Halo!

Istana Hantu - Chapter 35

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 35

"Ha-ha, Cermin Naga!" pemuda itu berseru.

"Terima kasih, aku berhasil, nenek bodoh. Dan sekarang kau boleh pergi... Des!"

Uwak Lu ditendang, mencelat dan terlempar, membuat uwak itu kaget. Dia terpekik mendengar bahwa benda di tangan pemuda itu adalah Cermin Naga, benda yang amat dikeramatkan majikannya! Ketika dia mencelat dan terguling-guling ditendang pemuda itu, pemuda ini berkelebat keluar dengan tawa aneh, luar biasa girang.

"Ha-ha, aku akan menjadi jagoan, Suhu. Aku akan sejajar dengan Pendekar Rambut Emas atau See-ong!"

Uwak Lu memaki-maki. Wanita itu bangkit dan berlari tergesa-gesa mengejar pemuda itu. Namun, ketika dia tiba di luar dan pemuda itu berkelebat, tiba-tiba pemuda itu lenyap dan tertawa-tawa di kejauhan sana, entah di mana.

"Begitulah, aku menangis berhari-hari, Taihiap. Dan aku takut akan kemarahan Loya!"

"Hm, memang benar," Pendekar Rambut Emas mengangguk. "Namun kesalahanmu tidak mutlak, Uwak Lu. Dan aku tentu akan membantumu. Sekarang, ke manakah pemuda itu pergi?"

"Aku tak tahu, Taihiap. Namun dia ke timur!"

"Hm, Sam-liong-to?" Sang pendekar menoleh, memandang isterinya. "Bagaimana pendapatmu, Isteriku?"

"Mungkin," Swat Lian menggigil, merah padam. "Barangkali pemuda jahat itu ke sana, Suamiku. Tapi kenapa dia harus ke sana? Apakah dia tahu akan Sam-liong-to?"

"Entahlah, aku hanya meraba-raba. Namun bagaimanapun juga kita harus mencari pemuda itu."

"Benar, dan aku akan membekuknya. Kita hajar pemuda itu dan Cermin Naga harus dikembalikan!"

"Hujin mau pergi?" Uwak Lu tiba-tiba meratap. "Bagaimana jika aku ikut?"

"Apa?" Swat Lian mengerutkan kening. "Ikut? Untuk apa?"

"Aku... aku takut, Hujin. Takut ayahmu marah jika kau tidak ada di sini. Tentu Hu-taihiap akan menghajarku dan membunuhku!"

"Tidak," wanita ini berkata. "Ayah tidak akan membunuhmu, Uwak Lu. Aku akan memberikan sepucuk surat sebagai pelindung!"

"Benar," Kim-mou-eng tiba-tiba teringat. "Dan tunjukkan padaku surat dari pemuda itu, Uwak Lu. Barangkali kami bisa mendapatkan petunjuk dari sini!"

Uwak itu tertegun. Sekejap dia membelalakkan mata, namun mengangguk, lalu cepat merogoh dan mengambil sepucuk surat dari pemuda itu. Begitu diserahkan dan dibaca Pendekar Rambut Emas, tiba-tiba pendekar itu bersinar-sinar dan berganti menyerahkannya kepada isterinya.

"Mirip, tapi palsu! Bagaimana keteranganmu, Lian-moi?"

"Hm," Swat Lian membaca, mengamati. "Surat ini bukan tulisan ayah, Suamiku. Dan pemuda itu ketahuan belangnya. Huruf 'S'-nya tidak seperti milik ayah. Terlalu kokoh dan kaku!"

"Benar, tetapi selintas kemiripannya tidak ada bedanya, Isteriku. Dan cap itu pun asli!"

"Ya, cap ini asli. Apa yang terjadi?" Swat Lian bersinar-sinar, mengepal tinju karena cap di surat itu asli. Dia menjadi bingung dan khawatir, tidak biasa ayahnya memberikan cap pada sembarang orang. Ketika pertanyaan itu tidak dapat dijawab karena mereka memang tidak tahu apa yang terjadi, Pendekar Rambut Emas mengajak isterinya berangkat.

"Nanti dulu!" Uwak Lu tergesa-gesa. "Kau belum memberikan suratmu, Hujin. Aku bisa celaka nanti!"

Swat Lian teringat. Cepat dia menyambar kertas, dan suaminya pun sudah menyodorkan pena. Sebatang tinta hitam dan wanita itu pun sudah mencoret-coret di atas kertas ini. Ketika selesai dan menyodorkannya kepada wanita tua itu, Swat Lian berkata, "Nah, ini dapat melindungimu dari kemarahan ayah, Uwak Lu. Simpan dan jaga baik-baik."

"Dan ji-wi (kalian berdua) tetap berangkat?"

"Tentu, kami akan mencari ayah, Uwak Lu. Juga pemuda siluman itu!"

"Ah, hati-hati di jalan, Hujin. Semalam aku bermimpi tidak baik. Kalian... ah, kalian dan Loya..."

"Ada apa dengan Loya?"

"Banjir! Semalam aku mimpi banjir, Hujin. Loya hanyut dan tenggelam!"

Swat Lian terkesiap. Tiba-tiba dia menoleh dan memandang suaminya, muka berubah, dan Kim-mou-eng pun tertegun. Mimpi yang dialami Uwak Lu hampir mirip dengan mimpi isterinya, yang selama ini sudah membuat gundah. Ketika isterinya menjublak dan muka cantiknya merah hendak menangis, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas merangkul pundak isterinya.

"Sudahlah, mimpi hanya kembang tidur. Kita berangkat dan jangan hiraukan Uwak Lu!"

Berkelebat meninggalkan uwak itu, Pendekar Rambut Emas mengajak isterinya pergi. Mereka lenyap dan terbang meninggalkan Ce-bu, sementara wanita tua itu melongo. Untuk kesekian kalinya, dia dibuat kagum oleh pasangan suami istri yang hebat ini. Tadi datang seperti siluman, sekarang pun seperti siluman. Namun begitu sadar dan menjerit tertahan, tiba-tiba uwak itu mengejar.

"Taihiap, Hujin... hati-hati. Awas di perjalanan!"

Kim-mou-eng tersenyum. Dari jauh dia mengucapkan terima kasih dan menyuruh uwak itu menjaga rumah baik-baik. Dia hendak pergi, dan biarlah uwak itu menunggu majikannya. Ketika Pendekar Rambut Emas terbang dan meninggalkan rumah mertuanya, di sepanjang jalan isterinya menangis.

"Eh," Pendekar Rambut Emas menegur. "Ada apa denganmu, Isteriku? Mengapa menangis dan mengeluarkan air mata terus-menerus?"

"Aku... aku khawatir akan ayah, Suamiku. Aku takut oleh mimpi Uwak Lu dan mimpiku sendiri!"

"Ah, mimpi tidak dapat dipercaya, Isteriku. Kadang-kadang cocok, tetapi kebanyakan tidak. Seharusnya kau tidak terpengaruh mimpi dan bersikap wajar."

"Mana bisa? Firasatku menggetarkan sesuatu, Suamiku. Jika ada apa-apa dengan ayah, tentu akan kubunuh bedebah-bedebah itu!"

"Sudahlah, kau panik dan gelisah sendiri. Sebaiknya kita mempercepat perjalanan menuju Sam-liong-to."

"Dan juga mencari pemuda siluman itu!"

"Ya, dia juga, Isteriku. Dan mari kerahkan kepandaianmu agar kita cepat sampai!"

Pendekar Rambut Emas yang mengajak isterinya memusatkan diri tiba-tiba menyendal dan menarik, berkelebat, dan mereka berdua sudah terbang seperti siluman. Tubuh keduanya melesat melebihi kecepatan iblis. Ketika Kim-mou-eng berhasil membujuk dan menenangkan hati isterinya, keduanya sudah lenyap meninggalkan Ce-bu menuju ke timur.

"Nah, ini Tung-hai," Pendekar Rambut Emas berhenti sambil mengusap keringat isterinya. Mereka tiba di tepi laut yang bergemuruh. Ombak yang membukit dan bergulung-gulung di tengah seolah isi hati isterinya sendiri. Swat Lian berombak menahan marah, tidak sabar, namun mereka harus berhenti mencari perahu.

Ketika kebetulan seorang kakek nelayan mereka temui dan sekaligus ditanya di mana kiranya Pulau Sam-liong-to itu, kakek ini tertegun dan berkedip-kedip.

"Sam-liong-to? Pulau Tiga Naga? Ah, jauh dari sini, Taihiap. Perjalanan seminggu!"

"Hm, kami mau ke sana juga. Dapatkah kau menolong?"

"Bagaimana aku menolong?"

"Kami ingin mempergunakan perahumu, menyewa atau membelinya. Dan jika kau tahu letak pulau itu, antarkan atau tunjukkan kami ke sana. Kami berani membayar mahal!"

"Tidak," kakek ini tiba-tiba surut, gemetar. "Pulau itu pulau siluman, Taihiap. Siapa yang ke sana akan mati! Apakah Taihiap tidak sayang nyawa?"

"Hm," Swat Lian menjadi tidak sabar. "Kalau begitu kami akan mencari sendiri, Lopek. Dan berikan perahumu untuk kami ambil... Cring!"

Swat Lian melempar sepundi uang, besar dan banyak, membuat pemilik perahu terguncang. Beberapa keping emas yang tercecer dari pundi-pundi itu membuat matanya terbelalak. Dari uang yang tercecer itu saja, pasangan suami istri ini sudah dapat membeli sepasang perahu seperti miliknya, belum lagi uang yang ada di dalamnya! Maka, mengangguk dan tiba-tiba berseri, mendadak kakek itu membungkuk dan mengiyakan.

"Baiklah, silakan bawa, Hujin. Namun uangmu terlalu banyak. Yang tercecer ini saja sudah cukup sebagai pengganti perahu."

"Tidak, kau boleh mengambilnya, Lopek. Dan sekarang berikan dayungmu, biar kami pergi... Wut!"

Nyonya itu berkelebat, menyambar dayung, dan tahu-tahu sudah berada di atas perahu si kakek. Ketika Pendekar Rambut Emas juga berkelebat dan duduk di atas perahu, tiba-tiba kakek itu bengong melihat perahunya melesat dan terbang di atas permukaan air laut.

"Hei, silumankah kalian, ji-wi enghiong? Atau hantu?"

Pendekar Rambut Emas tak menjawab. Isterinya telah mengerahkan tenaga. Perahu meloncat serta beterbangan di atas laut, menghindari ombak-ombak tinggi, dan kakek nelayan itu tak berkejap. Ketika bagai capung menari-nari, perahu yang digerakkan isterinya melambung dan melejit seperti perahu siluman, kakek di pinggir pantai itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut.

"Ah, aku rupanya bertemu dewa-dewi rezeki. Terima kasih, dewa... terima kasih, dewi. Semoga aku diberkati panjang umur dan dapat bertemu kalian lagi!"

Pendekar Rambut Emas tak menghiraukan di sana. Pendekar itu tersenyum saja melihat tingkah polah si kakek. Dia geli, tetapi cepat membantu isterinya. Ketika dua pasangan suami istri itu bergerak, tangan maupun dayung di tangan mereka mengibas dan memukul permukaan laut. Pendekar Rambut Emas ini lenyap jauh di tengah laut, tak kelihatan lagi karena sekejap saja mereka sudah meninggalkan pantai.

Ombak dan buih yang menyambut perahu mereka dapat mudah dilampaui. Perahu melejit, dan seperti capung menari-nari, dua orang di atas perahu itu menguasai keadaan. Ketika enam jam kemudian mereka mencari-cari dan mengelilingkan pandangan ke segala penjuru, tiga pulau berjajar mereka temukan, dan Swat Lian menuding.

"Itu! Agaknya Sam-liong-to!"

Pendekar Rambut Emas mengangguk. Ternyata perjalanan yang menurut kakek nelayan itu membutuhkan waktu tujuh hari, oleh pasangan suami istri ini ditempuh dalam waktu seperempat hari saja. Hal ini tentu akan membuat kakek itu bengong jika tahu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment