Chapter 54
Baik Salini maupun adiknya menolak tegas. Ketika hal itu dirasa cukup dan Ituchi marah, pemuda itu berkata, "Baik, kalau Ibu tak berani menolak pinangan, biarlah aku yang maju. Aku akan menghadap Sri Baginda dan secara baik-baik menyatakan penolakan ini!"
"Ituchi...!" Namun, pemuda itu sudah berkelebat pergi.
Ituchi marah mendengar raja yang bersikap sewenang-wenang; apa yang diinginkan harus dituruti, begitu kata ibunya. Begitu meninggalkan sang ibu, pemuda itu segera memasuki kemah besar tempat raja sedang duduk menikmati arak. Kehadirannya membuat para pengawal bersiap siaga saat melihat raut wajah pemuda itu yang keras. Ituchi memang datang dengan membawa amarah.
Ketika raja terkejut melihat pemuda itu berdiri di depannya, Cucigawa meletakkan araknya dan memandang pemuda itu dengan tatapan berbinar, disertai tawanya yang lantang. "Ha-ha, ada apa, Adik Pangeran? Kau datang ingin menemuiku?"
"Benar," jawab pemuda itu tanpa menyembunyikan maksudnya. "Aku datang untuk urusan adikku, Sri Baginda. Aku mau bicara tentang lamaran Paduka!"
"Eih, sudah secepat ini jawabannya? Ha-ha, silakan duduk, Adik Pangeran. Aku gembira kau datang membawa berita menyenangkan. Mana Salini dan Nangi? Kenapa mereka tidak ikut?"
"Hm, terus terang saja kedua adikku tidak dapat menerima lamaran ini, Sri Baginda. Mereka masih terlalu muda dan merasa bodoh! Maaf aku datang tidak membawa berita menyenangkan!"
Raja tertegun. Wajah yang tadi gembira karena pengaruh arak mendadak merah dan melotot. Para pengawal pun terkejut mendengar penolakan ini. Baru kali ini Raja Cucigawa ditolak! Namun, ketika raja mampu menahan diri dan tertawa terbahak-bahak, ia menyuruh pemuda itu duduk.
"Ha-ha, mengejutkan. Kedatanganmu sungguh mengejutkan, Adik Pangeran. Tapi marilah duduk dan kita minum arak dulu. Bicara tanpa arak selamanya menjemukan. Mari, duduklah dan nikmati arak!"
Ituchi tertegun. Raja sudah tenang kembali, tidak marah, dan matanya kini tampak ramah. Ituchi merasa lega, kemarahannya berangsur lenyap, lalu ia pun duduk. Cucigawa menuangkan arak dan memintanya minum bersama. Pemuda itu tidak menolak dan meneguk araknya. Ketika raja bertanya mengapa lamarannya ditolak, jantung Ituchi berdebar.
"Mereka masih terlalu kecil, juga muda. Lagi pula, kita masih sekeluarga, Baginda. Hal-hal seperti ini membuat mereka tidak enak dan takut!"
"Ha-ha, bagaimana pendapatmu, Panglimaku?"
"Maaf," Horok, yang sejak tadi waspada mendampingi Cucigawa, membungkuk. "Alasan itu terlalu dibuat-buat, Sri Baginda. Selir Paduka sendiri yang termuda ada yang berusia empat belas tahun!"
"Ha-ha, dan Nangi lima belas. Eh, bagaimana ini, Ituchi? Bukankah alasannya tidak masuk akal?"
"Hm!" Pemuda itu merasa tidak enak. "Urusan ini tidak berani aku tanggapi, Sri Baginda. Namun, dua adikku benar-benar masih terlalu muda dan hijau. Lagi pula, hubungan kekeluargaan itu dapat mengganggu!"
"Eh, jangan begitu. Justru aku ingin mempererat hubungan ini, Ituchi. Kalau mereka menjadi selirku, maka kau akan semakin dekat denganku!"
"Maaf, mereka belum bersedia, Sri Baginda. Barangkali Paduka dapat mencari yang lain saja. Salini dan Nangi masih terlalu kanak-kanak!"
"Hm," Raja tertawa aneh sambil meneguk araknya. "Kau tidak tahu kebiasaan di sini, Adik Pangeran. Baiklah, kumaafkan sikapmu ini karena kau orang baru. Tak apa. Kalau begitu, aku mengubah niatku. Bagaimana kalau dua adikmu itu kupersembahkan kepada Kaisar? Apakah ditolak juga?"
Ituchi terkejut. "Apa?"
"Ha-ha, jangan terkejut. Minggu depan kebetulan kami harus memberi upeti kepada Raja Tiongkok, Ituchi, demi persahabatan yang selama ini terjalin. Kau tentu tidak keberatan jika dua adikmu menjadi persembahan yang paling terhormat!"
"Sri Baginda...!"
"Eh, nanti dulu. Jangan berteriak!" Raja menggoyang lengan sambil tertawa. "Tak ada alasan bagimu setelah ini, Ituchi. Atau kau memang mengada-ada dan sengaja hendak menghinaku! Bangsa di sini adalah bangsa yang patuh, mereka tidak pernah membantah, apalagi kepada rajanya. Kalau kau menolak dan kembali memberi alasan macam-macam, maka kuanggap kau menghina diriku dan hendak mempermainkanku!"
Ituchi gemetar. "Sri Baginda," katanya tertahan-tahan. "Omongan Paduka sungguh tidak kumengerti. Hinaan bagaimana yang dapat kulakukan di sini? Bukankah semuanya kukatakan secara jujur dan benar?"
"Hm, kalau jujur dan benar, tak ada kata-kata seperti itu, Adik Pangeran. Masalah keluarga sesungguhnya tak perlu kau sebut-sebut. Ibumu itu juga pernah diambil Cimochu sebagai istri, padahal Cimochu adalah anak tirinya! Bukankah ini lebih hebat lagi dibanding aku mengambil dua adikmu? Bukankah apa yang kulakukan jauh lebih terhormat daripada apa yang telah dilakukan ibumu itu? Ha-ha, jangan marah, Ituchi. Aku bicara benar dan jujur pula. Kau boleh tanya semua orang!"
"Bohong!" Bentakan itu menggelegar, membuat semua orang terkejut. "Kau memfitnah, Sri Baginda. Kau melepas omongan busuk. Kau... ah!"
Ituchi yang gemetar tidak dapat menahan diri. Ia bangkit dari duduknya dan membanting hancur cawan arak yang diterima dari raja. Tindakan itu mengejutkan semua orang, dan Panglima Horok segera melompat maju. Para pengawal bergerak cepat mengurung pemuda itu; tombak dan senjata lainnya siap menusuk. Ituchi telah melakukan sesuatu yang berani di hadapan raja, membentak, dan menyebut raja berbohong—sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun!
Raja pun merah padam dan melotot menatap pemuda itu. "Sri Baginda, kau bohong. Kau... kau memfitnah. Tak mungkin hal itu dilakukan ibuku!"
"Hm," Raja tertawa mengejek dengan mata bersinar-sinar. "Kau kurang ajar dan kembali menghinaku, Ituchi. Kau sombong dan tidak tahu aturan. Kau kira aku bohong dan memfitnah? Bagaimana kalau kita buktikan bersama?"
"Tak mungkin. Aku tidak percaya, Sri Baginda. Aku tetap menganggapmu bohong. Sebaiknya kau tarik omonganmu itu dan minta maaf!"
"Ha-ha, bocah yang sombong!" Raja bertepuk tangan. "Panggil wanita itu, Pengawal. Dan suruh Ibunda Permaisuri datang ke sini!"
Ituchi pucat. Tanpa menunggu pengawal, dia bergerak mendahului dan berkata bahwa dialah yang akan menjemput ibunya. Raja harus bertanggung jawab dengan kata-katanya. Pemuda itu marah bukan main dan tidak dapat menahan diri. Ketika ia membawa ibunya, Cao Cun tampak meronta, menangis, dan menampar putranya.
"Lepaskan, kau mau apa?"
Ituchi menggigil, menghadap raja, tidak memedulikan kepungan pengawal yang bertambah banyak, juga Ramba yang tiba-tiba muncul di belakang.
"Sri Baginda," pemuda itu marah sekali. "Sekarang ibuku ada di sini. Katakanlah sekali lagi kata-katamu yang menusuk itu. Aku ingin bukti dan jawaban ibuku!"
"Ha-ha, kenapa tidak bertanya langsung? Baiklah, kukatakan sekali lagi bahwa ibumu ini pernah dikawini Cimochu, Ituchi. Dan sebagai bukti, marilah tunggu jawaban ibumu, meskipun semua orang di sini juga menjadi saksi!"
Cao Cun tiba-tiba menjerit. Sebelumnya ia tidak diberi tahu alasan putranya menyambarnya; Ituchi hanya berkata bahwa raja ingin bertemu untuk soal yang sangat penting. Sikap yang tentu saja membuat wanita itu ngeri. Ia ngeri melihat wajah putranya yang begitu gelap, maklum bahwa sebuah persoalan besar menghantam putranya itu. Ia tidak menduga bahwa yang dipersoalkan adalah hubungannya dengan Cimochu, suami sekaligus bekas anak tirinya—hal yang merupakan aib bagi bangsa Tiongkok, tetapi tidak bagi bangsa liar itu.
Begitu raja bicara tentang hal ini, Cao Cun hampir pingsan dan menjerit keras. Wanita itu terhuyung, mendekap dada, dan jantungnya terasa seakan ditarik. Hal yang disembunyikan dari anaknya itu tiba-tiba saja dibuka tanpa tedeng aling-aling oleh Cucigawa, raja keji yang tahu akan adat-istiadat Tiongkok dan kini menggunakannya sebagai panah beracun untuk melukai anaknya. Cao Cun pucat pasi lalu roboh terguling.
Saat wanita itu menangis tersedu-sedu, Ituchi tersentak melihatnya. "Ibu, kau... kau ada apa?"
"Ha-ha, anak yang bodoh!" Cucigawa tertawa terbahak-bahak. "Kau menelanjangi ibumu dengan borok yang memalukan, Ituchi. Kau harus tahu bahwa ibumu terpukul. Hal itu tidak dapat dibantahnya, dia malu dan terhina!"
"Hm, benarkah, Ibu? Bukankah kata-kata itu bohong?" Sang ibu tersedu-sedu dan tidak menjawab. "Bagaimana, Ibu? Bukankah itu tidak benar adanya dan raja memfitnah?"
Sang ibu tetap tidak menjawab, bahkan terisak. Saat Ituchi menggeram dan Cucigawa tertawa aneh, raja berkata lagi, "Heh, kau berotak udang, Ituchi. Rupanya kau tidak tahu juga bahwa dua adikmu itu adalah hasil perkawinan ibumu ini dengan mendiang Cimochu. Kenapa kau masih hendak menyakiti hati ibumu dengan jawaban yang sudah jelas? Seluruh rakyat mengetahui itu, Ituchi, tidak perlu ditanyakan karena hanya akan menyinggung ibumu...!"
"Dess!"
Raja tiba-tiba mencelat, kaget dan berteriak keras karena Ituchi tiba-tiba berkelebat, menghantam, dan menamparnya. Omongan tajam yang menghunjam dada Ituchi bagai pedang berkarat membuat pemuda itu tidak kuat lagi. Kemarahan Ituchi menggelegak dan ditamparlah lawannya. Saat Cucigawa terlempar dan bergulingan sambil berteriak kaget, semua orang terkejut dan berseru menyerang Ituchi, melihat pemuda itu hendak mengejar dan membunuh raja. Panglima Horok membentak dan hendak menghantam pemuda itu, sementara Ramba yang ada di belakang berseru marah melihat rajanya dibanting.