Chapter 47
Namun, begitu Soat Eng menyambar dan tubuhnya berkelebat dari satu orang ke orang lain, orang-orang itu menjerit dan terlempar berguling-guling.
"Aduh, mati aku...!" Soat Eng tak peduli.
Dia terus berkelebat dari satu tempat ke tempat lain, melempar-lempar dan membanting orang-orang itu.
Dan ketika semuanya terpental tak karuan sementara ayahnya tertegun di tempat, orang-orang itu pun akhirnya melarikan diri dan jatuh bangun.
"Siluman, kita bertemu siluman betina...!" Soat Eng mendamprat.
Dia marah dan hendak mengejar, tetapi ketika ayahnya bergerak dan memegang lengannya, Pendekar Rambut Emas, yang terbelalak tetapi girang bertemu anaknya, berseru.
"Tahan, biarkan mereka pergi!" Dengan gembira memandang puterinya, pendekar ini menyambung, "Kau di sini, Eng-ji? Bersama kakakmu? Ah, bukankah kalian ke Sam-liong-to? Bagaimana bisa ada di sini?"
Dan Soat Eng, yang juga girang serta memeluk ayahnya, tiba-tiba tidak menjawab, malah bertanya di mana ibunya.
"Aku di sini!" Dan sesosok bayangan yang berkelebat dan sudah berada di samping Pendekar Rambut Emas akhirnya membuat Soat Eng bertambah girang lagi. Ibunya ada di sana dan muncul mengejutkannya.
Soat Eng melepaskan ayahnya dan menubruk ibunya.
Dan ketika ibunya tersenyum dan balas memeluknya, sebuah bayangan berkelebat lagi dan datang membuatnya tertegun.
"Kim-siocia, aku juga di sini!" Soat Eng menoleh.
Hampir saja dia berteriak ketika melihat Ji Pin di sana, tertawa dan membungkuk kepadanya.
Dan ketika gadis itu melepas ibunya dan memutar tubuh, Thai Liong mendekat dan memberi hormat kepada ayah dan ibunya.
"Ayah, kami mencari-carimu. Baru saja ke Ce-bu!"
"Hmm, kau, Thai Liong? Siapa pemuda itu?" Kim-mou-eng menepuk pundak puteranya, tertawa tetapi heran melihat pemuda yang diseret Soat Eng.
Pemuda itu terbelalak memandang semuanya dan aneh sekali, wajahnya pun berseri-seri.
Dan ketika sang ayah bertanya, namun dia belum sempat menjawab, Soat Eng sudah mendahului dan berseru lantang.
"Dia pencuri Cermin Naga, kutangkap dan kuseret ke sini!" Pendekar Rambut Emas terkejut.
"Pencuri Cermin Naga? Jadi pemuda ini?"
"Benar, Ayah, tetapi dia tidak mau mengaku!" Dan Soat Eng yang berkelebat menyambar ujung tali lalu membentak pemuda itu agar bangun berdiri.
"Ayo, ini ayah ibuku. Mati kau, semakin tidak dapat lolos lagi!"
Pemuda itu berseri-seri. Bajunya yang robek tidak dihiraukan, punggungnya mengilat tegap, namun kotor. Dia tidak peduli pada makian Soat Eng, bahkan tampak gembira bertemu dengan Pendekar Rambut Emas.
Dan ketika dua mata beradu dan Pendekar Rambut Emas tampak tertegun seakan mengingat wajah pemuda ini, pemuda itu membungkuk dan menjura dengan gemetar.
"Paman, aku Ituchi..." Pendekar Rambut Emas terkejut.
"Apa?"
"Benar, aku Ituchi, Paman. Menyampaikan hormat dan salam kepadamu."
"Wut!" Pendekar Rambut Emas berkelebat, tiba-tiba semua tali putus.
"Kau... benar!" Seruan itu menggetarkan semua orang. "Kau kukira Raja Hu, anak muda. Ingat aku sekarang! Ah, kau mirip ayahmu. Benar, kau Ituchi putra Raja Hu!"
Dan Kim-mou-eng yang mencengkeram serta memeluk pemuda itu tiba-tiba tertawa bergelak, dan pemuda itu pun tersedak, girang bukan main, tetapi tiba-tiba menangis.
Dia tidak kuasa menahan perasaannya lagi, dan bercucuranlah air mata pemuda itu.
Dan ketika Pendekar Rambut Emas memeluk dan mencengkeramnya, sementara pemuda itu menggigil penuh haru, Pendekar Rambut Emas berseru pada istrinya.
"Lian-moi, lihat. Bukankah ini putra Cao Cun? Ha-ha, mirip ayahnya, istriku. Tinggi besar dan gagah! Ini Ituchi, bocah yang dulu hilang itu!"
Swat Lian tertegun. Memang sejak mula dia serasa mengenal pemuda itu, bukan pemudanya melainkan ayah dari pemuda ini, yakni Raja Hu, suami Wang Cao Cun yang gagah, namun telah meninggal dunia.
Pemuda itu mirip benar dengan ayahnya, dan tentu saja dia terkejut.
Maka, begitu suaminya mengingatkan dan berseru padanya, tiba-tiba Swat Lian bergerak dan telah mencengkeram pemuda ini.
"Benar, kau putra Raja Hu. Ah, kau mirip ayahmu!"
Soat Eng dan Thai Liong pucat. Soat Eng tidak mengira sama sekali bahwa "pencuri" yang diseret-seretnya itu kini mendadak berpelukan dengan ayahnya.
Ibunya juga tampak gembira dan berseri-seri. Apa yang semula tidak terbayangkan, tiba-tiba terjadi.
Dan ketika pemuda itu dipeluk dan diremas ayahnya, sementara ibunya berlinang air mata, ayahnya itu melepaskan pemuda ini, bertanya, heran, dan tidak mengerti.
"Ituchi, bagaimana kau bisa bertemu putra-puteriku? Ini Thai Liong dan itu Soat Eng!"
"Ah, aku bertemu secara kebetulan saja, Paman. Di hutan..."
"Dan kau diseret-seret, dihajar! Bagaimana ini?"
"Aku... aku menyerang mereka, mendahului!"
"Hmm, benarkah?" Pendekar Rambut Emas tidak percaya, memandang penuh selidik. Lalu membalik dan menghadapi putra-puterinya, pendekar itu bertanya dengan tegas.
"Thai Liong, benarkah yang dikatakan Ituchi ini? Apa yang terjadi dan dapatkah kau menceritakannya secara jujur?"
Thai Liong berdebar-debar. Kalau ayahnya sudah bertanya seperti itu dan dia harus menjawab, tiba-tiba dia berada di posisi yang sulit.
Jawaban Ituchi tadi jelas bohong. Dia kagum. Ternyata pemuda itu melindungi adiknya, dan tentu saja dia merasa simpati.
Benar dugaannya, pemuda ini orang baik-baik. Bahkan, tak disangka-sangka, kiranya dia putra Raja Hu!
Tetapi ketika ayahnya bertanya dan pertanyaan itu diulang, apa boleh buat, Thai Liong menceritakan keadaan sesungguhnya, bahwa mereka bertemu para perampok dan perampok itu menyebut-nyebut nama Ituchi.
Kemarahan adiknya tentang hilangnya Cermin Naga membuat adiknya naik pitam, kehilangan kontrol, dan jadilah Ituchi sebagai korban.
Dan karena Thai Liong pemuda jujur dan tidak mau menyembunyikan semuanya itu, Pendekar Rambut Emas merah padam dan melotot memandang putrinya.
"Jadi begitu? Kau menghina dan menghajar orang tidak bersalah? Keparat, kau harus dihukum, Eng-ji. Kau lancang dan harus minta maaf... plak!"
Dan sebuah tamparan yang membuat Soat Eng terpelanting dan menjerit mengaduh, tiba-tiba hendak disusul tamparan atau hajaran kedua, namun dicegah Ituchi. Pemuda ini berkelebat ke depan.
Jari Pendekar Rambut Emas ditahan, dan Ituchi buru-buru membungkuk.
Dan ketika pemuda itu berkata bahwa semuanya ini hanya kesalahpahaman belaka, pemuda itu menolong Soat Eng bangun.
"Sudahlah, semuanya tidak sengaja, Paman. Aku tidak apa-apa dan tidak mendendam. Adik Soat Eng memang keras, tetapi itu semua tentu ada sebabnya!"
Pendekar Rambut Emas tertegun. Ituchi ini adalah putra Cao Cun, wanita cantik yang dulu mencintainya setengah mati. Akhirnya dia mendapatkan Raja Hu, dan tentu saja segala penderitaan dan kepahitan hidup wanita itu dimengertinya.
Tidak ada nasib semalang wanita itu. Maka, begitu putranya mencegah, dan watak baik memancar tulus, pendekar ini tiba-tiba menahan marah dan kagum.
"Hmm, kau seperti ibumu, sabar dan pengalah. Baiklah, betapapun putriku harus minta maaf, Ituchi. Dia harus mengaku kesalahannya kepadamu!"
Dan membentak menyuruh putrinya minta maaf, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas memanggil Soat Eng, yang menangis dan tersedu dihajar ayahnya tadi, maju dan mendekat. Tetapi Ituchi sudah mendorong pundak gadis itu.
Ituchi berkata dengan sungguh-sungguh bahwa dia tidak sakit hati atau dendam, menyuruh gadis itu melupakan semuanya. Dan tentu saja, Soat Eng terpukul.
Apa yang ditunjukkan pemuda ini sungguh jauh bedanya dengan sepak terjangnya, bagaikan bumi dan langit.
Dan ketika Soat Eng terisak-isak dan menubruk ibunya, Thai Liong maju melangkah dan membungkuk di depan pemuda tinggi besar ini.
"Ituchi, maafkan adikku. Aku juga bersalah, sudilah kau memaafkan kami berdua karena saat itu kami memang mudah kehilangan kontrol diri. Harap kau maklumi kekasaran adikku karena kami... kami sedang berkabung."
"Apa?"
"Benar, Ituchi. Nasib bertubi-tubi menimpa kami. Kong-kong..., kakek kami berdua baru saja meninggal dunia, tewas!"
Ituchi tertegun. Bentakan melengking tiba-tiba terdengar di sebelahnya. Pemuda itu terkejut dan melihat Swat Lian, istri Pendekar Rambut Emas, berkelebat.
Dan ketika Thai Liong menyelesaikan kata-katanya dan berdiri tepekur, ibunya, putri Hu Beng Kui itu, menyambar pundaknya, langsung mencengkeram erat.
"Thai Liong, apa katamu? Ayah tewas?"
"Benar, Ibu," Thai Liong harus mengerahkan sinkangnya untuk menahan, sedih. "Kong-kong... kong-kong telah tiada. Kami menemukan jenazahnya terapung-apung di laut. Eng-moi yang menemukannya pertama kali."
"Ooh...!" Wanita itu terhuyung. "Benar, Eng-ji? Kau... kau menemukan jenazah kakekmu?"
Soat Eng menangis. "Benar, Ibu," Suaranya pun serak dan basah. "Kong-kong... kong-kong memang telah terbunuh di Sam-liong-to..."
"Jahanam keparat See-ong!" Swat Lian menggerakkan tangan ke kiri, menghantam sebongkah batu, dan terdengarlah ledakan dahsyat ketika batu sebesar gajah itu hancur.
Dengan pukulannya, Lu-ciang-hoat, wanita ini melampiaskan kemarahan, melengking, dan tiba-tiba berkelebat menghilang.
Dan ketika di sebelah kiri terdengar dentuman atau ledakan berkali-kali, batu dan pohon hancur diterjang wanita ini, yang berteriak dan memekik memaki nama See-ong, menyambar-nyambar, namun akhirnya sang suami berkelebat.
Pendekar Rambut Emas memanggil nama istrinya itu dan menangkapnya.
Dan ketika lengan istrinya dicengkeram dan wanita itu tersedu-sedu, Swat Lian menubruk dan dipeluk suaminya ini, terisak-isak di sana, namun tiba-tiba ia mengeluh.
Perutnya didekap, dan suami pun mengerutkan kening.
Dan ketika istrinya muntah dan roboh terhuyung, istrinya ini tiba-tiba telah pingsan.
"Ah, ambilkan obat penenang guncangan!" Thai Liong bergerak.
Pemuda itu sudah mengambil obat yang dimaksud, berkelebat dan memberikannya kepada ayahnya.
Dan ketika Kim-mou-eng menotok dan menolong istrinya, tak lama kemudian istrinya pun sadar.
"Telanlah, dan tenanglah...!" Sang istri tersedu-sedu.
Begitu teringat kematian ayahnya, tiba-tiba Swat Lian tidak dapat menahan diri lagi. Sang suami cepat menempelkan lengan di punggung, dan mengalirlah hawa sinkang ke tubuh istrinya itu.