Halo!

Istana Hantu - Chapter 37

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 37

Cepat dan luar biasa, tahu-tahu keduanya sudah lenyap di tengah laut. Ketika Ji Pin mengejar namun kehilangan jejak dua orang sakti itu, laki-laki ini tertegun dan mandi keringat.

"Wah, luar biasa. Kalau tidak menyaksikan dan membuktikan sendiri, tentu aku tidak percaya. Aih, benar-benar luar biasa!" Ji Pin menggosok-gosok kepalanya, mendecak, dan berkali-kali berseru memuji kagum.

Apa yang dilihatnya memang luar biasa mengagumkan. Sementara laki-laki itu menggerakkan dayungnya sambil mandi keringat, dengan cepat dan menakjubkan Kim-mou-eng sudah mendekati pulau di tengah dalam waktu tak lebih dari lima menit!

"Hati-hati, kita mendekati sarang See-ong!"

"Aku tahu, tapi aku tidak takut, Suamiku. Justru aku ingin tahu siapa See-ong itu dan biar kulihat tampangnya!"

"Hm, aku merasa diamati. Apakah kau merasa begitu?"

"Benar, sepasang mata mengamati kita, Suamiku. Mungkin itu Nenek Naga!"

"Kita mendarat!"

Kim-mou-eng berjungkir balik dan turun ke pantai, disusul istrinya yang juga melayang serta berjungkir balik dengan indah, lalu hinggap di sebelah suaminya. Begitu mereka mendarat dan melihat ke kiri, tampaklah sesosok bayangan berkelebat menghilang.

"Benar, Nenek Naga!" seru Kim-mou-eng sambil berkelebat mengejar. Matanya yang awas melihat bahwa sebenarnya di empat penjuru pulau terdapat beberapa pasang mata yang mengamati, salah satunya adalah nenek yang baru saja menghilang itu.

Kim-mou-eng membentak dan mengejar nenek tersebut. Dia mengerahkan ilmu Jing-sian-engnya dan seketika berhasil menyusul. Saat dia berjungkir balik dan melayang turun di depan nenek ini, Kim-mou-eng tertawa.

"Nenek Naga, berhentilah. Jangan terburu-buru!"

Nenek itu terkejut. Dia mendapat tugas jaga di wilayah utara dan kebetulan melihat Kim-mou-eng beserta istrinya. Baru saja hendak melapor, Pendekar Rambut Emas sudah berkelebat di depannya untuk menghadang. Karena pendekar itu adalah musuhnya, si nenek melengking, membentak, dan langsung mengayunkan pukulan.

"Kim-mou-eng, mampuslah!"

Pendekar Rambut Emas tertawa. Dia mengerahkan Khikang hingga nenek itu menjerit. Pukulannya membalik dan tiba-tiba dia terbanting bergulingan. Ketika dia meloncat bangun dan memaki dengan gentar, tahu-tahu Swat Lian, istri Pendekar Rambut Emas, sudah berdiri di belakangnya dengan tawa dingin.

"Nenek keparat, tunjukkan kepada kami di mana putra-putri kami!"

"Wut!" Nenek ini membalikkan badan dan melepaskan Tee-sin-kang, namun Swat Lian mendengus. Dengan Lu-ciang-hoat, dia menerima pukulan itu. Nenek tersebut menjerit dan terbanting bergulingan untuk kedua kalinya sambil mengaduh dengan muka pucat.

"Aih, jahanam kalian! Kalian datang sebagai perampok atau sebagai undangan, Kim-mou-eng? Mau membunuhku atau bagaimana?"

"Tahan," Kim-mou-eng mencegah istrinya. "Biarkan dia bicara, Istriku. Kita tanya baik-baik."

"Tidak ada yang baik!" Nenek itu melengking. "Kalian menyerang dan kurang ajar di sini, Kim-mou-eng. Rasakan ini dan mampuslah... wut!"

Nenek itu menyerang lagi, mencabut jarum emasnya untuk menusuk dan menikam. Tangan kirinya bergerak pula dengan pukulan Tee-sin-kang. Tapi ketika Kim-mou-eng mengelak dan menangkis, nenek itu menjerit dan terlempar roboh. Dia mencoba menyerang lagi, namun Kim-mou-eng mendorongnya. Nenek yang dijuluki Naga Bumi itu akhirnya lari tunggang-langgang sambil berteriak ketakutan.

"Siauw-jin, bantu aku...!"

Swat Lian mengejar. Nyonya cantik ini membentak menyuruh si nenek berhenti sambil melepaskan pukulan yang membuat nenek itu terguling-guling. Apa yang dilakukan pasangan itu benar-benar membuat semangat si nenek terbang. Namun, ketika beberapa bayangan berkelebat, Siauw-jin dan teman-temannya muncul, si setan cebol itu terkekeh.

"Heh-heh, beginikah cara tamu datang? Menyerang dan tidak tahu malu terhadap tuan rumah?"

Kim-mou-eng menahan istrinya. Melihat kemunculan Siauw-jin dan yang lainnya, dia segera menangkap lengan Swat Lian. Meskipun istrinya meronta, Kim-mou-eng mencekalnya dengan erat. Ketika lima orang sudah mengepung mereka—sementara Tok-ong belum terlihat—Pendekar Rambut Emas tersenyum menyambut lawan-lawan lamanya ini.

"Bagus, kiranya kalian semua ada di sini. Siauw-jin, di mana Tok-ong? Kenapa tidak lengkap?"

"Keparat!" bentak Ji-moi. "Mertuamu membunuh kawan kami, Kim-mou-eng. Kalian berutang satu nyawa yang harus diselesaikan!"

"Apa?" Kim-mou-eng tertegun. "Gak-hu (ayah mertua) sudah di sini dan membunuh Tok-ong?"

"Benar, dan kau datang untuk mengantar nyawa agar bisa menyusul arwah mertuamu!"

"Jaga mulutmu!" bentak Swat Lian. "Di mana ayahku, Ji-moi? Dan di mana putra-putriku?"

"Hi-hik," Toa-ci, nenek tertua, terkekeh. "Mereka sudah mampus, Hujin. Kalian semua juga akan mampus..."

"Wut!" Swat Lian berkelebat dan menampar dengan Lu-ciang-hoat. "Kalau begitu, terimalah kematianmu, Toa-ci! Akan kuhancurkan mulutmu!"

Toa-ci mengelak, namun terus dikejar dengan Jing-sian-eng hingga nenek ini kaget. Ke mana pun dia bergerak, tangan lawan selalu mengejar. Tak pelak lagi, mulut nenek itu tertampar hingga pecah. Saat Toa-ci bergulingan dan baru bisa bebas setelah teman-temannya bergerak membantu, dia memekik bangun dengan wajah merah padam.

"Keparat! Serang nyonya ini, Ji-moi! Ayo bunuh dia sebelum See-ong turun tangan!"

Nenek itu berkelebat disusul teman-temannya untuk mengeroyok Swat Lian. Dalam keadaan hamil muda, wanita itu dengan tenang melayani lawan-lawannya, sementara suaminya hanya menonton sambil tersenyum. Kim-mou-eng menganggap ucapan Toa-ci hanya bualan dan tidak percaya bahwa mertua serta anak-anaknya telah terbunuh.

Ketika semua lawan menjerit karena terkena pukulan Lu-ciang-hoat atau Khi-bal-sin-kang milik istrinya, kelima iblis itu terpental mundur dengan kulit yang membiru.

"Nah!" Swat Lian berdiri tegak dengan gagah. "Siapa yang dibunuh dan siapa yang dihajar, sekarang kalian tahu sendiri, Toa-ci. Ayo tunjukkan di mana ayah dan anak-anakku!"

"Mereka mampus!" Toa-ci melengking gusar. "Kalau tidak percaya, lihat saja mayatnya, bocah she Hu. Masuklah ke tengah pulau dan temui See-ong!"

Karena gentar, nenek ini meloncat pergi meninggalkan lawan sambil terus memaki. Dia marah karena dihajar namun tidak berdaya untuk membalas. Pendekar Rambut Emas tetap di tempatnya tanpa bergerak. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika dia ikut membantu istrinya. Setelah nenek itu pergi, Siauw-jin dan teman-temannya juga berkelebat pergi.

"Benar, jika kau ingin menemui anak atau orang tuamu, datanglah ke tengah pulau, Kim-hujin. See-ong sudah menunggu kalian!"

Karena lawan melarikan diri ke arah tengah pulau, Pendekar Rambut Emas menyambar istrinya dan berkelebat mengejar. Kelima iblis itu memencar karena takut diserang; Cam-kong bahkan berseru memanggil See-ong. Setibanya Kim-mou-eng di tengah pulau, kelima iblis itu menghilang sejenak lalu muncul kembali diiringi suara tawa yang menggetarkan bumi.

"Ha-ha! Inikah Pendekar Rambut Emas? Dan itu Hu Swat Lian?"

Kim-mou-eng mengerutkan alis. Di antara bayangan lima orang itu, tidak tampak siapa pun kecuali seorang pemuda yang berkelebat. Kim-mou-eng menangkap adanya gumpalan asap putih yang aneh. Dia menggamit istrinya, lalu keduanya memandang ke arah belakang pemuda yang baru muncul tersebut.

Saat pemuda itu tiba di depan mereka, Siang Le, murid See-ong, menjura memberi hormat. Matanya bersinar, namun wajahnya tampak agak kecut.

"Maaf, apakah Anda berdua adalah Kim-taihiap dan istri?"

"Hm, siapa kau?"

"Aku Siang Le, Taihiap. Murid See-ong."

"Bagus, panggil gurumu. Kami datang memenuhi undangan!" bentak Swat Lian yang tidak sesabar suaminya. Dia bahkan bergerak mendorong bahu si pemuda.

Namun, saat Siang Le mengelak dan mundur dengan cepat, asap putih di belakangnya—yang sebenarnya adalah See-ong yang menggunakan ilmu Hek-kwi-sut—tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha, muridku sudah menyambutmu, Kim-hujin. Silakan masuk dan selamat datang... wut!"

Tanpa ada gerakan pukulan atau suara, tiba-tiba berkesiur angin dahsyat. Swat Lian merasa seolah dihantam dan ditampar dari depan, tepatnya dari arah asap putih samar di belakang pemuda gagah itu. Dia segera mempertajam pandangan dan mengerahkan tenaga batin. Tiba-tiba dia melihat bayangan seorang kakek tinggi besar dengan tubuh menyeramkan yang sedang menggerakkan lengan baju. Pukulan rahasia yang bersembunyi di balik ilmu hitam itu segera disambutnya.

Ketika kedua tenaga itu beradu dan meledak menggelegar, Siang Le terbanting, sementara See-ong menampakkan dirinya setelah pengaruh ilmu hitamnya buyar.

"Ha-ha, hebat! Inikah Khikang?"

Kim-mou-eng dan istrinya tertegun. See-ong, si kakek raksasa, muncul layaknya siluman. Tadi dia didorong namun menghilang, dan justru muridnya yang menjadi korban. Saat Siang Le meloncat bangun, pasangan suami istri itu memandang tajam ke depan, berhadapan langsung dengan kakek besar yang gagah tersebut.

"Kau See-ong?"

"Benar."

"Yang mengundang dan menyuruh kami datang?"

"Ha-ha, benar sekali. Akulah yang meminta kalian datang ke sini, Kim-mou-eng. Terus terang, aku ingin mengalahkanmu!"

"Hm, di mana putra-putri kami? Kau menawan Soat Eng dan Thai Liong?"

"Keparat!" desis kakek itu. "Putra-putrimu seperti siluman, Kim-mou-eng. Tak kusangkal mereka pernah kutangkap, tapi sekarang mereka lari!"

"Bohong!" bentak Swat Lian. "Kau yang mengundang kami, See-ong. Jangan bicara sembarangan dan menipu kami. Kau curang dan licik! Kau apakan mereka dan di mana mereka sekarang?"

"Hm," mata See-ong bersinar tajam. "Jika bukan kau yang bertanya, tentu sudah kutampar pecah mulutmu, Kim-hujin."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment