Halo!

Istana Hantu - Chapter 61

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 61

"Rupanya semua ini sudah kau rencanakan dan diperhitungkan!"

"Tentu, kalau tidak, mana mungkin aku berani melakukan semuanya ini, Suhu? Kalau aku tak dapat mengalahkan gadis itu, minimal kami seri!"

"Hm-hmm... Kenapa kau memilih gadis itu? Kau suka padanya?"

"Ha-ha, sebagai laki-laki, tentu saja aku menyukai gadis itu, Suhu. Dia cantik dan gagah, lagi pula dia puteri Pendekar Rambut Emas. Kalau aku dapat menangkap dan mengawininya, tentu aku sudah menjadi menantu Kim-mou-eng!"

"Tak mungkin," sang Suhu menggeleng. "Mereka orang-orang golongan bersih, Togur. Kita orang-orang sesat yang selalu dimusuhi Kim-mou-eng!"

"Kenapa begitu bodoh? Kalau aku... ha-ha, kalau aku dapat menggauli gadis itu dan memaksanya menjadi kekasihku, tak mungkin ayahnya menolak, Suhu. Aku harus menjadi menantu Kim-mou-eng dan memaksa gadis itu!"

"Hm, kau mau memperkosanya?" Sang guru terbelalak. "Kau tak takut kemarahan gadis itu? Ingat, puteri Pendekar Rambut Emas itu galak dan ganas, Togur. Dia melebihi ibunya dan seperti harimau betina yang tak pernah makan!"

"Ha-ha, aku akan menundukkannya. Aku yang akan memberikannya makan. Kalau dia sudah jatuh di tanganku dan aku berhasil memilikinya, tentu dia tak akan berdaya lagi!"

"Baiklah, kau pemberani, Togur. Pantas menjadi murid Enam Iblis Dunia!"

Hek-bong Siauw-jin tertawa, mengangguk-angguk puas, dan tampaknya ia kagum akan tekad atau rencana muridnya ini. Kalau puteri Pendekar Rambut Emas itu sudah berhasil digagahi muridnya, tak mungkin ada pemuda atau laki-laki lain yang sudi menikahi gadis itu. Maka, rencana muridnya ini agaknya berhasil; ia dapat menjadi menantu Pendekar Rambut Emas dan dunia akan tertawa. Kim-mou-eng, pendekar pembela kebenaran itu, akan jatuh mukanya berbesan dengan Enam Iblis Dunia; mau tak mau pasti menerima. Kakek itu pun geli.

Ketika ia terbahak dan memuji muridnya, sebuah bayangan berkelebat. Nenek Naga, satu dari enam guru Togur yang kini tinggal lima, mendadak muncul.

"Ada apa ini? Kenapa tertawa-tawa?"

"Ha-ha, aku geli mendengar rencana murid kita, Nenek bau. Togur hendak mencari dan menangkap puteri Pendekar Rambut Emas!"

"Huh, dengan kepandaiannya yang seperti ini?" Nenek itu mendengus. "Jangan mimpi, Togur. Ayo, kau membantu kami menjaga pulau!"

Si nenek mengebut, maksudnya hendak menangkap dan melempar muridnya itu. Togur dan Hek-bong Siauw-jin dicarinya ke mana-mana; mereka harus bergantian berjaga, tak tahunya dua orang ini malah bercakap-cakap seenaknya sendiri. Kini mendengar rencana muridnya, nenek itu mengejek—tentu saja mengejek karena ia sendiri tak menang menghadapi gadis yang lihai itu.

Tapi ketika Togur berkelit dan cengkeraman atau sambarannya luput, tiba-tiba nenek ini terbelalak, kaget.

"Eh, jangan main-main, Togur. Kau harus menjaga pulau dan pergilah ke selatan!"

Si nenek marah, bergerak dan berkelebat lebih cepat lagi, namun sang murid tiba-tiba menghilang. Jauh lebih cepat dan gesit, muridnya itu lenyap mendahului gerakannya. Ketika si nenek tertegun dan mendengar tawa di sebelah kiri, tahu-tahu Togur menjewer telinganya dan berseru, "Subo, jangan macam-macam. Sebaiknya kau yang pergi dan jangan ganggu aku!"

"Aduh!" Si nenek menjerit. "Bangsat keparat kau, Togur. Berani benar terhadap guru!"

Nenek itu pun naik pitam dan marah bukan kepalang. Ia tiba-tiba membentak dan menghantam muridnya; satu pukulan melayang keras, namun si pemuda tiba-tiba melejit lenyap. Togur tertawa dan kembali menghilang, kali ini memperdengarkan suara tawanya di sebelah kanan. Ketika sang Subo membalik dan menghantam ke situ, pemuda ini lenyap lagi dan sebuah batu karang dihajar hancur.

"Blarr!"

Si nenek terkejut dan memaki-maki. Togur mempermainkannya, dan nenek itu masih belum sadar akan kepandaian muridnya yang hebat luar biasa. Ketika Hek-bong Siauw-jin didengarnya terbahak-bahak, nenek ini membentak dan berkelebatan cepat. Ia mengejar pemuda itu dan memberi pukulan bertubi-tubi, cepat dan kuat, namun anehnya semua pukulannya luput. Serangan-serangannya selalu mengenai angin kosong dan muridnya sudah menghilang.

Saat nenek itu terkejut dan mulai sadar bahwa sesuatu yang lain mulai terjadi, ia terperangah ketika tamparan tangan kirinya kini ditangkis sang murid.

"Subo, berhentilah. Lihat apa ini.... dess!"

Sang nenek menjerit, terlempar berjungkir balik, namun ia masih penasaran. Tubuhnya yang ada di udara tiba-tiba memutar melayang turun. Nenek itu melengking dan melepas satu pukulan jarak jauh—tidak tanggung-tanggung, yang dilepas adalah Tee-sin-kang atau Pukulan Bumi. Ketika muridnya tertawa dan berani menangkis pukulannya itu, nenek ini mencelat dan berseru tertahan, terguling-guling.

"Khikang...!"

Nenek itu terkesiap, melotot matanya, dan kini terhuyung meloncat bangun. Apa yang dilihat kali ini tak diragukannya lagi; ia terpekik menyebut ilmu itu—ilmu yang tentu saja dikenalnya baik karena ilmu itu adalah ilmu yang selama ini tak dapat dilawannya: Khi-bal-sin-kang.

Ia batuk, sesak napas, dan kalau ia tidak cepat membuang pukulan itu, tentu ia akan memuntahkan darah segar! Ketika si nenek pucat memandang muridnya sementara sang murid tertawa bergelak, Togur berseru gembira, "Betul, kau tidak salah, Subo. Yang kumiliki tadi adalah Khikang!"

"Dan ginkangmu (ilmu meringankan tubuh) tadi, ah... bukankah Jing-sian-eng? Keparat, aku tadinya tak percaya, bocah. Tapi kini sekarang aku yakin bahwa kau memiliki Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng! Jahanam, bagaimana kau dapat memiliki dua ilmu itu? Bukankah itu adalah milik Hu-taihiap dan anak serta mantunya?"

"Ha-ha, aku mendapat keberuntungan, Subo. Kebetulan saja mendapatkan ilmu-ilmu itu..."

"Dia mendapatkan Cermin Naga!" Siauw-jin, si kakek cebol, berseru menyambung kata-kata muridnya. "Togur telah mampu mengalahkan kita, Nenek bau. Dia sudah selihai dan sehebat Hu Beng Kui!"

"Apa?"

"Benar, Nenek bau. Murid kita ini telah mendapatkan Cermin Naga dan dia sudah sama dengan mendiang Hu-taihiap. Kita tak dapat menandinginya, murid kita ini jauh lebih hebat daripada kita sendiri, ha-ha!"

Si nenek terkejut, terbelalak memandang muridnya dengan bengong. Cerita yang disampaikan Siauw-jin ini serasa petir di siang bolong. Tapi ketika ia tertegun memandang si murid, tiba-tiba saja berkelebat tiga bayangan lain dengan dengus marah.

"Siapa mendapatkan Cermin Naga? Bocah ingusan ini? Bohong, biar kucoba dia, Siauw-jin, dan lihat apakah benar dia selihai Hu-taihiap!"

Cam-kong yang tiba-tiba muncul bersama Toa-ci dan Ji-moi langsung melepas Cam-kong-ciang (Pukulan Pembunuh Petir). Siauw-jin dan Nenek Naga terkejut karena pukulan itu adalah pukulan mematikan; Togur bisa terlempar oleh serangan yang amat hebat ini. Tapi ketika pemuda itu melompat ke kiri dan tertawa mengejek, tiba-tiba ia mengangkat tangan kirinya dan pukulan dahsyat dari gurunya diterima dengan sebelah lengan.

"Dess!"

Cam-kong mencelat terguling-guling. Kakek tinggi kurus ini terkejut karena pukulannya membalik; ia terlempar, tergetar, dan terguncang seluruh tubuhnya. Namun, ketika kakek itu membentak dan menyerang lagi, tiba-tiba Cam-kong lenyap berkelebat mengelilingi muridnya, melepas pukulan atau tamparan bertubi-tubi.

Togur berlompatan mengelit ke sana ke mari, kian lama kian cepat melebihi kecepatan gurunya sendiri. Maklum bahwa sang guru hendak melihat Jing-sian-eng-nya, pemuda itu gembira dan tertawa. Ketika sang guru terbelalak kaget mengeluarkan seruan berulang-ulang, pemuda ini menangkis dan sekali lagi gurunya mencelat terlempar jauh. Kesombongan Togur pun muncul.

Ia menyuruh kakek itu maju lagi disertai yang lain. Hek-bong Siauw-jin dan ketiga nenek yang lain disuruh mengeroyok; ia akan menunjukkan pada semuanya bahwa ia sekarang bukanlah Togur yang dulu. Toa-ci dan Ji-moi membentak berbarengan karena kaget melihat kelihaian pemuda ini. Tiba-tiba mereka sudah berkelebat dan mengeroyok seperti permintaan pemuda itu, melepas Mo-seng-ciang (Pukulan Bintang Iblis). Segera Nenek Naga serta Siauw-jin juga berseru keras. Mereka gembira mendengar permintaan itu; sang murid minta diuji, maka mereka bergerak dan berkelebat lenyap.

Ketika Cam-kong di sana juga menubruk dan menyerang, Togur sudah dikeroyok dan dikerubuti lima orang gurunya. Mereka melancarkan pukulan-pukulan dahsyat, tendangan, dan tamparan. Semuanya tidak main-main lagi karena kelihaian pemuda ini segera membuat kelima gurunya penasaran.

Ketika Togur mengeluarkan Jing-sian-eng-nya dan segera berkelebatan mendahului gurunya, pukulan-pukulan Khikang juga dilepaskan. Menjerit dan berteriak kagetlah tiga orang guru wanita tersebut karena mendapati kenyataan bahwa murid mereka benar-benar mewarisi dua ilmu luar biasa itu. Mereka terpental dan bayangan sang murid akhirnya balik mengelilingi mereka; jadi bukan pemuda itu yang dikelilingi!

Ketika Togur tertawa-tawa dan mulai membagi tamparan atau tendangan, lima gurunya kalang-kabut dihajar pemuda itu.

"Ha-ha, lihat! Ini bukti kepandaianku, Suhu. Dan ini untuk kalian... des-dess!"

Sang guru tunggang-langgang; semua pukulan membalik dan baik Mo-seng-ciang maupun Cam-kong-ciang tak ada yang mempan. Togur benar-benar mempermainkan kelima gurunya. Akhirnya Siauw-jin berteriak keras, bertanya apakah boleh mengeluarkan senjata.

Pemuda itu menantang, maka mereka pun mengeluarkan senjata khas yang aneh. Nenek Naga Bumi mengeluarkan jarum dan benangnya, menusuk dan mencolok. Segera semuanya ramai bertanding seru. Togur dikeroyok guru-gurunya, namun pemuda ini enteng saja tertawa sambil menangkis atau membiarkan senjata-senjata itu mendarat di tubuhnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment