Halo!

Istana Hantu - Chapter 49

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 49

"Kau bersamaku, Eng-ji. Ibu kesepian bila kalian berdua pergi. Kau pulang, membantu Ibu!" Soat Eng tertegun.

Melihat dan mendengar kata-kata ibunya, tiba-tiba dia menghela napas. Dia maklum bahwa ibunya minta ditemani, apalagi saat sedang hamil tua. Ketika ia mengangguk namun tampak sedikit kecewa, tiba-tiba ayahnya berkata, "Benar kata ibumu. Sementara ini biar kau bersama kami, Eng-ji. Ibumu sedang mengandung dan butuh teman. Kalian sama-sama wanita, tentu ibumu lebih bebas. Sebaiknya kakakmu bersama Ji Pin dan kau tinggal di rumah."

Tak ada alasan untuk membantah. Soat Eng mengangguk lagi dengan mata berlinang. Ia menghapus air matanya saat sang ibu memeluknya. Ketika ibunya berbisik bahwa ia harus menemani sang ibu, gadis itu pun balas memeluk. "Baiklah, aku tak membantah, Ibu. Aku juga ingin menanti kehadiran adikku."

"Nah," ayahnya menoleh. "Kau boleh pergi, Liong-ji. Tapi hati-hati dan jangan gegabah!"

Begitu Thai Liong mengangguk dan melirik adiknya, tiba-tiba pemuda ini berkelebat. Ia berpamitan kepada ayah dan ibunya, lalu menarik Ji Pin. Setelah laki-laki itu berseru pada Soat Eng dan kedua orang tuanya, Ji Pin pun lenyap berkelebat dibawa Thai Liong.

***

Mari kita ikuti Ituchi. Benar seperti dugaan Kim-mou-eng, ternyata pemuda itu sudah diamati dari jauh oleh raja dan pembantunya. Hari itu, empat hari setelah melakukan perjalanan tanpa henti, pemuda tinggi besar ini tiba di tempat suku bangsanya. Namun, karena dia tidak dikenal dan dihadang, Ituchi pun berdebar saat memperkenalkan diri.

"Aku mencari ibuku, Wang Cao Cun. Aku Ituchi, putra Raja Hu."

"Ah, kau... kau Ituchi Yashi?"

"Benar, sampaikan pada ibuku bahwa aku datang, Penjaga. Aku rindu dan ingin bertemu ibuku!"

"Kalau begitu tunggu dulu, biar kusampaikan!"

Penjaga yang bergegas dengan raut wajah berubah itu buru-buru masuk ke tapal batas. Ituchi dihentikan dan sebagai warga yang baik, pemuda itu berhenti serta tidak meneruskan perjalanannya. Ketika penjaga yang lain mengelilinginya dan bersikap hormat, Ituchi bertanya apakah ibunya sehat dan siapa yang kini bertahta sebagai raja.

"Ibunda Permaisuri sehat-sehat saja, dan pemimpin sekarang adalah Raja Cucigawa. Bagaimana Pangeran baru datang sekarang setelah sepuluh tahun menghilang?"

"Hm, aku diculik, Penjaga. Tapi untung masih hidup. Aku ditolong seseorang dan selamat. Apakah Ibu tidak pernah mencariku?"

"Tidak, Ibunda menangis sepanjang hari, Pangeran. Merasa tak berdaya karena setahun gagal menemukan Paduka!"

"Dan Bibi Wan Hoa?"

Penjaga tertegun. "Kenapa diam?"

"Maaf, Bibimu meninggal, Pangeran. Sepuluh tahun yang lalu, ketika Paduka diculik!"

"Apa?"

"Benar, Pangeran. Bibimu telah tiada. Ibumu tinggal sendiri dan merana sepanjang tahun!"

Ituchi tergetar. Tiba-tiba dia terkejut dan merasa dunianya bergoyang. Ingatannya melayang kepada seorang wanita cantik yang penuh kasih kepadanya, yang membelanya mati-matian dari setiap bahaya. Pemuda tinggi besar itu tiba-tiba menangis. Air matanya bercucuran dan Ituchi merasa terpukul.

Namun, ketika dia menggigil dan memandang kosong ke depan, tiba-tiba penjaga yang melapor ke dalam muncul membawa berita. "Paduka dipersilakan masuk. Ibunda dan Raja Cucigawa menunggu!"

Ituchi tertegun. Tiba-tiba dia mengusap air matanya dan bergegas. Seekor kuda diberikan kepadanya, tetapi ketika pemuda itu menolak dan melompat ke depan, tiba-tiba Ituchi sudah berkelebat dan berseru, "Aku dapat datang tanpa kuda!"

Begitu pemuda itu mengerahkan kepandaiannya dan bergerak bagai siluman, ia pun lenyap menghilang di depan. "Hei, tunggu!"

***

Namun, Ituchi tertawa. Dia tentu saja tidak menghiraukan seruan itu. Hatinya terlampau girang dan dia sudah mengerahkan kepandaiannya. Pemuda ini girang karena ibunya dan Raja Cucigawa menyambutnya. Dia tidak mengenal raja itu, tetapi dapat dipastikan bahwa dia adalah raja yang baik. Ibunya selama ini berada di situ dan selamat, berarti Cucigawa melindungi ibunya yang lemah, dan pemuda ini memiliki gambaran yang baik tentang raja tersebut.

Ketika Ituchi berkelebat mengerahkan *ginkang* dan sebentar saja sudah memasuki perkampungan besar suku bangsanya, di mana-mana ternyata orang-orang tua dan muda, laki-laki dan perempuan, menyambutnya.

"Hidup Pangeran Ituchi!"

"Itu dia Pangeran!"

"Aih, persis Raja Hu. Gagah dan tampan!"

Ituchi melambaikan tangan ke sana-sini. Dia mengangguk dan berseri-seri membalas semua seruan itu. Rakyatnya menyambut dan dia segera dikenal sebagai Ituchi, putra Raja Hu. Wajahnya memang mirip dan tidak ada orang yang meragukan hal ini.

Ketika Ituchi gembira karena disambut dengan baik oleh rakyatnya, pemuda ini berkelebat dan sudah tiba di depan kemah paling besar. Dia melihat seratus pasukan menyambut, dan di depan sendiri berdiri seorang laki-laki gagah bersama seorang wanita cantik yang segera mengembangkan kedua lengannya.

"Ituchi! Anakku...!"

Ituchi bergerak. Wanita itu tahu-tahu melompat dan menubruk. Ituchi segera mengenal ibunya dan memeluknya. Ketika dua orang itu saling cengkeram dan lupa keadaan sekitar, tiba-tiba Ituchi menangis sementara wanita itu pun tersedu-sedu, tak dapat menahan gejolak hatinya.

"Aduh, kau, Pangeran. Kau benar-benar mirip ayahmu dan pasti kusangka ayahmu kalau tidak mendengar laporan pengawal! Ituchi, ke mana saja kau selama ini? Kenapa tak pernah menengok Ibumu? Kau sudah sedemikian besar dan gagah? Aih, aku rindu, anakku. Aku kangen dan selalu menangisi nasibmu!"

Cao Cun, wanita itu bercucuran air mata namun berseri-seri. Anaknya masih hidup dan mereka masih dapat bertemu. Bukan main girangnya wanita itu. Ketika Ituchi juga tersedak dan belum dapat bicara baik karena kerongkongan dan lidahnya serasa tercekat, bisik-bisik dan suara di sana-sini akhirnya menyadarkan dua orang itu.

"Aih, ini Raja Cucigawa, Ituchi. Sri Baginda yang memimpin di sini setelah ayahmu tiada!"

Ituchi sadar. Akhirnya dia melepaskan diri dari pelukan ibunya dan melihat ibunya memberi isyarat. Semua orang memandang mereka dan ibunya tampak berseri-seri. Ituchi sendiri begitu gembira hingga tadi melupakan keadaan sekitar. Maklumlah, sepuluh tahun mereka tidak berjumpa dan diam-diam Ituchi terharu. Ibunya tampak kurus meskipun cantik; masih cantik, namun wajah itu membayangkan kedukaan besar. Bekas luka-luka batin tak dapat disembunyikan.

Namun, ketika ibunya menunjuk dan laki-laki gagah itu sudah memandangnya sambil tersenyum, Ituchi melangkah maju dan cepat memberi hormat. "Sri Baginda, maafkan Hamba. Hamba lupa memberi hormat!"

"Ha-ha!" Laki-laki gagah itu tertawa, keras dan nyaring. "Kau adalah saudaraku, Ituchi. Tak perlu berhamba karena kedudukanmu adalah Pangeran. Aku saudara misan mendiang kakakku Cimochu, kita keluarga besar. Bangunlah!"

Ituchi gembira. Ternyata Cucigawa bukan seorang raja yang sombong. Dia berseri-seri; inilah raja yang baik dan perlu dijadikan sahabat. Ketika raja mengangguk dan memegang pundaknya, Cucigawa berkata bahwa dia benar-benar mirip mendiang Raja Hu. Tak ada yang meragukan hal ini. "Aih, selamat datang, Pangeran. Mari masuk dan kita adakan pesta besar!"

Ituchi gembira bukan main. Dia mengucap terima kasih, raja membawanya masuk, dan segera ibunya pun mengikuti. Ketika semua orang bertepuk tangan dan riuh menyambut kedatangannya, Ituchi benar-benar serasa di surga. Begitu gembira hingga dia tidak melihat beberapa pasang mata yang berkerut dan saling pandang, melempar senyum aneh, dan satu-dua di antaranya mengangguk memberi isyarat rahasia.

Setelah semua masuk ke dalam, di sana ternyata sudah disiapkan makan dan minum. Raja menjamu bagaikan menjamu seorang kaisar, membuat Ituchi kikuk dan tersipu-sipu.

"Ah, tak apa. Ini memang untukmu, Adik Pangeran. Kami ingin merayakannya semeriah mungkin!"

"Tapi aku kikuk!"

"Ha-ha, pertama begitu, Pangeran. Selanjutnya tentu biasa. Eh...!" Raja menoleh. "Mana pemain musik dan para penari? Hayo, keluarkan mereka, Panglimaku. Suruh ke sini menghibur Ituchi!"

Ituchi semakin tersipu-sipu. Sikap raja yang demikian ramah dan menyambutnya demikian gembira membuat pemuda ini lengah. Dia tidak tahu adanya permainan mata di antara orang-orang tertentu. Rakyat di luar bersorak-sorai dan mereka pun rupanya ikut-ikutan membuat pesta, di luar, tidak kalah meriah dan ramai dengan yang di dalam.

Ketika penabuh musik dan para penari muncul di panggung, Cucigawa memerintahkan mereka untuk menyuguhkan kebolehan mereka. "Hayo, main sepenuh kemampuan. Tunjukkan kebolehan kalian!"

Para penari dan penyanyi mulai mendendangkan lagu-lagu. Mereka menyanjung dan menyalami Ituchi. Dua penari berlenggang-lenggok dengan gaya memikat. Mereka tersenyum-senyum dan melempar kerling ke pemuda ini. Ituchi membalasnya dengan malu-malu dan kaku. Ketika musik serta tarian semakin panas, Ituchi diminta untuk menemani seorang penari.

"Apa?" Pemuda ini terkejut. "Menari di atas panggung? Ah, aku tak bisa, Sri Baginda. Aku malu!"

"Ha-ha, tarian dan nyanyian ini diadakan untuk menyambut kedatanganmu, Ituchi. Jangan kecewakan mereka dan naiklah. Nanti tentu bisa!"

"Tapi aku malu!"

"Ah, semua begitu pertama kalinya, Adik Pangeran."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment