Chapter 53
"Bahkan aku diserang belasan orang tak dikenal, Salini. Agaknya di luar ada musuh berbahaya yang tidak menyukaiku." Kedua adiknya terkejut.
"Kau diserang? Oleh siapa?"
"Aku tak tahu, Salini. Tapi aku tak takut. Yang kutakuti hanya kalau kalian diganggunya!"
"Hm," sang ibu mengerutkan kening. "Mulai sekarang kalian tidur saja bersamaku, Salini. Dan kakakmu sebaiknya pindah ke kamar yang lebih dekat!"
"Baiklah, Ibu. Aku memang masih takut!" Kedua kakak beradik yang terisak itu lalu mundur dan masuk ke kamar ibu mereka.
Cao Cun sendiri keluar dan meminta agar putranya mengikuti. Ketika Ituchi mengikuti ibunya, Cao Cun menggapai anaknya untuk duduk di sebelahnya. "Aku khawatir jangan-jangan ini perbuatan orang dalam. Kau sebaiknya berhati-hati, Ituchi. Bawa saja dua adikmu keluar dari sini!"
"Apa?"
"Benar, aku khawatir, anakku. Jangan-jangan peristiwa seperti dulu akan terulang lagi!"
"Maksud Ibu?" Wanita ini terisak. "Pangeran, bagaimanakah kesanmu selama di sini? Bagaimana rakyat menyambutmu?"
"Ah, baik, Ibu. Aku senang!" Mata Ituchi berbinar saat teringat penyambutan hangat rakyatnya. Ia merasa tidak asing tinggal di sana dan semuanya seperti di rumah sendiri. Namun, ketika sang ibu mengerutkan kening dan justru tampak tak tenang, ibunya berkata, "Nah, itulah yang kukhawatirkan, Pangeran. Jangan-jangan kedatanganmu malah membuat Raja Cucigawa curiga. Ia mungkin khawatir kalau-kalau..."
"Kalau-kalau apa?" Pemuda ini mengerutkan kening. "Aku datang bukan untuk merampas kedudukan, Ibu, melainkan semata ingin menengok dan menemuimu!"
Sang ibu tertegun melihat anaknya ternyata cerdas dan dapat menangkap maksud pembicaraan dalam sekali bicara. Namun, ia menggeleng dan menghela napas. "Hm, itu pendapatmu, Anakku. Tapi bagi Raja Cucigawa atau orang lain mungkin tidak begitu. Rakyat telah menyambutmu dengan baik, mereka begitu hangat dan penuh simpati padamu. Raja jangan-jangan khawatir bahwa kau kelak akan merampas kedudukannya!"
"Ah, tak mungkin! Sri Baginda begitu baik kepadaku, Ibu, ramah dan suka tertawa. Aku tak percaya dia mencurigaiku lalu bermaksud membunuhku!"
"Kau masih kurang pengalaman," sang ibu mengerutkan kening. "Orang yang suka tertawa belum tentu begitu dalamnya, Anakku. Justru dengan orang seperti inilah kita harus berhati-hati! Ibu sudah cukup pengalaman dan merasakan pahit getir hidup. Justru Ibu curiga dengan sikap Raja yang begitu baik dan ramah, padahal ia adalah seorang yang keras dan kejam!"
"Ah, kejam?"
"Benar. Kau belum tahu banyak tentang kehidupan di sini, Ituchi. Kau belum mengenal penderitaan rakyatmu. Cucigawa adalah raja yang bertangan besi, tindakannya sewenang-wenang dan suka menang sendiri. Rakyat yang begitu gembira menyambutmu kukira karena mengharap kaulah yang akan menggantikan Raja itu, seperti mendiang ayahmu dulu!"
Ituchi terkejut. "Kau tidak percaya, bukan?"
Pemuda ini masih tertegun. "Lihatlah besok, Anakku. Selidiki dan menyelinaplah di tengah-tengah rakyatmu. Raja baru-baru ini membuat kegemparan besar dengan mengenakan tarif pajak yang mencekik!"
"Masa?"
"Hm, aku tak mau banyak bicara, Anakku. Sebaiknya kau lihat dan amati semuanya itu. Sebulan yang lalu Raja mengharuskan setiap kepala keluarga menyerahkan separuh dari hasil ternaknya untuk upeti!"
"Upeti?"
"Ya, begitu katanya. Tapi kenyataannya dusta karena harta ternak itu untuk Raja sendiri. Maksudku, sebagian besar untuk diri sendiri karena sebagian kecil saja yang diberikan kepada kaisar di kota raja!"
Ituchi terkejut. Dia memang belum tahu hubungan antara bangsa ini dengan istana Kaisar Tiongkok. Dia tidak tahu bahwa setiap tahun Raja Cucigawa harus memberikan tanda persahabatan kepada kaisar sebagai imbalan perlindungan bila mendapat serangan dari luar. Maklumlah, kaum nomad biasanya suka menyerang suku lain jika jumlah kelompok mereka besar dan mereka membutuhkan tanah atau ternak yang lebih luas. Mereka bisa menjadi ancaman serius bila suku-suku bangsa tidak memperkuat diri. Salah satu caranya adalah menjalin hubungan dengan istana Tiongkok, di mana sebagai imbalannya Cucigawa harus memberikan upeti.
Ketika sang ibu menjelaskan hal ini, Ituchi terbelalak dan mengangguk-angguk, baru "mendusin". "Ah, begitu kiranya, Ibu? Jadi kaisar di kota raja meminta itu setiap tahun?"
"Ya, sebagai gantinya perlindungan dan bantuan kaisar kepada suku bangsa ini, Anakku. Dan Cucigawa lalu membebankan itu pada rakyatnya. Mula-mula memang wajar, masih di batas kemampuan. Tapi setelah Raja menyisihkan dan hanya memberi sebagian kecil saja kepada kaisar sementara yang banyak dipakai untuk memperkaya diri sendiri, maka ada dua bahaya yang mengancam suku bangsa ini!"
Ituchi tertegun. "Kau tahu bahaya apa itu?"
"Tidak."
"Yang pertama adalah ketidakpuasan kaisar, Ituchi. Kedua adalah ketidakpuasan rakyat. Pajak yang 'disunat' untuk kepentingan pribadi Raja Cucigawa bakal menimbulkan pemberontakan. Perbuatan Raja itu tak benar!"
"Begitukah?" Ituchi mulai marah. "Kalau begitu Raja perlu ditegur, Ibu, disadarkan!"
"Sudah, aku menegurnya secara halus, Ituchi, tapi tak mempan. Raja bahkan marah mendengar omonganku."
"Kalau begitu besok coba kulihat. Kalau benar rakyat menderita, tentu aku tak akan tinggal diam!"
"Tapi hati-hati," sang ibu mengerutkan kening, waswas. "Cucigawa memiliki pembantu di mana-mana, Ituchi. Kau harus hati-hati dan jangan gegabah!"
"Aku tahu. Dan aku dapat menjaga diriku, Ibu. Tak usah kau khawatir."
Pembicaraan itu dibuktikan keesokan harinya oleh pemuda ini. Secara diam-diam dan hati-hati, Ituchi pergi menyelidik, masuk ke tengah-tengah suku bangsanya, dan bertanya-tanya. Ternyata benar, semua rakyat menjawab seperti kata-kata ibunya, bahkan seorang kakek sempat menangis.
"Celaka, kami merasa tertekan, Pangeran. Raja terlalu kejam dengan meminta separuh dari hasil ternak kami. Dan celakanya, semua itu ternyata sebagian besar dimiliki sendiri. Kami tak puas, tapi juga takut!"
"Takut apa? Bukankah kalian dapat memprotes?"
"Ah, Raja memiliki kaki tangan, Pangeran, dan mereka orang-orang kuat. Panglima Horok dan Ramba itu orang-orang yang kepandaiannya tinggi, apalagi trisula di tangan Ramba!"
Ituchi tersentak. "Trisula? Ramba bersenjata trisula?" Dia teringat kejadian malam lalu, ketika dikeroyok orang-orang bertopeng dan seorang di antaranya bersenjatakan trisula, sang pemimpin yang juga melepas pisau-pisau terbang ke arahnya. Ketika kakek itu mengangguk dan berkata benar, kakek itu menambahi, "Ya, dan Panglima Horok juga lihai, Pangeran. Telapak Besi yang dipunyainya sanggup memukul hancur kepala seekor gajah!"
Pembicaraan singkat dari satu orang ke orang lain menambah informasi. Kakek ini membuatnya terbelalak karena Ituchi teringat laki-laki penyerangnya. Ketika segala keterangan dirasa cukup dan ternyata benar seperti kata ibunya, Ituchi marah sekaligus heran. Bagaimana Raja yang sudah berkedudukan dan serba cukup masih juga begitu tamak? Mengapa mengambil dan memiliki untuk diri sendiri sebagian besar pajak rakyatnya? Bukankah itu seharusnya untuk kaisar?
Ketika dia pulang dan kembali menemui ibunya, mendadak ibunya menggigil dan mencengkeram lengannya. "Puteraku, ke mana saja kau ini? Kenapa lama amat? Ibu menunggu-nunggumu, ada sesuatu yang penting!"
Ituchi terkejut. "Soal apa?"
"Soal adikmu, Anakku. Cucigawa baru saja mengutus utusan untuk meminta adikmu!"
"Apa? Meminta bagaimana?"
"Ah, tolol kau. Maksudnya melamar, Anakku. Minta agar dua adikmu itu menjadi istrinya!"
"Hah?"
"Benar, mereka..."
Tiba-tiba dua gadis itu melompat masuk sambil menangis tersedu-sedu, menubruk ibu mereka. Nangi mengguguk sambil mencengkeram Ituchi. "Kanda Pangeran, tolong. Kami... ah, kami tidak mau dinikahi Raja Cucigawa!"
Gadis cantik ini tersedu-sedu, kakaknya memeluk sang ibu, sementara dia sendiri memeluk Ituchi. Pemuda ini terkejut dan merah mukanya. Ini berita baru baginya. Dia belum sempat melapor hasil penyelidikannya ketika tiba-tiba sang ibu mendahului, kini dua adiknya datang dan meminta tolong sambil menangis. Ketika ibunya pucat dan dua adiknya terisak dengan air mata bercucuran, Ituchi tak tahu apa yang harus dikatakan. Dia menganggap itu janggal karena Cucigawa meskipun jauh, namun masih ada hubungan keluarga.
"Ibu, bagaimana ini? Masa Sri Baginda meminta Nangi yang masih belia begini? Apakah dia waras?"
"Itulah, aku khawatir, Anakku. Sebaiknya mereka kau bawa dan pergi dari sini!"
"Tidak, sebaiknya kutanya dulu dua adikku ini, Ibu. Kalau mereka mau, tentu saja tak perlu pergi. Tapi kalau mereka tidak mau, maka kita harus menolak dan Raja akan kuhadapi!"
"Ah, kau tak tahu!" ibunya berseru. "Keinginan Raja tak boleh dibantah, Anakku. Apa yang diinginkan harus diberikan, atau mereka akan dibunuh karena dianggap menghina Raja!"
"Begitu gampang?" Ituchi berseru marah. "Tidak, ada aku di sini, Ibu. Kalau Raja mau bertingkah, dia akan berhadapan dengan aku. Sebaiknya kutanya dulu Salini dan Nangi!"
Ituchi berpaling menghadapi adiknya lalu bertanya apakah mereka mau menerima lamaran Cucigawa. Keduanya menjawab tidak dan menggeleng kuat-kuat. Mereka menyatakan menolak dan bahkan marah-marah. Cucigawa sudah mempunyai banyak istri dan Raja itu hanya ingin menikmati daun muda saja.