Halo!

Istana Hantu - Chapter 63

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 63

Saat Soat Eng membentak marah dan mempercepat larinya, tiba-tiba Kokthai yang melihatnya berseru pucat, girang, namun menggigil.

"Siocia, tolong. Aku... aku dibawa orang gila!"

Soat Eng gusar. Melihat seorang pembantu ayahnya diculik dan dibawa kabur tentu saja membuatnya marah. Jing-sian-eng dikerahkan dan tubuh gadis itu tiba-tiba melesat melebihi kecepatan anak panah. Sesuai kebiasaannya, ia segera hendak menangkap lawannya itu dengan berjungkir balik dan menghadang di depan.

Namun, ketika bayangan itu tertawa aneh dan menggerakkan tangan terkembang seperti dirinya, tiba-tiba Soat Eng tersentak karena lawan juga terbang dan melesat melebihi kecepatan anak panah, persis seperti dirinya.

"Jing-sian-eng!" Soat Eng terpekik. Ia segera mengenali gaya ilmu lari cepat itu dan merasa kaget bukan main. Ia tidak percaya dan mengerahkan lagi ilmu lari cepatnya, namun lawan juga melakukan hal yang sama. Tangan yang terkembang seperti burung hendak terbang jelas merupakan permulaan dari gerakan Jing-sian-eng. Ketika Soat Eng membentak dan terkesiap, lawan meluncur dan terbang mendahului dirinya.

"Keparat, berhenti, siluman busuk! Berhenti dan serahkan pembantu ayahku!"

"Ha-ha!" bayangan itu tertawa, suaranya bergetar. "Coba kau tangkap aku, gadis siluman. Ayo kita berlomba dan lihat apakah kau bisa menangkapku!"

Soat Eng semakin marah. Melihat lawan menenteng pembantunya sementara Kokthai berteriak-teriak, Soat Eng terus mengejar sambil membentak bayangan itu. Saat mereka berkelebatan seperti iblis melewati bukit dan padang rumput, Kokthai yang ada dalam genggaman bayangan itu merintih, lalu pingsan. Hal itu membuat Soat Eng semakin murka dan mengejar dengan segenap tenaga.

Kini Soat Eng tancap gas dan mereka sudah empat kali mengitari gunung. Bayangan mereka berkelebatan seperti siluman; muncul di sini dan lenyap di sana. Namun, ketika Soat Eng mengeluarkan Cui-sian Gin-kang dan menggabungkannya dengan Jing-sian-eng, lawan berseru tertahan saat tubuh gadis itu berjungkir balik dan berada tepat di depannya, melewati atas kepala.

"Jahanam, tak tahu malu, berhentilah!" Soat Eng melepas pukulan, menghantam bayangan itu.

"Khikang...!" Gadis itu pucat, tertegun di atas tanah, dan kakinya menggigil hingga tak dapat berdiri tegak.

Soat Eng menyadari bahwa ilmu yang digunakan bayangan ini adalah pukulan Bola Sakti, Khikang. Saat ia tertegun dan pucat memandang bayangan itu, sang lawan—seorang laki-laki bertubuh tinggi besar yang mengenakan topeng—tertawa kepadanya.

"Ha-ha, benar, gadis siluman. Rupanya kau mengenal pukulanku dan ilmu lari cepatku pula."

"Tentu saja. Keparat, kau... ah!" Soat Eng teringat cerita Uwak Lu. Ia mendelik dan sadarlah ia bahwa inilah kiranya pencuri cermin itu. Tanpa dicari, pencuri ini datang dengan sendirinya. Soat Eng girang bukan main, namun melihat lawannya ternyata amat lihai dan dapat menggunakan Jing-sian-eng maupun Khi-bal-sin-kang, kegembiraan Soat Eng lenyap berganti kemarahan yang berkobar.

"Jahanam busuk! Kiranya kau yang datang ke Ce-bu, siluman keparat. Kau pencuri Cermin Naga dan si maling hina itu!"

Soat Eng menerjang, langsung melepas pukulan dan tamparan. Lawan tertawa dengan suara aneh dan sengau karena tertutup topeng. Ia mengaku sebagai pencurinya. Ketika lawan mengelak dan Soat Eng terus melancarkan serangan bertubi-tubi, bayangan itu mulai terdesak.

Soat Eng benar-benar meledak. Karena yang dicari-cari ternyata datang dan sengaja menangkap Kokthai agar ia mengejar keluar dari wilayahnya, gadis itu tidak merasa takut atau gentar sedikit pun. Saat lawan terus diserang dengan ilmu-ilmu keluarga Kim-mou-eng, yaitu Khikang dan Jing-sian-eng, Soat Eng terus memaki-maki.

Lawan berani mengajaknya bertanding untuk menguji dan menantang. Namun, ketika pukulan-pukulannya bertemu dengan Khikang dan ilmu meringankan tubuhnya menghadapi Jing-sian-eng yang luar biasa, Soat Eng menjadi gusar dan mukanya memerah.

"Keparat jahanam! Keluarkan ilmumu sendiri, bedebah! Jangan ilmu curian yang kau peroleh!"

"Ha-ha, inilah yang kupunyai," seru bayangan yang ternyata adalah Togura itu. "Aku hanya mempunyai ilmu-ilmu ini, anak manis. Coba kau kalahkan aku dan lihat siapa yang roboh!"

"Bedebah!" Soat Eng tidak banyak bicara lagi. Ia menyerang lawannya dengan mengeluarkan Lu-ciang-hoat yang digabung dengan Khikang. Lawan tampak terkejut. Lalu, ketika ia juga mengeluarkan Cui-sian Gin-kang untuk digabung dengan Jing-sian-eng, bayangan itu benar-benar tersentak, wajahnya berubah, dan ia terdesak.

"Keparat, kau lihai, bocah she Kim. Tapi jangan keburu girang. Aku juga mempunyai simpanan ilmu yang lain!"

Soat Eng mengerutkan kening. Lawan tiba-tiba menggerakkan tangan kiri dengan pukulan lain. Khikang tetap digunakan, tapi kini dari tangan kiri lawannya keluar semacam bau amis. Ketika tangan kiri itu meledak mengeluarkan kilatan cahaya biru, Soat Eng terkejut melihat lawan bertahan.

"Ha-ha, bagaimana, Kim-siocia? Benar tidak kata-kataku tadi?"

Soat Eng membentak. Meskipun lawan dapat bertahan, ia tidak dapat membalas. Bagaimanapun, ilmu curian itu belum sematang dan selama yang dimiliki Soat Eng. Namun, karena ia wanita dan lawan adalah laki-laki, tenaga lawan lebih besar, sehingga Soat Eng tidak dapat mendesak. Jika kakaknya ada di situ, tentu lain ceritanya; kakaknya lebih lihai dan pencuri ini pasti sudah dibekuk.

Pertandingan menjadi imbang karena Soat Eng tak dapat mendesak sementara lawan juga tak dapat membalas. Lawan tertawa-tawa dan Soat Eng geram memandang wajah di balik topeng itu.

"Pengecut, siapa dirimu dan buka topengmu itu. Jangan bersikap licik!"

"Ha-ha, kalau kau dapat merobohkan aku, tentu kau akan tahu siapa aku, adik manis. Sekarang tak usah bertanya dan lihat saja, aku akan merobohkanmu!"

"Kentut busuk! Membalas saja tak dapat, bagaimana kau mampu merobohkan aku? Phuih, kau manusia sombong yang tak tahu diri, maling hina. Sudah mencuri Cermin Naga, masih juga bicara sombong!"

"Ha-ha, memangnya tidak boleh? Eh, lihat sebentar lagi aku akan membuktikan omonganku, bocah she Kim. Dan hati-hati kalau kau tak ingin roboh!"

Lawan tiba-tiba mengeluarkan seruan keras, menangkis satu tamparan Soat Eng, dan kembali mereka sama-sama terpelanting. Khikang mereka bertemu dan Soat Eng marah sekali. Kejadian ini sudah berulang-ulang.

Namun, ketika lawan terpelanting ke kanan sementara ia berjungkir balik mematahkan pukulan, tiba-tiba Soat Eng membentak dan melepas satu tamparan miring dari ilmu Lu-ciang-hoat.

"Dess!" Lawan mengeluh. Lu-ciang-hoat tidak dikenal lawan, sehingga pukulan Soat Eng berhasil. Karena lawan memiliki Khi-bal-sin-kang—di mana Bola Sakti melindungi si pemuda—lawannya terlempar tapi dapat bangun berdiri lagi. Soat Eng mengejarnya dan kembali mendaratkan pukulan, namun lawan hanya berdiri terhuyung.

Lima atau enam pukulan membuat pemuda itu terbanting, namun ia selalu dapat bangun kembali. Hal itu membuat Soat Eng gemas. Saat Soat Eng membentak lagi dan lawan mengeluh merasakan pukulannya, mendadak lawan melarikan diri dan memutar tubuhnya, rupanya kesakitan.

"Keparat, kau hebat, bocah. Baiklah, lain kali saja kita bertemu lagi. Cukup main-main ini!"

"Bedebah, kau mau lari? He, tunggu dulu, siluman keparat. Serahkan Cermin Naga dan menyerahlah!"

Soat Eng tidak membiarkan lawan kabur. Ia girang karena lawan rupanya mulai menerima kekalahan dan ia berhasil mendesak, meskipun ia "lupa" bahwa sebenarnya mereka seimbang. Terbukti berkali-kali tadi pemuda itu dapat bertahan sementara ia tak dapat mendesak.

Ketika ia mengejar sementara lawan tampak terhuyung jatuh bangun, akhirnya sebuah pukulan Soat Eng mendarat lagi di tengkuk laki-laki itu.

"Kau robohlah... dess!"

Lawan terlempar, mengeluh, dan terbanting. Soat Eng siap menangkap dengan tubuh berkelebat, tapi lawan tiba-tiba berguling menjauh, melompat bangun, dan lari lagi tanpa luka berarti.

Soat Eng memaki dengan marah namun juga kagum. Ia melengking dan membentak lawannya sambil mengancam.

"Siluman keparat, menyerahlah! Atau kau benar-benar akan kubunuh!"

"He-he, tak mungkin kau berani. Cermin Naga kusembunyikan, bocah she Kim. Berani membunuhku berarti kau kehilangan cermin itu!"

"Keparat, kau busuk!"

Soat Eng tertegun, marah, dan bingung. Ia akhirnya tidak berani melepas pukulan mematikan karena takut lawan benar-benar mati dan ia kehilangan cermin itu. Lawan tinggal menangkap dan barangkali sedang menunggu Soat Eng kelelahan hingga roboh sendiri. Soat Eng tidak tahu bahwa semuanya hanyalah tipuan belaka dan lawan sedang mengatur sesuatu, mendekati sebuah lubang jebakan di mana tiba-tiba lawan terguling ketika sebuah akar panjang menjerat kakinya. Soat Eng menyangka lawan roboh karena sudah kehabisan tenaga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment