Chapter 43
"Tolong sekali ini kau turuti aku dan ke Cebu!"
"Baiklah, mari kita buktikan," Dan Thai Liong yang tidak mau berdebat dan main untung-untungan akhirnya menuruti juga permintaan adiknya itu. Ia berkelebat dan kini mendahului. Dia tidak mau adiknya sendirian dan kecewa, betapa pun dia harus menemani.
Ketika tiga hari kemudian mereka tiba di Cebu dan langsung memasuki rumah, Uwak Lu ditemukan tengah tertegun memandang mereka.
"Lho, kau, Kongcu? Dan kau, Siocia?"
"Ya, aku, Uwak Lu. Mana ayah dan ibu?"
"Ibumu, eh... ayahmu berangkat ke Sam-liong-to!"
Thai Liong dan Soat Eng terkesiap. Mereka kaget mendengar itu karena mereka bersimpang jalan. Saat mereka saling pandang dengan muka berubah, Uwak Lu menangis dan bercerita.
"Ayah ibumu menyusul kakekmu. Hu Taihiap, Loya... berangkat duluan. Aku mencegah, tapi tidak berhasil!"
"Hm, kami tahu," Thai Liong menenangkan perasaannya. "Dan Kongkong telah tiada, Uwak Lu. Kongkong telah tewas..."
"Apa?" Perempuan tua itu menjerit. "Loya... Loya tewas?"
"Ya."
"Ooh!" Perempuan itu jatuh tersungkur, tiba-tiba menggerung dan menangis tersedu-sedu. Ia menjerit memanggil nama Hu Beng Kui dengan histeris.
Kabar kematian Hu Taihiap diterimanya dengan tangis dan kekagetan. Namun, ketika dia meloncat bangun dan beringas memandang ke depan, tiba-tiba Uwak Lu bertanya, "Siapa yang membunuh, Kongcu? Siapa jahanam keparat itu? Mana dia? Siapa orangnya?"
"Tenanglah," Thai Liong menepuk pundak Uwak Lu. "Dia orang lihai. Kami datang mencari ayah dan ibu memang untuk melaporkan ini. Kau tidak usah memikirkannya."
"Tapi kakekmu adalah majikanku, Kongcu. Hu Taihiap adalah junjunganku!"
"Benar, dan terima kasih untuk rasa setiamu itu, Uwak. Tapi urusan ini adalah urusan kami dan kau tinggal saja di rumah."
Uwak itu tersedu-sedu. Dia mengepal tinju dan memaki-maki pembunuh itu. Soat Eng jadi ikut menangis karena melihat keadaan Uwak Lu. Saat Thai Liong mengerutkan kening dan hendak pergi, mendadak Uwak Lu menyambar lengannya.
"Nanti dulu, siapa orang itu, Kongcu? Siapa pembunuh jahanam itu?"
"Perlukah kau tahu?"
"Tentu, aku dapat mengutuknya dalam doa, Kongcu. Aku dapat meminta pada Yang Maha Kuasa agar pembunuh itu dihukum!"
"Hm, dia See-ong..."
"See-ong?"
"Ya, See-ong, Uwak Lu. Dan dia amat lihai karena memiliki ilmu iblis. Kami berdua hampir juga menjadi korbannya kalau tidak cepat-cepat meninggalkan Sam-liong-to!"
"Dan ayah ibu kalian ke pulau itu...!" Uwak Lu pucat dan gemetar. "Bagaimana, Kongcu? Apakah tidak disusul saja?"
Thai Liong bingung.
"Sebaiknya memang kita susul," Soat Eng tiba-tiba berkata dengan mata berapi-api. "Kalau ayah ibu ada di sana kita susul, Liong-ko. Sekalian melihat apakah mereka tidak apa-apa!"
"Benar, semalam aku bermimpi lagi, Siocia. Ibumu menggendong labu!"
"Labu?" Soat Eng mengerutkan kening. "Apa arti mimpimu itu, Uwak Lu? Baik atau buruk?"
"Aku kurang jelas, tapi menggendong buah dapat diartikan kehamilan, Siocia. Mimpi itu tanda rezeki bagi keluarga kalian!"
"Apa?" Soat Eng tertegun. "Ibu hamil?"
"Aku tidak tahu, aku hanya bermimpi. Tapi sekarang mimpiku cocok! Lihat, sebelum kakekmu meninggal aku bermimpi Loya diterjang banjir, Siocia. Dan benar saja Kongkong-mu tiada!"
"Hm," Thai Liong yang kurang memercayai segala mimpi menyambar lengan adiknya. "Mimpi hanya kembang tidur, Uwak Lu. Sebaiknya kami pergi dan kau tinggal di sini!"
Lalu ia mengajak adiknya meninggalkan tempat itu. Thai Liong berkelebat menarik lengan adiknya dan Soat Eng mengangguk. Setelah tahu ayah dan ibu mereka tidak ada di sana, mereka harus meninggalkan Cebu; tidak ada gunanya lagi berlama-lama di situ.
Ketika dua kakak beradik itu lenyap berkelebat meninggalkan Uwak Lu, perempuan itu tertegun lalu berlari mengejar.
"Siocia... Kongcu, tunggu dulu...!"
Thai Liong dan Soat Eng berbalik dan berhenti. "Ada apa?" Mereka melihat Uwak Lu terengah-engah dengan wajah pucat.
"Aku... aku hendak berpesan, juga menceritakan sebuah kejadian yang belum kalian dengar. Cari dan temukan seorang pemuda yang mencuri Cermin Naga!"
"Apa?" Thai Liong terkejut. "Cermin Naga?"
"Benar," Uwak Lu menangis lagi. "Aku tertipu seorang pemuda, Kongcu. Dia... dia datang ke mari dan mengambil Cermin Naga!"
Soat Eng meloncat menyambar lengan perempuan ini. "Uwak Lu, apa pula yang terjadi ini? Bagaimana bisa begitu dan kapan terjadinya?"
"Dua minggu yang lalu, Siocia. Dan ayah ibumu sudah kuberi tahu. Dia, pemuda keparat itu..." Perempuan ini menggigil. "Dia tinggi besar dan berkulit hitam, Siocia. Gagah tapi sepak terjangnya tidak tahu malu. Dia menipuku dan menendangku, lalu lari setelah mendapat sepasang cermin itu!"
Uwak Lu lalu menceritakan persis seperti apa yang dulu diceritakan pada Pendekar Rambut Emas dan istrinya. Saat Soat Eng terbelalak kaget sekaligus marah, Uwak Lu menutup ceritanya.
"Begitulah yang terjadi, Siocia. Aku tertipu dan dikelabui mentah-mentah. Tolong kalian cari dan tangkap pemuda itu. Dia tinggi besar berkulit hitam!"
"Hm-hm!" Soat Eng mengepalkan tinju dengan amarah berapi-api. "Baik, akan kucari pemuda itu, Uwak Lu. Dan kau tenang sajalah di sini menunggu rumah!"
"Baik, dan bawa pemuda itu ke sini, Siocia. Aku ingin menendang pantatnya seperti dulu dia juga menendang pantatku!"
Soat Eng mengangguk. Setelah dikejutkan lagi oleh berita hilangnya Cermin Naga, gadis ini gusar. Kematian kakeknya belum meredakan kemarahannya, tiba-tiba disusul hilangnya Cermin Naga, benda keramat yang disucikan kakeknya, bahkan dipuja karena dari benda itulah kakeknya menjadi lihai, duduk sebagai Bengcu, dan memiliki kesaktian tinggi.
Setelah semuanya jelas, Soat Eng menyambar kakaknya dan berkelebat mendahului.
"Siocia, tangkap dan bekuk pemuda itu. Jangan lupa dibawa ke sini...!"
Soat Eng mengiyakan. Setelah persoalan bertambah banyak dan urusan semakin menindih, gadis itu tidak mau banyak bicara lagi. Ia mengerahkan ginkang-nya dan lenyap dari pandangan Uwak Lu.
Di luar Cebu, Soat Eng meminta kakaknya menambah kecepatan. Karena kakaknya terlihat termenung, Soat Eng gemas dan mengerahkan semua kepandaiannya.
"Jangan melamun lagi, Liong-ko. Kita cari pemuda itu sekalian menuju Sam-liong-to!"
"Ya, baiklah, Eng-moi. Mari!"
Thai Liong tersentak melihat adiknya terbang. Ia segera mengerahkan kepandaian dan mengejar adiknya. Mereka beriringan terbang bersama. Ilmu lari cepat dua muda-mudi ini sudah tidak lumrah manusia lagi. Mereka mengerahkan Jing-sian-eng dan lenyap memasuki hutan.
Tak lama kemudian, bayangan mereka menyeberang hutan, muncul, lalu lenyap lagi memasuki lembah atau ngarai. Kakak beradik ini bagaikan siluman tidak bersayap. Orang akan tertegun melihat bayangan keduanya; lenyap dan tahu-tahu sudah muncul di tempat yang begitu jauh, lalu lenyap dan muncul lagi di tempat lain. Mereka akhirnya menghilang di luar Cebu menuju ke timur.
"Hei, berhenti! Kau mau ke mana!"
Seorang pemuda tiba-tiba dibentak belasan perampok saat ia memasuki hutan dengan tenang dan gerak-gerik halus. Pemuda ini tertegun ketika dibentak; ia merasa tidak memiliki kesalahan sehingga seketika berhenti.
Lima belas perampok mengepungnya rapat sambil memandang buntalan di punggungnya. Si pemimpin yang bertubuh tinggi besar mencabut golok.
"Kau memasuki wilayah kami, anak muda. Harus membayar upeti untuk meneruskan perjalanan!"
"Hm," pemuda itu mengerti. "Kalian perampok?"
"Kami penunggu hutan, penguasa wilayah ini. Siapa pun yang masuk dan akan lewat harus memberi kami imbalan jasa agar aman!" Si perampok mengelak dituduh perampok, sementara teman-temannya yang lain mengangguk setuju.
Mereka mengurung pemuda yang bersikap lemah lembut itu. Pemuda tersebut tinggi besar namun tidak menakutkan, kulitnya hitam dan gagah. Kesan angker tidak ada padanya, sehingga para perampok bersikap kasar.
Pemuda itu tersenyum dan menarik napas, lalu bertanya, "Baiklah, berapa harus kubayar ongkos melewati daerah ini?"
"Seratus tail, anak muda. Ditambah lima keping emas untuk menyeberang!"
"Hm, mahal amat. Tapi baiklah, aku tidak mau ribut-ribut. Kalian terima ini."
Pemuda itu menurunkan buntalannya, mengambil seratus tail perak dan lima keping emas. Semua mata melotot ketika terdengar gemerincing di dalam buntalan; sekilas tampak kilauan uang yang menyilaukan. Setelah seratus tail dan lima keping emas diserahkan, kepala rampok itu tersenyum.
"Ha-ha, sekarang boleh lewat. Aku membebaskan dirimu!"
"Terima kasih."
Saat pemuda itu memanggul buntalannya kembali dan hendak berjalan, mendadak ia dihadang oleh empat belas orang lainnya.
"Eh, kalian mau apa?"
"Hm," seorang di antaranya menyeringai. "Kau harus membayar imbalan jasa untuk kami, anak muda. Seratus tail perak dan lima keping emas!"
"Tapi baru saja kuberikan..."
"Itu untuk Gee Twako, kami belum!" lelaki itu memotong sambil tertawa. "Kami juga minta bagian, anak muda. Karena kami juga menjaga keamananmu!"
Yang lain tiba-tiba tertawa. Pemuda ini tertegun sejenak. Ia mau maju, tapi dari segala penjuru orang-orang itu menghadangnya. Dia tidak diperbolehkan melangkah dan harus membayar upeti itu—sebuah bentuk pemerasan kasar.
Ketika dia memandang Gee Twako, sang kepala rampok hanya menyeringai dan mengangguk.
"Benar, mereka anak buahku, anak muda. Kalau mereka memintanya, itu adalah haknya."
"Tapi itu tadi..."
"Ha-ha, yang ini milikku, anak muda. Aku tidak memberikannya pada mereka. Uangmu masih banyak, sebaiknya berikan saja dan kau aman!"
"Hm, empat belas kali seratus tail berarti seribu empat ratus tail."