Halo!

Istana Hantu - Chapter 32

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 32

Namun, ketika mereka tunggang-langgang dan jago pedang itu tetap menguasai keadaan, Siauw-jin memutar tubuhnya dan lagi-lagi meninggalkan kawan-kawannya.

"Mundur, kita lari saja! Panggil See-ong!" Cam-kong pucat.

Kalau Hu Beng Kui masih sehebat ini, memang tidak ada jalan lain kecuali meminta bantuan See-ong.

Siauw-jin lari sipat kuping dan mendahului teman-temannya. Apa boleh buat, ia pun memutar tubuhnya dan berkelebat menjauhi pendekar pedang itu.

Dan ketika Toa-ci serta yang lain juga berseru keras dan memutar tubuhnya, Hu Beng Kui membentak mengejar mereka.

"Keparat! Berhenti, manusia-manusia busuk! Berhenti kalian!" Siauw-jin dan yang lain panik.

Hu-taihiap menggeram dan mengejar mereka, melepaskan pukulan, namun mereka mengelak. Semua berteriak-teriak dan mereka pun berlari ke tengah pulau.

Dan ketika jago pedang itu menggeram-geram dan mereka berlima memanggil See-ong, Siang Le berkelebat dan muncul di situ.

"Siapa ini? Ada apa?"

"Minggir!" Siauw-jin berseru. "Dia Hu-taihiap, Siang Le. Panggil dan datangkan gurumu!"

"Ah, Hu-taihiap?"

"Benar, dan jangan banyak bicara lagi!" Dan Siauw-jin yang membentak menyuruh pemuda itu minggir tiba-tiba mendorong dan menyelinap di samping pemuda itu, meneruskan larinya, dan berturut-turut empat yang lain berkelebat pula.

Siang Le tertegun, namun ia tidak pergi. Bahkan, ia menunggu dan terbelalak melihat jago pedang yang kesohor ini, bengcu yang kini matanya melotot dan merah seperti saga.

Dan ketika Hu-taihiap juga tertegun tetapi tidak mengenal pemuda itu, tiba-tiba ia membentak dan mengayun lengannya, teringat Togura.

"Enyah kau... dess!" Siang Le terbanting.

Pemuda itu berseru keras dan terlempar bergulingan. Pukulan Hu-taihiap mengenai pundaknya, namun Siang Le dapat bertahan, mengerahkan sinkang. Sesungguhnya, pukulan Hu Beng Kui sudah lemah.

Dan ketika pemuda itu meloncat bangun namun Hu-taihiap mengejar kelima lawannya, mendadak pemuda itu membentak dan mencegat jago pedang itu. Ia melepaskan pukulan, namun Hu Beng Kui mengibas. Siang Le belum pernah berhadapan dengan jago tua ini, tidak mengenal Khikangnya, dan otomatis berteriak ketika pukulannya membalik.

Dan ketika pendekar pedang itu menggeram padanya dan terpaksa berhenti, pemuda itu dikejar dan menjadi sasaran. Bak-bik-buk, ia mendapat pukulan dan Siang Le berteriak mengaduh.

Dalam beberapa gebrakan saja, ia tunggang-langgang, mengerahkan Sin-re-ciangnya, namun lawan mendengus.

Dan ketika jari-jarinya yang mulur bahkan ditangkap dan dicengkeram, tiba-tiba pemuda itu menjerit serasa dijepit baja panas.

"Aduh...!" Hu-taihiap membanting pemuda itu.

Dalam kemarahan dan kekalapannya, jago pedang itu membentak, mengerahkan tenaga, dan pemuda itu diangkat lalu dihantamkan ke tanah.

Namun, ketika Siang Le dapat berdiri dan terhuyung meloncat bangun, jago pedang itu terbelalak juga melihat ada pemuda sehebat itu, setelah Togura.

"Siapa kau?" Bentaknya. "Mana cucuku Thai Liong dan Soat Eng?"

"Aduh..." Siang Le masih kesakitan.

"Kau hebat, Hu-taihiap. Tapi kau tidak dapat menolong kedua cucumu...!"

"Keparat! Kenapa? Kau tahu di mana mereka?"

"Aih, sabar, Hu-taihiap. Jangan menyerang dan dengarkan aku bicara!" Namun Hu-taihiap yang menggeram, melepaskan pukulannya lagi, tiba-tiba mencengkeram dan melempar pemuda itu, berkelebat, dan mengejar lagi Siauw-jin dan keempat kawannya.

Terhadap Siang Le, jago tua itu tidak seberapa peduli. Ia melihat pemuda itu, meskipun hebat, namun sorot matanya lebih baik daripada Togura atau kelima Iblis Dunia itu. Jadi, ia mengejar lagi Siauw-jin dan kawan-kawannya itu, juga Togura, pemuda yang telah meracuni perutnya!

Namun ketika Siang Le menghadang dan berkelebat di depannya, mendadak pemuda itu mengganggu lagi dengan pukulan di belakang pundaknya.

"Hu-taihiap, tunggu! Jangan ke tengah pulau... bress!" Hu Beng Kui membalik, menampar pemuda itu, dan Siang Le terbanting, menjerit dan berteriak. Jago pedang itu terbang lagi mengejar lawan-lawannya.

Tapi ketika ia tiba di tengah pulau dan terengah serta memburu napasnya, mendadak berkelebat sesosok bayangan tinggi besar dan pulau pun tergetar oleh tawa yang bergelak.

"Ha-ha, selamat datang, Hu-taihiap. Tahan pukulan-pukulanmu dan berhenti... dess!" Hu-taihiap terguncang, mencelat ke belakang, tetapi lawan juga terpental.

Tadi, sepasang lengan yang kokoh menahan pukulannya dan jago pedang itu mendelik, mengerahkan Khi-bal-sin-kang, tetapi lawan tiba-tiba lenyap, entah ke mana.

Dan ketika ia terhuyung dan berdiri dengan tegak, tiba-tiba lawannya itu muncul lagi di sebelah kanan, seperti siluman.

"Hebat, kau luar biasa, Hu-taihiap. Selamat datang di Sam-liong-to!"

"Kau siapa?" Hu Beng Kui membentak. "See-ong?"

"Benar, aku See-ong, Hu-taihiap. Dan kau gagah sekali, ah!" Dan See-ong yang kagum memandang lawannya tiba-tiba tertawa.

"Hu-taihiap, bagus sekali kau memenuhi undanganku. Tapi kau tampaknya tidak sehat. Sakit?"

"Keparat! Tidak usah berbasa-basi, See-ong. Aku datang untuk mengambil cucuku. Ayo, mana Thai Liong dan Soat Eng!"

"Tunggu!" See-ong berseru. "Aku mengundangmu memang untuk bertempur, orang bermarga Hu. Tapi mana menantumu dan istrinya? Apakah kalian tidak datang bersama?"

"Kau mengundang menantuku pula?"

"Benar. Toa-ci dan Ji-moi sudah kusuruh memberi tahu, Hu-taihiap. Dan aku berharap kalian datang bertiga. Aku ingin merobohkan kalian!"

"Keparat! Merobohkan aku saja belum tentu kau bisa, See-ong. Tidak usah banyak bicara dan serahkan cucuku!" Dan Hu-taihiap yang berkelebat membentak ke depan tiba-tiba menghantam dan menyerang See-ong, menggerakkan lengannya dan melepaskan pukulan Khi-bal-sin-kang.

Angin yang dahsyat menderu menyambar kakek itu.

Tapi begitu See-ong menangkis dan mengerahkan tenaganya, jago pedang itu terpental.

"Blarr!" Si jago pedang terkejut.

See-ong tiba-tiba lenyap dan berubah wujudnya, membentuk asap putih dan asap tersebut melayang-layang di udara.

Dan ketika ia terbelalak dan lawan terbahak-bahak, tiba-tiba See-ong muncul lagi dan berseru.

"Heh, hebat kau, Hu-taihiap. Tentu itu Khi-bal-sin-kang. Tapi kenapa tenagamu hilang di tengah jalan? Kenapa kau mendekap perutmu?"

"Ia keracunan!" Siauw-jin terkekeh, maju berkelebat. "Hu Beng Kui ini menelan pil pahit, See-ong. Ia menelan obat penghancur usus!"

"Apa?" See-ong mengerutkan kening. "Obat penghancur usus? Bukankah itu milik kalian?"

"Benar, dan muridku inilah yang melakukannya, See-ong. Orang bermarga Hu itu terlalu bodoh dan akan mati tanpa diserang!"

"Keparat!" See-ong tiba-tiba marah. "Kau yang melakukannya, anak muda?" Togura terkejut. Ia mengangguk, tetapi See-ong tiba-tiba berkelebat, menyambar dan mencengkeram tengkuknya.

Dan ketika ia menjerit dan mengaduh kesakitan, See-ong membantingnya dan pemuda itu berteriak, terguling-guling.

Siauw-jin dan empat temannya terkejut.

"Kenapa, See-ong? Kenapa kau menghajar muridku?"

"Terkutuk!" See-ong memaki. "Ini merendahkan diriku, Siauw-jin. Kemenanganku tidak sepenuh hati karena kecurangan ini. Siapa suruh muridmu itu meracuni Hu-taihiap? Siapa suruh aku memperoleh kemenangan dengan cara begini?" Siauw-jin tertegun. Yang lain juga terkejut, dan Hu Beng Kui sendiri tertegun. Jago pedang itu memandang Togura dan memelototi pemuda itu dengan pandangan beringas.

Matanya berapi-api dan rasanya ingin ditelannya pemuda itu, bulat dan tidak dikunyah lagi.

Tapi mendengar See-ong bicara tentang kemenangan dan agaknya tanpa diracuni pun ia akan kalah, Hu Beng Kui menggeram dan melotot maju.

"See-ong!" Bentaknya. "Jangan sombong dan bicara takabur. Meskipun aku terluka, kau tidak dapat mengalahkan aku. Heh, majulah, setan busuk. Dan boleh mereka mengeroyokku!"

"Tidak," See-ong menggeleng. "Kau harus minum obat dulu, Hu Beng Kui. Biarlah kau pulihkan kekuatanmu dan terima obat ini!" See-ong melempar sebotol obat sungguh-sungguh, namun si jago pedang justru terhina.

Hu Beng Kui terang tidak percaya pemberian tulus itu, membentak dan langsung menampar hancur botol obat yang dilempar ke arahnya.

Dan ketika See-ong tertegun dan wajahnya memerah, Hu Beng Kui menggigil berkata.

"See-ong, tidak perlu menipu aku, si tua bangka ini. Belum pernah selamanya iblis-iblis macam kalian melepas budi kepada orang lain. Nah, lebih baik kau maju dan mari bertempur!"

"Nanti dulu!" See-ong meloncat, mundur menjauhkan diri. "Aku menantangmu bukan dalam keadaan begini, Hu-taihiap. Aku ingin kau sehat dan kalah secara sempurna. Kau sebaiknya pulang dulu dan obati lukamu!"

"Apa, pulang? Kau menghina aku? Keparat! Pantang pulang bagiku sebelum membasmi kalian, See-ong. Dan biar aku mati kalau sudah dikehendaki... wut!" Dan Hu Beng Kui yang marah bukan main tiba-tiba menyambar dan berkelebat menghantam lawan itu, tidak peduli pada racun di perut dan sebisanya ia menahan.

See-ong terkejut mengerutkan kening.

Tapi melihat datangnya pukulan, tiba-tiba kakek itu mengejek dan menangkis.

"Dukk!" Hu Beng Kui terpental.

See-ong sendiri terpental namun sudah menghilang. Secepat kilat, kakek iblis itu mempergunakan Hek-kwi-sutnya dan ia pun lenyap dari hadapan lawan.

Dan ketika Hu-taihiap terguncang dan kaget oleh kesaktian lawan, tiba-tiba See-ong muncul lagi dan berkata.

"Orang bermarga Hu, tidak perlu bersikeras. Kau tidak dapat menang dan sebaiknya kembali. Pulihkan kesehatanmu atau kau mati di sini."

"Wut!" Hu Beng Kui menerjang lagi. "Lebih baik mati di sini daripada pulang, iblis busuk. Kubunuh kau dan jangan banyak bicara lagi!" Dan si jago pedang yang marah menyerang lawan lalu bertubi-tubi menampar dan memukul, melepaskan Khikang dan See-ong mengelak.

Kakek tinggi besar itu berlompatan, namun si jago pedang beringas, mendesak dan mempercepat gerakannya hingga terpaksa ia menangkis.

Dan ketika dua pukulan beradu dan Hu Beng Kui terpental, sementara lawan terdorong dan lenyap entah ke mana, jago pedang itu terbelalak karena ilmu aneh yang ditunjukkan See-ong ini lain daripada yang lain, tidak mengenal Hek-kwi-sut, dan See-ong tertawa mengejek.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment