Chapter 57
"Kalau aku mau, tentu kalian dapat kubunuh!"
"Ha-ha, tak perlu sombong. Kau boleh membunuh kalau kau mampu, Ituchi. Hayo, laksanakan ancamanmu jika kau bisa!" Ituchi mendelik. Terhadap suku bangsanya sendiri, mustahil dia tega membunuh. Darah mereka adalah darahnya pula. Pemuda itu melotot.
Ketika Raja Cucigawa kembali menjepretkan busurnya dan Panglima Horok melepas tiga buah lembing, salah satu lembing mengenai kaki Ituchi, sementara panah sang raja menancap di bahu kiri.
"Crep-crep!" Ituchi mengeluh.
Dari semua lawan, panah Cucigawa dan lontaran lembing Panglima Horok adalah yang paling kuat. Tenaga mereka besar sehingga senjata tersebut menancap cukup dalam. Jika dia tidak kuat, mungkin sudah roboh; orang lain mungkin sudah terjungkal, tetapi Ituchi masih dapat bertahan. Kelemahan pemuda ini yang tidak mau membunuh lawan membuat musuhnya semakin kurang ajar. Horok maupun raja akhirnya lebih berani dan nekat.
Ketika Ituchi terpincang-pincang dan raja tertawa terbahak-bahak, Cucigawa memerintahkan agar pemuda itu dijala!
"Lempar jala atau laso!"
Ituchi terkejut. Lawan mematuhi perintah itu, dan jala serta laso panjang mulai dilemparkan. Mereka bermaksud menjerat atau menangkap pemuda ini seperti kebiasaan menangkap binatang buruan, harimau, atau kijang.
Ketika Ituchi menjadi marah dan merasa terhina, raja melepas empat panah berturut-turut. Semuanya melesat menyambar pemuda itu dari belakang. Saat itu, Ituchi sedang membalik untuk menghadapi serangan lain; dia tahu panah yang dilepas raja selalu berbahaya. Empat panah itu mendesing mengancamnya. Pemuda itu gugup. Ketika dia membalik, Horok melempar laso hingga kaki Ituchi terjirat dan terpelanting. Panglima itu segera menariknya sambil tertawa. Jala-jala lain juga menyambar, menimpa tubuhnya.
Jika pun Ituchi dapat membebaskan diri dari laso yang menjerat kakinya, mustahil pemuda itu dapat melepaskan diri dari sekian banyak jala yang sudah bertaburan di atas kepalanya. Pemuda ini bakal tertangkap dan benar-benar seperti harimau terjirat; jala atau tali laso itu akan mencekiknya kuat. Ituchi dalam bahaya!
"Ha-ha, mampus kau, bocah. Sekarang tak dapat melepaskan diri lagi!"
Ituchi terkejut. Dia meronta, namun jala dan laso itu justru semakin menjerat. Horok menariknya hingga Ituchi terangkat. Namun, tepat saat pemuda itu terjerat dan raja melepas tiga batang panah, terdengar bentakan nyaring.
"Ituchi, jangan takut. Aku datang!"
Sesosok bayangan berkelebat cepat dan luar biasa. Seorang pemuda berambut keemasan muncul. Pemuda ini bergerak bagai burung garuda, begitu cepat hingga orang-orang terpental. Jala dan laso pun otomatis terlempar ke kiri dan kanan. Pemuda itu menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis, menyambar tubuh Ituchi, sekaligus menampar runtuh tiga batang panah yang dilepas raja.
"Plak-plak-bret!" Baju punggung Ituchi sedikit robek.
Ituchi terbelalak melihat siapa yang datang. Dia telah terbebas dari jala. Pemuda itu tertegun, namun kemudian girang bukan main.
"Kim-kongcu!"
Kiranya Thai Liong yang datang. Pemuda ini memang mendapat perintah ayahnya untuk membayangi Ituchi. Putera Raja Hu itu sempat dicurigai sebagai pencuri Cermin Naga setelah Swat Lian terpengaruh omongan Ji Pin. Ketika Thai Liong dan Ji Pin membayangi Ituchi, mereka mengetahui kejadian ini. Thai Liong tidak mau tinggal diam dan segera menolong pemuda yang enggan membunuh suku bangsanya sendiri itu—hal yang membuat Thai Liong kagum.
Begitu berhasil membebaskan Ituchi, Thai Liong berseru, "Cepat keluar, biar kulindungi dari belakang!"
Thai Liong menendang seorang prajurit berkuda, merampas kudanya, dan menyerahkannya kepada Ituchi yang mulai gontai. Prajurit itu terlempar, sementara Thai Liong mendorong punggung Ituchi agar segera naik. Thai Liong sendiri menangkis dan memukul runtuh semua panah serta tombak yang diluncurkan padanya.
"Cepat, naiki kuda itu. Pergilah!"
Ituchi kagum. Dia tidak ingin berlama-lama lagi di sana karena enggan bertempur dengan sukunya sendiri. Ituchi segera melompat ke atas kuda dan membedal larinya. Raja Cucigawa mendelik karena mangsa yang sudah di depan hidung tiba-tiba lolos. Raja berteriak-teriak, namun dari luar muncul seorang penunggang kuda yang juga melindungi Ituchi.
"Cepat, pangeran, jalan sini!"
Kiranya itu adalah Ji Pin. Meski sempat diminta Thai Liong untuk tidak maju, Ji Pin yang bandel tetap muncul dan membuka jalan bagi Ituchi dengan menebas delapan orang lawan. Bantuan ini tidak diduga oleh sang raja. Karena Thai Liong terus memantulkan senjata musuh sementara Ji Pin mengejutkan dengan serangan kudanya, Ituchi akhirnya lolos dari kepungan.
"Keparat! Kejar mereka, tangkap!"
Namun, raja berteriak sia-sia. Ituchi telah selamat di bawah lindungan Thai Liong, putera Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas yang hebat. Begitu lolos, raja hanya bisa berteriak-teriak sementara Thai Liong tertawa di belakang dua temannya.
"Cepat, pacu kuda kuat-kuat, Ituchi. Jangan menoleh ke belakang, ini bagianku!"
"Ha-ha, benar!" Ji Pin tertawa terbahak-bahak. "Kim-siauwhiap akan melindungimu, Pangeran. Tak usah khawatir karena kita pasti selamat!"
"Ah, terima kasih," Ituchi mengusap keringatnya. "Kalian datang tepat waktu, Kim-kongcu. Sungguh tak tahu apa jadinya jika kalian tidak datang!"
"Sudahlah, pacu kudamu, Ituchi. Jangan panggil aku kongcu. Sebut saja namaku, Thai Liong!"
Ituchi tersenyum. Dia kagum dan mengeprak kudanya, berlari semakin kencang. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa, Thai Liong mampu mengimbangi kecepatan kuda itu, bahkan mendahului Ji Pin dan menyejajarkan diri dengan Ituchi. Setelah dirasa aman, mereka berhenti di luar wilayah Raja Cucigawa.
"Stop, kita berhenti di sini!" Ituchi melambaikan tangan, lalu meloncat turun.
Pemuda itu mengalami beberapa luka dan dua batang panah masih menancap di pundaknya. Dia terhuyung hampir jatuh, namun Thai Liong segera menahan dan menegakkan tubuhnya. Ji Pin pun menyusul dan turun dari kuda.
"Pangeran, kau harus segera diobati. Lukamu perlu dibalut!"
"Benar, tapi ini hanya luka kecil, Ji Pin, tidak berarti. Sudahlah, aku bisa mengurusnya. Terima kasih atas pertolongan kalian."
"Ah, kenapa begitu?" Thai Liong mengerutkan alis. "Kita bukan orang lain, Ituchi. Kita sahabat!"
"Benar, tapi... bagaimanapun kau telah menyelamatkan jiwaku, Kim-kongcu. Tanpa kedatanganmu, tentu aku sudah tewas!"
"Hm, panggil namaku Thai Liong, Ituchi. Atau aku akan memanggilmu pangeran dan kita sama-sama canggung!"
"Maaf, baiklah Thai Liong. Kau rendah hati dan sungguh menyenangkan sebagai sahabat. Omong-omong, bagaimana kau ada di sini? Mana adikmu?"
"Adikku kembali, Ituchi. Ikut ayah dan ibu. Sedangkan aku, kebetulan saja di sini!"
"Tidak!" Ji Pin tiba-tiba berseru. "Kami berdua sengaja mengikutimu, Pangeran. Kami tahu semua yang terjadi. Ah, aku harus minta maaf, ini semua gara-gara kecurigaanku!"
Ji Pin berlutut dan menangis. Thai Liong dan Ituchi terkejut. Ji Pin menegur Thai Liong agar tidak berbohong. "Kongcu tak usah melindungiku. Semuanya ini salahku. Jika hanya karena aku Kongcu lalu berbohong, aku akan semakin menyesal!"
"Apa yang kau ucapkan ini?" Ituchi tidak mengerti. "Kenapa minta maaf dan berlutut? Bangkitlah, aku tidak mengerti. Terangkan apa yang kau maksud!"
"Hm!" Thai Liong memerah mukanya. "Aku memang berbohong, Ituchi. Keberadaan kami di sini memang disengaja, bukan kebetulan!"
"Pangeran, ini gara-gara mulutku. Kalau saja aku tidak mencurigaimu, tentu kami tak akan di sini. Maksudku, aku tetap curiga bahwa kaulah pencuri Cermin Naga!"
"Apa?" Ituchi terkejut, mukanya merah padam. "Urusan itu masih akan diperpanjang? Kalian tidak percaya?"
"Bukan Kim-siauwhiap atau orang tuanya yang tidak percaya, Pangeran, melainkan aku! Aku berkata pada mereka bahwa jangan-jangan kau hanya berpura-pura. Karena Kim-taihiap maupun istrinya baru mengenalmu sebentar, aku memunculkan kecurigaan bahwa kau pandai menyembunyikan diri!"
"Hm," Ituchi marah. "Kau keterlaluan, Ji Pin. Kalau tidak ada Thai Liong di sini, tentu kau kuhajar!"
"Itulah, kau boleh menghukumku, Pangeran."