Halo!

Istana Hantu - Chapter 41

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 41

Karena kelima pembantunya menghilang semua dan Siauw-jin serta kawan-kawannya entah kabur ke mana, kakek ini menyelamatkan muridnya dan langsung meninggalkan pertempuran. Bukan takut, melainkan semata kebingungan oleh teriakan muridnya.

Siang Le seperti orang kesakitan dan menjerit-jerit.

Ketika Pendekar Rambut Emas menjaga istrinya sementara Swat Lian melayang turun sambil berjungkir balik, See-ong berseru agar pertandingan ditunda dulu.

"Kim-mou-eng, jaga dulu di situ. Aku pasti kembali!"

"Keparat!" Swat Lian memaki. "Jangan lari, See-ong. Ayo kembali dan putar tubuhmu!"

"Tidak," Pendekar Rambut Emas mencengkeram. "Kau pucat, istriku. Kau memaksakan diri. Kau.... ah!"

Swat Lian yang tiba-tiba roboh dan mengeluh dalam cengkeraman suaminya, tiba-tiba dipeluk dan sudah terisak menahan sakit. Memang, sesungguhnya ia memaksakan diri, dan tiba-tiba wanita itu kembali muntah.

Ketika Pendekar Rambut Emas terkejut karena istrinya lemas, Swat Lian tiba-tiba ambruk dan pingsan di pelukannya.

"Celaka!" Pendekar Rambut Emas memucat. "Kau belum sehat, Lian-moi. Kandunganmu rupanya terganggu!"

Karena lawan-lawan sudah melarikan diri dan agaknya See-ong benar-benar akan kembali setelah menolong muridnya, Pendekar Rambut Emas tiba-tiba berkelebat dan menyambar istrinya. Memanggulnya dengan cepat dan luar biasa ia menuju pantai. Tak ada jalan lain saat itu kecuali meninggalkan Sam-liong-to. See-ong terlalu tangguh dan istrinya sakit. Menolong istrinya inilah yang harus didahulukan.

Maka, begitu melesat dan mengerahkan ginkangnya, Kim-mou-eng tiba-tiba sudah meninggalkan pertempuran. Kebetulan sekali ia melihat perahu Ji Pin, berteriak, dan perahu itu pun mendekat. Ji Pin tak tahu apa yang terjadi, namun Pendekar Rambut Emas merasa itu kebetulan. Istrinya sakit, ia khawatir kandungan istrinya itu akan gugur.

Ketika Ji Pin menyambut dan laki-laki itu berseri-seri, tetapi segera terkejut melihat ketegangan pendekar itu, Pendekar Rambut Emas mendadak sudah berjungkir balik dan berada di atas perahunya. Lalu, begitu menyambar dayung dan meletakkan istrinya di lantai, Kim-mou-eng tiba-tiba mendayung perahu dan melesat seperti iblis.

"Ambilkan air, siapkan air minum!" Ji Pin gugup. Ia diminta memberi minum nyonya yang pingsan itu. Kim-mou-eng menggerakkan perahu dan buru-buru meninggalkan Sam-liong-to. Hal itu jelas membuat laki-laki itu bingung karena tak tahu apa yang terjadi.

Maka, ketika ia bengong tak dapat memberi minum nyonya yang pingsan di lantai itu, laki-laki ini mengeluh. "Taihiap, bagaimana ini? Bagaimana cara aku memberinya minum?"

Kim-mou-eng sadar. "Ah, letakkan dulu di situ, Ji Pin. Biar aku yang mengurusnya setelah kita tiba di sana." Pendekar itu menunjuk, bukan lain ke tempat pulau di ujung itu berada, yaitu pulau di mana dia pertama kali bertemu Ji Pin.

Ketika laki-laki itu mengangguk dan lega, Kim-mou-eng mengerahkan kepandaiannya, dan perahu meluncur seperti didorong kuat dan cepat. Ji Pin hampir tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia, yang hampir setengah hari tiba di situ, tiba-tiba menempuh perjalanan tak kurang dari beberapa menit saja. Perahu yang digerakkan Kim-mou-eng itu terbang melewati ombak, melejit dan meloncat seperti kijang yang melesat.

Lima menit kemudian, Ji Pin sudah kembali di tempatnya semula. Kim-mou-eng berkelebat menyambar istrinya, dan Pendekar Rambut Emas itu sudah mendahului perahu, hinggap di pulau ini, berjungkir balik, dan turun membawa istrinya. Begitu ia menotok dan duduk bersila, lengan pendekar ini sudah menempel di pundak istrinya, memberikan pertolongan pertama. Ia lupa pada air minum yang diminta, dan Ji Pin melongo. Laki-laki itu melihat Pendekar Rambut Emas ini telah menolong istrinya dengan tergesa-gesa. Namun, ketika muka pendekar itu mulai berseri dan terdengar keluhan dari mulut wanita cantik itu, Ji Pin berlutut dan siap disuruh ini-itu.

"Hei, apa yang hendak kau lakukan, Liong-ko? Kenapa kau diam saja melihatku diperlakukan begini?"

"Sst, diam. Jangan berisik, Eng-moi. Aku sengaja tak melawan agar kita bebas."

"Bebas? Setelah kita menjadi tawanan begini?"

"Eh, kenapa berteriak-teriak? Kau dan aku dijebloskan di tempat ini, Eng-moi. Tapi, alih-alih menjadi tawanan, kita malah menjadi orang-orang yang bebas. Lihat, aku dapat melarikan diri!"

Thai Liong, yang sejak tadi diprotes adiknya, tiba-tiba menggerakkan lengan. Totokan See-ong lepas, dan pemuda itu bergerak. Memang, sejak semula pemuda ini sesungguhnya tak apa-apa, hanya pura-pura pingsan. Tentu saja, melihat adiknya dirobohkan See-ong, ia menunggu, dan kini mereka berdua dilempar ke ruang bawah tanah, yakni Istana Hantu itu. Ketika adiknya membuka mata dan langsung bercuap-cuap, pemuda ini meloncat bangun, membebaskan dirinya.

"Nah, kau lihat," katanya. "Kita berdua tak berhadapan lagi dengan See-ong, Eng-moi. Dan kita bebas. Berdirilah!" Thai Liong menepuk pundak adiknya, membebaskannya, dan Soat Eng pun meloncat bangun. Ketika adiknya itu memaki-maki dan Thai Liong tersenyum, tiba-tiba pemuda ini memegang lengan adiknya.

"Tak perlu marah-marah, kita memang harus segera pergi."

"Apa maksudmu pergi? Apakah kakek iblis itu harus dibiarkan saja?"

"Hm, apa maumu?"

"Kita keluar, Liong-ko, dan hajar kakek keparat itu!"

"Dan memberikan kesempatan padanya untuk merobohkanmu lagi? Hm, jangan bodoh, Eng-moi. See-ong adalah kakek yang lihai dan amat sakti. Dia memiliki Hek-kwi-sut, kita tak dapat melawannya."

"Aku tak takut!"

"Bukan soal takut atau tidak, Eng-moi, tetapi soal bijaksana atau hanya menuruti nafsu marah belaka. Apakah kau ingin kita berdua celaka di tangannya? Tidak, dengarkan aku, Eng-moi. Kita harus pergi meninggalkan pulau ini."

"Ya, dan berarti menemui kakek itu juga, Liong-ko. Sama saja karena kita akhirnya pasti berhadapan juga."

"Tidak, kalau kita cerdik, Eng-moi. Dan aku sudah menentukan itu."

"Apa maksudmu?" Sang adik terbelalak, "Cerdik bagaimana?"

"Hm, kita dapat keluar tanpa harus menemui kakek itu, Eng-moi. Kita lewat belakang dan lari secara diam-diam."

Soat Eng tertegun. "Kau ingat dari mana kita pertama masuk, bukan? Kau tidak lupa terowongan bawah laut yang kita masuki?"

"Hm, itu?" Gadis itu mengangguk. "Ya, aku ingat, Liong-ko. Tapi aku tidak takut dengan kakek iblis itu."

"Ah, lagi-lagi itu," kakaknya mengomel. "Aku tidak mempermasalahkan takut atau tidak takut, Eng-moi, melainkan mencari jalan selamat dan menghindari kakek itu terlebih dahulu. Kita harus pulang dan melapor kepada ayah atau ibu. Apakah kau ingin mati konyol di sini dan tidak kembali?"

