Halo!

Istana Hantu - Chapter 40

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 40

"Des-plak!" Kim-mou-eng terhuyung. Kali ini dia agak terdorong karena See-ong menambah pukulannya. Tergetar, tapi lawan juga berteriak. Pukulan itu membalik dan menyerang See-ong sendiri. Namun, karena kakek itu selalu membuang daya pantal pukulan itu, berkelebatan, dan mengelilingi lawan, pertandingan berjalan lagi. Kim-mou-eng menerima pukulan atau tamparan. "Des-plak!" Pendekar Rambut Emas tak bergeming. Kali ini dia mengerahkan tenaga dan tak apa-apa. Lawan terkejut, dan See-ong berteriak marah.

Ketika kakek itu melancarkan serangannya dan dari balik ilmu hitamnya menghantam dan menendang, Kim-mou-eng maju mundur menerima pukulan-pukulan lawan. Kian lama kian tak bergeming, dan See-ong terbelalak. Apa yang diperlihatkan itu memang hebat, dan kakek ini penasaran. Ia menambah tenaganya lagi, namun Khikang selalu menolak balik. Repot kakek itu.

Karena dia selalu menyerang sementara Pendekar Rambut Emas hanya bertahan dan menerima serangan, kakek itu membentak, menyuruh lawan membalas. "Hayo, serang aku, Kim-mou-eng. Balas dan pukullah!" Kim-mou-eng diam saja. "Eh, kenapa diam? Takut? Ha-ha, tak dapat membalas berarti bukan seorang pendekar, Kim-mou-eng. Hayo serang dan pukul aku!"

"Hm," Kim-mou-eng menjawab. "Aku belum mengenal ilmumu, See-ong. Biarlah keluarkan dulu segenap kepandaianmu, dan balasan pasti datang." "Ha-ha, kalau begitu kau kalah. Kau tak dapat menyerang aku karena aku berlindung di balik Hek-kwi-sutku!"

"Hm, ilmumu itu ilmu kotor. Pantas kalau kau seperti iblis dan licik menyerang secara gelap. Seranglah, kau boleh menyerang aku sesuka hatimu, See-ong. Robohkan aku dan coba kalau bisa." "Keparat, kau tak mau membalas juga?"

"Untuk apa diperintah? Tanpa kau minta tentu kukerjakan apa yang harus kukerjakan, See-ong. Jangan banyak bicara lagi dan keluarkan semua kepandaianmu!" See-ong melengking. Menyerang dan menghantam Pendekar Rambut Emas ini seperti menyerang dan menghantam bola karet saja. Selalu mental, dan dia harus mengelak pukulannya sendiri yang membalik.

Karena Pendekar Rambut Emas tak mau menyerangnya, sebab pendekar itu lebih baik menerima pukulan daripada memukul, See-ong gusar dan lama-lama lelah. Surut tenaganya, dan Siauw-jin serta yang lain-lain terbelalak. Mereka menonton pertandingan yang aneh. Kim-mou-eng bertubi-tubi mendapat pukulan, tapi See-ong yang justru malah terpental. Semakin kuat menyerang, semakin kuat pula kakek itu terpental. Kalau bukan See-ong, tentu sudah roboh terbanting sejak tadi. Kakek itu dapat menyelamatkan diri dalam ilmu hitamnya, Hek-kwi-sut, menghilang setiap pukulannya membalik.

Karena masing-masing teramat berhati-hati dan See-ong bingung tak dapat merobohkan lawan, sesungguhnya Pendekar Rambut Emas juga bingung karena tak tahu bagaimana caranya menyerang kakek itu. Maklum, sebelum diserang, tentu kakek ini tertiup. Tubuhnya yang tanpa bobot menjadikannya tak dapat diapa-apakan, berlindung dalam Hek-kwi-sutnya yang luar biasa ini.

Ketika dua orang itu menjadi bingung sendiri karena See-ong selalu membalik bertemu pertahanan yang kuat, Siauw-jin dan lain-lain saling pandang. "Keparat, pertandingan ini jadi tak ada habisnya. Dua orang itu berimbang!" "Benar, dan Kim-mou-eng menemui batunya, Siauw-jin. Kali ini dia tak dapat bersombong karena bertemu lawan yang sama kuat!"

