cam-kong berseru menambahi. "Jangan lari dulu, Siauw-jin! Bantu kami dan keroyok si buntung ini!"

Karena hal itu masuk akal, Siauw-jin berhenti. Iblis cebol itu tertegun dan Nenek Naga juga mengangguk setuju. Bagaimanapun, jago pedang itu sudah terluka. Obat penghancur usus pasti mulai bekerja dan mengganggu dari dalam. Terbukti berkali-kali jago Ce-bu itu meringis menahan sakit dan konsentrasinya buyar. Mereka sekarang berlima dan tidak perlu takut.

Sambil membentak dan menyuruh temannya maju, tiba-tiba nenek ini berkelebat menghantam lawan, disusul oleh yang lain, termasuk Siauw-jin. Keberanian kakek cebol ini bangkit dan ia menyerang lagi. Ketika kelima orang itu bergerak silih berganti dan serangan demi serangan dilancarkan ke tubuh lawannya, Hu Beng Kui menerima beberapa pukulan.

"Plak-buk-buk!"

Namun, semuanya membal. Berkat Khikang dan tubuhnya yang kuat, Hu Beng Kui ternyata tidak apa-apa. Jago pedang itu hanya tergetar, sementara pukulan lawan justru membalik, terpental oleh Khikang yang dimilikinya.

Saat kelima orang itu berteriak karena semakin kuat mereka menyerang, semakin kuat pula daya tolak yang menghantam tubuh sendiri, jago pedang itu bergerak dan mengeluarkan ilmu Bayangan Seribu Dewa.

"Awas, semua menjauh...!"

Cam-kong dan teman-temannya mengerti. Mereka hafal dan tahu kedahsyatan ilmu luar biasa ini. Jingsian-eng bekerja dan Hu Beng Kui seolah lenyap sambil membagi-bagikan pukulan. Cam-kong berteriak dan empat temannya mengeluh. Beruntung, tenaga Hu Beng Kui tidak sedahsyat biasanya karena terganggu oleh rasa sakit di perutnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment