Halo!

Istana Hantu - Chapter 45

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 45

Thai Liong terkejut, tetapi tidak menjawab. Dugaannya pun memang ke arah itu.

Begitu sang adik meloncat mengerahkan *ginkang*-nya dan meluncur ke depan, pemuda ini pun mengikuti sambil berseru.

"Eng-moi, hati-hati. Sabar dulu!"

"Aku tahu. Tetapi pemuda itu harus dikejar, Liong-ko. Ayo, cepat sedikit, dan jangan sampai dia hilang!" Soat Eng tancap gas. Ia marah dan mengajak kakaknya mempercepat lari.

Berita si kepala rampok justru membuatnya panas. Kegusarannya bangkit, dan Soat Eng sudah memasuki hutan itu.

Ketika dia melihat si pemuda yang dimaksud dan benar saja seorang pemuda tinggi besar berkulit kehitaman melenggang santai, gadis ini sudah membentak dan berjungkir balik melayang di atas kepala lawan.

"Berhenti!" Pemuda itu tertegun.

Soat Eng melayang turun. Sigap dan indah, gadis itu berjungkir balik melewati atas kepalanya.

Pemuda ini tercengang, namun tersenyum kagum.

Ketika ia berhenti dan Soat Eng berdiri tegak, belum apa-apa dia sudah dibentak.

"Kaulah yang menghajar lima belas orang tadi?"

"Benar," Pemuda ini mengerutkan kening, tiba-tiba curiga. "Apakah Nona teman mereka?"

"Mulut lancang!" Gadis itu membentak. "Aku bukan teman mereka, manusia busuk! Melainkan kaulah yang kuanggap teman mereka karena sepak terjangmu sama! Kau yang ke Ce-bu, bukan? Mana Cermin Naga yang kau curi?"

"Cermin? Cermin apa?"

"Cermin Naga! Kau kudakwa sebagai pencurinya!" Dan Soat Eng yang membentak mengejutkan pemuda itu tiba-tiba menyambung, "Serahkan benda itu atau kau mampus! Cepat, sebelum aku menghajarmu!"

Si pemuda yang malah melongo dan bengong tiba-tiba tertawa, dan untuk pertama kali terbahak-bahak, menganggap Soat Eng tidak waras dan mengira gadis itu gila!

"Eh, kau datang-datang menuduhku sebagai pencuri, Nona. Atas dasar dan alasan apa hingga aku mendapat tuduhan seperti ini? Kau siapa dan bagaimana cara bicara yang tidak keruan? Aku tidak mengerti, aku tidak tahu...."

"Wut!" Soat Eng yang tidak banyak cakap, menerjang lawan. Ia tiba-tiba membentak dan melakukan tamparan *Tiat-lui-kang*. Sinar merah mengejutkan pemuda itu, dan pemuda ini berkelit.

Tetapi ketika gadis itu mengejar dan *Tiat-lui-kang* kembali meledak, dia tidak dapat berkelit kecuali menangkis.

"Plak!" Pemuda ini terjengkang!

Soat Eng sudah membentaknya lagi, dan pemuda itu berseru keras. Dia menganggap Soat Eng gila dan berteriak-teriak.

Tetapi ketika gadis itu terus menyerang dan tubuhnya menyambar seperti walet beterbangan, pemuda ini menangkis dan melempar tubuhnya bergulingan.

"Plak-plak!" Pemuda itu kaget sekali.

Dua pukulan Petir menyambar pundaknya, dan bajunya pun hancur, hangus terbakar. Untung, dia cepat mengerahkan *sinkang* dan tidak apa-apa.

Karena pemuda itu dapat melompat bangun dan berdiri lagi dengan mata terbelalak, Soat Eng melengking dan menyerang lagi, melepas pukulan dan tendangan. Pemuda itu mengelak bingung.

Dia menangkis, tetapi selalu tergetar dan terpental oleh pukulan lawan.

Ketika sekali lagi dia terpelanting oleh sebuah tamparan, bayangan Thai Liong datang berkelebat, dan pemuda ini tertegun.

"Eng-moi, apakah pemuda ini orangnya?"

"Benar," Soat Eng melengking. "Cegat dia, Liong-ko. Jangan sampai lari!"

"Eh-eh!" Pemuda tinggi besar itu berteriak marah. "Kalian siapakah dan kenapa menyerangku seperti orang gila? Tahan, Nona... tahan!"

Namun Soat Eng yang tidak menggubris dan terus menyerang lawannya akhirnya membentak dan menghantam gusar, menganggap pemuda ini adalah pencuri yang mengambil Cermin Naga itu.

Tidak ada maling yang mau mengaku sebagai maling.

Ketika si pemuda kembali terlempar, namun dapat bangun untuk kesekian kalinya, Soat Eng menjadi beringas dan marah sekali.

"Liong-ko, pemuda ini cukup hebat. Barangkali aku harus mengeluarkan *Lu-ciang-hoat*!"

Sinar putih yang berkelebat menghantam pemuda itu akhirnya membuat si pemuda menjerit terlempar. Kali ini susah bangun, namun dia bergulingan menjauh.

Tadi, *Lu-ciang-hoat* menghantam bahunya, dan dia serasa disambar geledek, tersengat, dan mengaduh.

Namun ketika dia dapat bangun dan terhuyung membelalakkan mata, Thai Liong juga terkejut dan mau tidak mau menjadi kagum.

"Lihat, kalau bukan pemuda macam begini, tidak mungkin dapat menipu Uwak Lu, Liong-ko. Dia harus dihajar dan dirobohkan!"

"Kalian gila!" Pemuda itu berteriak. "Aku tidak tahu-menahu tentang pencurian, Nona. Kalau terus-menerus begini, jangan salahkan aku membalas!"

"Balaslah! Siapa takut?" Soat Eng malah menjadi sengit. "Ayo balas dan pukullah aku, pemuda siluman! Serahkan Cermin Naga atau kau mampus!"

Si pemuda memerah mukanya. Soat Eng sudah menyerang dan melepas pukulan-pukulan panas. Sinar putih dan merah berkelebatan berganti-ganti, dan dia marah.

Ketika kembali satu tamparan kuat menyambar kepalanya, namun dia meliuk. Tiba-tiba, untuk pertama kali, pemuda itu melakukan gerakan aneh, merunduk.

"Dukk!" Soat Eng tergetar. Lawannya, pemuda tinggi besar itu, tidak terpelanting. Pemuda itu hanya bergoyang dan terdorong mundur.

Soat Eng terkejut karena *Lu-ciang-hoat*-nya tertahan. Untuk pertama kali, dia merasa menghadapi lawan tangguh!

Tetapi Soat Eng yang memekik dan menyerang lagi akhirnya membentak dan berkelebatan mengelilingi lawan. Pukulan dan tamparan silih berganti, dan pemuda itu sibuk.

Pemuda ini membentak, dan keluarlah lagi gaya serangannya yang aneh: merunduk. Tiba-tiba kedua lengan bergerak ke sana kemari, kian cepat, dan akhirnya berubah menjadi delapan belas pasang lengan.

Bukan main! Soat Eng terbelalak karena ke mana pun ia menyerang selalu bertemu dengan delapan belas pasang lengan itu. Terpental, dia mulai terhuyung, melotot, dan menyerang lagi, namun si pemuda membalas.

Ketika *Lu-ciang-hoat* bertemu delapan belas pasang lengan dan kedua-duanya berkelebatan dahulu-mendahului, Soat Eng melengking dan gusar bukan kepalang.

"Benar, ini orangnya, Liong-ko. Semakin benar dugaan kita!"

"Kalian gila!" Pemuda itu berseru, kini dapat menjaga diri dengan baik. "Aku tidak tahu-menahu tentang pencurian, Nona. Kau tidak waras, dan hentikan semuanya ini!"

"Mana bisa? Kau tidak menyerahkan Cermin Naga, bocah siluman. Aku akan menghajarmu sampai roboh!"

"Kalau begitu, cobalah! Barangkali kau atau aku yang gila... plak-dess!"

Si pemuda yang kini tergetar membuat Soat Eng terhuyung. Lalu bergerak lagi mengeluarkan kepandaiannya, lengannya itu maju mundur dan berputar-putar cepat sekali.

*Lu-ciang-hoat* tertahan, dan Soat Eng diam-diam kaget sekali. Thai Liong, kakaknya, juga terkejut dan mengerutkan kening.

Ketika keduanya kembali bertanding, namun tetap imbang, Thai Liong menyuruh adiknya mengeluarkan *Khi-bal-sin-kang*, ilmu yang khusus mengembalikan setiap tenaga lawan.

"Keluarkan *Khikang*, gabung dengan *Lu-ciang-hoat*!" Soat Eng mengangguk.

Gadis itu dengan marah sudah mengeluarkan ilmunya yang kedua ini, ilmu yang tidak kalah hebat dan tentu saja menjadi semakin hebat kalau dipakai bersamaan dengan *Lu-ciang-hoat*.

Pemuda itu berteriak ketika menangkis, jatuh terbanting, dan terguling-guling.

Ketika Soat Eng berkelebatan dan pemuda ini berseru keras, tiba-tiba dia terdesak, dan tangkisannya menjadi bumerang bagi diri sendiri.

"Plak-dukk!" Pemuda itu menjadi pucat.

Dia ternyata tidak memiliki ilmu lain kecuali delapan belas lengan itu. Ia bingung, mundur-mundur, dan menangkis, tetapi selalu terpental. Tenaganya membalik, dan Soat Eng berseru girang.

Ketika pemuda itu terhuyung-huyung dan pucat memaki-maki, satu pukulan di tengkuk akhirnya membuat dia terpelanting, jatuh terguling-guling. Namun hebatnya, pemuda ini dapat bangun berdiri.

Ini menunjukkan bahwa *sinkang* (tenaga sakti) yang dimiliki pemuda itu kuat juga, luar biasa.

Soat Eng sampai gemas, namun akhirnya dia melakukan pukulan ulang. Sebuah tamparan, dan pemuda itu menangkis, tidak dapat mengelak. Untuk kesekian kalinya dia pucat menangkis tamparan itu. Maklumlah, dirinya selalu akan terbanting karena tenaganya akan membalik.

Ketika benar saja dia terlempar dan jatuh berguling-guling, Thai Liong berkelebat dan menotok pundaknya.

"Tuh-auh!" Pemuda itu roboh.

Sekarang Thai Liong berdiri di depannya dengan alis berkerut. Pemuda ini terpaksa maju karena melihat lawan terlalu tangguh. Adiknya harus bekerja lama untuk menundukkan lawan yang kuat ini.

Ketika Soat Eng berkelebat dan berdiri di samping kakaknya, gadis itu meminta agar kakaknya menggeledah.

"Periksa dia, rogoh semua isi bajunya!" Thai Liong mengangguk.

Memang adiknya tidak mungkin melakukan itu, adiknya wanita. Menggeledah dan memeriksa seorang laki-laki, tentu adiknya jengah.

Ketika dia membungkuk dan memeriksa isi kantong pemuda itu, Thai Liong tertegun melihat kepingan uang terdiri dari perak dan emas, lumayan banyak.

"Hm, tidak ada," katanya. "Apakah kita salah memeriksa orang?"

"Tidak mungkin. Tentu disembunyikan di tempat lain, Liong-ko. Sebaiknya kita paksa dia mengaku dan dikompres!" Soat Eng jengkel. Cermin Naga tidak ada, dan kakaknya mulai ragu.

Sebenarnya Thai Liong tidak melihat watak buruk pada muka pemuda ini. Orang yang mereka tangkap ini justru berkesan jujur dan baik-baik. Bimbanglah dia.

Tetapi ketika adiknya membentak dan hal itu mungkin saja terjadi, Thai Liong berdiri dan memandang pemuda itu, tajam bersinar-sinar.

"Sobat, sebaiknya kau mengaku. Kami mempunyai dugaan kuat bahwa kaulah pencurinya. Mana Cermin Naga, dan di mana kau sembunyikan?"

"Kalian aneh," pemuda itu tertawa. "Aku bingung dan justru heran akan sikap kalian, sahabat muda. Seharusnya kalian percaya bahwa aku tidak tahu-menahu tentang Cermin Naga. Jangankan mengerti, mendengar saja baru kali ini. Apakah Cermin Naga itu, dan bagaimana wujudnya?"

"Setan!" Soat Eng memaki. "Pemuda ini berpura-pura bloon, Liong-ko. Kalau begitu, serahkan padaku, dan biar kupaksa mengaku!" Soat Eng menyambar, mencengkeram tengkuk, dan segera pemuda itu merintih.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment