Halo!

Istana Hantu - Chapter 56

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 56

Tiba-tiba mereka melihat pemuda itu memecah barisan. Hal ini sengaja dilakukan Ituchi yang tidak ingin lagi bermusuhan dengan bangsanya sendiri. Mereka tidak mengetahui persoalannya dan hanya mengikuti perintah Raja Cucigawa.

Begitu ia membedal dan menjepit perut kuda kuat-kuat, pemuda itu membuat orang-orang di depannya menyibak karena takut diterjang kuda. "Hyehh-herrr!" Ituchi telah melampaui setengah barisan. Dengan cepat, pemuda itu mencoba kabur, melarikan kudanya bagaikan terbang. Namun, ketika di belakang terdengar bentakan dan seekor kuda berbulu merah melesat bagai kuda sembrani, Ramba—pemuda tinggi tegap bersenjatakan trisula—mengejarnya dengan kecepatan yang sama.

"Ituchi, berhenti! Jangan seperti pengecut!"

Ituchi terkejut. Dengan kecepatan melebihi panah, lawannya telah berada di samping. Trisula bergerak dan ujungnya hampir menyentuh hidung Ituchi. Ramba menusuk dan pemuda itu membentak. Ketika Ituchi berkelit, kaki lawan bergerak tiba-tiba sehingga kuda yang ditungganginya terkena tendangan, meringkik, lalu lepas.

"Ngiiikkk!" Ituchi terbelalak. Kuda cadangannya kabur. Setelah hanya tersisa satu kuda yang ditunggangi, pemuda itu menjadi marah dan memaki lawannya yang kembali menusukkan trisula. Ituchi menangkis dan otomatis berhenti sejenak. Ketika trisula berhasil dipentalkan, musuh lain datang menyerang. Pemuda itu pun membentak Ramba dengan gemas.

"Ramba, jahanam kau! Rupanya kau tidak tahu diri!"

"Hm, tidak perlu banyak cakap. Kau telah menghina raja, Ituchi. Hanya hukuman mati yang pantas untukmu!"

Siut! Bret! Ituchi sedikit lengah; pundaknya terkena sabetan hingga bajunya robek. Pasukan berkuda datang menerjang. Ituchi sadar dan marah, lalu menampar saat trisula kembali menyambar. "Plak!" Trisula itu terpental hingga terlepas dari tangan Ramba.

Ituchi menggerakkan tangan untuk menampar lawannya. Di atas kuda, mustahil bagi Ramba untuk mengelak. Namun, Ituchi terkejut saat Ramba tiba-tiba menghilang dari pandangan, menyelinap ke bawah perut kuda, lalu menyambar sembilan pisau terbang ke arahnya.

"Keparat, rupanya kau!" Ituchi membentak. Ia teringat bayangan orang bersenjata trisula dan pisau terbang yang menyerangnya di hutan. Begitu yakin bahwa Ramba adalah orang tersebut, ia membentak dan berhasil menangkap lima dari sembilan pisau terbang yang dilemparkan. Ia menggerakkan tangan dengan marah dan berbalik melemparkan pisau-pisau itu. Ramba menjerit ketika lima buah pisau menancap di lengan, kaki, dan perutnya.

"Aduh... crep-crep-crep!" Ramba terjatuh. Gerakan menyelinap di bawah perut kuda memang menunjukkan bahwa Ramba adalah pemuda yang tangkas. Namun, setelah tertusuk pisaunya sendiri, ia terbanting ke tanah dan hanya bisa merintih, sementara Ituchi menghadapi serbuan berikutnya.

Panglima Horok, si tangan besi, turut memburunya bersama puluhan anak buahnya. Namun, ketika Ituchi membalik dan mendorongkan lengannya, semua serangan mental dan senjata mereka patah. "Plak-cring-dess!" Panglima Horok terpental. Untuk kesekian kalinya, ia tidak mampu menahan tenaga panas dari lengan Ituchi yang membakar pundaknya. Meski kesakitan, Horok memerintahkan pasukannya untuk maju mengeroyok hingga menutup jalan keluar Ituchi.

Ituchi dikepung rapat. Ia merampas tombak dan memutarnya bagaikan kitiran. "Minggir, atau kalian roboh!" Ituchi menerjang ke depan dengan tangan kiri yang sesekali melakukan pukulan jarak jauh. Lawan berteriak kesakitan saat senjata mereka terlepas atau terpelanting oleh pukulan pemuda itu.

"Serang kudanya, bunuh kudanya!" teriak Panglima Horok. Teriakan itu disusul lontaran lembing dan panah yang mengenai kaki serta bokong kuda Ituchi.

"Kurang ajar! Jangan menyerang binatang tak berdosa, tikus-tikus busuk! Serang aku jika berani!" tantang Ituchi.

Raja Cucigawa tiba-tiba muncul dan melepas panah besar yang tepat mengenai perut kuda. Kuda itu roboh, Ituchi terjungkal, dan hujan tombak serta panah kembali menghujani pemuda itu. Namun, Ituchi membentak dengan tenaga saktinya hingga musuh di sekitarnya terjungkal bagaikan terkena guntur. Ia meloncat bangun, menyambar seorang prajurit, dan merampas kuda baru untuk melarikan diri.

"Cegat pemuda itu! Panah kudanya!" perintah Horok. Meski Ituchi mampu menangkis serangan, setiap kali ia merampas kuda baru, Raja Cucigawa selalu berhasil memanah kudanya hingga roboh. Sepuluh kuda telah tewas terpanah.

Lama-kelamaan, pemuda itu letih dan bermandi keringat. Ia adalah manusia biasa yang menghadapi dua ribu orang. Ituchi tidak ingin membunuh bangsanya sendiri, ia hanya melukai atau merobohkan mereka. Hal itulah yang membuatnya lelah hingga kecepatan dan tenaga saktinya menyusut. Saat tangkisannya mulai melemah karena tangan yang gemetar, sebuah panah dari Raja Cucigawa menancap di bahunya.

"Lihat, pasukanku! Pemuda itu mulai lemah!" seru sang raja.

Ituchi menggigil dan pucat. Ia mulai terdesak. Jika saja ia mau membunuh, musuh mungkin akan gentar, tetapi Ituchi tetap bertahan pada pendiriannya. Ia mundur terhuyung-huyung sambil memaki, "Kalian keparat, kalian bodoh!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment