Chapter 51
"Bibi Wan Hoa memang pergi ke tempat Kim-mou-eng, Ibu, tetapi tidak bertemu!"
"Lalu?"
"Lalu kami mencarinya. Bibi berkali-kali diganggu orang jahat dan hampir saja diperkosa!"
"Ah!" Ibunya terkejut. "Begitu, Ituchi? Lalu bagaimana?"
"Kami tak dapat menemukan Pendekar Rambut Emas, Ibu. Ketika suatu hari Bibi hendak diperkosa orang jahat, tiba-tiba Hek-eng Taihiap muncul!"
"Ah, ceritakan itu. Coba ceritakan!" Cao Cun terbelalak.
"Benar dugaanku. Kiranya bibimu berbohong untuk menenangkan aku. Ah, bibimu Wan Hoa seorang mulia, puteraku. Aku tersayat-sayat mendengar ini. Kematiannya disebabkan oleh itu, tapi dia tak mau menceritakannya sampai napasnya yang terakhir!" Wanita ini tidak dapat menahan perih hatinya, terisak, dan akhirnya menubruk puteranya itu.
Ketika Ituchi tertegun dan mengerti, tiba-tiba pemuda itu pun tidak dapat menahan haru dan menangis. "Ah, Bibi Wan Hoa benar-benar mulia, Ibu. Kita berhutang budi!"
"Bukan hanya budi, nyawa pun kita berhutang, Ituchi. Ah, dia pun berkali-kali menyelamatkan nyawaku!" Cao Cun terisak, ia merasa sangat terpukul karena baru sekarang mengetahui kenyataannya. Kesetiaan dan kemuliaan sahabatnya itu ternyata begitu besar.
Ketika mereka bertangisan dan Ituchi menggigil dengan air mata bercucuran, sepanjang malam itu mereka tidak henti-hentinya menyebut nama Wan Hoa.
"Dia sungguh wanita besar, sahabat yang agung!"
"Benar, dan besok kita ke makamnya, Ibu. Aku ingin sembahyang!"
"Benar, besok kita sembahyang, Ituchi. Kita siapkan sajian khusus untuk arwah bibimu!"
Pemuda ini termangu-mangu. Setelah kejadian sepuluh tahun silam terungkap, ia merasa terharu dan kagum akan kesetiaan serta keluhuran budi bibinya. Wan Hoa adalah sahabat sejati yang jarang ada bandingannya; nyawa dikorbankan dan kehormatan hampir saja terenggut, semuanya demi dirinya, ibunya, dan persahabatan yang luar biasa.
Namun, ketika percakapan beralih dan ibunya bertanya ke mana dia selama ini serta bagaimana nasib Cam-kong, si kakek iblis pembunuh itu, Ituchi menghela napas.
"Seseorang menolongku, Ibu, dan orang inilah yang menyambung hidupku!"
"Siapa dia?"
"Guruku."
"Gurumu?"
"Ya, guruku, Ibu, tapi juga guru semua orang!"
"Heh, bagaimana ini?"
"Hm, betul, Ibu. Tapi sayang, aku tak dapat menikmati semua pelajarannya. Guruku itu aneh, dia sering bepergian dan meninggalkan aku sendiri!"
"Bagaimana itu? Coba ceritakan, Ituchi, dan siapa gurumu itu? Tentu dia manusia hebat karena dapat mengambilmu dari kakek iblis Cam-kong!"
"Memang dia hebat, Ibu. Tapi, ah... perlukah kuberitahu? Dia tak ingin disebut-sebut. Aku agak tak enak!"
"Hm, aku ibumu, Ituchi. Aku bukan orang lain. Tapi kalau kau tidak percaya kepada ibumu dan menaruh curiga, baiklah tak usah diberitahukan. Aku tak memaksa!"
Ituchi jadi tidak enak hati. "Dia kakek dewa Bu-beng Sian-su," katanya perlahan. "Dan untuk ini, aku telah melanggar larangannya..."
"Apa? Bu-beng Sian-su?" Ibunya terkejut. "Kakek maha sakti itu?"
"Sssst, jangan keras-keras, Ibu. Memang benar, dialah orangnya!"
"Ah, kalau begitu kau beruntung, anakku. Pendekar Rambut Emas juga murid kakek dewa itu!"
"Hm, ini lain. Aku tidak diangkatnya sebagai murid penuh, Ibu. Sian-su hanya memberiku sebuah ilmu yang baru kukuasai setelah sepuluh tahun! Kepandaian kakek itu hebat, terlampau banyak dan sukar semuanya. Otakku bebal dan sayang sekali aku hanya mendapat sebuah ilmunya itu saja, apalagi guruku sering bepergian!"
Cao Cun terbelalak. Wanita itu tampak tertegun namun berseri-seri. Kiranya puteranya diselamatkan oleh Bu-beng Sian-su. Pantas saja Cam-kong tidak dapat mempertahankannya. Ketika puteranya tampak menunduk menyesali diri, ibu yang bijaksana ini memeluk bahunya untuk menghibur.
"Anakku, tak perlu menyesal. Meskipun hanya sebuah ilmu, kalau dari Bu-beng Sian-su, itu tetap hebat! Kau beruntung, tentu sudah dapat menjaga dirimu dan ibumu!"
"Hm, tak sepenuhnya begitu," Ituchi teringat kekalahannya oleh Soat Eng. "Meskipun hebat, aku tetap bodoh juga, Ibu. Baru saja aku kalah oleh seseorang dan menjadi tawanan."
"He?"
"Benar, Ibu. Aku baru saja dikalahkan seseorang, seorang gadis lagi, gagah dan cantik!"
"Siapa dia?"
"Soat Eng, Kim Soat Eng!"
"She Kim? Kalau begitu..."
"Benar, Ibu, dia puteri Pendekar Rambut Emas."
"Ah, kalau begitu tak usah penasaran. Pendekar Rambut Emas dan keluarganya memang hebat!" Sang ibu tiba-tiba berseri-seri. "Bagaimana terjadinya hal itu, Ituchi? Dan kenapa berkelahi?"
Ituchi menceritakan asal-mulanya. Ketika puteranya selesai bercerita dan sang ibu bertanya kenapa puteri Pendekar Rambut Emas itu menyerang puteranya, Ituchi menghela napas.
"Aku dikira pencuri Cermin Naga yang hilang."
"Apa?"
"Benar, Ibu. Aku dikira pencurinya. Dua kakak beradik itu mencari pencurinya dan kebetulan ciri-ciri pencuri itu persis diriku."
"Maksudmu?"
"Katanya tinggi besar, gagah, dan berkulit kehitaman!"
"Hm!" Sang ibu membelalakkan mata. "Kalau begitu bukan orang Han, anakku. Itu ciri-ciri suku bangsa kita!"
"Adakah yang mampu melakukan itu?"
"Kukira tidak, tapi... hm, bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah itu milik Hu-taihiap?"
"Maaf, aku lupa memberitahumu, Ibu. Hu-taihiap telah meninggal."
"Apa?"
"Benar, Ibu, tewas. Hu-taihiap dibunuh See-ong. Aku baru mengetahui itu setelah mereka bertemu ayah ibunya!"
"Maksudmu..."
"Ya, aku bertemu Kim-mou-eng dan isterinya. Ah, mereka pasangan yang hebat sekali!"
"Bagaimana keadaan Kim-mou-eng? Masih gagah dan tampan?"
"Hm, masih tampan, Ibu, tapi sudah mulai berumur. Betapapun, aku kagum kepadanya. Pendekar Rambut Emas itu berwatak jujur dan ksatria. Puterinya sendiri dihajar!"
Ituchi menceritakan pertemuannya dengan Pendekar Rambut Emas, betapa Soat Eng mendapat hukuman dari ayahnya karena menangkap dan menyiksa dirinya, padahal ia bukan pencurinya. Setelah semuanya diceritakan, sang ibu tampak terbelalak namun berlinang air mata.
"Kim-mou-eng titip salam untukmu, begitu juga isterinya. Aku mengucap terima kasih, tapi sayang aku tak dapat bersama mereka lebih lama."
"Ah," wanita ini terisak. "Kau benar, Ituchi. Terima kasih. Hm, omong-omong, bagaimana dengan gadis bernama Soat Eng itu? Cantikkah dia?"
"Cantik, Ibu, dan gagah!"
"Dan kau sudah punya pacar?"
"Belum! Eh, apa maksudmu dengan pertanyaan ini, Ibu? Kau mau apa?"
"Hm, aku punya gagasan, anakku. Aku tiba-tiba ingin menjodohkan dirimu dengan gadis itu, menjadi mantu Pendekar Rambut Emas! Maukah kau?"
Ituchi tertegun. Pertanyaan ibunya yang beralih ke masalah perjodohan mendadak membuat muka pemuda tinggi besar ini panas. Tiba-tiba, tanpa dapat dicegah, terbayanglah wajah cantik itu, gagah tapi juga galak. Dia tertegun namun juga "ngeri".
Ketika ibunya bertanya kembali, pemuda ini malu-malu, jengah, dan tersipu. "Ibu, urusan itu sebaiknya dibicarakan belakangan saja. Aku belum dapat menjawab."
"Tapi kau suka tidak?"
"Hm, suka bagaimana? Cinta?"
"Ya, apa saja namanya, anakku. Suka atau cinta!"
"Aku belum tahu..."
"Eh, masa?" Sang ibu tidak percaya. "Kau sudah cukup dewasa, anakku. Kau tak perlu pura-pura di depan ibumu. Nanti ibumu yang melamar!"
"Hm," wajah Ituchi memerah. "Masalah suka, tentu saja aku suka, Ibu. Mana ada pemuda tak suka gadis cantik? Tapi dia galak, aku takut...!"
"Hi-hik!" Ibunya tertawa. "Kalau begitu niatku dapat diteruskan, Ituchi. Besok kukirim orang untuk ke tempat Pendekar Rambut Emas!"
"Jangan! Tidak..!" Ituchi terkejut. "Aku belum mau, Ibu. Hal ini tak boleh tergesa-gesa dilakukan. Kita tak tahu apakah gadis itu sudah mempunyai kekasih atau belum. Kalau sudah, tentu hilang mukaku nanti! Tidak, jangan, Ibu. Biarlah hal ini kulakukan sendiri secara diam-diam!"
Setelah ibunya mengangguk dan menghela napas, masalah itu diserahkan kepadanya. Sang ibu lalu mengajak bercakap-cakap yang lain hampir semalam suntuk, namun akhirnya menjelang pagi mereka beristirahat.
Selama beberapa hari Ituchi tinggal bersama ibunya, ia melihat betapa rakyat menyambutnya dengan gembira. Ituchi merasa kerasan seolah tinggal di rumah sendiri; Raja Cucigawa serta yang lain-lain juga tampak ramah dan baik.
Namun, ketika seminggu kemudian pemuda ini tinggal lebih lama dan hampir semua rakyat mengenalnya, tiba-tiba saja sebuah gangguan muncul. Malam itu, setelah delapan hari tenang, Ituchi mendengar jeritan dari kamar adiknya. Kebetulan pemuda ini tinggal tak berjauhan.
"Aduh, jahanam keparat! Lepaskan aku. Tolong!"
Ituchi berkelebat. Mendengar teriakan adiknya, Salini, pemuda ini bergerak cepat. Pintu jendela dibuka lebar dan ia melompat keluar menuju asal suara. Ketika ia melihat sebuah bayangan berkelebat dari kamar adiknya, benar saja, Salini sedang meronta-ronta di pelukan seorang laki-laki yang memondongnya dan membawanya pergi.