Chapter 44
"Aku tak punya sebanyak itu. Bagaimana kalau sebagian saja dan kalian mengalah?"
"Tanya saja empat belas orang itu, mereka mungkin mau, mungkin tidak!"
"Tidak!" Lelaki pertama menggeleng. "Kau mendapat seratus tail, Gee-twako, kami juga harus sama agar adil. Kalau anak muda ini mengatakan tak punya, sebaiknya kami geledah, siapa tahu dia bohong!"
Laki-laki itu melompat maju, tertawa sambil menyambar buntalan si pemuda. Namun, si pemuda mundur, mengelak, dan sambaran itu pun luput. Ketika laki-laki itu terkejut dan berseru marah, ia mendadak menyambar lagi dan mengejar, tetapi dikelit dan lagi-lagi luput. Kejadian itu berulang enam tujuh kali. Lantaran buntalan tak dapat dirampas, laki-laki ini marah dan membentak.
"Hei, kau mau menyerahkannya atau tidak?"
"Tidak," jawab si pemuda, tetap tenang dan kalem. "Aku tak memiliki uang sebanyak itu, Sobat. Kalau kau memaksa, jangan-jangan kalian kuhajar. Minggir dan biarkan aku lewat!"
"Apa? Kau mau menghajar kami? Eh, dengar omongan ini, kawan-kawan! Pemuda kurang ajar ini menghina kita. Ayo tangkap, rebut buntalannya!"
Laki-laki itu kembali berteriak dan melompat maju, tiba-tiba disusul teman-temannya yang sudah membentak untuk menangkap lawan. Dari segala penjuru mereka bergerak ke satu titik, dan pemuda itu agaknya bakal tertangkap. Kiri, kanan, muka, dan belakang sudah dikepung rapat, tak mungkin pemuda itu lolos.
Tapi, ketika sebuah gerakan diperlihatkan pemuda itu, dia lenyap di atas kepala para perampok. Tiba-tiba pemuda itu menghilang dan empat belas orang itu bertumbukan satu sama lain.
"Hei... plak-dukk!"
Kepala mereka saling hantam. Empat belas orang itu berteriak kaget dan mengumpat caci; masing-masing benjol dahinya dan terpelanting. Ketika mereka terkejut karena lawan menghilang tiba-tiba, mendadak si lelaki pertama terbelalak memandang ke depan.
"Hei, itu dia...!"
Si pemuda melenggang. Ternyata dengan kepandaiannya yang luar biasa, dia tadi melompati kepala orang-orang ini, berjungkir balik, dan sudah turun di luar sambil melenggang. Uang yang diterima Gee-twako juga diambilnya kembali dengan begitu cepat sehingga si pemimpin rampok tak merasakannya. Namun, ketika pundi-pundinya hilang dan buntalan kecil itu sudah menempel di buntalan si pemuda, mendadak kepala rampok ini berteriak dan lari mengejar.
"Hei, uangku!"
Si pemuda tak menggubris. Dia tetap melangkah namun kakinya sedikit diperlambat, tidak lari. Si pemimpin rampok pun tahu-tahu melompati atas kepalanya, berjungkir balik, dan menunjukkan sedikit kepandaian. Ketika pemuda itu berhenti dan Gee-twako melotot menuding buntalannya, laki-laki tinggi besar itu membentak.
"Kenapa kau mengambil uangmu lagi?"
"Hm, kalian serakah," pemuda itu tenang-tenang saja. "Aku jadi sebal melihat tingkah kalian, perampok busuk. Sebaiknya kalian minggir dan biarkan aku lewat."
"Keparat!"
Si kepala rampok mencabut goloknya dan menyerang. Tiba-tiba ia membentak dan membacok pemuda itu, tetapi dikelit dan golok lewat di pinggir telinga. Anginnya bersiut, namun si pemuda tersenyum. Diterjang lagi, lawan pun membalik. Namun, ketika dia mengegos dan enam tujuh kali bacokan atau tusukan golok mengenai angin kosong, kepala rampok itu terkejut. Dia berteriak pada teman-temannya, menyuruh membantu, dan empat belas anak buahnya pun meluruk.
Mereka tadi sengaja mengganggu dengan hadangan itu, tak bermaksud melepaskan si pemuda jika tak menyerahkan semua harta miliknya. Gemerincing uang yang banyak di dalam kantung sudah membuat mereka mengiler. Gee-twako memberi tanda dan empat belas orang itu mencegat. Namun, ketika si pemuda berkelebat menghilang dan tahu-tahu lolos dari luar kepungan, mereka pun marah sekaligus terkejut. Mereka mulai sadar bahwa lawan yang dihadapi adalah seorang pemuda lihai berkepandaian tinggi.
Karena mereka berjumlah banyak dan pemuda itu hanya seorang diri, mereka mengeroyoknya. Pemuda itu diserang dari mana-mana; berhamburan golok atau tombak yang menusuk, menikam, serta membacok. Namun, ketika pemuda itu berkelit dan semua senjata menusuk angin kosong, mendadak pemuda itu menggerakkan kaki dan mereka pun terpelanting bergulingan karena ditendang.
"Pergilah... des-des-des!"
Lima belas orang itu mencelat. Mereka berteriak dan si kepala rampok mengaduh; dia merasa punggungnya patah, namun dapat berdiri lagi dan melompat bangun. Ketika empat belas orang lainnya juga dapat bangun berdiri dan terbelalak marah, si pemuda diserang dan dikeroyok kembali. Berkelebatlah sepasang tangan yang tahu-tahu mendarat di pipi atau leher. Pemuda itu membentak dan membalas lawannya.
Ketika orang-orang itu terpelanting dan menjerit satu sama lain, akhirnya mereka bergulingan merintih pedih. Mereka masih dapat bangun berdiri dan untuk ketiga kalinya maju menyerang dengan nekat. Namun, ketika si pemuda mendengus dan golok atau tombak yang menyambarnya dipukul patah, barulah orang-orang itu berteriak dan melarikan diri, didahului oleh pemimpinnya, laki-laki tinggi besar itu.
"Tobat, ada siluman! Lari...!"
Lima belas orang itu berhamburan. Tadi pemuda itu mengibas dan menangkap; golok atau tombak dicengkeram hingga hancur, membuat nyali mereka terbang. Ketika pemuda itu tersenyum dan tidak mengejar, lima belas perampok itu terbirit-birit berteriak ketakutan tanpa membawa senjata lagi. Pemuda itu meneruskan langkahnya dengan kalem dan tenang.
Sementara dia mengebut debu dari bajunya, lima belas perampok yang tunggang-langgang itu bertemu dengan sepasang muda-mudi yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Muda-mudi itu terheran-heran melihat mereka berteriak-teriak menyebut siluman.
"Hei, berhenti! Ada apa?" Si gadis yang berdiri paling depan tiba-tiba membentak.
Laki-laki tinggi besar yang tak lain adalah si kepala rampok tiba-tiba tertegun. Ia berhenti dan memandang gadis cantik dengan rambut dikepang itu. Ketika dihardik lagi, kepala rampok itu mendongkol, lalu ia membentak dan balas menyambar gadis ini.
"Di belakang ada siluman, mari pergi!"
Berniat kurang ajar meremas dada orang, laki-laki itu tertawa menyeringai. Empat belas temannya juga berhenti dan tertegun. Baru saja dihajar seorang pemuda lihai, mendadak mereka bertemu sepasang muda-mudi di tengah jalan. Si gadis demikian cantik namun galak. Karena kebiasaan buruk mudah berjangkit dan mereka adalah perampok-perampok kasar, mereka tertawa melihat Gee-twako, pemimpin mereka, hendak meremas gadis itu, menyambar dan ingin membawanya lari.
Namun, ketika gadis itu berkelit, sebuah tamparan keras meledak di pipi sang pemimpin. Tiba-tiba Gee-twako menjerit dan jatuh roboh.
"Aduh... plak-plak!"
Kaki si gadis menjegal. Laki-laki itu terkejut dan melayanglah dua tamparan ke pipinya. Ketika dia terguling-guling dan mukanya merah padam karena bengkak, kepala rampok itu memaki dan menubruk lagi. Ia menyerang, namun tiga tamparan mendarat di kepalanya. Kepala rampok itu berteriak dan terpelanting; ribuan kunang-kunang seolah menghiasi kepalanya, membuat empat belas anak buahnya terkejut.
Ketika Gee-twako membentak dan menyuruh mereka menyerang, empat belas perampok itu maju menerjang hendak menangkap si gadis tanpa malu-malu mengeroyoknya. Namun, si gadis hanya mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya. Temannya, si pemuda yang berdiri menonton, tampak tersenyum-senyum saja. Mereka berdua tak lain adalah Thai Liong dan Soat Eng. Tentu saja mereka tahu bahwa yang dihadapi hanyalah orang-orang kasar yang tidak sepadan. Thai Liong diam saja membiarkan adiknya dikeroyok perampok-perampok itu.
Ketika adiknya berkelebat lenyap dan pukulan serta tendangan dibagikan pada empat belas orang itu, akhirnya para perampok ini sadar bahwa mereka bertemu dengan "siluman" yang baru.
"Aduh, tobat...!" Mereka jatuh bangun.
Hanya dengan tamparan atau tendangan saja, Soat Eng sudah menghajar orang-orang itu. Si pemimpin terbelalak dan buru-buru kabur. Di situ masih ada si pemuda, dan kepala rampok ini merasa gentar. Niatnya mengganggu, tak tahunya malah dihajar. Maka, ketika empat belas temannya berteriak mengaduh sementara dia sendiri sudah merasakan lima kali tamparan yang membuatnya pusing, laki-laki tinggi besar itu melarikan diri, disusul empat belas temannya yang juga mengaduh.
Mereka benar-benar sial; baru saja dihajar seorang pemuda, kini dihajar lagi oleh seorang gadis. Ini tentu temannya, pikir mereka. Namun, ketika mereka berhamburan dan kepala rampok itu mendahului, mendadak si gadis berkelebat dan tahu-tahu menyambar tengkuknya.
"Berhenti!" Bentakan ini membuat si kepala rampok seakan terbang semangatnya.
Dicengkeram dan disambar seperti itu, tiba-tiba saja dia roboh. Seluruh tenaganya lumpuh dan ia mengeluh pasrah. Ketika teman-temannya yang lain terus melarikan diri sementara dia tertangkap, laki-laki ini menjatuhkan diri berlutut dan meratap.
"Ampun... ampun, Lihiap. Lepaskan tanganmu...!"
"Hm, aku memang tak bermaksud membunuhmu. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kalian tadi berteriak-teriak menyebut siluman? Apa yang terjadi dan kenapa kalian terbirit-birit?"
"Aduh, di depan ada seorang pemuda, Lihiap. Gagah dan tinggi besar. Kami... kami dihajarnya...!"
"Siapa dia?"
"Kami tak tahu."
"Tinggi besar dan gagah?"
"Benar, Lihiap."
"Berkulit hitam?"
"Ah, teman Lihiap-kah kiranya? Aduh, ampun Lihiap. Aku... aku tidak tahu!"
Si kepala rampok yang ketakutan dan semakin menggigil tiba-tiba mengira bahwa pemuda di depan adalah teman gadis ini. Ia meratap dan meminta ampun, namun tiba-tiba gadis itu menendangnya hingga mencelat dan terguling-guling. Ketika gadis itu membentak agar dia pergi, laki-laki itu merintih dan bangkit berdiri, lalu cepat-cepat kabur.
"Teman-teman, tunggu! Aduh, sial aku...!"
Soat Eng tak menghiraukan. Ciri-ciri pemuda tinggi besar berkulit hitam yang disebutkan tadi membuat matanya bersinar-sinar. Itu adalah pencuri Cermin Naga! Harus dicari! Maka begitu si kepala rampok dibuat jungkir balik dan terbirit-birit melarikan diri, Soat Eng sudah berkelebat dan terbang ke depan, meminta kakaknya mengikuti sambil berkata bahwa itulah pemuda yang dicari-cari.