Halo!

Istana Hantu - Chapter 50

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 50

"Majulah, dan naiklah temani Umini itu!" Raja mendorong Ituchi, meminta agar si pemuda tidak menolak, dan yang lain pun ikut mendorong.

Akhirnya Ituchi naik juga dan menari atau menyanyi sebisanya dengan suara serak-serak basah, yang ternyata terdengar bagus. Ketika semua tertawa dan rasa kikuk Ituchi hilang, ternyata enak juga bernyanyi atau menari bersama wanita-wanita cantik.

"Ha-ha, bagaimana, adik Pangeran? Senang?"

Ituchi mengusap keringatnya setelah duduk kembali. "Senang, Sri Baginda, dan asyik!"

"Ha-ha, kau senang dengan si Umini itu?"

"Ah, dia memang menyenangkan. Aku senang padanya!"

Raja tertawa tergelak. Omongan Ituchi tidak memiliki maksud lain, semata-mata ungkapan senang karena gadis itu dapat membimbingnya di atas panggung dengan luwes. Ituchi tidak memaksudkan lebih dari itu.

Ketika nyanyian serta tarian diteruskan sementara pesta berlanjut, Raja mulai memperkenalkan para pembantunya, beberapa panglima, dan perwira lain satu per satu. Mereka tentu saja orang-orang yang dekat dengan Raja. Ituchi mengangguk-angguk dan gembira menyalami mereka. Dua di antaranya menarik perhatiannya karena yang pertama adalah Horok, panglima gagah yang wajahnya angker, sedangkan yang lain adalah laki-laki muda sepantaran dirinya bernama Ramba. Ramba bertubuh tinggi dan gagah, katanya ia adalah panglima muda yang mengepalai Pasukan Elang, yakni pasukan khusus yang menjadi garda terdepan jika ada musuh menyerang.

Jadi, pemuda ini jelas bukan sembarangan. Ituchi melihat kilatan mata yang tajam, pancaran getaran *lweekang* (tenaga dalam) yang kuat, dan tentu saja Ituchi tertarik. Mereka berdua adalah pembantu terdekat Cucigawa yang mengatur dan menjalankan tugas sebagai pengaman; orang-orang yang tentu bukan sembarangan dan berkepandaian.

Ketika pesta selesai dan malam itu pemuda ini diperkenankan berdua dengan ibunya, Cao Cun terisak-isak memeluk putranya, gembira namun juga menyembunyikan ketegangan.

"Ituchi, inilah dua adik perempuanmu! Lihatlah mereka, tahukah kau siapa kiranya?"

Ituchi tertegun. Dua gadis remaja tiba-tiba muncul bersama ibunya, gadis cantik yang masih belia, masing-masing berumur tujuh belas dan lima belas tahun, cantik manis dengan kulit sedikit kehitaman. Dia tertegun karena tidak mengenal dan tidak tahu bahwa mereka adalah hasil perkawinan ibunya dengan mendiang Cimochu, saudara tirinya. Cimochu adalah putra mendiang Raja Hu dengan salah seorang istrinya. Jadi, ibunya ini dikawini anak tirinya sendiri karena sudah menjadi peraturan bangsa itu bahwa peninggalan ayah akan diwarisi oleh putra sulung, termasuk istri dan selir ayahnya sendiri jika sang ayah meninggal.

Maka, begitu ibunya memperkenalkan dua gadis remaja ini, Ituchi hanya bengong, lalu menggeleng. "Aku tidak tahu, seingatku tidak punya adik! Bagaimana mereka ini bisa kau bilang sebagai adikku, Ibu? Dari mana dan bagaimana?"

Wajah Cao Cun memerah. "Mereka... mereka dari suamiku yang baru, Ituchi. Dan inilah adik-adikmu!"

"Ooh!" Ituchi tertegun. "Kau menikah lagi, Ibu? Mana suamimu?"

"Dia... dia meninggal..." Wanita ini agak tersendat. "Jangan tanya dia lagi, anakku. Kau sambutlah dan terimalah dua adikmu ini!"

Cao Cun segera memperkenalkan nama mereka; yang tua adalah Salini, sedang adiknya bernama Nangi. Ituchi memeluk mereka dan tentu saja pemuda ini girang. Dia tiba-tiba mempunyai adik, perempuan lagi. Ada rasa hangat dan haru di dalam hati. Sepuluh tahun yang lalu pemuda ini masih kanak-kanak dan tentu saja urusan orang tua tidak diketahuinya, apalagi setelah itu dia menghilang.

Begitu dia menerima dua adiknya, sang ibu tampak gembira dan sedikit lega. Akhirnya ia menyuruh kedua gadis remaja itu mundur karena hendak berbicara dengan Ituchi. Salini dan Nangi mengangguk lalu pergi.

Setelah mereka benar-benar berdua, Cao Cun menarik napas dan bertanya tentang nasib putranya selama ini.

"Maaf, Ibu. Sebelum kujawab, barangkali kau dapat menceritakan tentang Bibi Wan Hoa. Benarkah dia..."

"Benar!" Ibunya tiba-tiba tersedu. "Bibimu wafat, Tuchi. Itu terjadi tak lama setelah kau pergi. Suaminya, Hek-eng Taihiap, tewas dibunuh orang. Dan kau katanya dibawa Kim-mou-eng! Kenapa Pendekar Rambut Emas itu tak pernah mau membawa dirimu menengok ibunya? Kenapa Kim-mou-eng demikian kejam dan tega memisahkan ibu dan anaknya selama sepuluh tahun lebih?"

"Apa?" Ituchi mengerutkan kening. "Kim-mou-eng? Aku dibawa Kim-mou-eng?"

"Benar, begitu kata bibimu, Anakku. Bibimu akhirnya meninggal setelah melihat kematian suaminya. Ah, terkutuk si pembunuh itu. Bibimu jatuh sakit dan akhirnya merana!"

"Tapi... aku tidak dibawa Kim-mou-eng," pemuda ini terbelalak. "Aku dibawa Cam-kong, Ibu. Salah satu dari Enam Iblis Dunia. Dan aku tahu yang membunuh Hek-eng Taihiap adalah kakek iblis ini!"

"Apa? Cam-kong? Kakek iblis itu?"

"Benar. Kau tahu tentang kakek ini, Ibu? Apakah kau mendengar sepak terjangnya?"

"Tentu, dialah dan kawan-kawannya yang berebut Cermin Naga, Ituchi. Aku mendengar gegernya dunia persilatan dengan peristiwa itu belasan tahun yang lalu!"

"Tidak, tentang Cermin Naga memang aku tidak tahu, Ibu. Tapi tentang Cam-kong ini, dia iblis yang keji. Dia memaksaku untuk mengambil murid!"

"Apa? Jadi kau diculik?"

"Eh, apakah Bibi Wan Hoa tidak bercerita?" Ituchi tertegun. "Semuanya diketahui Bibi Wan Hoa, Ibu, paling tidak suaminya, Hek-eng Taihiap!"

"Mereka... mereka tidak bercerita..." Cao Cun tiba-tiba pucat. "Mereka tidak pernah memberi tahu apa-apa, Ituchi. Mereka bahkan berkata bahwa kau aman di tangan Pendekar Rambut Emas!"

"Tidak, aku tidak pernah bertemu Pendekar Rambut Emas, kecuali beberapa hari yang lalu. Selama itu aku disiksa kakek iblis itu dan setiap hari diancam bahaya!"

"Ooh!" Cao Cun tiba-tiba sadar dan memaklumi apa yang terjadi. Ia menjerit memanggil nama Wan Hoa. Ia baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi dan perasaan wanita itu tertusuk. Sebagai sahabat dekat, Cao Cun tahu pengorbanan dan cinta kasih Wan Hoa yang besar. Cerita Ituchi membuka matanya bahwa selama ini Wan Hoa berbohong, sengaja menyembunyikan keadaan sebenarnya untuk menutupi kecemasan. Wan Hoa telah menghiburnya dengan kata-kata sejuk bahwa putranya aman, padahal kenyataannya tidak.

Cao Cun tidak dapat menahan kepedihannya. Ia kini tahu penyebab kematian sahabatnya itu bukan hanya karena kematian suaminya, melainkan terutama karena penculikan putranya oleh Cam-kong, kakek iblis yang tidak mungkin dihadapi oleh Hek-eng Taihiap.

Wanita itu menangis sedih. Ia baru mengetahui kebenaran setelah sepuluh tahun berlalu. Ketika putranya bertanya kenapa ia menangis, ia mencoba menahan isak.

"Kau tidak tahu, Puteraku? Kau tidak dapat membaca sepak terjang bibimu itu?"

"Tidak, aku tidak paham, Ibu. Coba jelaskan padaku."

"Dia mati karena dirimu. Bibimu Wan Hoa digerus perasaan dukanya karena tidak dapat menjalankan tugas!"

"Tugas?"

Cao Cun terkejut karena keterlepasan bicara itu. Namun, kini ia harus bicara terus terang. "Ya, tugas menyelamatkanmu. Waktu itu pengganti ayahmu hendak membunuhmu. Bibimu mendengar dan karena tidak ingin kejadian itu menimpa dirimu, kau dibawanya keluar dari sini untuk dibawa ke tempat Kim-mou-eng. Tapi Wan Hoa rupanya gagal dan tidak menceritakan kesulitan apa yang dialaminya kepadaku!"

"Ah, begitu?" Ituchi tertegun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment