Chapter 60
Setidak-tidaknya sampai adikmu lahir.
"Kau tahu betapa repotnya kami!"
"Baiklah," Soat Eng menahan kekecewaan. "Kau hati-hatilah, Liong-ko. Dan juga Ituchi."
"Ah, terima kasih," Ituchi menganggukkan kepala dengan wajah berseri-seri. "Aku tentu berhati-hati, Soat Eng. Dan bersama kakakmu tentu aku lebih aman!"
"Baiklah, kalau begitu apakah kami berdua boleh pergi sekarang?" Thai Liong tersenyum, sedikit kasihan memandang adiknya. "Kalau boleh kami ingin cepat berangkat, Ayah. Dan kami tentu akan berhati-hati di jalan."
"Berangkatlah," sang ayah mengangguk. "Dan lindungi Ituchi, Liong-ji. Betapapun dia masih terluka, tak mungkin kami menahannya lebih lama di sini. Kalian berdua hati-hatilah, waspada di jalan."
Dua orang itu mengangguk. Ituchi sudah mengucap terima kasih dan memberi hormat; ia memandang penuh keharuan kepada Pendekar Rambut Emas. Ternyata pendekar ini adalah bekas orang yang amat dicintai ibunya. Tak aneh, Kim-mou-eng memang hebat dan gagah perkasa.
Ketika Ituchi berpamit pula pada Soat Eng, dua orang pemuda itu berkelebat pergi. Soat Eng mengangguk, kembali menahan kekecewaan, namun ia tahu keinginan ibunya. Ibunya perlu teman dan biarlah kalau adiknya sudah lahir ia akan pergi. Maka, begitu kakaknya pergi dan Ituchi juga lenyap, Soat Eng dipeluk ibunya dan ditepuk-tepuk halus.
"Kau tak akan meninggalkan ibumu, bukan?"
"Tidak," gadis ini terisak. "Tapi beri kebebasan lain kali kepadaku, Ibu. Kalau kau sudah melahirkan!"
"Tentu, dan sekarang bantu ibumu di dapur, Eng-ji. Ibumu tadi mendapat seekor kijang!"
Pendekar Rambut Emas tersenyum. Untuk kedua kalinya ia melihat istrinya mencegah Soat Eng, diam-diam ia melihat sinar aneh pada pandang mata putrinya itu. Namun, ketika keduanya masuk ke dalam dan dua pemuda itu sudah lenyap dari ruangan tersebut, pendekar ini pun menarik napas panjang dan meneruskan samadhinya.
"Hei, apa yang kau bawa itu, Togur? Kau main-main apa?"
Siauw-jin, si iblis cebol, tiba-tiba terkejut ketika suatu hari ia mendapati muridnya, Togura, asyik dengan sebuah benda yang bercahaya di tepi laut. Kakek ini berkelebat dan tahu-tahu sudah mendekati muridnya itu. Togura, pemuda tinggi besar ini, terkejut, namun tertawa dan segera bangkit berdiri menyimpan benda yang dengan cepat diketahui sebagai sebuah cermin oleh gurunya.
"Suhu, kau tak usah berteriak-teriak. Aku tak ingin diganggu. Kau pergilah, aku tak mempunyai apa-apa."
"Bohong! Itu tadi, ah... bukan Cermin Naga yang kau bawa, anak siluman? Bagaimana kau mendapatkannya? Dari mana?"
"Hm," Togura, pemuda itu mengerutkan kening, matanya bersinar-sinar. "Kau bicara tak karuan, Suhu. Kau gila! Siapa membawa Cermin Naga dan bagaimana aku mendapatkannya? Tidak, aku membawa cermin biasa, Suhu. Cermin untuk mengaca diriku!"
"Bohong! Coba kulihat, Togur. Serahkan pada gurumu dan jangan membantah!"
Pemuda ini menyeringai. Dengan tenang ia mengangguk dan mengambil cermin itu untuk diberikan kepada gurunya. Tapi ketika sebuah tonjolan tampak di saku yang lain dan mata awas Hek-bong Siauw-jin tak dapat ditipu, tiba-tiba iblis cebol ini membentak dan langsung menyerang muridnya.
"Bukan ini... itu!" si kakek iblis menyambar, maksudnya ingin memaksa muridnya bersikap baik dan menyerahkan benda tersebut.
Namun ketika Togura melejit dan tahu-tahu hilang, kakek ini terkejut dan memekik. "Hei, jangan main-main, Togur. Serahkan benda itu dan biar kulihat!"
Kakek ini membalik, melihat muridnya sudah ada di sebelah kanan dan tentu saja ia kembali menubruk. Namun ketika lagi-lagi muridnya menghilang dan bergerak lebih cepat dari siluman, tahu-tahu muridnya itu sudah berada di belakang. Kakek ini menjerit dan berkelebatan, kian lama kian cepat, namun tetap saja muridnya itu tak mampu ditangkap.
Togura memiliki gerak yang lebih cepat darinya, padahal pemuda itu adalah muridnya. Ketika kakek itu memaki-maki dan mulai melancarkan pukulan atau tamparan, Togura tertawa dan kini menampakkan diri, menyambut pukulan gurunya itu.
"Dess!" Si kakek pendek mencelat. Siauw-jin berjungkir balik enam kali sebelum mendarat dengan muka pucat. Kakek itu berseru tertahan namun menyerang lagi, semakin marah. Namun ketika ia menambah tenaganya dan mencelat terbanting, kakek ini mengeluh dan pucat karena mengenal ilmu itu.
"Khikang, kau memiliki Khikang...!"
Ketika kakek ini terhuyung dan terbelalak memandang muridnya, Siauw-jin kembali gemetar berseru, "Dan ilmu meringankan tubuhmu itu... ah, bukankah Jing-sian-eng, Togura? Kau benar-benar telah mendapatkan Cermin Naga?"
"Hm," Togura tak menyembunyikan diri lagi. "Jangan keras-keras, Suhu. Aku memang telah mendapatkan cermin itu dan jangan kau melapor pada yang lain. Atau kau mampus dan kucekik di sini!"
Togura tiba-tiba berkelebat dan tahu-tahu telah menangkap leher gurunya hingga Siauw-jin tercekik. Ia kalah cepat dengan gerakan muridnya ini. Maklumlah, muridnya mempergunakan Jing-sian-eng, sebuah ilmu meringankan tubuh yang hebatnya bukan main, ilmu yang dimiliki Hu Beng Kui dan menantunya, juga putrinya yang menjadi istri Pendekar Rambut Emas itu.
Ketika kakek ini mengeluh dan untuk pertama kalinya terbelalak gentar, Togura sudah melepaskan cekikannya.
"Awas, kuperingatkan kau, Suhu. Jangan melapor atau kau kubunuh!"
"Setan!" sang guru menggeleng-gelengkan kepala, melemaskan tulangnya. "Tenagamu hebat bukan main, Togur. Cekikanmu serasa tanggem baja!"
"Jangan ribut," pemuda itu berkata. "Aku tak ingin diketahui orang lain, Suhu. Penemuanku ini kulakukan susah payah dan cukup berbahaya."
"Dari mana kau mengambilnya?"
"Ce-bu."
"Ketika Hu Beng Kui masih hidup?"
"Bodoh! Siapa dapat melakukan itu? Tidak, justru kuambil setelah jago pedang itu dihajar See-ong, Suhu. Aku menipu pembantunya dan perempuan tua itu terkecoh!"
Togur tertawa berseri, teringat pengalamannya di Ce-bu, dan kiranya pemuda ini yang mencuri Cermin Naga. Memang ada kemiripan postur tubuh di antara Ituchi dan murid Hek-bong Siauw-jin. Keduanya sama-sama tinggi besar dan berkulit kehitaman, sama-sama keturunan bangsa luar Tiongkok. Ituchi keturunan dari Raja Hu, sedang Togur ini adalah keturunan Gurba, raksasa yang menjadi suheng Kim-mou-eng.
"Aih, aku dan guru-gurumu bodoh, Togur. Kalau tahu begitu, barangkali aku yang akan mendahului!"
"Hm, kau menginginkan cermin ini?"
"Tidak," sang guru tertawa, diam-diam bergidik melihat pandangan mata muridnya yang kejam dan amat dingin. "Aku si tua bangka ini tak menginginkannya lagi setelah berada di tanganmu, Togur. Kami orang-orang tua tentu tak bernafsu lagi. Jatuh di tanganmu sama saja artinya, kau muridku!"
"Hm, kalau kau ingin boleh saja, Suhu, tapi tentu hanya bersifat pinjam!"
"Tidak... tidak!" sang kakek terkekeh. "Kalau kau tak mengizinkannya tentu aku tak berani pinjam, Togur. Kecuali kalau kau yang memberikannya sendiri dan atas perkenanmu!"
"Hm, sementara ini aku belum berniat meminjamkannya, Suhu. Aku belum mempelajari ilmu itu sepenuhnya!"
"Tapi kau sudah memiliki Khikang dan Jing-sian-eng!"
"Benar, tapi Pendekar Rambut Emas dan istrinya memiliki Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang, Suhu. Aku masih kalah!"
Hek-bong Siauw-jin terbelalak. Memang benar, dua suami-istri hebat itu memiliki Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang, dapat menggabung dua ilmu itu dengan Khikang atau Jing-sian-eng. Namun, kakek ini memandang muridnya dengan heran, "Eh, yang kau dapat saja sudah hebat, Togur. Kau dapat mengalahkan kami semua, gurumu!"
"Benar, tapi bukan See-ong, Suhu. Aku masih tak puas!"
"Tapi kau sudah lihai, di atas kami!"
"Hm, betapapun aku belum puas, Suhu. Aku masih ingin yang lebih tinggi lagi!"
"Kalau begitu apa yang mau kau perbuat?"
"Aku ingin keluar, mencari atau mencoba menangkap putri Pendekar Rambut Emas!"
"He, maksudmu?"
"Sudahlah, kau lihat saja, Suhu. Aku akan membuat kejutan dan kau pasti girang!"
"Hm, hati-hati," sang kakek tak tertawa. "Putra-putri Pendekar Rambut Emas hebat semua, Togur. Dan kau bisa ketahuan bahwa kaulah pencuri Cermin Naga!"
"Goblok! Kenapa tak berotak? Kau bodoh, Suhu, tolol melebihi kerbau! Lihat, kalau begini bagaimana?"
Togura tiba-tiba mengambil topeng dan menutupi mukanya. Sang suhu pun terbelalak. Kalau Togura tidak sedemikian lihai dan sudah mewarisi kepandaian dari Cermin Naga, barangkali pemuda itu akan dihantam dan dibunuh si kakek cebol. Bayangkan, ia dimaki goblok dan tolol, melebihi kerbau! Tapi karena pemuda itu sekarang bukan lawannya dan makian ini ditelan seperti orang menelan pil pahit, maka Hek-bong Siauw-jin tertawa dan bahkan memuji, "Setan, kau benar-benar cerdik, Togur."