Soat Eng tertegun. "Ingat, jangan terbakar rasa marah, Eng-moi. Kita harus menenangkan semua perasaan untuk melangkah ke tindakan yang lebih penting. Aku juga tidak takut See-ong, tapi melawannya sekarang ini adalah sebuah kebodohan belaka. Lihat, bagaimana kalau kita betul-betul mati di tempat ini? Bagaimana dengan ayah dan ibu? Dapatkah kau bayangkan perasaan mereka?"

"Hm," Soat Eng mengangguk juga. "Baiklah, Liong-ko, aku mengerti. Tapi lain kali kita harus kembali ke sini."

"Ya, dan tugas kita gagal, Eng-moi. Istana ini ternyata hanya berisi peninggalan harta belaka. Kita tak mendapatkan seperti apa yang ayah kehendaki."

"Benar, apa maksud ayah dengan mutiara yang harus kita temukan itu? Mutiara yang mana?"

"Inilah, itu tak dapat kita temukan, Eng-moi. Sebaiknya kita kembali dan temui ayah."

Lalu, memberi isyarat kepada adiknya agar tidak berisik lagi, Thai Liong berkelebat ke belakang, turun, dan pemuda itu menujulah ke tempat yang lebih bawah. Soat Eng baru teringat bahwa di balik Istana Hantu ini terdapat jalan masuk dari bawah laut, yakni tempat seperti gua di mana kakaknya dulu diserang gurita dan hiu ganas. Ia mengikuti dan akhirnya menempel di belakang kakaknya. Karena mereka sudah mengenal jalan di situ dan lika-likunya sudah mereka hafal di luar kepala, maka, akhirnya, kakak beradik ini tiba di bawah, di mana terowongan bawah laut itu menjorok.

"Kita menyelam," Thai Liong memberi tanda cepat, dan sudah mengajak adiknya berenang. Tanpa ragu atau khawatir lagi, pemuda itu sudah menyelam dan menghilang di bawah laut. Ini adalah tempat di mana pertama kali pemuda itu menemukan jalan menuju ke Istana Hantu, lewat terowongan bawah laut. Ketika Soat Eng mengikuti dan berenang di samping kakaknya, gadis ini sudah menyelam meninggalkan Istana Hantu, melarikan diri; hal yang tak diduga See-ong. Maklum, kakek iblis itu belum tahu bahwa dari sinilah kedua muda-mudi itu menemukan jalan masuk.

Begitu Thai Liong mengajak adiknya menyelam dan berenang di bawah laut, pemuda ini akhirnya muncul di tepi batu karang yang berbentuk setengah gua itu, meloncat dan naik ke atas. Ketika adiknya menyusul dan mereka sudah di pantai yang aman, Thai Liong mencari papan.

"Kita harus menyeberang, berselancar!" Soat Eng cemberut. Sesungguhnya, ia tak suka meninggalkan pulau dengan cara begitu, melarikan diri. Namun, karena See-ong memang lihai dan di situ masih terdapat pula Enam Iblis Dunia, gadis ini mengikuti dan menempel di belakang kakaknya saja, mencari alat menyeberang. Akhirnya, mereka menemukan itu: bekas papan pecahan perahu. Thai Liong sudah berjungkir balik di sini, hinggap dan bermain-main sejenak di atas papan ini, di atas laut.

Ketika adiknya berjungkir balik dan melayang pula di papan selancarnya, Thai Liong bergerak dan pemuda itu mengembangkan lengannya. "Kita pergi!" Soat Eng mengangguk. Kakaknya sudah meluncur dan mengerahkan ginkang, ilmu meringankan tubuh, bergerak dan meluncur di atas permukaan laut.

Karena mereka sudah terbiasa dan pekerjaan ini bukan pekerjaan yang sukar, Soat Eng juga mengerahkan kepandaiannya dan bergerak mendampingi kakaknya, naik turun melewati ombak. Tak lama kemudian, mereka sudah meninggalkan Sam-liong-to, tidak banyak bicara lagi, dan masing-masing mendekati pulau di ujung. Di situlah Ji Pin berada. Thai Liong bermaksud menghampiri temannya ini, mengajaknya pergi dan menjauhi tempat berbahaya itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment