Chapter 33
Hu Beng Kui mengerahkan Jing-sian-eng dan tiba-tiba lenyap pulalah jago pedang itu, See-ong terkejut berseru tertahan.
Dan ketika dia menggunakan Hek-kwi-sut namun lawan beterbangan mengelilingi tubuhnya maka kakek tinggi besar itu berseru keras memuji kagum.
"Hebat! Aih, luar biasa. Ini tentu Jing-sian-eng!" Hu Beng Kui malah terkejut.
Lawan yang dapat berubah menjadi roh halus dan mampu mengelak atau mengimbangi Jing-sian-engnya baru kali ini dilihat.
Dia mempercepat gerakannya namun See-ong tertiup sebelum disentuh.
Pukulan atau tamparannya bahkan mendorong kakek itu semakin jauh, tentu saja tak dapat dipukul!
Dan ketika Hu Beng Kui terbelalak dan terkejut bukan main maka See-ong terbahak-bahak di balik ilmunya yang sakti itu.
"Ha-ha, kuperkenalkan padamu, Hu-taihiap. Inilah Hek-kwi-sut!" "Hek-kwi-sut (Lebur Bersama Iblis)? Keparat, kau benar-benar iblis, See-ong. Pantas kalau begitu!" Dan Hu Beng Kui yang menggeram menyerang lawan akhirnya melengking dan berkelebat semakin cepat, sudah tak dapat diikuti lagi dan Siauw-jin serta kawan-kawannya kabur.
Terhadap Jing-sian-eng mereka memang harus mengakui kalah.
Bayangan Seribu Dewa itu akan melenyapkan tubuh si jago pedang, ginkang atau ilmu meringankan tubuh apa pun tak ada yang dapat menandingi di dunia ini.
Tapi begitu See-ong mampu mengimbangi dan Hek-kwi-sut yang dipakai kakek tinggi besar itu sama cepat dengan Jing-sian-eng maka Siauw-jin mendecak dan kawan-kawannya yang lain juga terkagum-kagum.
"Hebat, ini pertandingan dua jago yang sama lihai. See-ong mengagumkan namun Hu-taihiap juga luar biasa!" "Ya, dan jago pedang itu kuat benar, Siauw-jin. Seharusnya racun itu bekerja dan sudah membunuhnya!" "Mungkin dia menahannya. Tapi Hu Beng Kui tak akan lama, Toa-ci. Kecepatan geraknya pasti berkurang!" "Benar, lihat itu!" Dan ketika benar saja gerakan Hu Beng Kui mengendor dan jago pedang itu menyeringai mendekap perut maka Jing-sian-eng surut dan jago tua ini terhuyung-huyung, lemah gerakannya dan See-ong muncul kembali.
Kakek tinggi besar itu tertawa bergelak dan menyuruh lawannya mundur, menyerah, atau pulang dulu.
Tapi ketika Hu Beng Kui menggeram dan membentak maju tiba-tiba pukulannya menyambar dan Khi-bal-sin-kang dilepas.
"Dess!" Hu Beng Kui jatuh terbanting.
Pukulan Bola Sakti yang biasanya mementalkan lawan mendadak berubah, See-ong menerimanya dengan tenaga lemas dan jago pedang itu terkejut, hilang pukulannya dan otomatis dia tertarik.
Dan ketika See-ong mendorong dan balas memukul pundaknya tiba-tiba jago pedang ini mengeluh dan terlempar.
"Ha-ha, lihat, Hu Beng Kui. Kau kehilangan tenaga dan lemah. Sebaiknya kembali atau kau menyerah!" "Keparat! Menyerah padamu, See-ong? Lebih baik aku mampus dan mati di sini... wut!" Dan si jago pedang yang bangkit berdiri dan menyerang lagi tiba-tiba membentak namun mendesis kesakitan, perut didekap dan saat itu racun bekerja kembali.
Hu Beng Kui merasa usus kecilnya rantas, mengeluh namun nekat menyerang.
Dan ketika See-ong mengelak dan dia terhuyung maka See-ong marah menghantam tengkuknya, roboh namun jago pedang ini bangkit kembali, menyerang.
Gagah jago pedang itu, lawan memuji dan terpaksa berkelit.
Dan ketika Khikang kembali menyambar namun pukulan sudah habis seperti pelita kehabisan minyak maka kakek tinggi besar itu berkata.
"Baiklah, kau minta mati, Hu Beng Kui. Jangan salahkan aku di neraka... dess!" Dan See-ong yang mendaratkan pukulan di dada jago pedang itu tiba-tiba mengerahkan tenaganya dan terjengkanglah jago Ce-bu itu roboh ke tanah, memuntahkan darah segar dan Hu Beng Kui tidak bergerak-gerak lagi, tersungkur, tewas karena saat itu juga usus di dalam perutnya hancur, rantas, dan putus akibat racun yang diberikan Togura.
Dan begitu jago pedang itu roboh dan tidak bergerak-gerak lagi maka Siauw-jin bersorak sementara empat temannya yang lain juga terkekeh senang.
"Baiklah, kau minta mati, Hu Beng Kui. Jangan salahkan aku di neraka... dess!" "Hi-hik, kau menang, See-ong! Mampus si sombong ini!" "Benar, dan terbalaskan sakit hati ini, See-ong. Bagus!" Namun See-ong yang berkerut kening dan tiba-tiba membalik mendadak membentak lima orang itu.
"Diam!" katanya. "Aku tak puas dengan kemenangan ini, Toa-ci. Kalian memalukan dan merendahkan aku. Muridmu itu jahanam terkutuk!" "Maaf," Siauw-jin menyeringai. "Muridku salah, See-ong. Tapi betapapun kemenangan telah kau peroleh..." "Dengan cara begini curang?" Kakek itu membentak. "Bedebah kau, Siauw-jin. Kau selalu membela muridmu dan memalukan aku... dess!" Dan Siauw-jin yang ditendang mencelat akhirnya terpekik dan kaget berjungkir balik, mau bicara tapi tak jadi diserukan.
See-ong betul-betul marah dan kini kakek itu uring-uringan pada yang lain.
Dan ketika Toa-ci dan tiga temannya juga didupak dan disuruh pergi maka Togura mendapat tamparan dan langsung pingsan.
"Pergi kalian. Semua pergi! Jaga pulau ini dan tunggu Kim-mou-eng!" Dan marah serta memandang muridnya kakek itu berkata.
"Siang Le, bawa mayat ini dan kubur di dalam Istana Hantu. Tunjukkan pada dua bocah itu bahwa aku telah mengalahkan Hu-taihiap!" Siang Le tertegun.
"Kau tidak segera pergi?" "Maaf." Siang Le terkejut. "Mayat ini memang akan kukubur, suhu. Tapi sebaiknya tak usah memberi tahu dua orang muda itu. Mereka hanya akan membenci kita saja." "Eh, kau membantah? Kalau begitu kau pun pergilah, biar mayat ini kubuang ke laut... dess!" Dan See-ong yang menggerakkan kaki menendang mayat jago pedang itu tiba-tiba membentak muridnya agar pergi.
Mayat Hu Beng Kui tercebur di laut dan langsung diterima ombak.
Dan ketika mayat itu timbul tenggelam dan Siang Le terkejut maka pemuda ini pucat berkelebat pergi.
"Suhu, kau terlalu. Biarlah dosa dan semua perbuatanmu kau tanggung sendiri!" See-ong mendelik. Dia mau menampar tapi muridnya lenyap di tengah pulau, uring-uringan karena sebenarnya dia tak puas dengan kemenangannya itu.
Hu Beng Kui kalah karena sebelumnya sudah terluka.
Maka begitu menggeram dan memaki muridnya kakek iblis ini pun berkelebat dan lenyap pula meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana, istriku? Seriuskah undangan itu?" "Hm, kurasa serius, suamiku, dan kita harus ke Sam-liong-to! Tapi kita selidiki dulu kebenaran dua nenek itu. Bisa jadi mereka membohongi kita dan Thai Liong serta Soat Eng tak ada di sana!" Dua suami istri, yang duduk-duduk di sebuah taman luas tampak bercakap-cakap.
Mereka adalah seorang laki-laki gagah dengan seorang wanita cantik, usianya sekitar empat puluhan tahun dan baik yang pria maupun yang wanita tampak memiliki mata yang sama-sama tajam.
Yang lelaki rambutnya keemasan, sedangkan yang perempuan masih hitam disanggul tinggi, gagah dan cantik dan mudah diduga keduanya bukanlah orang-orang sembarangan.
Dan ketika yang wanita tampak menggeleng dan menutup pembicaraan tiba-tiba yang pria, yakni Pendekar Rambut Emas, bangkit berdiri.
"Hm, apa maksudmu, istriku? Apa yang kau artikan dengan Soat Eng dan Thai Liong tak ada di Sam-liong-to?" "Jelas, mereka bisa saja ke tempat lain, suamiku. Misalnya saja ke Ce-bu ke tempat kakeknya. Bukankah sudah lama kita tak bertemu ayah? Dan semalam aku bermimpi, dan aku takut dengan mimpiku itu!" "Eh, mimpi apa?" "Ayah hanyut di sungai, tenggelam!" Pria itu, Pendekar Rambut Emas, tertegun.
Mimpi macam begitu biasanya diartikan sebagai sebuah bencana. Kematian!
Namun tersenyum dan tertawa kecil tiba-tiba pendekar ini merangkul bahu istrinya.
"Ah, kau seperti anak kemarin sore saja. Mimpi begitu bisa saja menjadi kembang tidur, istriku. Tak perlu takut kalau bukan firasat murni." "Tidak! Di samping itu, aku masih kejatuhan cecak, suamiku. Tadi sewaktu mandi seekor cecak menimpa kepalaku. Aku takut! Aku khawatir..." "Ha-ha, putri si jago pedang Hu Beng Kui takut kepada segala macam mimpi dan tanda-tanda kosong? Eh, mana keberanianmu, istriku? Bangkit dan pandanglah, lihat segala sesuatu tanpa pengaruh mimpi atau khayal pribadi. Ikut aku dan kita ke dalam!" Pendekar Rambut Emas menarik istrinya, terkejut karena si istri menolak, tak mau ditarik dan tiba-tiba wajah yang cantik itu memerah.
Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan bertanya kenapa istrinya seperti itu tiba-tiba istrinya ini menangis.
"Suamiku, aku betul-betul takut, khawatir. Semalam rasanya ayah menemui aku dan minta sesuatu yang aneh!" "Apa yang diminta?" "Perutku, kandunganku..." "Heh?" Pendekar Rambut Emas terkejut. "Perutmu? Kandunganmu? Apa maksudmu, istriku? Bagaimana kau buat aku bingung begini?" "Entahlah, aku juga tak mengerti suamiku. Tapi seminggu ini aku... aku terlambat..." "Terlambat apa? Apa maksudmu?" Swat Lian, wanita cantik ini tiba-tiba wajahnya memerah.
Ditanya dan ditatap suaminya seperti itu mendadak wanita ini semburat. Perasaan malu dan jengah tiba-tiba timbul, tanpa membalas perkataan sang suami, tiba-tiba dia menubruk, terisak dan menangis di situ.
Dan ketika suaminya tertegun dan mengusap-usap rambutnya maka wanita ini terbata bicara, kepala disembunyikan di dada sang suami.
"Aku... aku rasa hamil lagi, Kim-ko. Kita akan punya anak!" "Apa?" "Benar! Aku... aku hamil muda, suamiku. Dan seminggu ini aku tak seperti biasanya!" "Ha-ha!" Kim-mou-eng tiba-tiba malah tertawa bergelak. "Kalau begitu kebetulan, istriku. Tambah anak tambah rezeki!" "Hush!" Sang istri menarik tubuhnya. "Kau tak malu, suamiku? Kau tak mencela kejadian ini?" "Eh, kenapa mencela? Untuk apa malu?" "Ah, aku hampir empat puluh tahun, suamiku. Dan anak kita Soat Eng sudah besar. Apa kata anak-anak kalau aku hamil lagi?" "Ha-ha, itu urusan kita, istriku. Soat Eng maupun Thai Liong tak akan menyalahkan kita. Malah kebetulan, Soat Eng ingin punya adik!" "Apa?" "Benar, putri kita itu merindukan seorang adik, istriku. Dia menginginkan adik laki-laki. Dan kebetulan sekali kau hamil!" Dan Pendekar Rambut Emas yang memeluk serta menciumi istrinya tiba-tiba terbahak dan tampak gembira bukan main, tidak mencela malah memuji.