Chapter 36
Maklumlah, gerakan perahu melebihi kecepatan siluman, dan darat maupun laut sama saja bagi pasangan hebat ini.
Saat mereka semakin mendekat dan perahu mendarat di pulau paling ujung, Pendekar Rambut Emas dan istrinya sudah berjungkir balik mendahului kendaraan air itu saking tak sabarnya. Swat Lian pun segera bergerak ke tengah.
Perahu terombang-ambing di pantai dan tak lagi dihiraukan, sama sekali tidak membuat kedua suami istri itu khawatir. Dengan kepandaian mereka yang tinggi, keduanya dapat bergerak leluasa di mana pun dan dalam keadaan apa pun.
Ketika kedua orang itu bergerak ke tengah untuk menyelidiki pulau, mendadak sebuah kepala tersembul di atas gundukan pasir.
"Hei, apa itu?" Swat Lian berkelebat, bergerak, dan segera melihat apa yang diamatinya.
Begitu wanita itu berlutut dan memandang, ternyata seorang lelaki terpendam tubuhnya hingga sebatas leher.
"Ah, dia masih hidup!" Swat Lian bergerak, tidak menunggu suaminya lagi, dan wanita itu pun menariknya kuat.
Begitu dia menarik dan mengguncangnya, lelaki itu terangkat dan membuka matanya.
"Siapa kau?" Pertanyaan itu tak dapat dijawab.
Lelaki itu rupanya terlalu lemah dan kehabisan tenaga, tubuhnya kurus dan pucat.
Tidak ada sepatah kata pun yang meluncur terdengar, yang terlihat hanyalah komat-kamit mulutnya yang tak jelas.
Ketika Swat Lian mengerutkan alis dan suaminya mengurut-urut, lelaki itu terdengar menggumam "ah-uh-ah-uh" dan mulai bisa bicara.
"Kau kelaparan," Pendekar Rambut Emas berkata dengan iba.
"Siapa kau dan bagaimana bisa terpendam di tempat seperti ini?"
"Kalian... kalian siapa?"
"Aku Swat Lian, Hu Swat Lian."
"Dan aku Kim-mou-eng."
"Ooh!" Lelaki itu tiba-tiba terbelalak.
"Pendekar Rambut Emas? Ah, terima kasih, Taihiap. Mataku tak melihat!" Namun, setelah terhuyung dan mengeluarkan seruan girang itu, tiba-tiba lelaki itu ambruk dan pingsan.
"Hmm, dia kelaparan, terguncang, dan kini kaget."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Menolongnya, istriku. Coba kau ambilkan air dan beri dia sepotong roti lunak."
Swat Lian bergerak. Wanita itu sudah mengambil air dan sepotong roti kering, lalu mencelupkannya ke dalam air.
Dengan hati-hati dan penuh iba, ia menyuapkannya ke mulut lelaki itu, yang telah dibantu suaminya untuk bersandar. Air dan roti kering itu pun tertelan sedikit demi sedikit.
"Aku... aku Ji Pin...!" Lelaki itu mulai bicara, setelah siuman.
"Dan aku... aku telah bertemu putra-putrimu, Taihiap. Mereka itu gagah dan hebat sekali...!"
"Hmm," Pendekar Rambut Emas girang, berseri-seri.
"Di mana mereka itu sekarang, Ji Pin? Dan bagaimana kau bisa seperti ini?"
"Gempa, Taihiap. Sam-liong-to diamuk gempa dan letusan gunung!"
"Gempa? Letusan gunung?"
"Ya, tidakkah kau tahu? Pulau di tengah itu bergemuruh, Taihiap. Dan letusan-letusan dahsyat muncul dari pulau itu!"
"Hmm, kau duduklah," Pendekar Rambut Emas membantu lelaki itu.
"Ceritakan dan terangkan kepada kami, Ji Pin. Apa yang telah terjadi dan di mana putra-putriku itu sekarang."
"Mereka pergi," lelaki yang ternyata adalah Ji Pin itu menarik napas. "Aku tak tahu mereka selamat atau tidak, Taihiap. Tapi di pulau itu terdengar suara-suara aneh seperti orang bertempur!"
"Kapan kau mendengarnya?"
"Beberapa hari yang lalu, sebelum aku pingsan!"
"Hmm," Pendekar Rambut Emas memandang istrinya, menoleh. "Bagaimana, istriku, apakah kita ke sana?"
"Tentu, Thai Liong dan Soat Eng harus kita temukan, suamiku. Dan di sana itu mungkin saja See-ong berada!"
"Baiklah," Pendekar ini memandang Ji Pin lagi. "Kapan kau bertemu putra-putri kami terakhir kalinya? Apa yang mereka katakan dan terangkan padamu?"
"Mereka ke Istana Hantu, Taihiap. Dan pulau di tengah itulah yang dituju kedua putra-putrimu!"
"Lalu?" Ji Pin menelan ludah.
"Kau masih lapar?"
"Ya," Lelaki itu mengangguk, tanpa malu-malu. "Aku lapar, Taihiap. Dan aku tak ingin bicara dengan cara gemetar begini!"
Pendekar Rambut Emas tersenyum. Tanpa banyak bicara, ia mengambil buntalan roti kering, menyodorkannya semua, dan Ji Pin pun melahap roti kering itu.
Berkali-kali ia harus mendorongnya dengan air. Setelah ia selesai dan roti kering itu hampir habis, mukanya memerah ketika ia menyadari kerakusannya.
"Maaf, hampir habis, Taihiap. Aku benar-benar kelaparan!"
"Tidak apa-apa, sekarang ceritakan apa yang kau alami, orang bermarga Ji. Dan bagaimana pula dengan kedua anak kami."
Ji Pin lalu bercerita. Ia menceritakan pertemuannya mula-mula dengan Soat Eng dan Thai Liong. Betapa kedua kakak beradik itu menolongnya dari amukan hiu-hiu ganas.
Ketika cerita demi cerita selesai diceritakannya dengan baik dan tiba pada masalah Istana Hantu, lelaki ini mengakhiri ceritanya.
"Kami gagal, Nona dan Kongcu akhirnya ke Istana Hantu untuk membalas kematian temanku. Juga sekaligus mengambil harta karun itu!"
"Hmm, tadinya kalian berdua?"
"Benar, aku dan temanku ke pulau di tengah itu, Taihiap. Tapi kami diserang gorila sakti yang kebal senjata. Temanku tewas dan Kim Kongcu serta Kim Siocia akhirnya ke sana!"
"Hmm, kalau begitu kami pun akan ke sana. See-ong menunggu dan mengundang kami."
"Siapa itu See-ong?" Ji Pin yang tak mengenal nama itu, mengerutkan kening.
"Sudahlah, kau tak perlu tahu, orang bermarga Ji. Pokoknya dia musuh kami dan kini rupanya tinggal di pulau tengah itu. Sebaiknya kau pulang dan jangan di sini lagi, tempat ini berbahaya."
"Ah, tidak," Ji Pin menggeleng. "Aku terlanjur terkubur hidup-hidup di sini, Taihiap. Kalaupun maut datang lagi aku tak gentar. Aku ingin ikut kalian berdua!"
Pendekar Rambut Emas tertawa, "Tak mungkin kau mengikuti kami, Ji Pin. Kepandaianmu rendah dan terus terang saja merepotkan kami."
"Aku di belakang!" Lelaki bermarga Ji itu bersikeras. "Aku tahu kepandaian sendiri, Taihiap. Tapi aku ingin bertemu Kim Siocia dan Kim Kongcu. Aku khawatir keadaan mereka berdua!"
"Hmm!" Pendekar Rambut Emas tertegun. "Begitukah kiranya? Baiklah, kutanya istriku."
Swat Lian yang dipandang dan ditanya suaminya lalu menjawab. "Kalau dia mengikuti di belakang, tentu saja aku tidak keberatan. Tapi risiko sebaiknya dipikul sendiri."
"Tentu!" Ji Pin bersemangat. "Aku menanggung semua risikoku, Hujin. Kalau ada bahaya, aku tak minta tolong kalian!"
Pendekar Rambut Emas kagum. Tekad dan semangat orang ini besar, mau tak mau ia pun memujinya.
Karena semuanya dirasa cukup dan istrinya pun tidak keberatan, dia menepuk pundak lelaki muda itu. "Nah, kami berdua mendahuluimu, Ji Pin. Kau berangkat belakangan dan susullah kami."
"Terima kasih. Aku menghaturkan terima kasih bahwa kalian berdua telah menyelamatkan diriku, Taihiap. Tanpa kalian berdua, tentu aku sudah tinggal nama!"
"Hmm, tidak usah berterima kasih. Itu adalah kewajiban kami sebagai pendekar!"
Membawa istrinya pergi mendahului Ji Pin, Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menuju ke pantai, menyambar perahunya. Namun, tiba-tiba dia tertegun.
Di situ tidak ada perahu lain, dan teringatlah dia akan Ji Pin. Bagaimana lelaki itu menyusul ke pulau di tengah? Dengan apa dia akan ke sana?
Ketika istrinya bertanya apa yang dia pikirkan, Pendekar Rambut Emas mengutarakan pikirannya itu.
"Jadi apa maumu?" Sang istri mengerling. "Kau ingin memberikan perahu ini kepadanya, bukan?"
"Benar, dan kita berselancar, istriku. Kalau kau tidak keberatan."
"Ah, kau memang berwatak mulia. Pulau itu tidak jauh dari sini. Kalau kau ingin memberikan perahu ini kepada Ji Pin, tentu aku tidak keberatan. Silakan."
Pendekar Rambut Emas tertawa. Dia girang bahwa istrinya tidak cemberut. Begitulah biasanya istrinya itu, dapat membaca jalan pikirannya dan semua dapat dimusyawarahkan.
Ketika ia memanggil Ji Pin dan lelaki bermarga Ji itu datang, Ji Pin mengerutkan kening penuh tanda tanya.
"Taihiap mau bicara apa lagi? Ada yang kurang?"
"Hmm, tidak. Tapi aku ingin bertanya, bagaimana kau menyusul kami, Ji Pin? Adakah kau memiliki perahu di sini?"
Lelaki itu terkejut. "Tidak, tapi... hmm, aku dapat membuatnya, Taihiap. Tidak usah dipikirkan."
"Bagaimana kalau kau menggunakan perahu kami?"
"Apa? Taihiap hendak memberikannya kepadaku?"
"Benar, demi keselamatanmu, Ji Pin. Membuat perahu tentu memakan waktu lama bagimu. Kau dapat menerima perahu kami dan pulang sekaligus kalau kau suka."
"Tidak! Ah... terima kasih!" Dan Ji Pin yang berlutut dengan muka berseri-seri tiba-tiba berkata lagi.
"Taihiap, kau persis putramu. Begitulah Kim Kongcu itu, selalu memikirkan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri!"
"Haha, kau memuji? Eh, jangan banyak bicara lagi, Ji Pin. Kalau begitu, kau terima perahu ini dan biar kami ke pulau tengah itu dengan cara lain... wut!"
Pendekar Rambut Emas yang berjungkir balik menghilang ke kiri tiba-tiba datang lagi dengan pelepah pisang, satu untuk istrinya dan satu lagi untuk diri sendiri.
Begitu Ji Pin melongo dan membuka mata lebar-lebar, tiba-tiba pendekar ini berkelebat dan membuang pelepah pisang itu ke laut.
Dan sekali menjejakkan kaki berjungkir balik, tahu-tahu pendekar itu hinggap di sana, lalu meluncur seperti Thai Liong dulu menyeberangi laut.
"Haha, cepat, istriku. Ayo menyeberang dan ke pulau tengah itu!"
Ji Pin ternganga. Entah kapan bergerak, tahu-tahu wanita di sampingnya itu pun lenyap.
Istri Pendekar Rambut Emas ini berkelebat dan tahu-tahu sudah di atas pelepah pisang yang ditunjuk suaminya.
Begitu dia mengembangkan lengan dan menggerakkan kaki, tahu-tahu wanita cantik itu sudah bergerak dan "terbang" ke tengah laut, meluncur dan tidak banyak bicara lagi. Ji Pin tentu saja terkagum-kagum.
Lelaki itu bengong dan tidak habis pikir. Dia teringat cara Thai Liong dan Soat Eng, hampir mirip. Begitulah cara aneh keluarga sakti itu.
Tapi begitu dia sadar dan berteriak girang, tiba-tiba Ji Pin menyambar perahunya seraya tertawa.
"Hei, aku akan mengejar kalian, para Taihiap. Lihatlah!"
Pendekar Rambut Emas tersenyum. Bergandengan bersama istrinya, Pendekar Rambut Emas ini sudah meluncur dan berjalan di permukaan air. Tentu saja, itu bukan sembarang berjalan karena mereka mengerahkan Jing-sian-eng.