Chapter 55
Ketika semua orang mengeroyok dan bergerak dari segala arah, tiba-tiba Ituchi mengeluarkan pekik menggetarkan. Kedua tangannya bergerak menghantam ke sana-sini.
"Berhenti semua! Diam di tempat!"
Ituchi membuat kejutan. Ia melempar semua orang hingga Panglima Horan sendiri terbanting. Ramba yang berada di belakang juga terpelanting dan berseru kaget. Ketika orang-orang lain terlempar dan Ituchi berdiri dengan muka merah padam, pemuda itu tegak bagai singa muda yang haus darah dan kelaparan.
"Semua, jangan bergerak, atau aku akan melancarkan pukulan maut!"
Semua orang gentar. Apa yang telah diperlihatkan pemuda ini dalam segebrakan saja memang mengejutkan. Hanya dengan kedua tangan mendorong ke kiri dan kanan, orang-orang terlempar dan roboh tak keruan. Ketika pemuda itu membalik dan menghadapi ibunya, Cao Cun bagai menerima pedang berkarat yang ditodong puteranya; sebuah pertanyaan yang menusuk dan membuat wanita itu hampir histeris.
"Ibu, benarkah kata-kata keparat ini? Bukankah dia bohong?"
"Tidak," sang ibu menggeleng, tersedu-sedu. "Dia benar, Ituchi. Ibumu memang bersuamikan Cimochu itu. Salini serta Nangi, mereka adalah anak ibumu dengan Cimochu. Raja tidak bohong, itu memang betul!"
"Apa? Jadi, Ibu..."
"Benar, di sini hukum adat berbeda dengan di Tionggoan, anakku. Warisan ayah menjadi milik putera sulungnya, termasuk ibu tiri!"
"Ooh!" Ituchi terhuyung, memandangi ibunya dengan mata terbelalak seolah tak percaya. Ia baru tahu bahwa Cimochu, kakak tirinya, mengawini ibunya sendiri. Anak dan ibu berkumpul menjadi satu sebagai suami istri, meskipun sang anak adalah anak tiri.
Ketika Ituchi terhuyung dan hampir tak mempercayai ibunya, Cucigawa terdengar tertawa terbahak-bahak. "Heh, bagaimana, Ituchi? Adakah aku berbohong atau memfitnah?"
Ituchi gemetar. "Kau benar, Cucigawa. Sungguh tak kusangka bahwa ibuku dapat melakukan itu. Maaf, aku sekarang percaya. Biarlah aku pergi dan tidak di sini lagi!"
"Ha-ha, begitu enak? Tidak! Kau telah menyerangku, Ituchi. Hukum pancung pantas untukmu. Menyerahlah, atau seluruh pasukanku akan bergerak dan rakyat akan kuberi tahu bahwa kau, putera Raja Hu yang perwira, ternyata tidak memiliki sopan santun terhadap raja!"
Ituchi terkejut. Saat itu, ia mendengar ibunya menjerit dan roboh terhuyung. Cao Cun terpekik mendengar semua kata-kata puteranya tadi. Ituchi akan meninggalkannya dengan membawa kenangan keji. Ituchi membawa pandangan buruk tentang perkawinan itu, dan ibu ini pun terpukul. Ituchi tak mau tahu bahwa semuanya itu dikarenakan adat. Bangsa liar ini memang mempunyai adat yang berbeda dengan bangsa Han; tidak ada aib dan malu bagi mereka untuk masalah seperti ini. Anak tiri bebas saja mengawini ibu tirinya jika sang ayah meninggal karena dianggap sebagai warisan ayahnya. Maka, begitu sang anak mencemooh dengan tatapan hina, Cao Cun tidak kuat lagi dan roboh pingsan.
"Ha-ha, kau menyakiti ibumu, Ituchi. Sekarang ibumu terpukul!"
"Biarlah," pemuda itu acuh. "Aku bukan anaknya lagi, Cucigawa. Selamat tinggal untuk kalian semua!"
Pemuda itu berkelebat, melayang, dan berjungkir balik di atas kepala semua orang. Namun, sang raja tentu saja tidak membiarkan pemuda itu pergi. Ituchi telah menghinanya di depan semua orang dan berani menyerangnya. Cucigawa membentak, memerintahkan pasukannya menyerang, sementara ia sendiri mengambil busur dan menjepret pemuda itu.
Cucigawa ternyata ahli bermain panah. Ketika Ituchi diserang dari mana-mana, pemuda itu berjungkir balik di atas kepala orang-orang. Tiba-tiba Ituchi membentak dan mengayunkan tangannya ke kiri dan kanan.
"Plak! Tring! Trang!"
Panah dan pedang mencelat semua. Ituchi telah memukul serangan itu dan sudah tiba di luar, melayang turun. Namun, ketika di sana ternyata telah menunggu ribuan orang yang memagar betis, Ituchi terkejut dan raja tertawa terbahak-bahak dari dalam.
"Ha-ha, lolos di sini tak mungkin lolos di luar, Ituchi. Serahkan dirimu dan menyerahlah baik-baik!"
Ituchi menggeram. Jika raja sudah menyambutnya seperti ini, nyatalah bahwa keadaan tidak main-main lagi. Pemuda itu marah. Ramba serta Panglima Horok berkelebatan keluar. Ketika mereka memberi aba-aba dan pasukan di luar bergerak menyerang, Ituchi sudah dihujani serangan dan tubrukan.
"Tangkap pemuda ini. Bunuh!"
Ituchi tak dapat berbuat lain. Pasukan paling depan sudah menyerangnya dengan cepat; tombak, golok, dan pedang bersiutan saling susul. Ketika dari dalam raja Cucigawa juga menggerakkan busurnya, tujuh panah menjepret menyambar pemuda ini.
"Siut! Plak!"
Ituchi membentak, menghalau semua serangan itu, dan tujuh batang panah yang dibidikkan raja runtuh. Cucigawa terbelalak tapi sudah menyerang lagi. Ketika pasukan lain diperintahkan untuk menghamburkan panah, Ituchi berkelebatan menangkis hujan panah tersebut. Ia melengking dan membentak marah, membuat semua orang terkejut serta kagum melihat sepak terjangnya.
Dengan kedua tangan atau kakinya, Ituchi beterbangan menyambut serangan, berkelebatan bagai burung menyambar-nyambar. Ketika pemuda itu mulai membalas dengan menangkapi panah yang menyambar tubuhnya, ia menyambit dan merobohkan sembilan orang yang ada di depan.
"Minggir, atau kalian roboh!"
"Crep! Crep!"
Panah rampasan itu menyambar sembilan orang tersebut, membuat mereka terjengkang dan berteriak kesakitan. Ituchi mengarahkan panah-panah itu ke pundak mereka agar tidak membunuh, namun mereka tetap mengaduh. Ketika hal yang serupa dilakukan berulang-ulang, pasukan menjadi panik dan gempar.
"Jangan takut, lemparkan tombak kalian!" teriak Panglima Horok.
Horok, yang juga menjadi korban namun tidak sampai roboh, mencabut panah yang menancap di pundaknya dan maju dengan marah. Ramba yang ada di belakang tiba-tiba mencabut sebuah trisula. Ketika Ituchi terbelalak karena bentuk senjata itu mengingatkannya pada serangan di dalam hutan, pemuda itu mendapat lemparan tombak yang bersaing dengan panah.
"Serang! Terus serang!"
Pemuda itu menggeram. Horok dan yang lain menyerangnya tak kenal takut. Pemuda itu merasa kagum, namun ketika ia mengelak dan berkelebatan menangkis, tiba-tiba sepasukan berkuda datang menerjang, menyeruak pertempuran.
"Cring! Crang!"
Ituchi mulai kewalahan. Ia hanya merobohkan lawannya, tidak satu pun dibunuh. Maklumlah, mereka adalah suku bangsanya sendiri dan Ituchi bukan pemuda kejam. Ia tidak berwatak telengas dan sesungguhnya berhati lembut. Tapi, ketika pasukan berkuda datang menyerang disertai lontaran tombak dan lembing, pemuda ini disibukkan dengan menangkis. Datang lagi pasukan berkuda yang lain dan Ituchi menjadi marah.
Lama-kelamaan, musuh yang dihadapi kian banyak. Mereka meluruk dan menerjang dirinya dengan gagah; rata-rata pandai menunggang kuda. Ituchi membelalakkan matanya. Ketika dari mana-mana semua orang bergerak dan ia mencoba membuka jalan namun gagal, pemuda itu berseru agar musuh-musuhnya tak memaksa ia berbuat kejam.
"Kalian minggirlah, biar aku pergi. Atau aku akan membunuh dan kalian mampus!"
"Bunuhlah!" Horok berteriak. "Kami membela junjungan kami, Ituchi. Dan siap mempertaruhkan nama baik yang kau cemarkan!"
"Hm, kau sombong, Paman. Kalau begitu aku akan merobohkanmu lebih dulu dan jangan salahkan aku!"
"Sing! Bret!"
Ituchi menampar ke kiri, mementalkan sebatang tombak, dan tiba-tiba ia berkelebat ke arah panglima ini. Horok membuang senjatanya yang putus dan menggunakan kedua tangannya. Ituchi teringat bahwa panglima ini memiliki *Tiat-ciang* (Tangan Besi), ilmu kepandaian khusus di mana tangan panglima itu dapat sedemikian kerasnya hingga mampu memukul pecah kepala seekor gajah. Maka, ketika ia berkelebat dan menyerang, Horok membentak dan menangkis dengan sepasang lengan yang kokoh itu.
"Duk! Plak!"
Horok teriak. Panglima itu terpental dan terpelanting bergulingan. Sayang, Ituchi tak dapat mengejarnya karena dari empat penjuru ia kembali mendapat hujan serangan. Dua kelompok pasukan berkuda juga menerjangnya dengan gegap gempita. Mereka benar-benar pemberani, hal yang membuat Ituchi semakin kagum dan bangga bahwa suku bangsanya ternyata orang-orang yang gagah.
Namun, karena mereka membahayakan dirinya dan mau tak mau ia harus mengelak, dua orang di sebelahnya tiba-tiba ditangkap dan disambar dari atas kudanya. Ituchi bermaksud merampas kuda itu.
"Turun!"
"Bres! Bress!"
Dua orang itu berteriak. Mereka terlempar dan terbanting bergulingan. Ituchi telah berjungkir balik dan melayang turun di atas kuda yang kanan, sementara kuda yang kiri ditangkap dan dihela di sampingnya. Dengan dua ekor kuda di tangannya, pemuda itu berteriak memecah barisan. Ketika semua orang terkejut karena pemuda itu menerjang, Ituchi mencoba lolos dengan menunggang kuda.
"Minggir! Hyehh! Herrr!"
Gaduhlah semua orang.