Halo!

Istana Hantu - Chapter 39

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 39

Pukulannya membalik sendiri dan kakek ini melempar tubuh ke atas, berjungkir balik membuang gaya pental pukulannya. Ketika terkejut namun tetap menyambar lagi, kakek itu menghantam nyonya ini lagi dari udara.

"Dess!" Swat Lian terbanting.

Untuk kedua kalinya nyonya ini bergulingan dipukul Capsut. Ilmu itu seolah dapat berada di mana-mana dan dia terpekik. Namun, karena Khikang-nya melindungi—dan semakin keras pukulan mengenai tubuhnya berarti semakin kuat pula daya tolaknya—See-ong mengumpat caci. Lagi-lagi kakek yang terkejut itu harus membuang tubuh untuk menghindar dari tolak-balik tenaganya sendiri.

Capsut menghadapi Khi-bal-sin-kang yang luar biasa; ilmu yang boleh diserang tetapi akan balik menyerang! Karena nyonya ini bukan Hu Beng Kui—si jago pedang yang dulu sedang sakit atau keracunan—maka Khikang yang dikerahkan tentu jauh lebih hebat daripada si jago buntung itu. Dihajar, tetapi justru balik menghajar. See-ong jadi bingung!

Ketika dia memukul lagi namun kembali terpental dan terlempar, dua belas jurus lewat dengan cepat dan keduanya tidak ada yang kalah.

"Ha-ha, hebat kau, Kim-hujin. Hebat dan luar biasa, keparat!"

Wajah Swat Lian merah menyala. Memang dia belum kalah, tetapi juga belum menang. Keadaannya masih seimbang, tetapi dia merasa sangat malu. Bayangkan, dia dihajar dan dibuat jatuh bangun; baru kali ini dia mengalami hal seperti itu. Karena secara fisik serangan itu lebih menguntungkan sang kakek daripada dirinya, nyonya ini memaki dan membentak. Ia menerima hujan serangan lagi, namun See-ong tetap tidak dapat merobohkannya.

Kakek itu bingung karena Khikang lawan selalu membuat pukulannya membalik, meskipun lawan juga harus berguling-guling. Saat pertempuran kembali berjalan cepat dan seratus jurus lewat tanpa terasa, tiba-tiba Swat Lian merasa perutnya sakit. Nyonya ini, sebagaimana diketahui, sedang hamil muda.

Jika lawannya bukan See-ong, tentu dengan mudah dia merobohkannya. Namun See-ong benar-benar keparat. Dia tidak dapat diserang karena lawan selalu terdorong sebelum pukulan mendarat. Kakek itu kehilangan bobot tubuhnya karena mempergunakan ilmu setan, mengubah wujud dari badan kasar ke badan halus. Karena badan halus tidak memiliki bobot, semua pukulan menjadi sia-sia. Wanita ini pun mengamuk dalam kemarahannya, membuat sang suami khawatir.

Pendekar Rambut Emas melihat ada yang tidak beres pada istrinya. Istrinya sering memegangi perut dan terhuyung. Pukulan bertubi-tubi mungkin dapat ditahan, tetapi janin yang masih muda agaknya tidak kuat. Kim-mou-eng terkesiap saat teringat hal itu. Benar saja, ketika istrinya mulai pening dan pengaruh dari dalam membuat nyonya itu mendesis, tiba-tiba sebuah pukulan See-ong menyambar perutnya. See-ong mulai mengincar daerah itu karena melihat lawan terus memeganginya, tanpa menyadari bahwa nyonya tersebut sebenarnya sedang hamil muda.

Karena itu adalah daerah berbahaya, Kim-mou-eng tidak dapat menunggu lagi. Tiba-tiba pendekar itu membentak dan berkelebat bagai kilat.

"Tahan... dukk!"

Bumi bagai diguncang gempa. Tangkisan Kim-mou-eng membuat See-ong mencelat. Kakek itu berteriak dan terlempar roboh hingga bergulingan. Dia tidak menduga bahwa di saat seperti itu, Kim-mou-eng tiba-tiba berkelebat menolong istrinya dari samping. Karena Kim-mou-eng juga mengerahkan Khikang yang sangat kuat, See-ong terbanting dan harus bergulingan sebelum melompat bangun.

"Keparat! Kenapa kau curang begini, Kim-mou-eng? Mana kejantananmu?"

Kim-mou-eng mengerutkan kening. Pendekar ini tidak menjawab karena sibuk menolong istrinya, menahan dan memegang pundak wanita itu. Swat Lian terhuyung dan hampir roboh, bukan oleh serangan See-ong, melainkan oleh rasa sakit di dalam perutnya akibat kehamilan tersebut.

Saat suaminya memapah istrinya, sementara Siauw-jin dan yang lainnya kocar-kacir oleh suara benturan itu, See-ong kembali membentak dengan muka merah padam.

"Pendekar Rambut Emas, kau tidak tahu malu! Mana kegagahanmu menyerang orang dari samping? Kenapa kau menyelonong dan berbuat curang?"

"Hm," Pendekar Rambut Emas membalikkan tubuh. "Aku tidak berbuat curang, melainkan menolong istriku, See-ong. Kalau aku curang, tentu kau sudah kuserang. Namun aku hanya menangkis. Bukankah kau lihat sendiri?"

"Sama saja! Menangkis atau menyerang, kau telah menunda kemenanganku, Kim-mou-eng. Istrimu kalah dan hampir roboh!"

"Hm, memenangkan pertandingan melawan wanita hamil itu tidak gagah, See-ong. Menang pun kau tidak patut dipuji. Kalau ingin menang, sebaiknya kau berhadapan denganku, biarkan istriku beristirahat."

"Apa? Hamil?"

Swat Lian tiba-tiba muntah. Wanita ini terhuyung bersandar pada suaminya. Saat itu dia tidak dapat bicara karena bumi rasanya berputar. Pengerahan tenaga yang berlebihan membuat nyonya yang hamil muda ini tidak kuat. See-ong terkejut melihat hal itu. Baru dia tahu bahwa wanita ini sedang hamil—kehamilan yang belum terlihat karena masih sangat muda.

Ketika yang lain juga tertegun, Siauw-jin tiba-tiba terkekeh dan berseru, "Bagus! Kalau begitu lebih mudah, See-ong. Kau bunuh yang laki-laki, dan kami habisi yang perempuan!"

"Hm, kalian mau bersikap pengecut?" Kim-mou-eng marah sekaligus khawatir. "Istriku harus beristirahat, Siauw-jin. Atau aku akan menghajarmu!"

"Ha-ha, kau akan dihadapi See-ong, tidak mungkin kau dapat menghadapi kami!"

"Benar," See-ong menjawab. "Kau harus berhadapan denganku, Kim-mou-eng. Masalah istrimu nanti saja. Kalau dia kuat, tentu tidak perlu kau khawatirkan. Kalau tidak kuat, itu salahmu sendiri mengapa membawa wanita yang sedang hamil!"

"Hi-hik, cocok!" Nenek Naga terkekeh. "Kau yang salah, Kim-mou-eng. Istri hamil dibawa-bawa. Kenapa begitu bodoh? Heh, hadapilah Pendekar Rambut Emas ini, See-ong. Biarkan kami mengurus yang perempuan!"

Ternyata, Enam Iblis Dunia merasa mendapat kesempatan yang sangat baik. Mereka ingin mengeroyok putri Hu Beng Kui itu setelah dia dibuat jatuh bangun oleh See-ong. Hal itu tidak membuat mereka malu, justru merasa senang.

Saat keberanian mereka bangkit dan See-ong terkekeh, mendadak Siang Le yang menyaksikan semuanya membentak dan melompat maju.

"Tidak boleh! Menyerang Kim-hujin tidak boleh kalian lakukan, Nenek Naga. Dia sedang hamil, kalian harus malu!"

Semua orang terkejut. See-ong terbelalak melihat muridnya lepas. Totokannya memang telah dibebaskan oleh Kim-mou-eng, dan kini pemuda itu justru mengancam serta menegur Enam Iblis Dunia. Namun, ketika Siauw-jin tidak menjawab dan See-ong hanya tertawa, kakek tinggi besar itu justru menyambar muridnya sendiri.

"Heh, ke sini kau, Siang Le! Jangan campuri urusan mereka!"

"Tidak!" Siang Le melepaskan diri. "Perbuatan ini memalukan, Suhu. Kalau mereka menyerang, aku akan mencegahnya!"

Siang Le tampak gagah saat menentang gurunya. Tentu saja hal ini membuat mata See-ong mendelik. Ketika sikap pemuda itu dinilai janggal oleh yang lain, See-ong menampar muridnya hingga terbanting.

"Kau jangan kurang ajar, diamlah... plak!"

Siang Le terlempar dan langsung ditotok oleh gurunya. Tiba-tiba dia tidak dapat bicara karena sudah dilumpuhkan dan tidak dapat bangun. Kakek tinggi besar itu bermuka merah padam. Sikap dan kata-kata muridnya memalukan dirinya di depan Enam Iblis Dunia. Murid seorang tokoh sesat, mengapa justru bersikap seperti pemuda baik-baik?

Kakek itu menggeram lalu membalikkan tubuh menghadapi Pendekar Rambut Emas. "Nah, urusanmu denganku boleh diselesaikan, Kim-mou-eng. Urusan istrimu biarlah ditangani oleh pembantu-pembantuku!"

"Hm!" Wajah Kim-mou-eng bersinar merah. "Kau dan teman-temanmu ternyata iblis-iblis yang licik, See-ong. Kalau begitu biarkan aku menghadapi kalian semua. Majulah!"

Pendekar itu mendorong istrinya ke tempat aman untuk melindungi, lalu Swat Lian duduk bersila. Wanita ini pening dan kelelahan akibat pertandingan yang menguras tenaga. Pertempuran tadi membuatnya gemetar karena pengerahan tenaga yang berlebihan; wanita hamil seharusnya tidak mengeluarkan tenaga sebanyak itu.

Saat Pendekar Rambut Emas bersiap menghadapi semua lawan, See-ong tertawa bergelak dan membentak lawannya.

"Kim-mou-eng, jangan sombong! Menghadapi aku seorang diri pun belum tentu kau sanggup merobohkanku. Bagaimana mungkin kau menyuruh yang lain maju? Heh, jangan congkak! Aku merasa cukup menghadapi kau sendirian tanpa bantuan. Majulah!"

"Tidak," Pendekar Rambut Emas mengejek lawannya. "Aku yang merasa tantangan ini terlalu ringan, See-ong. Sebaiknya kalian semua maju, atau kau akan menyesal belakangan!"

"Ha-ha, si mulut sombong...!"

See-ong berteriak membentak, tiba-tiba sosoknya lenyap dan menghantam ke depan.

"Dukk!"

Kedua lengan mereka kembali beradu. Benturan itu mementalkan Siauw-jin dan kawan-kawannya. Mereka terpelanting dan terpeleset oleh getaran adu pukulan tersebut. Meskipun See-ong mengerahkan delapan bagian tenaganya, kakek tinggi besar itu tetap terpental dan harus berjungkir balik, terdorong hingga terlempar tinggi.

See-ong berteriak marah karena Khikang lawan sangat sulit dihadapi. Dia pun menghilang dalam ilmu Hek-kwi-sut dan menyerang sambil bersembunyi. Dia menampar dan memukul dengan cepat secara bertubi-tubi di sekeliling lawan. Yang tampak bukan lagi bayangan See-ong, melainkan bayangan roh halusnya. Begitu dia menyerang, pundak dan tengkuk Pendekar Rambut Emas menjadi sasaran. Terdengar suara pukulan yang bertubi-tubi, namun semuanya membalik kembali.

See-ong merasa penasaran karena Khikang milik Pendekar Rambut Emas jauh lebih tangguh dibandingkan istrinya; semakin kuat serangan See-ong, semakin keras pula dia terpental. Namun, karena See-ong menggunakan badan halus dan cepat menghilang untuk menyerang dari arah lain, pertandingan berjalan sangat seru. Kim-mou-eng tetap bertahan di tengah hujan pukulan tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment