Chapter 34
Swat Lian tertegun namun mengeluh. Akhirnya, ia membiarkan suaminya menciumnya dan wanita itu pun merasa bahagia. Namun, saat teringat mimpinya tadi dan betapa ayahnya meminta sesuatu yang aneh, mendadak ia mendorong suaminya sambil berkata perlahan, "Nanti dulu, tunggu!"
Dengan wajah memerah memandang suaminya, wanita cantik ini mengingatkan, "Ingat, aku masih terpengaruh mimpiku, Suamiku. Aku agak terganggu oleh bayangan Ayah!"
"Hm...!" Kim-mou-eng menarik napas, lalu mencium kening istrinya. "Kalau begitu, apa yang kau inginkan, Istriku? Apakah kita perlu ke Ce-bu?"
"Benar, aku ingin menengok Ayah, Suamiku. Sudah dua tahun ini kita tidak berkunjung!"
"Baiklah, aku setuju. Namun, berita ini ingin kurayakan!"
"Kau mau apa?"
"Haha, memanggang kelinci utuh, Istriku. Memasaknya di depanmu seperti saat kita berbulan madu dulu!"
"Ih...!" Sang istri melirik genit, lalu tiba-tiba disambar dan dipeluk oleh suaminya. Suaminya terbahak, dan untuk sejenak masalah mimpi itu dapat dilupakan. Swat Lian terlena dan mabuk dalam pelukan suaminya. Begitulah mereka selama ini, saling mencintai dan tetap saling mencintai.
Ketika Kim-mou-eng membawa istrinya ke kamar, sang pendekar menumpahkan segala rindu dan cintanya. Istrinya pun terlena dan bahagia dalam pelukan sang suami setelah mendapatkan janji bahwa besok mereka akan berangkat ke Ce-bu.
Hari itu suaminya ingin bersenang-senang terlebih dahulu untuk menyambut berita kehamilan ini. Mereka memanggang kelinci utuh, dan kegembiraan mereka bangkit kembali seperti dua puluh tahun yang lalu, yakni ketika mereka berbulan madu dan menikmati kelinci panggang di hutan; berdua saja tanpa ada yang mengganggu.
Setelah seharian Pendekar Rambut Emas memanjakan istrinya hingga Swat Lian terbuai, pada malam harinya mereka kembali bermesraan.
"Ih, seperti anak muda saja," sang istri mengomel sambil tertawa. "Bukankah siang tadi sudah cukup, Suamiku? Masih minta tambah?"
"Ah, aku sedang bahagia mendengar kehamilanmu, Istriku. Entahlah mengapa aku begitu bergairah!" Kim-mou-eng tertawa, merangkul istrinya, dan untuk kedua kalinya mengajak bercinta. Tampaknya pendekar ini sedang sangat bersemangat, didorong oleh kegembiraan mendengar kabar kehamilan istrinya.
Setelah semalaman memuaskan diri dan keesokan harinya mandi dengan segar, pasangan suami istri itu pun berangkat ke selatan, menuju Ce-bu.
"Kami hendak ke selatan, jaga baik-baik tempat ini," pesan Pendekar Rambut Emas. Bangsa Tartar sudah biasa ditinggalkan oleh pemimpin mereka. Perwakilan mereka mengangguk, lalu pasangan suami istri itu pun berkelebat meninggalkan padang rumput.
Selama perjalanan panjang, Swat Lian teringat masa-masa manis mereka. Mereka sering berhenti di satu atau dua tempat, dan suaminya selalu menuruti. Urusan Thai Liong maupun Soat Eng tidak terlalu mereka khawatirkan, karena anak-anak itu sudah bisa menjaga diri dan ilmu kepandaian mereka sudah lebih dari cukup.
Pada hari ketiga, saat tiba di Ce-bu, mendadak mereka dikejutkan oleh lolongan Uwak Lu yang langsung menjerit saat melihat mereka.
"Aduh, celaka, Kim-taihiap! Celaka! Aku ditipu...!"
"Eh, ada apa?"
"Celaka, aku... ah, aku tertipu, Hujin. Seseorang datang ke sini dan menipuku. Ayahmu tentu akan sangat marah!" Uwak Lu tersedu-sedu lalu berlutut dan meratap di bawah kaki Swat Lian. Tadi ia melolong kepada Pendekar Rambut Emas, namun sekarang ia menangis di depan Swat Lian.
"Gak-hu tidak ada. Rumah ini sepi!"
Swat Lian memandang Uwak Lu dan membantunya berdiri. "Ke mana Ayah? Tidak ada di rumah?"
"Tidak, dan... ah, celaka, Hujin. Justru karena ayahmu tidak ada, seorang pemuda menipuku!"
"Apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa tertipu?"
"Aku... aku..."
"Mari masuk ke dalam," potong Kim-mou-eng sambil menarik lengan wanita tua itu. "Ceritakan semuanya di dalam saja, Uwak Lu. Jangan menangis di sini karena akan menarik perhatian orang!"
Kim-mou-eng membawa Uwak Lu masuk, diikuti oleh Swat Lian. Mereka memasuki tempat tinggal Hu Beng Kui. Swat Lian melihat rumah itu masih bersih dan terawat, tanda Uwak Lu menjaga tempat tinggal ayahnya dengan baik.
Setelah mereka duduk, Kim-mou-eng menyuruh Uwak Lu bercerita. Uwak Lu terus memukul-mukul kepalanya sendiri. "Aku bodoh! Aku menyesal! Ah, aku takut ayahmu marah, Hujin. Aku takut dibunuh!"
"Apa yang terjadi? Mengapa kau hanya menangis? Sudahlah, tahan kesedihanmu, Uwak Lu. Ceritakan dengan jelas dan hapus air matamu!"
"Tidak, aku... ah!" Uwak Lu kembali menangis, mengerang, dan memukuli kepalanya sendiri. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Akhirnya, Pendekar Rambut Emas menenangkan wanita tua itu. Dengan tepukan halus di punggungnya, ia menghibur Uwak Lu dan berjanji akan melindunginya dari kemarahan ayah mertuanya.
Mata wanita itu berbinar meski masih menggigil saat memandang Pendekar Rambut Emas. Dengan penuh harap, ia bertanya, "Taihiap benar-benar bisa menolongku? Taihiap bisa melindungiku dari kemarahan Loya?"
"Tentu, ada istriku juga di sini, Uwak. Tidak perlu khawatir karena kesalahanmu pasti tidak disengaja."
"Benar! Memang tidak kusengaja, Taihiap. Dan pemuda itu... ah, dia lihai namun jahat!"
"Siapa dia?" tanya Swat Lian. "Mengapa kau terus menyebut pemuda ini? Cepat bercerita, Uwak Lu. Katakan juga ke mana Ayah pergi!"
"Hu-taihiap pergi ke Sam-liong-to..."
"Apa?"
"Benar, Loya ke Sam-liong-to, Hujin. Entah ada urusan apa. Aku sudah menasihatinya agar ke tempat kalian terlebih dahulu. Apakah beliau tidak ke sana?"
"Tidak, jika beliau ke sana, kami tentu tidak akan datang ke sini!"
"Hmm, apa yang sebenarnya terjadi?" Kim-mou-eng mengambil alih percakapan. "Kenapa kau belum menceritakan kejadian di sini, Uwak Lu? Apa yang membuatmu menangis dan ketakutan?"
Uwak Lu mendadak menangis lagi. "Cermin Naga, Taihiap... masalah Cermin Naga...!"
"Cermin Naga?" Pendekar Rambut Emas terkejut. "Ada apa dengan cermin itu?"
"Hilang, dicuri pemuda jahat itu!"
"Apa? Hilang dicuri orang?"
"Benar, dibawa lari oleh pemuda itu, Taihiap. Aku tertipu!" Uwak Lu kembali menangis tersedu-sedu. Pendekar Rambut Emas tertegun, sementara istrinya bangkit berdiri dengan kaget. Swat Lian menggigil mendengar berita itu. Hilangnya Cermin Naga berarti bahaya besar!
Swat Lian memegang dan membantu wanita itu berdiri, lalu bertanya dengan suara bergetar, "Uwak Lu, bagaimana kejadiannya? Kapan, dan siapa pemuda itu?"
"Inilah celakanya," isak wanita itu. "Aku tidak tahu dan tidak mengenal pemuda itu, Hujin. Dia bangsat keparat yang menipuku. Jahanam pemuda itu, terkutuklah dia!" Sambil menangis tanpa bisa menahan amarah, Uwak Lu tiba-tiba menubruk dan memeluk kaki Swat Lian, memohon perlindungan dari kemarahan Hu-taihiap. Kelalaiannya dalam menjaga rumah dianggapnya sebagai dosa yang tak terampuni, apalagi menyangkut Cermin Naga, benda yang dulu pernah menghebohkan dunia persilatan.
Swat Lian tertegun dengan wajah pucat. Pendekar Rambut Emas menarik napas dan membantu wanita tua itu berdiri kembali. "Uwak Lu, jangan menyesali diri secara berlebihan. Ceritakan siapa pemuda itu agar kami bisa mencarinya. Jika kau bisa memberikan ciri-cirinya, kami pasti dapat menangkapnya. Bangunlah dan jangan takut!"
"Taihiap mau menangkap pemuda itu?"
"Jika kau memberikan keterangan lengkap, Uwak Lu. Bangun dan berceritalah kepada kami."
"Dia pemuda tinggi besar, kulitnya kehitaman!" Uwak Lu mencoba mengingat-ingat sambil berdiri dengan tinju terkepal. "Dia menipuku habis-habisan, Taihiap. Ah, terkutuk pemuda itu!"
"Hmm, tidak perlu memaki. Kami bisa mencarinya jika kau memberi keterangan yang jelas, Uwak Lu. Coba ceritakan dan tenangkan emosimu."
Uwak Lu kemudian bercerita bahwa tiga hari yang lalu datang seorang pemuda yang gagah, tampan, dan bersikap simpatik. Pemuda ini mengaku diutus oleh Hu-taihiap untuk mengambil sesuatu. Karena Hu-taihiap adalah seorang Bengcu dan murid-murid ketua partai sering datang menemui jago pedang itu, Uwak Lu tidak menaruh curiga. Apalagi pemuda itu bersikap ramah dan sopan, meski kulitnya agak gelap.
Uwak Lu tidak curiga dan bertanya barang apa yang diminta. Saat pemuda itu mengatakan bahwa Hu-taihiap meminta sebuah bungkusan yang disimpan di kamar, Uwak Lu merasa heran namun tetap melayani.
"Bungkusan apa?"
"Entahlah, aku hanya diminta menemuimu, Uwak Lu. Ini surat pengantar dari Hu-taihiap!" Pemuda itu menunjukkan surat yang berisi tulisan tangan Hu-taihiap dan dilengkapi dengan cap resmi seorang Bengcu.
Percaya dengan bukti itu, Uwak Lu mengantar si pemuda ke kamar jago pedang tersebut. Dengan hati berdebar, ia mempersilakan pemuda itu masuk. Ia merasa tidak biasa membiarkan orang asing memasuki kamar majikannya. Ketika Uwak Lu mencari bungkusan tersebut namun tidak menemukannya, si pemuda mendongak ke arah langit-langit kamar.
"Barangkali di situ, Uwak Lu. Bisa tolong periksa?"
"Ah, tempat itu tinggi, Anak Muda. Aku sudah tua, tidak mungkin bisa memanjat ke sana!"
"Kalau begitu, biarkan aku yang memeriksa." Pemuda itu segera melompat ke arah langit-langit ruangan. Ternyata benar, ia menemukan sesuatu dan berseru kegirangan. Ia berjungkir balik lalu melompat turun dengan sebuah bungkusan di tangannya. Saat ia membuka bungkusan itu, Uwak Lu terkejut melihat sepasang benda berkilauan di tangan pemuda tersebut.