Halo!

Istana Hantu - Chapter 42

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 42

Namun, ketika mereka tiba di tengah dan Thai Liong menyuruh adiknya mempercepat gerakan, tiba-tiba adiknya itu berteriak kaget.

"Hei, ada mayat...!" Thai Liong terkejut.

Adiknya sudah menuding dan di sebelah kiri mereka terapung sesosok mayat, timbul tenggelam di antara ombak. Thai Liong tentu saja menunda gerakannya, apalagi adiknya juga berhenti, tertegun memandang mayat itu.

Namun, ketika Soat Eng berseru keras dan meluncur maju, mendadak gadis ini sudah terbang menghampiri mayat itu.

Begitu gadis ini mengenali mayat itu, mendadak Soat Eng menjerit.

"Kong-kong (kakek)...!" Thai Liong kaget bukan main.

Jerit atau pekik adiknya itu mengguncang hati, sukma terasa dibetot. Thai Liong segera menggerakkan papan selancarnya.

Ketika pemuda itu terbang dan berjungkir balik mendekati adiknya, ia tertegun dan pucat melihat apa yang terjadi.

"Kakek!" Suara ini lirih, tercekat di kerongkongan, namun wajah Thai Liong sudah berubah hebat.

Pemuda itu menggigil dan tiba-tiba terguling. Adiknya juga terguling karena rasa kaget dan marah membuat Soat Eng kehilangan kewaspadaan, keseimbangannya lenyap. Gadis itu lupa bahwa dia berada di laut, di atas air.

Namun, begitu Soat Eng berteriak keras dan melengking tinggi, tiba-tiba gadis ini telah mengerahkan ginkangnya lagi dan menyambar mayat kakeknya itu, Hu Beng Kui, menangis tersedu-sedu. Thai Liong terdiam bengong.

Kakeknya, jago pedang itu, ternyata tewas dengan wajah mengerikan.

Hampir seluruh tubuh bengkak, dan Thai Liong melihat bekas-bekas pukulan yang mematikan.

Teringatlah Thai Liong akan suara pertempuran di luar, yang tak diduga sebagai kakeknya. Soat Eng sudah mengguguk menyambar mayat kakeknya itu.

Namun, ketika gadis ini membentak dan meluncur membalik menuju ke Sam-liong-to lagi, tiba-tiba Thai Liong terkejut.

"Hei, kembali, Eng-moi. Jangan ke sana!"

"Tidak!" Gadis itu berseru.

"See-ong telah membunuh Kong-kong, Liong-ko. Aku harus membalas dendam dan mengadu jiwa!"

"Tapi kita tak boleh kembali!"

"Kau pulanglah, laporkan pada Ibu bahwa aku akan membalas dendam pada See-ong, Liong-ko. Kau pergilah dan biarkan aku menuntut balas!"

"Gila!" Thai Liong, yang tentu saja tak mungkin membiarkan adiknya kembali ke Sam-liong-to, tiba-tiba membentak dan mengejar adiknya itu, mengerahkan ginkang. Namun, Soat Eng tancap gas.

Gadis ini marah sekali dan tak menghiraukan seruan kakaknya. Semakin dikejar, ia semakin nekat.

Ketika mereka hampir kembali ke pulau dan Thai Liong cemas, tiba-tiba pemuda itu melancarkan pukulan dari jauh. Pundak adiknya tepat sekali terkena serangan, ia mengeluh, namun gadis itu malah memaki kakaknya.

Soat Eng terguling, namun dapat membebaskan diri, maju dan meluncur lagi.

Namun, ketika ia hampir mendekati pulau dan Thai Liong marah, tiba-tiba pemuda ini mengerahkan totokan sinar merah, Ang-Kong-ci.

"Eng-moi, kembali... Tuk!" Soat Eng roboh.

Tanpa diulang lagi, Thai Liong sudah menyambar adiknya itu. Meski dimaki-maki, pemuda ini tak peduli.

Ketika adiknya menangis dan berteriak-teriak, Thai Liong menggerakkan kakinya dan meluncur menjauhi pulau. Adiknya di pundak kanan, sementara mayat kakeknya di pundak kiri.

Thai Liong tak memperkenankan adiknya itu membabi buta. Akibatnya, Soat Eng marah-marah dan memaki kakaknya itu habis-habisan.

Ketika Thai Liong menulikan telinga dan sejam kemudian sudah menyeberang serta berada di daratan besar, pemuda itu melempar adiknya dan marah menegur keras.

"Eng-moi, jangan bodoh. Boleh kau menangis dan memaki-maki aku, namun jenazah kakek harus dirawat. Lihat, apakah kita menelantarkannya begini saja? Apakah kita tidak memakamkannya? Jangan bodoh, Eng-moi. Sam-liong-to tempat berbahaya dan untuk sementara ini kita tak boleh mendekatinya!"

"Ah, kau cerewet. Kong-kong bukan kakekmu sejati, Liong-ko. Kau bisa saja berkata seperti itu karena kau bukan cucunya! Kau menggampangkan dan bersikap masa bodoh!"

"Apa?" Thai Liong terkejut. "Kau bicara seperti itu?"

"Ya, kau tak tahu sakitnya hati ditinggal keluarga, Liong-ko. Kau tak peduli kehilangan Kong-kong! Kau bukan cucunya. Kau bisa saja bicara seperti itu. Kau..."

"Plak!" Thai Liong tiba-tiba berkelebat, menampar adiknya ini.

"Diam kau, Eng-moi. Atau aku akan mencari See-ong, dan dibunuh atau membunuh! Kau tahu siapa aku dan siapa dirimu? Kau tahu siapa ayah kita masing-masing?"

Soat Eng terkejut. Berhadapan dengan kakaknya yang tiba-tiba mendelik dan merah padam seperti itu, gadis ini terperanjat.

Bicaranya yang kelepasan, tiba-tiba membuat dia sadar bahwa dirinya bersalah.

Thai Liong tersinggung dan tentu saja marah bukan main mendengar kata-katanya tadi, bahwa kakaknya itu bukan cucu sejati kakeknya, karena Thai Liong dilahirkan dari ibu yang lain, Salima, mendiang sumoi ayah mereka sendiri (baca: Pendekar Rambut Emas).

Ketika Soat Eng terkejut dan sadar melihat mata kakaknya yang berapi-api, tiba-tiba gadis ini mengeluh dan jatuh terduduk.

"Liong-ko, maaf... ampunkan aku...!"

"Berdirilah!" Kakaknya membentak.

"Sumpah demi langit dan bumi, aku akan mencari See-ong, Eng-moi. Tapi bukan sekarang dalam keadaan yang begini tidak menguntungkan. Tarik kembali kata-katamu bahwa aku bukanlah cucu Hu-taihiap!"

"Aku bersalah," Soat Eng menangis. "Jangan laporkan pada Ayah, Liong-ko. Atau biarlah kau hajar atau kau bunuh aku di sini!"

Gadis itu memeluk kaki kakaknya, tersedu, dan lenyaplah kemarahan Thai Liong.

Apa yang dikatakan adiknya tadi memang amat tajam dan menyengat sekali. Kata-kata itu membuat jurang perbedaan antara dirinya dengan Hu Beng Kui, kakek sejati adiknya itu.

Namun, karena dia adalah putra Pendekar Rambut Emas dan ayahnya itu adalah menantu jago pedang ini, tak ada jarak bagi Thai Liong. Tak dinyana, tiba-tiba Soat Eng bicara seperti itu, sebuah pernyataan yang tentu saja menusuk dan menyakitkan hatinya.

Namun, ketika adiknya meratap dan menangis di bawah kakinya, akhirnya Thai Liong menarik bangun adiknya itu, dengan wajah masih merah.

"Eng-moi, lain kali jangan bicara seperti itu. Ibumu adalah ibuku, tak ada beda di antara kita!"

"Maaf, aku... aku salah, Liong-ko. Aku... aku terguncang oleh kematian kakek!"

"Bukan kau saja," Thai Liong menegur. "Aku pun terguncang oleh kematiannya, Eng-moi. Sekarang kita rawat jenazahnya."

"Atau kita bawa pulang?"

"Hm, berapa lama? Tubuhnya mulai membusuk, Eng-moi. Rupanya sudah tiga, empat hari terapung-apung di laut. Sebaiknya cepat kita kubur dan selesaikan di sini."

"Baiklah, aku menurut, Liong-ko..." Soat Eng, yang tidak membantah serta mendebat kakaknya lagi, lalu membuat lubang dan mengubur jenazah kakeknya itu, berkali-kali menangis, dan Thai Liong sendiri bercucuran air mata.

Hu Beng Kui, si jago pedang yang gagah, telah tewas.

Mayatnya terapung-apung di laut, dan sungguh menyedihkan akhir hayat jago tua itu, jauh dari tempat tinggalnya dan jauh pula dari berita dunia, padahal kakek ini adalah seorang bengcu!

Ketika semuanya selesai dilakukan dan Hu Beng Kui akhirnya dimakamkan di tempat itu, Thai Liong berlutut menyatakan sumpahnya.

"Kong-kong, tenanglah di alam baka. Aku tak akan membiarkan See-ong dan pasti menuntut balas!"

"Benar, aku juga, Kong-kong. Seumur hidup akan kucari kakek iblis itu dan kubunuh dia!" Soat Eng, yang berlutut di samping kakaknya, juga bersumpah.

Gadis itu membendul oleh tangis yang terus-menerus, berkemak-kemik, dan mengepalkan tinjunya.

Ketika Thai Liong bangkit berdiri dan mengangkat adiknya, pemuda itu meminta agar adiknya pergi.

"Kita tinggalkan Kong-kong, kita pulang." Soat Eng tersedu.

Gadis ini masih tak dapat meninggalkan tangisnya. Sesekali ia bercucuran air mata. Tewasnya kakeknya itu memang merupakan pukulan berat, namun Thai Liong sudah menyambar lengannya.

Ketika sekali lagi mereka berlutut dan mencium makam, Thai Liong meloncat dan terbang meninggalkan tempat itu, mengajak adiknya. Soat Eng menggigit bibir.

Berkali-kali gadis itu harus ditarik karena setiap kali menoleh ke kuburan yang baru itu.

Thai Liong telah memberi tanda, dan tak mungkin mereka lupa.

Ketika mereka membelok dan Soat Eng tak dapat melihat lagi, Thai Liong meminta agar adiknya mengerahkan ilmu lari cepat, berkelebat. Tubuh pemuda itu tiba-tiba meluncur ke depan dengan cepat, dan Soat Eng pun menyusul.

Ketika mereka sama-sama mengerahkan ginkang dan terbang ke utara, empat hari kemudian mereka tiba di padang rumput itu, tempat tinggal suku bangsa Tar-tar. Mereka mencari namun tidak menemukan ayah ibu mereka.

Thai Liong mendapat laporan bahwa ayah ibunya pergi ke selatan, ke Ce-bu.

Sementara pemuda itu tertegun, adiknya berkelebat dan balik menuju ke selatan.

"Hei, tunggu, Eng-moi. Mau ke mana kau?"

"Ke Ce-bu. Ke mana lagi kalau tidak ke sana, Liong-ko? Ayo berangkat dan tidak perlu di sini lagi!"

"Nanti dulu...!" Sang kakak menyusul.

"Mungkin kita terlambat juga, Eng-moi. Berhenti dan biarlah aku bicara!" Thai Liong menyambar adiknya, meminta agar Soat Eng berhenti, dan gadis itu pun berhenti.

Thai Liong memerah mukanya dan mengerutkan kening.

Ketika adiknya bertanya mau bicara apalagi, Thai Liong pun berkata:

"Mungkin kita terlambat. Ayah ibu jangan-jangan tak ada juga di sana!"

"Hm, belum tentu. Kalau Ayah tak tahu meninggalnya Kong-kong, mungkin Ayah menunggu, Liong-ko. Aku tetap ingin ke sana dan menengok!"

"Tapi kurasa sia-sia..."

"Tidak, sebelum kubuktikan sendiri, aku masih berkeras, Liong-ko."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment