Halo!

Istana Hantu - Chapter 59

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 59

"Benar, Ayah," Thai Liong kini ikut bicara.

"Dan Ituchi hampir saja tewas!"

"Hm, masuklah. Kita duduk." Pendekar Rambut Emas melirik Ji Pin agar keluar. Setelah laki-laki itu mengerti dan melangkah keluar, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan lain.

Ketika Ituchi memandang dan ternyata itu adalah istri Pendekar Rambut Emas, pemuda ini buru-buru menjura.

"Bibi, maaf. Aku datang!"

"Ah, kau, Ituchi?" Wanita ini terkejut. "Kiranya kau dan Thai Liong?"

"Benar, aku, Bibi. Thai Liong mengajakku ke mari."

"Dia mau mencari pencuri itu. Ituchi sekarang dimusuhi suku bangsanya sendiri!" seru Thai Liong yang mengejutkan ibunya, namun Pendekar Rambut Emas segera terbatuk-batuk menyuruh mereka duduk.

Semuanya sudah ada di ruang dalam dan pendekar ini meminta agar mereka tidak bicara sendiri-sendiri. Setelah semua mengangguk dan duduk di ruangan yang besar, Thai Liong mendahului dengan berkata bahwa Ituchi sedang berada dalam kesulitan pribadi terkait masalah ibu dan suku bangsanya.

"Ituchi sekarang telah dimusuhi suku bangsanya. Sebaliknya, dia juga memusuhi ibunya. Harap Ayah memberi nasihat apa yang harus dilakukan dalam saat seperti ini!"

"Hm, apa yang terjadi? Coba kau terangkan, Liong-ji. Barangkali aku dapat menjawabnya."

Thai Liong bercerita. Dia mengisahkan permusuhan yang terjadi antara pemuda ini dengan Cucigawa, bermula dari kehendak raja yang ingin mengawini Salini dan Nangi. Hal itu tidak disetujui dua kakak beradik tersebut dengan alasan mereka masih terlalu muda dan dikhawatirkan tidak dapat melayani raja.

Namun, ketika perkembangan menjadi lebih rumit setelah Ituchi menyebutkan bahwa raja dan dua orang gadis itu masih ada hubungan darah, Cucigawa membalikkan keadaan dengan mengatakan bahwa ibu pemuda itu pun kawin dengan anak tirinya sendiri, mendiang Cimochu.

"Maaf, Ayah tentunya lebih tahu. Tak enak rasanya aku menceritakan bagian ini!"

"Hm," Pendekar Rambut Emas mengangguk-angguk, melihat wajah Ituchi yang memerah padam. "Kau betul, Liong-ji. Lalu apa yang menjadikan Ituchi memusuhi ibunya?"

"Dia tak senang mendengar itu, Ayah. Menganggap raja memfitnah dan akhirnya terjadi geger. Ituchi menyambar ibunya, disuruh menolak tuduhan itu. Tapi ketika Bibi Cao Cun mengaku dan memang tidak salah, maka Ituchi marah dan membenci ibunya!"

"Hm, wanita yang malang," Pendekar Rambut Emas menarik napas. "Kau tak boleh membenci ibumu, Ituchi. Kau tak tahu betapa menderitanya ibumu itu. Kau harus minta maaf."

"Apa?" Pemuda ini mengangkat mukanya, matanya tiba-tiba bercahaya. "Paman menyuruhku minta maaf? Padahal... padahal ibuku itu yang tak tahu malu?"

"Dengar," pendekar ini tiba-tiba bersikap keren. "Aku adalah orang yang paling tahu tentang ibumu itu, Ituchi. Masa mudanya lebih pahit daripada masa mudaku. Ibumu melakukan semuanya itu dengan terpaksa; dia adalah pembantu kaisar yang amat berjasa!"

Ituchi terbelalak.

"Kau harus berpikir lebih tenang," pendekar ini melanjutkan kata-katanya. "Barangkali kau tak tahu bahwa ibumu itu adalah mata-mata yang ditaruh kaisar di tengah-tengah suku bangsa ayahmu, Ituchi. Bahwa ibumu adalah pahlawan wanita yang menjadi korban dari strategi politik. Kau harus tahu bahwa bangsa Han sering diancam bangsa-bangsa liar yang ingin mencaplok wilayahnya!"

"Lalu?"

"Lalu ibumu dipasang. Di antara semua bangsa liar, hanya bangsa Tartar dan suku bangsa ayahmu yang dianggap paling berbahaya oleh kaisar. Kaisar khawatir dua bangsa ini akan menyerang atau mengganggu bangsa Han. Namun, karena bangsa Tartar berada di bawah pimpinanku dan aku juga tak suka perang, bangsa ini dapat kukendalikan, tapi bangsa ayahmu tidak!"

Ituchi menggigil. "Paman, aku tidak mengerti apa hubungannya ini dengan ibuku."

"Banyak hubungannya," pendekar itu meneruskan. "Karena bangsa ayahmu adalah orang yang suka berperang dan rata-rata bertemperamen tinggi, kaisar dan para penasihatnya mulai mengatur siasat. Mereka menjalin hubungan baik dengan suku bangsa ayahmu, begitu juga dengan bangsaku. Dan karena hubungan baik itu harus selalu dijaga dan diawasi, ibumu itulah yang akhirnya menjadi pengawas yang ditunjuk!"

"Aku belum mengerti," pemuda ini masih tak puas. "Aku ingin tahu apa hubungannya itu dengan semuanya ini, Paman. Perkawinan ibuku dengan Cimochu!"

"Dengar dulu, jangan tergesa-gesa," Pendekar Rambut Emas mengangkat lengannya. "Cerita ini panjang, Ituchi. Jangan dipotong kalau kau ingin mengerti!"

Pendekar itu lalu menjelaskan dengan panjang lebar apa yang sesungguhnya dialami Cao Cun. Bahwa wanita itu menjadi korban dari strategi politik dan ketamakan Mao-taijin. Mulanya, Cao Cun hendak dijadikan selir kaisar, yakni mendiang kaisar lama, namun akhirnya wanita itu ditemukan Raja Hu, ayah dari pemuda ini. Karena Raja Hu tergila-gila pada Cao Cun dan meminta agar wanita itu diserahkan padanya, kaisar lama menuruti permintaan itu dengan berat hati, meskipun ia merasa jatuh cinta kepada putri Bupati Wang tersebut. Cinta yang terlambat!

Setelah kaisar menyerahkan wanita itu kepada Raja Hu dan meminta agar Cao Cun "mengendalikan" suku bangsa liar itu lewat suaminya, Ituchi tertegun ketika Pendekar Rambut Emas menutup ceritanya.

"Ibumu diminta agar mengendalikan dan mengawasi gerak-gerik suku bangsa ayahmu agar tidak menyerang dan selalu menjalin hubungan baik dengan bangsa Han. Karena ayahmu tergila-gila dan amat mencintai ibumu, pekerjaan ibumu berhasil. Sebenarnya ibumu menderita; mula-mula ia tak menyukai ayahmu karena ayahmu termasuk laki-laki dari bangsa liar. Tapi karena tugas telah diterima dan ternyata ayahmu juga baik kepadanya, ibumu pun mencintainya. Sayang, tidak lama, karena hanya beberapa tahun saja kemudian ayahmu meninggal."

"Dan tahukah kau kenapa ibumu mula-mula tak suka kepada ayahmu? Apakah semata karena ayahmu termasuk bangsa liar? Tidak, kuberi tahu padamu, Ituchi. Ibumu tak suka karena waktu itu ibumu mencintai pamanmu ini. Dulu mereka berdua demikian akrab hingga ibumu menutup pintu hatinya terhadap orang lain, kaisar sekalipun!"

Swat Lian, nyonya cantik itu, tiba-tiba bicara menyambung. Ituchi terkejut, sementara Pendekar Rambut Emas sendiri tersenyum kecut. Pendekar ini mengangguk tak malu dan mengakui hal itu. Tidak ada cemburu di hati istrinya karena peristiwa itu adalah kisah masa lalu; mereka sekarang sudah merupakan orang-orang setengah tua. Soat Eng jengah, namun sang ibu bicara blak-blakan.

Ketika Ituchi tertegun memandang nyonya cantik itu, Swat Lian bicara lagi dengan pandangan bersinar.

"Lihat, betapa besar penderitaan ibumu, Ituchi, tapi betapa agung dan mulia wataknya. Demi negara dia mau mengabdi dan rela menerima hinaan, termasuk darimu, anak sulungnya!"

Ituchi terkejut. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Tak lama kemudian, Ituchi mengeluh dan menangis. Ketika Swat Lian mengatakan bahwa adalah dosa baginya memusuhi ibu sendiri, pemuda itu mengguguk dan menutupi mukanya.

"Maaf, aku... aku tak tahu, Bibi. Aku tak mendengar riwayatnya. Kalau begitu aku salah, juga terhadap dua adikku, Salini dan Nangi. Ah, aku harus menyelamatkan mereka, aku harus mengambil adikku!"

Ituchi tiba-tiba melompat bangun, teringat adiknya. Wajahnya pucat membayangkan Salini dan Nangi akan dipaksa raja, tak ada lagi yang melindungi mereka. Namun, ketika dia ditepuk dan Thai Liong bangkit menegurnya, pemuda ini bertanya, "Kau mau ke mana?"

"Menemui adikku, mengambil mereka!"

"Terlambat, kau tadinya tak mau, Ituchi. Kalau saja aku tak bergerak cepat dan membawa adikmu itu, tentu mereka sudah di bawah kekuasaan Cucigawa!"

"Apa? Maksudmu..."

"Benar, aku telah menyelamatkan adikmu itu, Ituchi, ketika aku berkata mengambil buntalan!"

"Ooh...!" Ituchi terkejut tapi girang. Dia tiba-tiba menubruk dan memeluk Thai Liong, meremas dan mencengkeramnya sambil menahan sedu sedan. Kegembiraannya demikian besar dan meluap.

Ketika pemuda itu menyatakan terima kasih, Thai Liong mendorong dan tersenyum memandangnya. "Tak usah berterima kasih. Kita adalah sahabat, Ituchi. Sekarang dengarkan kata-kataku supaya kau tidak ceroboh lagi. Ayah benar, kau harus berpikir lebih jernih agar tidak terhanyut dalam emosi."

Ituchi terharu. Sekarang dia mendapat kenyataan bahwa keluarga Kim-mou-eng adalah keluarga baik-baik. Pendekar Rambut Emas dan anak istrinya benar-benar orang gagah.

"Kau benar. Aku hampir salah dua kali dengan membiarkan dua adik perempuanku di sana, Thai Liong. Ah, syukurlah kalau kau telah menyelamatkan mereka. Di mana mereka kau sembunyikan? Dan bagaimana dengan ibuku pula?"

"Mereka kubawa di tempat yang aman, Ituchi. Di tempat orang-orang yang tidak menyukai Cucigawa. Sedang ibumu sendiri, hmm... dia selamat, tak apa-apa. Kecuali terpukul dan agaknya jatuh sakit!"

"Kalau begitu aku harus ke sana, Raja Cucigawa mungkin akan mencelakakan Ibu!"

"Tak mungkin," Pendekar Rambut Emas tiba-tiba berkata. "Ibumu masih di bawah lindungan kaisar, Ituchi. Tak ada siapa pun yang berani mengganggu ibumu!"

Ituchi tertegun.

"Kau sangsi, bukan? Nah, boleh kau ke sana lagi, Ituchi. Tapi biar bersama Thai Liong dan jangan membuat keributan. Thai Liong rupanya mau pergi dan memang hendak kutugaskan untuk mencari pemuda pencuri itu!"

Ituchi girang. "Begitukah? Baik, kalau begitu aku senang sekali, Paman. Dan aku juga akan mencari maling hina itu!"

"Aku tak boleh ikut?" Soat Eng tiba-tiba bertanya, berdebar memandang sang ayah.

Namun, ketika sang ayah menoleh pada sang ibu dan Swat Lian menggeleng, ternyata nyonya ini mempertahankan puterinya. "Tidak. Sudah kubilang sementara ini kau menemani aku, Eng-ji."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment