Halo!

Istana Hantu - Chapter 46

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 46

Meskipun jari-jari halus yang mencengkeramnya namun jari-jari itu penuh tenaga kuat, serta menembus sumsumnya dan dia mendesis.

Dan ketika cengkeraman diperkuat sementara Thai Liong diam mengerutkan alis maka Soat Eng sudah membentak lawannya.

"Lihat, pencetan ini akan membuatmu seperti dibakar api.

Kalau kau tidak mengaku jangan salahkan aku membuatmu menderita!" "Lakukanlah," Pemuda itu berkata gagah, meringis menahan sakit.

"Aku memang tak tahu apa-apa, nona.

Kalau aku harus disiksa barangkali ini memang nasibku yang sial!" "Kau tak mau mengaku?" "Apa yang harus kuakui?

Aku tak tahu-menahu benda sialan itu, nona.

Disuruh mengaku tentu aku juga tak dapat menunjukkan...

augh!" Pemuda itu berjengit, Soat Eng sudah memencet urat darah di tengkuknya dan muncullah sengatan panas yang membakar pemuda itu.

Bagai api yang tajam dan panas pemuda ini merasa terbakar, dia mengaduh namun akhirnya menggigit bibir, menahan sakit, diperkuat lagi pencetannya dan pemuda itu pun merah padam.

Perjuangan berat tampak diperlihatkan pemuda ini dan Soat Eng penasaran, menambah kekuatannya dan pemuda itu pun akhirnya berteriak.

Saking sakit dan marahnya dia menggigit bibir sendiri.

Namun ketika Soat Eng membentak agar dia mengaku pemuda ini malah memaki-makinya.

"Siluman busuk!

Kau boleh bunuh aku, nona.

Boleh siksa dan gorok leherku tapi tak dapat aku menerangkan.

Aku tak tahu-menahu dan sumpah demi ibu bapakku aku tak mengerti urusan Cermin Naga!" Soat Eng melotot.

Setelah berulang kali lawannya ini membantah tiba-tiba dia menjepit lagi sebuah urat darah di leher kanan, jepitan atau pencetan yang akan membuat pemuda itu seolah kesetrum bongkahan es dingin.

Habis dibakar panas tiba-tiba sudah dibuat menjadi dingin, pemuda itu merasa tengkuknya terbakar tapi leher kanannya dicelup es.

Beku!

Dan ketika dia menggigit bibir namun tak tahan juga tiba-tiba pemuda ini roboh dan pingsan.

"Ah, kau terlalu!" Thai Liong terkejut.

"Lepaskan pemuda ini, Eng-moi.

Bebaskan dia dan jangan kelewatan!" Soat Eng menendang.

Setelah pemuda itu pingsan dan dia kalah maka kemarahannya semakin menjadi.

Gadis itu bukannya kasihan melainkan bertambah gusar.

Maka ketika kakaknya menyuruh lepaskan sementara pemuda itu sudah tak sadarkan diri maka dia menendang dan melesatlah tubuh tinggi besar itu, terbanting dan tidak bergerak-gerak lagi karena sudah pingsan.

Soat Eng memaki-maki dan baru kali ini kalah berhadapan dengan seorang lawan yang demikian tegar, meskipun lawan itu dapat dirobohkannya.

Dan ketika kakaknya terkejut dan tak setuju pada tindakannya maka Thai Liong melompat dan memeriksa pemuda itu.

"Dia tak akan mati, paling-paling pingsan!" "Hm, kau keras sekali," Kakaknya menegur.

"Aku jadi sangsi akan keteguhannya, Eng-moi.

Kalau kita sampai salah maka kita harus menebus malu!" "Cih, minta maaf maksudmu?

Tak mungkin, pemuda ini jelas orangnya, Liong-ko.

Aku yakin dan merasa pasti!" "Tapi dia menolak tuduhan...." "Memangnya maling harus mengaku maling?

Tak mungkin, tak ada maling yang mengakui perbuatannya, Liong-ko.

Justru menurut pendapatku pemuda ini harus disiksa lagi yang lebih keras.

Aku masih belum puas!" "Tidak, jangan dulu!" Sang kakak mencegah.

"Kita tangkap saja dia, Eng-moi.

Kita tawan dan secara baik-baik dibujuk...." "Apa?

Dibujuk?" Sang adik melotot.

"Membujuk penjahat tak ada gunanya, Liong-ko.

Dia akan mempermainkan kita dan sia-sia.

Sebaiknya diseret dan biar kau lihat perbuatanku!" Soat Eng menyambar sebuah tali, mengikat dan melilit-lilit pemuda itu dan akhirnya mengambil air.

Dengan dingin dia mengguyur muka pemuda itu, menyadarkannya.

Dan ketika si pemuda gelagapan dan benar saja siuman maka pemuda itu membuka mata dan mengeluh.

"Aduh, aku belum mati?" Pertanyaan ini menyedihkan.

Thai Liong mau tertawa kecut tapi tak jadi, tersenyum ditahan dan adiknya yang bergerak.

Dan ketika pemuda itu membuka mata dan beradu pandang dengannya maka Soat Eng mendesis.

"Kau belum mati, dan memang tidak akan mati.

Aku ingin kau tetap hidup agar merasakan penderitaan lebih lanjut.

Masihkah kau tidak mengaku dan ingin kuseret sepanjang jalan?" "Ooh.....!" Pemuda itu tertawa menyeringai, aneh sekali tidak nampak dendam.

"Kau berkali-kali memaksaku, nona.

Dan agaknya berkali-kali pula aku harus menjawab dengan gelengan kepala.

Aku baru kali ini turun gunung, mau pulang.

Bagaimana bisa mencuri barang orang dan dituntut seperti ini?

Kalau kau tidak percaya maka boleh siksa aku sampai puas, tapi hati-hati, perbuatanmu nanti kualat!" "Kualat hidungmu!" Soat Eng membentak.

"Menghajar seorang penjahat macam dirimu justru dibenarkan hukum, pemuda siluman.

Aku tak takut kualat dan lihat saja bagaimana aku menyiksamu!" "Aku mau kau bawa ke mana?" "Ke Sam-liong-to!" "Ke laut?" "Ya." "Untuk apa?" "Kujadikan santapan hiu!" "Ha-ha!" Pemuda itu tertawa bergelak.

"Tak ada hiu yang dapat memakan dagingku, nona.

Tubuhku alot dan tua.

Kau akan sia-sia!" "Eh, mengejek?" Soat Eng terbelalak.

"Kuhajar kau, pemuda setan.

Tutup mulutmu dan jangan buka lebar-lebar....

plak!" Soat Eng menampar pemuda itu, mengejutkan kakaknya dan Thai Liong berkata agar adiknya menahan diri.

Tamparan yang cukup keras itu membuat bibir si pemuda pecah.

Thai Liong berkelebat dan menyambar adiknya.

Dan ketika Soat Eng menggerutu dan kakaknya menegur maka pemuda ini terbelalak memandang Thai Liong, mulai merasa bahwa pemuda ini lebih lembut dibanding adik perempuannya, yang galak itu.

Pemuda yang menarik perhatiannya karena tiba-tiba dia melihat rambut Thai Liong yang keemasan.

Pemuda itu tertegun dan membelalakkan mata, teringat sesuatu.

Namun belum sempat dia bertanya atau membuka mulut tiba-tiba Soat Eng menyambar tali dan menarik dirinya, diseret.

"Liong-ko, aku ingin membuktikan omongan si sombong ini bahwa tubuhnya alot tak dapat dimakan hiu.

Coba kubuktikan dan mari kita seret!" Gadis itu bergerak, tak menghiraukan kakaknya lagi dan Thai Liong tertegun.

Pemuda ini mengerutkan kening namun adiknya sudah melangkah, tawanan mereka diseret dan bertemulah tubuh pemuda itu dengan kerikil dan batu-batu tajam, mengigit namun pemuda itu mengerahkan tenaga dalamnya.

Tubuhnya tak apa-apa akan tetapi pakaiannya yang robek-robek.

Dan ketika Soat Eng tak peduli dan terus menyeret tawanannya maka Thai Liong kagum melihat kulit tubuh yang tegap mengkilat.

"Kau sebaiknya mengaku," Dia membujuk.

"Dan jangan biarkan adikku marah!" "Hm, mengaku bagaimana?

Justru aku heran melihat kalian berdua, sobat muda.

Kau tampaknya baik dan adikmu itu juga bukan orang jahat." "Eh, untuk apa omong-omong?" Soat Eng tak senang.

"Biarkan dia begini, Liong-ko.

Dan lihat berapa kuat dan alot kulitnya!" Si pemuda tersenyum.

Thai Liong geleng-geleng kepala dan diam-diam kasihan.

Sesungguhnya dia ragu dan bimbang, pemuda ini tampaknya bukan orang jahat dan dia khawatir kalau adiknya salah tangkap.

Berbahaya nanti, tentu mereka mendapat malu.

Namun karena adiknya tak peduli dan pemuda itu dilihatnya juga tak apa-apa diseret sepanjang jalan maka Thai Liong diam saja dan akhirnya justru tertarik, ingin mengetahui siapa sebenarnya pemuda ini namun justru pemuda itu tak memberitahukan namanya.

Thai Liong ditanya tapi juga balas tak memberitahukan namanya.

Dan ketika sehari itu mereka menyeret tawanan mereka maka si pemuda minta air minum.

"Aku haus, tolong berikan air." "Huh, tidak mengaku mengapa minta minum?

Kau bilang boleh dibunuh, pemuda siluman.

Dan sekarang jangan banyak cakap sebelum mengaku!" "Tapi tenggorokanku kering, aku bisa sakit...." "Memangnya kenapa?

Sakit pun tak peduli, kau bilang tubuhmu alot dan kuat!" Pemuda itu menyeringai.

Setelah Soat Eng berkata seperti itu dia tak minta apa-apa lagi, malam menginap di hutan dan Soat Eng memanggang kelinci.

Bau sedap makanan itu juga membuat si pemuda lapar, perut berkeruyuk namun Soat Eng tak peduli.

Thai Liong memuji daya tahan pemuda ini, benar kuat dan cukup tangguh.

Dan ketika keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan dan menuju ke timur mendadak mereka mendengar denting suara senjata beradu.

"Ada orang bertempur.

Kita lihat!" Thai Liong terkejut.

Adiknya tiba-tiba melesat dan pemuda yang diseret itu terantuk, mengaduh namun Soat Eng tidak peduli, terus berlari cepat dan tentu saja pemuda itu terbanting-banting, tubuhnya bertemu batu-batu keras dan Thai Liong membentak, menyuruh adiknya bersikap lunak sedikit.

Tak tahunya malah semakin menjadi dan Soat Eng terbang sambil menyeret pemuda itu, yang juga "terbang" dan terantuk serta naik turun menghantam apa saja, hancur bajunya dan punggung yang tegap serta kuat itu telanjang sudah.

Untung, karena tenaga dalamnya memang luar biasa dan pemuda itu memiliki daya tahan sempurna maka akhirnya Soat Eng tiba di tempat yang penuh batu-batu karang, melihat belasan orang mengeroyok seorang laki-laki dan gadis ini berhenti.

Dia tak memperdulikan makian pemuda itu dan terbelalak.

Dan ketika denting senjata itu membuat Soat Eng membelalakkan mata karena mengenal siapa yang dikeroyok maka Thai Liong juga tiba di situ dan berseru tertahan.

"Ayah.....!" Kiranya Kim-mou-eng.

Pendekar Rambut Emas yang menghadapi orang-orang ini.

Dua muda-mudi ini terkejut karena ayah mereka dikeroyok belasan orang, dihujani senjata tajam namun ayah mereka itu tenang-tenang saja menyambut, mengelak dan memantulkan senjata-senjata yang menyambar, yang akhirnya bertemu sesama kawan sendiri dan mengeluarkan suara nyaring.

Dan ketika Soat Eng terkejut dan tentu saja marah tiba-tiba dia melompat dan menerjang ke depan, melepaskan tawanannya.

"Keparat, kalian manusia-manusia jahanam....

plak-des-dess!" Soat Eng beterbangan, menyambar dari satu tempat ke tempat yang lain dan terlemparlah orang-orang itu.

Mereka adalah orang-orang berpakaian hitam seperti bajak laut, mengenakan ikat kepala merah dan sepak terjangnya liar.

Mengeroyok Pendekar Rambut Emas namun pendekar ini bersikap tenang-tenang saja, menghalau dan entah kenapa tidak bersikap keras.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment