Chapter 52
"Berhenti! Lepaskan adikku!"
Bayangan itu terkejut. Ituchi telah berjungkir balik di depannya dan langsung mengadang. Lawannya dicegat dan tentu saja tidak dapat melarikan diri. Pemuda itu telah meminta adiknya dilepaskan, namun ketika Ituchi membentak—dan anehnya tidak ada pengawal atau pasukan yang berjaga padahal lokasi itu termasuk kompleks raja—laki-laki itu mendengus dan tiba-tiba menyerang Ituchi dengan satu hantaman ke wajah.
"Plak!" Ituchi menangkis. Tentu saja ia marah dan mengerahkan tenaganya. Ketika laki-laki itu terpental dan berseru kaget, Ituchi berkelebat merampas adiknya, lalu menotok dengan dua jarinya. Lawan terkejut dan mencoba menendang, namun Ituchi hanya menggertak. Pemuda itu menarik totokannya sementara tangan lainnya bergerak. Ketika lawan menjerit karena tengkuknya terkena tamparan, Salini terlempar dan segera disambar oleh pemuda itu.
"Kau kembalilah, panggil penjaga!" Salini tersedu-sedu. Ia berkata bahwa adiknya di dalam kamar juga diganggu; seorang laki-laki lain mendekap dan hendak membawa lari adiknya. Nangi disumpal mulutnya dan hanya ia yang dapat berteriak-teriak. Benar saja, dari jendela kamar berkelebat sesosok bayangan lain. Nangi, gadis remaja itu, meronta-ronta. Ituchi kaget dan membentak, "Terkutuk! Kalian rupanya berkomplot!"
Pemuda itu berkelebat, menarik Salini, lalu membentak bayangan tersebut. Sekali bergerak, ia telah melayang di depan bayangan kedua dan melayangkan tamparan. Bayangan itu terkejut. Ketika ia menangkis namun terjungkal oleh tamparan Ituchi, keributan itu akhirnya didengar oleh para penjaga. Ituchi terus berkelebat menghajar bayangan tersebut hingga menjerit dan terlempar oleh pukulan atau tendangannya. Bayangan pertama membentak maju, mencabut senjata, dan Ituchi pun dikeroyok oleh dua orang lawannya.
Namun, ketika Ituchi berani menangkis dengan tangan telanjang dan golok di tangan bayangan pertama terpental bertemu tangan pemuda itu, kedua orang tersebut terkejut sementara para pengawal berdatangan dengan tombak dan pedang.
"Tangkap! Tangkap mereka! Mereka mau menculik kami berdua!" Salini berteriak sambil menuding-nuding, namun para penjaga terpaku melihat pertarungan Ituchi. Pemuda itu menghajar dan membuat dua lawannya jatuh bangun; nyata bahwa Ituchi lebih kuat. Ketika bayangan satunya mengeluh dan bersuit nyaring, tiba-tiba ia meloncat dan melarikan diri ke dalam gelap.
"Kejar! Kejar mereka! Tangkap!" Namun, para penjaga malah bengong. Mereka mendengar bentakan dan geraman si bayangan; bayangan kedua sudah menyusul yang pertama dan mereka melarikan diri. Salini berteriak-teriak sementara Ituchi membuka sumbatan mulut Nangi, adiknya yang termuda. Ia berharap penjaga meneruskan pekerjaan mereka, tetapi para penjaga itu malah mematung. Bentakan atau geraman bayangan tersebut rupanya membuat para penjaga terkejut.
Ketika para penjahat menghilang dan Salini membanting-banting kaki, gadis itu menubruk kakaknya dengan penuh kecewa. "Kanda Ituchi, para penjahat itu lari. Mereka tidak dapat dibekuk!"
"Hm, sudahlah," Ituchi mengusap keringatnya. "Biar kukejar, Salini. Kau di sini, biar kutangkap mereka!"
Namun, sebuah suara tiba-tiba mencegahnya. Horok, panglima berwajah angker itu, muncul. Panglima ini melompat dan mengibaskan lengannya. Suaranya yang berat memerintahkan penjaga untuk pergi mencari bayangan itu. Setelah semua orang berlompatan pergi dan tinggallah panglima itu dengan Salini serta kakaknya, mereka ditanya mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Kami mau diperkosa dan diculik. Dua laki-laki tak dikenal mau menggagahi kami!" Salini menangis menceritakan kejadian itu dan Horok mengerutkan kening. Ia memandang Salini lalu beralih pada Nangi. Ketika gadis itu juga mengangguk dan membenarkan cerita kakaknya, panglima ini mengangguk-angguk.
"Baiklah, kalian kembali ke kamar masing-masing, Salini. Biar aku dan Ituchi mengejar keluar. Pergilah!"
Salini takut. Ternyata gadis ini tidak mau dan meminta agar kakaknya mengantar. Kebetulan sekali ibu mereka, Cao Cun, keluar mendengar keributan itu. Wanita ini tentu saja terperanjat karena anak-anaknya hendak diculik. Dengan bergegas, wanita itu berlari mendapatkan anak-anaknya dan merasa lega melihat dua putrinya tidak apa-apa. Salini dan adiknya menangis menubruk ibu mereka.
"Kami mau diculik, diperkosa! Ah, kami takut, Ibu. Kami takut. Untung ada Kanda Ituchi!"
"Benar, dua penjahat memasuki kamar kami, Ibu. Hampir saja kami digagahi!" Sang ibu pucat. "Siapa mereka?"
"Tidak kami ketahui, mereka kabur!"
"Apakah tidak dapat dilihat wajahnya?"
"Mereka mengenakan saputangan hitam, Ibu. Mereka menyembunyikan muka!"
"Sudahlah," Ituchi memotong. "Sekarang ada Ibu di sini, Salini. Biar aku dan Panglima mengejar!" Ituchi berkata agak terburu karena khawatir kedua penjahat itu lari jauh. Jika terlalu banyak bercakap-cakap dan membuang waktu, tentu penjahat tidak dapat ditangkap. Maka, begitu ibunya muncul, Ituchi segera menyerahkan dua adiknya dan meminta sang ibu untuk menjaga mereka. Horok pun mengangguk. Panglima itu berkata demikian dan Ituchi berkelebat menyusul.
Ketika pemuda itu mengejar dan sudah mendahului Panglima Horok, panglima itu terkejut dan menyusulnya. "Hei, tunggu, Pangeran. Kita ke sini!" Ituchi memutar arah. Horok ternyata membawanya ke timur dengan alasan akan memotong jalan. Ituchi bergerak mengerahkan kepandaiannya dan terkejut karena panglima itu mampu mengimbanginya, bahkan selalu gagal ia dahului. Ituchi diminta perlahan sedikit karena panglima itulah yang hendak menjadi penunjuk jalan.
Ituchi sebenarnya tidak sabar, namun ia menurut juga. Ketika mereka berbelok-belok dan akhirnya menuju ke sebuah hutan lebat, panglima itu tiba-tiba lenyap dan Ituchi kebingungan karena tidak mendapatkan buruannya.
"Hei, di mana kau, Paman? Di mana kau?"
Beberapa bayangan tiba-tiba berkelebat. Sebagai gantinya, muncul belasan orang yang membentak pemuda ini. Ituchi terkejut karena suaranya justru menjadi petunjuk bagi lawan di mana ia berada. Kilauan golok berkelebat di bawah sinar bulan. Belasan orang yang tanpa banyak cakap langsung menyerangnya membuat pemuda itu gusar.
"Hei, siapa kalian? Berhenti!" Namun, orang-orang itu mendengus dan terus menyerang. Apa boleh buat, Ituchi menangkis. Ia ingin menjatuhkan dengan tangan kosong, namun masih merasa tidak tega. Akibatnya, golok dan pedang yang ia tangkis patah-patah.
Ketika orang-orang itu terpekik karena senjata mereka terlepas dari tangan, pemimpinnya yang bersenjatakan trisula kecil berseru agar anak buahnya menyerang dengan senjata baru. Akibatnya, Ituchi geram dan mematahkan lagi senjata-senjata lawan. Sang pemimpin mulai diincar dan pemuda ini tentu saja penasaran.
Ketika trisula itu menyambar dan Ituchi merasakan tenaga yang kuat, ia membentak dan menangkis senjata itu. "Plak!" Senjata itu terlepas. Laki-laki itu berseru tertahan; matanya membelalak kaget, namun anak buahnya sudah maju membantu. Saat itu Ituchi hendak menangkap lawannya, tetapi tidak jadi karena belasan senjata lain menyerangnya dari segala penjuru. Ketika pemuda itu mengelak dan menangkis dengan marah, semua senjata tersebut dipatahkannya.
"Plak! Cring! Cring!" Belasan orang itu terkejut. Untuk kesekian kalinya mereka berteriak. Ituchi ternyata hebat, namun pemuda itu masih bersikap lunak; ia hanya menendang dan menampar mereka hingga berpelantingan. Namun, ketika Ituchi membalik dan hendak menangkap si pemimpin, ternyata orang itu sudah menghilang sambil memberi isyarat mundur dengan suitan panjang.
"Wut! Wut! Wut!" Ituchi mendapat serangan gelap. Ketika ia hendak mengejar, belasan pisau terbang menyambarnya dari belakang. Dapat diduga itu adalah serangan si pemimpin yang entah bersembunyi di mana. Ketika Ituchi memaki dan membentak marah, pisau-pisau itu dipukulnya runtuh. Tiba-tiba Panglima Horok muncul.
"Pangeran, apa yang terjadi? Kau diserang musuh?"
"Eh!" Ituchi mendongkol. "Ke mana saja kau, Paman? Kenapa tidak menjawab ketika kupanggil-panggil?"
"Maaf, aku di luar hutan, Pangeran. Melihat bayangan dua orang itu dan tidak berani menjawab karena mereka tentu akan terkejut. Sayang, karena aku mendengar suara pertempuran di sini maka aku kembali. Apakah Pangeran diserang orang-orang jahat? Siapa mereka?"
"Entahlah, pemimpinnya bersenjatakan trisula, Paman. Mereka menghilang ketika senjatanya kupatahkan!"
"Aih, kalau begitu tempat ini tidak aman. Sebaiknya kita kembali dan bergabung dengan pengawal!"
Ituchi mendongkol. Dua kali ia dibuat penasaran oleh dua kejadian. Pertama, orang-orang yang hendak menculik dua adiknya, dan yang terakhir adalah serangan orang-orang tak dikenal yang semua berkerudung dan berhasil melarikan diri. Lawan rupanya lebih mengenal keadaan dibandingkan dirinya yang belum mengenal semua medan. Maklum, ia belum begitu lama di wilayah ini.
Namun, ketika Horok mengajaknya pergi dan kembali ke tempat mereka, para pengawal melapor bahwa orang yang dicari tidak berhasil ditemukan. "Mereka menghilang, entah ke mana. Cepat sekali."
"Sudahlah," Ituchi berkata. "Kalian kembali ke tempat masing-masing, pengawal. Aku juga kembali dan penjagaan harap diperketat!"
Malam itu Ituchi muram. Panglima Horok kelihatan menyesal pula, namun Ituchi berkata tidak apa-apa; ia akan lebih berhati-hati untuk hari-hari berikutnya. Ketika pemuda itu kembali ke dalam dan menemui ibu serta dua adiknya, kedua adiknya berlarian menyambut.
"Bagaimana, Kanda? Tertangkap?"
"Tidak," pemuda itu menjawab masygul.