"Ya, dan kita tak tahu siapa menang siapa kalah. Bagaimana kalau pikiran Pendekar Rambut Emas itu dikacau?" "Dikacau bagaimana?" "Kita serang isterinya, Siauw-jin. Biar dia terpecah dan See-ong mendapatkan jalan keluar!" "Ha-ha, bagus. Aku lupa!"

Siauw-jin yang berjingkrak tertawa girang, tiba-tiba mencabut sabitnya. Mengangguk menyetujui, nenek Toa-ci dan iblis cebol itu tiba-tiba bergerak. Ketika empat temannya yang lain teringat dan menyusul perbuatan setan cebol itu, Siauw-jin dan kawan-kawannya sudah menyerang istri Pendekar Rambut Emas ini, yang masih duduk bersila. "Ha-ha, mampus kau, Kim-hujin. Pergilah ke neraka!"

Kim-mou-eng terkejut. Saat itu isterinya tak boleh diganggu karena sudah memulihkan rasa sakit. Perut isterinya yang mulai membesar tak boleh diganggu. Isterinya itu sedang hamil. Maka, melihat Siauw-jin menggerakkan sabitnya dan isterinya diam tak mengelak, tiba-tiba pendekar ini membentak, mendorong lengannya, melakukan pukulan jarak jauh. "Siauw-jin, enyahlah!"

Iblis itu terpelanting. Pukulan Pendekar Rambut Emas yang membantu isterinya ternyata mengenai sabitnya, tertolak, dan melencenglah senjata tajam itu ke kiri. Namun, karena Toa-ci dan lain-lain juga menyerang dan sudah menggerakkan senjatanya masing-masing, jarum dan sendok atau garpu menyambar istri Pendekar Rambut Emas ini, membuat Kim-mou-eng bingung. Terpaksa dia meninggalkan See-ong, berkelebat, dan menampar semua senjata itu.

Ketika Toa-ci dan lain-lain menjerit, terbanting, bergulingan, See-ong menyerang dan mengejar pendekar ini. "Ha-ha, jangan lari, Kim-mou-eng. Maju dan hadapi aku!" Kim-mou-eng sibuk. See-ong telah menyambar dan menyerangnya lagi, mengerahkan Khi-bal-sin-kang, dan kakek itu terpental. Tapi ketika Siauw-jin dan lain-lain kembali menyerang isterinya dan dia harus melindungi, berkelebat dan menamparlah pendekar itu, dikejar dan diburu See-ong lagi. Terpaksa Pendekar Rambut Emas menangkis. Kejadian ini berulang tujuh delapan kali, dan Kim-mou-eng betul-betul sibuk, juga marah.

Ketika satu saat pukulan See-ong mengenai tengkuknya, dan Khikang pecah dikacau Enam Iblis Dunia itu, Pendekar Rambut Emas terlempar dan terbanting roboh, terguling-guling. "Ha-ha, bagus, See-ong. Bunuh dan serang dia!" See-ong tertawa bergelak. Untuk Swat Lian, tentu saja dia tak peduli. Jalan terbuka baginya, dan Pendekar Rambut Emas dihajar lagi, menerima pukulan berat. Kali ini Kim-mou-eng terjengkang.

Namun, ketika Siauw-jin dan kawan-kawannya mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang Swat Lian, ternyata Pendekar Rambut Emas masih dapat melancarkan dorongan jarak jauh hingga lima iblis itu pun terjengkang. "Des-des-dess!" Siauw-jin dan kawan-kawannya mengumpat caci. Dalam saat begitu baik tapi gagal juga, membuat mereka berlima menjadi marah. See-ong diminta menyerang lagi, dan Kim-mou-eng sibuk, mengeluh. Tiba-tiba Pendekar Rambut Emas itu mengeluarkan pit-nya (pena).

Ketika Siauw-jin kembali menyerang, sementara See-ong memburu dan mengejar dengan pukulan bertubi-tubi, mendadak pendekar ini membentak, menggerakkan tangannya, dan meluncurlah pena di tangannya itu. Senjata di tangan lima iblis itu terpental ketika benda kecil ini beterbangan dari satu tempat ke tempat lain, seolah bermata. Ketika sabit dan jarum atau sendok terlepas dari tangan orang-orang itu, Swat Lian tiba-tiba membuka mata dan bangkit berdiri. "Biarkan," wanita itu membentak. "Aku sehat kembali, suamiku. Biarkan mereka menyerang dan aku menghajarnya!"

Kim-mou-eng girang. Saat itu dia terdorong dan terbanting lagi ketika See-ong melancarkan pukulan. Khikang jadi setengah hati dikerahkan karena dikacau Siauw-jin. Lima iblis itu membuyarkan konsentrasinya, dan tentu saja pendekar itu gugup. Namun, ketika isterinya berteriak marah dan rupanya isterinya itu dapat melayani lawan, Pendekar Rambut Emas berjungkir balik ketika dikejar See-ong. "Dess!" Kini See-ong yang mencelat. Kakek tinggi besar itu berteriak ketika Kim-mou-eng berhasil melindungi dirinya. Khikang sudah sepenuhnya lagi dikerahkan, dan kakek itu mengumpat.

Ketika See-ong meluncur turun dan berjungkir balik menyerang lagi, Siauw-jin dan empat temannya diserang Swat Lian. "Keparat, kalian licik dan curang, Siauw-jin. Sekarang hadapi aku dan biar kubunuh kalian!" Siauw-jin dan kawan-kawannya gentar. Setelah Swat Lian bangkit dengan marah, dan wanita cantik itu rupanya sehat kembali, setan cebol ini panik. Swat Lian berkelebat dan melancarkan pukulannya. Ketika kakek itu mengelak namun terbanting roboh, Siauw-jin bergulingan berteriak-teriak. "Aduh, celaka. Tobat.....!"

Empat yang lain terkejut. Mereka juga dihajar dan jatuh bangun. Swat Lian membagi-bagikan pukulannya, dan paniklah lima iblis itu. Mereka tak tahu bahwa sebenarnya Swat Lian memaksa diri. Wanita cantik ini menahan sakit dan mengerahkan sinkangnya menghajar lima orang itu. Ketika mereka berteriak-teriak dan Siauw-jin melempar tubuh bergulingan, tiba-tiba iblis cebol itu memutar tubuh melarikan diri. "Tobat....!" Toa-ci dan lain-lain gentar. Apa boleh buat, mereka pun lalu mengikuti pula perbuatan si cebol ini, memutar tubuh melarikan diri.

Ketika See-ong berhadapan dengan Kim-mou-eng dan Swat Lian tidak mengejar lawannya, tiba-tiba wanita ini membentak dan menyerang kakek tinggi besar itu, melengking, dan See-ong terkejut. Dihantam dan dikeroyok dua, tiba-tiba kakek tinggi besar itu marah. Tidak takut, namun Siang Le tiba-tiba mengeluh. Entah kenapa muridnya itu mendadak menjerit dan berteriak-teriak minta tolong, kaget kakek ini.

Ketika perhatiannya terpecah dan pukulan si nyonya menyambar, tiba-tiba kakek itu mencelat dan See-ong terbanting roboh. "Dess!" See-ong memaki bergulingan. Hek-kwi-sutnya buyar karena konsentrasinya pecah. Siang Le memanggil-manggil gurunya, dan mendadak Swat Lian berkelebat, menyambar pemuda itu. Tapi ketika See-ong berteriak dan membentak marah, tiba-tiba kakek iblis itu melancarkan pukulan jarak jauh dan menyerang nyonya itu. "Dess!" Swat Lian ganti terlempar bergulingan. Nyonya itu memekik sambil mencaci-maki, berjungkir balik, namun See-ong menyambar muridnya.

Karena Pendekar Rambut Emas melindungi isterinya dan terkejut melihat isterinya terguling-guling, See-ong tidak dikejar ketika menyambar muridnya itu, membawa lari. Tiba-tiba kakek ini pun memaki. See-ong bingung karena dia tak tahu apa yang menyebabkan muridnya tiba-tiba seperti itu, mengerang dan menga duh-aduh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment