Chapter 58
"Boleh menghajar. Aku siap menerima!"
"Nanti dulu," kata Thai Liong. "Semuanya ini ada baiknya, tapi ada juga buruknya, Ituchi. Memang tak dapat disangkal bahwa pertemuan kita yang singkat belum membuat pihak lain mengenal baik watak masing-masing. Ayah secara pribadi tetap percaya padamu, tapi Ibu agak terpengaruh, lalu memerintahkan kami berdua mengikutimu. Bukan untuk maksud jelek, melainkan semata untuk melihat sepak terjangmu secara diam-diam. Dan karena kecurigaan Ji Pin justru menyelamatkanmu dari serangan Raja Cucigawa, maka kuanggap Ji Pin akhirnya berjasa pula. Maaf kalau dia terlampau berterus terang dan blak-blakan!"
Ituchi tertegun. Akhirnya dia mengakui juga; kemarahannya lenyap dan tiba-tiba pemuda itu menghela napas panjang. Karena kecurigaan Ji Pin justru membuat Thai Liong datang dan menyelamatkannya dari serangan Cucigawa, pemuda ini pun tersenyum pahit dan mengangguk.
"Betul juga. Sikap dan katamu itu telah menyelamatkan aku, Ji Pin. Kalau Thai Liong tak datang dan aku sendiri menghadapi semuanya itu, tentu aku telah pulang tinggal nama!"
"Maaf, aku juga salah, Ituchi. Aku mengikuti omongan Ji Pin dan agak curiga juga. Tapi kau sebenarnya dapat menghadapi semuanya itu asal kau bersikap keras. Kenapa kau terlalu lunak dan mengalah pada orang-orang itu? Bukankah kau sebenarnya mampu membunuh orang-orang tak tahu diri itu?"
"Hm, aku tak sampai hati, Thai Liong. Mereka suku bangsaku sendiri. Membunuh mereka rasanya membunuh diri sendiri, aku tak dapat!"
Thai Liong mengangguk-angguk. Memang dia sudah menduga itu. Ituchi berhati lembut dan mulia; pemuda ini agak mirip dengannya, tak dapat bersikap kejam. Ketika pemuda itu menghela napas dan memandang Ji Pin, tiba-tiba dia bertanya.
"Dan kau, kenapa menyuruh Thai Liong membantuku, Ji Pin? Bukankah kau curiga aku adalah pencuri Cermin Naga?"
"Ah, maaf, ampun, Pangeran. Sekarang kecurigaan itu lenyap setelah melihat sepak terjangmu!"
"Apa saja yang kau lihat? Bukankah aku patut dicurigai lagi?"
"Tidak... tidak! Aku salah, Pangeran. Kau ternyata pemuda berwatak mulia dan baik. Sekarang aku yakin bahwa kau bukan pencurinya!"
"Bagaimana bisa yakin? Kebaikan apa yang telah kuperbuat?"
"Ah, sepak terjangmu selama ini, Pangeran. Sikap dan perbuatanmu selama ini. Aku dan Kim-kongcu telah melihat semua yang terjadi di sana!"
"Maksudmu?"
"Hm," Thai Liong maju bicara. "Aku dan Ji Pin telah menyelinap di tengah suku bangsamu itu, Ituchi, dan melihat apa yang kau kerjakan ketika bertanya pada rakyatmu tentang kekejaman dan keserakahan Raja. Kami kagum bahwa kau hendak membela rakyatmu. Sayang, sebelum maksudmu terlaksana, tiba-tiba saja timbul urusan adikmu itu di mana akhirnya kau malah memusuhi ibumu sendiri!"
"Kau tahu itu?"
"Maaf, Ituchi, aku telah mendengar semuanya. Aku prihatin. Dan aku kasihan kepada ibumu itu!"
"Apa? Kasihan?" Ituchi tiba-tiba marah. "Ibumu itu tak tahu malu, Thai Liong. Dia... dia wanita rendah!"
Pemuda ini tiba-tiba gemetar, giginya gemerutuk, dan Thai Liong mengerutkan alis. Sebagai orang luar, dia tak berhak mencampuri urusan pribadi ini, itu urusan Ituchi dengan ibunya. Tapi mendengar pemuda itu memaki ibunya, tiba-tiba dia merasa kurang senang.
"Ituchi, maaf. Kudengar ibumu itu sudah banyak hidup menderita, tak perlu kau memakinya. Kalau kau tak senang, harap simpan saja makianmu. Tak baik rasanya memaki ibu sendiri."
"Benar," Ji Pin menyambung bicara. "Ibumu pahlawan wanita bangsa Han, Pangeran. Kau agaknya belum tahu bahwa dia pembantu rahasia Kaisar!"
"Hm," Ituchi terkejut. "Pembantu bagaimana? Apa yang kau maksud?"
Thai Liong mengedip pada Ji Pin. "Ituchi, sebaiknya kutanya dulu bagaimana rencanamu. Ke mana kau mau pergi dan apakah dua adikmu di sana itu dibiarkan saja?"
"Aku tak punya adik!" Ituchi ketus menjawab. "Aku tak akan kembali ke sana, Thai Liong. Dan biar mereka mati atau apa!"
"Hm, tak bijaksana," Thai Liong menggeleng. "Mereka lahir bukan atas kehendaknya, Ituchi. Kalau kau memusuhi ibumu, tak seharusnya kau memusuhi mereka. Kemarahan terhadap ibumu tak boleh kau bawa-bawa pada dua gadis itu!"
Ituchi tertegun.
"Lihat," Thai Liong berkata lagi. "Salini maupun Nangi tak mengharap turun ke dunia dengan kejadian seperti ini, Ituchi. Sebaiknya kau tekan kemarahanmu dan berpikirlah yang jernih!"
Pemuda itu menggeram. "Thai Liong, sebaiknya tak usah bicara lagi tentang ini. Hatiku sakit, aku ingin melupakan itu!"
"Baik. Dan ke mana kau pergi? Kau mau ke mana?"
Pemuda ini bingung. "Aku ingin mencari pencuri itu! Aku ingin membersihkan namaku!"
Ituchi tiba-tiba mendapat jawaban yang mengejutkan Thai Liong, dan tentu saja pemuda itu terbelalak. Ituchi mengeraskan dagu dan rupanya mendongkol, membuat Ji Pin juga terkejut dan merah mukanya. Laki-laki ini teringat sikapnya terhadap Ituchi, jadi menyesal dan tentu saja tak enak. Tapi ketika dia menggigit bibir karena malu dan jengah, tiba-tiba Thai Liong berkata.
"Ituchi, sebaiknya kau ikut aku saja. Kita menghadap ayah ibuku meminta nasihat!"
"Hm," pemuda ini mengerutkan kening. "Untuk apa? Aku khawatir mengganggu mereka, Thai Liong. Aku tak enak!"
"Tidak, aku mendampingimu, Ituchi. Kita ke sana dan siapa tahu Ayah dapat memberi petunjuk atau nasihat untuk mencari pencuri Cermin Naga ini!"
"Baiklah," muka itu tiba-tiba bersinar. "Pencuri ini benar-benar membuat aku penasaran, Thai Liong. Kalau bukan karena pencuri ini, barangkali kita tak akan bertemu. Aku setuju, boleh ikut denganmu!"
Thai Liong girang. "Kalau begitu tunggu sebentar, Ituchi. Aku mengambil buntalanku yang kelupaan!"
Thai Liong berkelebat, lenyap dari tempat itu dan tersenyum memandang Ji Pin. Laki-laki itu heran karena buntalan Thai Liong sebenarnya ada padanya. Tapi ketika dia tertegun dan membelalakkan mata, ternyata dari jauh tiba-tiba Thai Liong berbisik, mengerahkan ilmunya *Coanbit*, ilmu mengirim suara yang hanya akan didengar laki-laki ini saja.
"Ji Pin, temani Ituchi baik-baik. Aku hendak kembali ke sana mengambil dua gadis itu, menyembunyikan di tempat aman!"
Ji Pin berseri. Tiba-tiba dia mengangguk dan tentu saja setuju. Itu memang betul; Salini dan adiknya bukanlah gadis-gadis yang bersalah. Mereka harus dilindungi dan diberi pertolongan. Begitu dia mengerti dan mengangguk-angguk, maka Ituchi yang heran dan mengerutkan kening bertanya.
"Kenapa kau mengangguk-angguk? Ada apa?"
"Ah, omongan Kim-kongcu memang benar, Pangeran. Sebaiknya kau ke tempat Kim-taihiap untuk meminta nasihat. Siapa tahu kita semua akan memperoleh keterangan!"
"Hm!" Ituchi tak membalas, ganti menganggukkan kepala dan sama sekali tak tahu kalau dikibuli Ji Pin.
"Bagaimana?" bisik laki-laki ini. "Sudah berhasil, Kongcu?"
"Sudah, mereka kusembunyikan di tempat sahabatnya, Ji Pin. Sekarang kita tenang dan dapat melanjutkan perjalanan."
"Ya," kini laki-laki itu berani bersuara keras. "Kita menghadap ayahmu, Kongcu. Mari dan cepat kita pergi!"
Begitulah, Ji Pin sudah mendapat tahu. Tadi secara bisik-bisik dia bertanya tentang keselamatan dua gadis itu, dijawab sudah aman, dan tentu saja laki-laki ini girang. Ketika dia meloncat di atas punggung kudanya dan Thai Liong berkelebat, maka Ituchi hendak mengikuti pemuda itu dengan cara berlari cepat pula.
"Tidak, kau berkuda, Ituchi. Kau masih terluka. Betapapun kecil, tapi tak boleh luka itu robek. Kau naikilah kudamu, aku di sampingmu, mendampingi kalian berdua!"
Thai Liong berkata, cepat mendorong pemuda itu menaiki kudanya dan Ituchi tak dapat menolak. Memang pundaknya masih perih, sudah dibalut, dan luka akibat panahan Raja Cucigawa itu cukup berbahaya kalau tidak dirawat baik. Maka begitu menaiki kudanya dan mengeprak bersama Ji Pin, tiga orang ini segera meninggalkan tempat itu.
"Hei, kau sudah kembali, Liong-ko? Bersama Ituchi? Eh, mana Ji Pin?" Begitu Soat Eng menyambut ketika kakaknya berkelebat di depan rumah.
Di belakangnya mengiring Ji Pin yang menunggang kuda. Sayang, laki-laki itu tertinggal karena Ituchi membalap, mengejar Thai Liong yang menambah kecepatan larinya. Ketika dua orang itu tertawa-tawa dan tiba mendahului, Ji Pin ditanya karena tak kelihatan di belakang; tak tahunya laki-laki itu pun muncul dan akhirnya mendengar pertanyaan Soat Eng.
Ketika Soat Eng tertegun melihat pundak Ituchi yang dibalut, laki-laki itu berseru di balik kepulan debu kudanya, "Hei, aku di sini, Kim-siocia. Kalah dibalap...!"
Soat Eng menoleh. Akhirnya dia melihat laki-laki itu, tertawa, dan Ituchi sudah meloncat turun. Pemuda ini membersihkan bajunya dan sudah menghampiri Soat Eng, memberi hormat. Ketika Soat Eng tersipu dan balas mengangguk, maka Ji Pin dan kakaknya sudah bertanya di mana Ayah dan Ibunya.
"Ayah sedang bersamadhi, Ibu keluar."
"Hm, tak apa. Kalau begitu mari masuk, Ituchi. Ayah di dalam."
"Kenapa dia? Terluka?"
"Benar, diserang Raja Cucigawa, Eng-moi. Apa yang dikhawatirkan Ayah akhirnya terjadi!"
"Bagaimana itu?"
"Nanti saja di dalam, kita menemui Ayah dulu."
Soat Eng yang sadar dan cepat menahan diri lalu mengajak tamunya ke dalam. Tak tahunya Pendekar Rambut Emas tiba-tiba sudah berdiri di situ. Ji Pin sampai mengkirik karena munculnya pendekar itu seperti iblis saja. Tak tampak gerakannya dan tahu-tahu sudah ada di situ, berdiri seperti hantu! Ketika Ituchi juga terkejut namun cepat memberi hormat, maka pendekar ini tersenyum menyambut pemuda itu.
"Bangunlah, aku gembira melihat kedatanganmu, Ituchi. Tentu ada sesuatu yang penting hingga kau datang ke mari."
"Benar," pemuda ini mengangguk. "Thai Liong mengajakku ke mari, Paman, mohon nasihat."
"Hm, dan kau terluka. Apakah diserang Raja?"