Chapter 38
"Aku sesungguhnya mendongkol kenapa dua anak itu bisa lolos dari Istana Hantu. Mereka kukurung, tapi entah bagaimana tiba-tiba lenyap seperti siluman. Kalau kau tidak percaya, itu hakmu. Tapi aku menyesal tak dapat memperlihatkan mereka kepada kalian!"
"Benar," Siang Le, yang gembira namun tegang melihat pasutri ini, menyambung. "Kim-kongcu dan Kim-siocia tak ada di sini, Taihiap. Siauw-jin dan kawan-kawannya itu menjadi saksi!"
"Orang-orang busuk macam kalian tak perlu menjadi saksi. Aku tak percaya dan akan mengambil anakku!" Dan Swat Lian yang berkelebat menyambar pemuda ini tiba-tiba menampar, menggerakkan lengannya dan Siang Le terkejut. Dia tak menyangka bakal diserang wanita ini di depan gurunya.
Tapi karena dia bukan pemuda sembarangan dan dia adalah murid See-ong, maka Siang Le mengelak, dikejar, dan pemuda ini menangkis. Begitu dia mengerahkan sinkangnya dan bertemu lengan wanita itu, tiba-tiba Siang Le terbanting dan mengaduh-aduh.
"Plak!" Siang Le menjerit. Belum apa-apa, tahu-tahu tubuhnya dicengkeram, diangkat, dan dia pun sudah disambar wanita itu. Ketika dia terkejut dan gurunya juga terbelalak, maka Swat Lian sudah menangkap pemuda ini dan mengancamnya di depan See-ong.
"Nah, lihat, See-ong. Aku juga menangkap muridmu dan membekuknya. Serahkan putra-putriku atau muridmu kubunuh!"
See-ong terkejut. Gerak cepat yang telah diperlihatkan wanita ini di depannya sungguh membuat dia tercengang. Swat Lian menggabung Khi-kang dan Jing-sian-eng, merobohkan pemuda itu dan sudah menangkap Siang Le tak lebih dari dua jurus!
Ketika kakek itu terbelalak tapi tertawa mendongkol, tiba-tiba See-ong mendengus. "Hah, kau boleh percaya boleh tidak, Hujin. Tapi menukar muridku dengan dua putramu tak mungkin kulakukan di sini. Mereka betul-betul tak ada, kau bunuh pun tak dapat aku menunjukkannya!"
Dan kagum tapi juga gemas kepada muridnya, kakek ini memaki. "Nah, lihat kebodohanmu, Siang Le. Kalau kau mau mempergunakan Hek-kwi-sut tak mungkin musuhmu itu dapat menawanmu. Bagaimana sekarang? Kau siap mampus?"
Siang Le gentar bukan main. Dalam dua jurus saja roboh di tangan istri Pendekar Rambut Emas sungguh membuat dia kaget. Hal itu dapat terjadi karena beberapa sebab, di antaranya ialah karena kurang siapnya dirinya menghadapi wanita itu dan juga karena ia belum mengenal betul kepandaian lawan.
Siang Le tak menduga bahwa wanita cantik ini memiliki gerakan yang begitu cepat, juga tenaganya begitu hebat hingga sekali tangkis dia malah terpental. Dan karena dia juga mengandalkan gurunya tapi ternyata gurunya kalah cepat, maka semuanya itu dapat terjadi dan pemuda ini meringis.
"Biarlah. Kalau aku hendak dibunuhnya aku rela juga, Suhu. Kim-hujin memang hebat dan aku kagum!"
"Apa? Kau mengagumi musuh? Eh, kusambar mulutmu nanti, Siang Le. Jangan bikin malu gurumu di depan orang!"
"Hm!" Pendekar Rambut Emas maju. "Kami datang bukan untuk bunuh-bunuhan, See-ong. Melainkan mengambil dan membawa putra-putri kami kembali. Muridmu tertangkap, sebaiknya kau serahkan dua anak itu dan pemuda ini kembali padamu."
"Kembali apanya?" See-ong melotot. "Aku bicara sungguh-sungguh, Kim-mou-eng. Kalau tidak percaya boleh periksa sendiri. Geledahlah seluruh pulau ini dan cari dua anakmu yang seperti siluman itu. Mereka melarikan diri dan entah ke mana perginya!"
"Hm, kau takut atau apa?"
"Keparat!" Kakek ini mendelik. "Enam Iblis Dunia telah kurobohkan, Kim-mou-eng. Terhadapmu pun aku tak perlu takut. Lihat, aku menundukkan mereka!" Dan membentak menyuruh Siauw-jin maju, kakek ini bicara dengan suara keras penuh kemarahan. "Setan cebol, apakah dua anak itu benar di sini? Apakah aku harus perlu takut terhadap Pendekar Rambut Emas ini? Heh, jawab sebenarnya, setan bau. Atau kau kuketok dan botak kepalamu nanti!"
See-ong mencengkeram kepala Siauw-jin, berang menciumkan lututnya dan Siauw-jin tampak gemetar. Aneh bin ajaib, iblis cebol yang tak takut terhadap siapa pun itu mendadak meringis, pucat, dan menggelengkan kepala memberi tahu bahwa Thai Liong dan Soat Eng tak ada di situ, benar telah melarikan diri.
Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan heran memandang kejadian ini, maka See-ong membanting dan melempar tubuh pembantunya itu. "Lihat," kakek ini masih geram. "Siauw-jin telah menyuarakan suaraku, Kim-mou-eng. Kalau aku bohong biarlah pantat si cebol ini kujilat. Aku tak main-main dan bersungguh-sungguh kepadamu!"
"Kalau begitu ke mana mereka?"
"Mana aku tahu? Justru aku menyesal tak dapat menangkap mereka, Kim-mou-eng. Kalau tidak tentu aku dapat berbangga di depanmu!"
Kim-mou-eng bersinar-sinar. Setelah melihat dan menyaksikan sendiri semua sikap dan kata-kata kakek itu, mau juga dia percaya omongan ini. See-ong bersungguh-sungguh dan dia pun mengangguk. Namun ketika dia mau bicara dan istrinya mendahului, mendadak istrinya itu meloncat ke depan melempar Siang Le kepadanya.
"Aku tetap tak percaya. Boleh See-ong menjilat pantat kuda, suamiku. Tapi aku tak percaya kata-katanya dan tetap menuntut perbuatannya. Terimalah pemuda ini dan biar aku menghadapinya!"
Dan Swat Lian yang membentak dengan mata berkilat-kilat tiba-tiba telah berhadapan dengan kakek itu dengan muka merah padam, menganggap rendah See-ong karena muridnya demikian mudah dapat dibekuk. Kali ini Swat Lian terjebak keangkuhannya sendiri dan kakek itu terbelalak. Ketika mereka berhadapan dan wanita itu mengangkat lengan, maka Swat Lian berseru. "See-ong, selamanya baru kali ini kita bertemu. Kau majulah, dan kurobohkan kau tak lebih dari dua belas jurus!"
"Hah, dua belas jurus?"
"Ya, dan anggap aku kalah kalau melewati itu, kakek busuk. Atau kau ke akhirat dan aku membunuhmu!"
"Haha!" See-ong tertawa bergelak. "Kau sombong dan jumawa, Hujin. Tapi baiklah, aku menerima kata-katamu. Lebih dari dua belas jurus kau kalah, tapi kalau aku tak dapat merobohkanmu dalam dua belas jurus juga biarlah kuanggap aku kalah. Nah, kita seri dan adil. Majulah dan seranglah aku...."
"Wut!" Swat Lian tiba-tiba menghilang, lenyap dalam bayangan Seribu Dewanya. "Kubunuh kau, kakek siluman. Dan kuhancurkan kepalamu!"
Namun See-ong yang berkelebat dan hilang pula dalam Hek-kwi-sutnya tiba-tiba membuat si nyonya terkejut dan tertegun, kehilangan sasaran dan tentu saja dia terkesiap. Tapi ketika dia membalik dan sesosok asap putih tahu-tahu menyambar dan menghantam punggungnya, tiba-tiba nyonya ini membalik. "Duk!" Dua orang itu terpental.
See-ong muncul lagi dan tadi mengerahkan Sin-re-ciang, menghantam dengan Pukulan Karet namun si nyonya bergerak cepat, menangkis dan mereka sama-sama terdorong. Dan ketika kakek itu terkejut dan menghilang lagi dalam Hek-kwi-sutnya, tiba-tiba kakek ini membentak dan melepas pukulan dari balik ilmu hitam dan Swat Lian terkejut. Lawan seperti siluman saja namun cepat dia melengking, mengerahkan tenaga batin dan keluarlah pukulan putih dari lengan nyonya ini.
Dan ketika Swat Lian berkelebat dan mempergunakan Jing-sian-engnya, tiba-tiba nyonya ini telah bergerak naik turun menghindari serangan lawan yang hanya merupakan sosok asap putih dan Kim-mou-eng tertegun. Pukulan istrinya membentur sesuatu yang lunak namun tak dapat ditembus, mental dan terkejutlah dia ketika istrinya terhuyung. Dan ketika Khi-bal-sin-kang amblas di tubuh See-ong yang berubah wujud sebagai roh halus, maka pendekar ini tercengang dan tersentak.
"Gunakan Beng-sim (Awan Terang Getarkan Hati)!" Mau tak mau Kim-mou-eng memberi petunjuk, berteriak, namun istrinya kehilangan lawan. See-ong tertawa bergelak dan lenyap tak dapat diserang. Ilmunya Hek-kwi-sut itu melindungi dirinya dan ke mana pun pukulan menyambar, ke situ pula dia menghilang.
Beng-sim yang menderu dan menghantam dahsyat ternyata malah mendorong dan meniup kakek itu, yang sudah berbentuk seperti roh. Dan karena hal ini berarti sia-sia dan Pendekar Rambut Emas terkejut, maka istrinya terbelalak dan pucat di sana, berkelebatan dan menyerang bertubi-tubi namun See-ong selalu terdorong. Bobot atau berat tubuh See-ong sudah hilang, yang ada tinggallah semacam asap atau uap tipis yang selalu tertiup dan terdorong sebelum terpukul. Tentu saja gagal!
Dan karena hal ini terjadi berulang-ulang dan selama hidup baru kali itu Swat Lian mengalaminya, maka See-ong terbahak menghitung jurus-jurusnya. "Haha, enam jurus, Hujin. Sudah enam jurus!"
"Keparat, kau siluman gila, See-ong. Kalau bukan orang macammu tentu tak pantas kau hidup di dunia!"
"Haha, pantas atau tidak itu urusanku, Hujin. Yang jelas tinggal enam jurus lagi dan kau kalah!"
"Tidak, kau pun berjanji dua belas jurus, See-ong. Dan selama itu kau pun tak dapat merobohkan aku, maka kau juga kalah!" Swat Lian berkelebatan sengit, melancarkan pukulan-pukulan tapi See-ong selalu terdorong mundur. Hek-kwi-sut membuat kakek iblis itu tanpa bobot, tertiup dan selalu tertolak ke belakang setiap dipukul. Dan karena ilmunya ini amat luar biasa dan tentu saja lawannya bingung, maka cepat kemudian sembilan jurus lewat dan nyonya itu gelisah.
"Hayo, balas, See-ong. Jangan menghindar saja!"
"Tentu!" Kakek iblis itu terbahak. "Dan lihat, Hujin. Inilah balasanku... wut!" Dan See-ong yang muncul dalam bentakannya tiba-tiba berkelebat dan sudah menjadi sepuluh orang, terbang dan berkelebatan mengelilingi lawannya itu dan Swat Lian kaget.
Sepuluh pasang lengan tiba-tiba menyerangnya dari segala penjuru, itulah Cap-sut, ilmu terhebat dari See-ong. Dan karena nyonya ini sama seperti dikeroyok sepuluh lawan yang sama tangguh maka tepat pada jurus kesepuluh nyonya itu terpukul.
"Des!" Swat Lian bergulingan. Wanita ini berteriak kaget dan mengerahkan Khi-kang, terpukul tapi See-ong juga tergetar. Khi-bal-sin-kang adalah ilmu Bola Sakti. Ilmu ini akan memukul balik setiap pukulan yang mengenai tubuh. Swat Lian terbanting tapi kakek itu juga tergetar, menahan daya tolak tapi tak sanggup.