Chapter 48
Ketika sang istri kembali muntah dan pendekar ini mengerutkan alis, Pendekar Rambut Emas berkata agar istrinya itu mengingat kandungannya.
"Tahan kemarahanmu, ingat jabang bayi yang ada di dalam!" Thai Liong dan Soat Eng tertegun.
Tanpa malu-malu atau canggung lagi, ayah mereka itu menegur sang ibu. Mereka saling pandang dan teringat kata-kata Uwak Lu.
Uwak itu bicara tentang mimpinya, mimpi bahwa ibu mereka menggendong buah labu.
Konon diartikan sebagai kehamilan dan benar saja ibu mereka muntah-muntah.
Ayah mereka bicara tentang itu dan tentu saja, Soat Eng berseri-seri.
Dia akan punya adik!
Tapi karena saat itu mereka sedang berduka tentang kematian sang kakek, maka Soat Eng akhirnya terisak dan memeluk ibunya itu.
"Ibu, kau... kau akan memberikan seorang adik padaku?" Swat Lian menggigil.
Dipeluk dan mendengar pertanyaan manja dari puterinya ini, tiba-tiba wanita itu memejamkan mata.
Pertanyaan Soat Eng terdengar kekanak-kanakan dan lucu, mengharukan.
Tapi, memeluk dan mencucurkan air mata, wanita ini mengangguk, berbisik.
"Ya, ibumu mengandung lagi, Eng-ji. Kau akan mempunyai adik seperti yang selama ini kau idam-idamkan. Tapi kakekmu... kakekmu, ah...!"
"Sudahlah, Kong-kong sudah tiada, Ibu. Banyak waktu bagi kita untuk membalas kematiannya. Tapi perhatikan adikku itu agar tidak terjadi apa-apa. Aku takut!" Swat Lian menangis.
Ternyata Soat Eng takut dia keguguran, hal yang memang benar.
Ketika sebuah tangan lembut mengusap punggungnya dan sang suami mengecup keningnya, maka kata-kata lembut menyadarkannya dalam hiburan sejuk.
"Dengar, apa yang diminta Eng-ji sama juga dengan apa yang kuinginkan, Lian-moi. Kau harus menjaga kesehatanmu yang berarti menjaga kandunganmu itu. Bangkitlah, dan mari kita hadapi semuanya ini dengan tabah!"
Sang istri mengangguk.
Akhirnya Swat Lian berhasil menenangkan diri, guncangan yang diterima sudah berhasil ditindasnya, dan wanita itu pun terisak.
Sedu-sedan sudah berganti, dan yang tinggal hanyalah sorot kemarahan yang berapi-api.
Wanita itu memang marah sekali mendengar kematian ayahnya di tangan See-ong.
Ketika sang suami mengusap dan bisikan serta kata-kata lembut menyadarkannya dari duka, wanita itu sudah melepaskan pelukan puterinya.
"Kau ke mana saja? Bukankah ke Sam-Liong-to?"
"Aku melarikan diri dari sana, Ibu," sang puteri terisak.
"Dan Liong-ko yang mengajakku lari."
"Hm, dan kami juga baru dari sana. Dan jahanam keparat See-ong itu betul-betul hebat!"
"Dan Ibu bisa menceritakan itu?"
"Eh, sebaiknya kita tunda urusan sendiri, Eng-ji. Kita perlu tanya keperluan Ituchi!" Pendekar Rambut Emas tiba-tiba menegur, teringat pemuda itu, dan semua orang menoleh.
Ituchi tampak termangu dan terkejut mendengar tewasnya Hu Beng Kui. Pemuda tinggi besar itu mengerutkan alis.
Tapi begitu Kim-mou-eng menyebut namanya dan semua menoleh, tiba-tiba pemuda ini tersenyum dan kaget.
"Ah, aku... aku mau pulang, Paman. Rencananya menengok Ibu dan adik perempuanku!"
"Hm," Kim-mou-eng mengangguk.
"Kalau begitu kau tidak ikut kami, Ituchi?"
"Maaf," pemuda itu membungkuk.
"Lain kali saja, Paman. Dan aku ikut berbela sungkawa atas kejadian ini."
"Terima kasih. Tak apa, Ituchi. Kalau begitu sampaikan salamku pada Ibumu, juga kami semua!"
"Terima kasih kembali." Dan si pemuda yang kembali membungkuk dan menjura, tiba-tiba menghadapi semuanya, berkata pada Swat Lian.
"Bibi, kukira tak enak rasanya aku mengganggu. Kalian sedang berkabung. Biarlah aku pergi dan pulang menemui Ibuku. Sepuluh tahun aku tak jumpa, rindu rasanya hati ini!"
"Baiklah, terima kasih, Ituchi. Dan... maaf atas perbuatan puteriku!"
"Ah, tak apa," pemuda itu tersenyum.
"Adik Soat Eng baru diganggu bermacam persoalan, Bibi. Aku dapat memaklumi dan sama sekali tak sakit hati. Baiklah, aku permisi dan biarlah lain kali aku akan berkunjung ke tempat Bibi bersama Ibu dan saudaraku!"
Pemuda itu membungkuk, memberi hormat, dan akhirnya meloncat pergi.
Namun ketika dia berkelebat dan baru memutar tubuh, tiba-tiba Soat Eng memanggilnya.
"Ituchi, tunggu dulu!" Dan ketika si pemuda tertegun dan berhenti, gadis ini buru-buru melipat punggung, terisak.
"Aku minta maaf atas semua perbuatanku. Betapapun tak enak rasanya kalau belum menyatakan dengan mulut sendiri!"
Dan Soat Eng yang sudah meminta maaf dan menunduk dengan muka merah, akhirnya membuat pemuda itu tertawa dan mendorong pundaknya.
"Eh, tak ada persoalan di antara kita, Adik Soat Eng. Kalaupun kau pernah menghajar diriku, biarlah hitung-hitung sebagai ujian fisikku apakah kuat atau tidak. Siapa tahu aku benar-benar akan dimangsa hiu!"
"Ah!" Soat Eng yang tersipu dan semburat merah lalu melihat pemuda itu berkelebat dan tertawa lebar, seperti menggoda, tapi juga setengah mengolok.
Itulah kata-kata mereka berdua ketika saling memaki. Tentu saja, gadis ini tersipu dan malu.
Namun ketika pemuda itu lenyap dan kakaknya mendekat, tiba-tiba kakaknya ini menghela napas.
"Pemuda yang baik, benar-benar baik!"
"Benar," ayahnya turut bicara.
"Dan dia persis ibunya, Liong-ji. Sabar dan pengalah. Hm, untung saja adikmu tak sampai bertindak lebih jauh, membunuh umpamanya!"
Soat Eng menunduk.
Teguran ayahnya dan tamparan tadi cukup membuatnya hati-hati. Gadis ini jera, dan Ji Pin tiba-tiba melangkah maju.
Ketika Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening dan rupanya masih marah pada perbuatan puterinya, maka laki-laki ini menjura.
"Kim-Taihiap, jangan marahi lagi puterimu. Betapapun Kim-Siocia terguncang dan kaget oleh kematian Kong-kongnya. Harap kau tidak memarahinya lagi dan memberinya maaf."
Kim-mou-eng mengangguk.
"Ya, kalau tidak tentu sudah kuhajar lagi puteriku itu, Ji Pin. Betapapun ia ceroboh dan perlu mendapat pelajaran."
"Sudahlah," istrinya membela.
"Eng-ji sudah menyatakan penyesalannya, suamiku. Ia tak perlu disalahkan lagi karena Ituchi juga tak mendendamnya!"
"Benar, sebenarnya aku juga turut bersalah, Ayah. Bukan hanya Eng-moi saja," Thai Liong tampil memperkuat.
"Kalau aku juga tak curiga pada Ituchi, karena gambaran pemuda itu sama dengan yang dikatakan Uwak Lu, tentu kami berdua tak akan menangkapnya."
"Hm, apa kata Uwak itu?"
"Ciri-ciri pencuri Cermin Naga, Ayah. Tinggi besar dan gagah berkulit kehitaman."
"Dan Ituchi memang persis itu, tapi bukan dia orangnya!"
"Eh, belum tentu!" Ji Pin tiba-tiba menyelonong, turut bicara.
"Sebaiknya diselidiki lagi, Kim-Taihiap. Orang yang tampak baik-baik belum tentu baik!"
"Hm, benar," Swat Lian tiba-tiba berkerut kening.
"Dan kita belum bertanya bagaimana pemuda yang hilang itu dapat selamat, suamiku. Kok tiba-tiba aku merasa tidak enak!"
"Tidak enak bagaimana?"
"Omongan Ji Pin membuatku ragu, sebaiknya memang kita selidiki lagi secara cermat!"
"Tidak mempercayai pemuda itu?"
"Bukan, bukan begitu. Hanya kita perlu meyakinkan diri, suamiku. Perjumpaan kita dengan pemuda itu terlalu singkat. Lagipula kita tak tahu bagaimana sepak terjangnya selama ini!"
Kim-mou-eng tertegun.
Mendengar semua omongan itu, tiba-tiba dia mengerutkan kening. Di dalam hati, tentu saja tak percaya karena sebagai putra Cao Cun, tak mungkin pemuda itu berwatak jelek.
Tapi karena sepuluh tahun menghilang dan kini tiba-tiba muncul membuat heran, maka Pendekar Rambut Emas tertegun juga mendengar omongan istrinya, juga Ji Pin, yang mula-mula menimbulkan kesangsian itu.
Ketika istrinya kembali bertanya bagaimana kalau pemuda itu diselidiki secara diam-diam, maka pendekar ini menarik napas.
"Aku pribadi tetap mempercayainya. Tak ada roman jelek di wajah pemuda itu. Tapi kalau ingin memastikan diri, tentu saja aku tak keberatan. Hanya siapa yang akan melakukan tugas ini?"
"Aku sanggup membayanginya, Taihiap, kalau kau perkenankan!"
"Hm, kau, Ji Pin?"
"Ya, bukankah sedikit-sedikit kau menambah kepandaianku, Taihiap? Kalau boleh, tentu saja aku gembira melaksanakan tugas ini, asal diizinkan!"
"Aku setuju," sang istri tiba-tiba mendahului.
"Dan sebaiknya didampingi Thai Liong. Bagaimana pendapatmu, suamiku?"
"Hm, begitu? Padahal baru saja kita menemukan anak-anak kita?"
"Ah, tak apa," Thai Liong cepat-cepat menjawab.
"Kita sekarang tahu bahwa semuanya selamat tak kurang suatu apa, Ayah. Kalau Ibu menghendaki begitu, tentu saja dengan senang hati aku akan melaksanakan tugas ini."
"Nah, apalagi?" Ji Pin girang.
"Kim-Kongcu dapat bersamaku, Taihiap. Aku akan melakukan perjalanan bersama yang lebih menggembirakan!"
"Hm, baiklah," Kim-mou-eng akhirnya tersenyum.
"Ituchi memasuki daerah berbahaya, Liong-ji. Kalau memang kita ingin memastikan diri dan pemuda itu mendapat kesukaran, justru kalian dapat melindunginya dan menolongnya dari marabahaya."
"Bahaya apa?" Thai Liong tak mengerti.
"Bukankah dia pulang ke kampung halamannya?"
"Tidak, pemuda itu tak tahu bahwa keadaan bangsanya sudah tidak seperti dulu ketika dipimpin ayahnya, Liong-ji. Sekarang yang memimpin adalah raja lain, dan salah-salah kedatangan pemuda itu dikira akan merampas kedudukan! Benar juga, coba kau ikuti pemuda itu dan lihat keadaannya!"
Thai Liong terkejut.
Ayahnya segera bercerita bahwa keadaan bangsa liar sudah lain dibanding sewaktu dipimpin Raja Hu dulu. Penggantinya sudah orang lain, dan Ituchi justru mendatangi bahaya.
Kedatangan pemuda itu bisa disalahartikan sebagai hendak merebut kekuasaan. Maklumlah, dia putra Raja Hu, pemimpin terkenal sebelum raja itu memperistri Cao Cun.
Karena omongan itu mengejutkan Thai Liong dan tentu saja pemuda ini mengangguk, maka Thai Liong berkata:
"Baiklah, aku akan membayanginya, Ayah. Kalau benar seperti katamu, tentu aku akan menolongnya!"
"Dan aku ikut!" Soat Eng tiba-tiba berseru.
"Aku ingin bersama Liong-ko, Ayah. Sekalian menolong Ituchi sebagai penebus dosaku!"
"Tidak," sang ibu ternyata menggeleng, tiba-tiba memegang lengan puterinya.