Chapter 64
Begitu dia berseru girang dan berteriak ke depan, tiba-tiba akar yang menjerat pemuda ini ditendang ke samping. Sebuah tutup lubang jebakan terlepas dan menjepret ke arah Soat Eng.
"Hei!" Soat Eng terkejut.
Saat itu dia sedang menubruk dan menerkam ke depan dengan niat menotok lawan yang sedang terguling. Namun, begitu sebuah lubang jebakan menganga di depannya dan pemuda itu tertawa sambil mencabut sesuatu, tiga sinar hitam berkelebat. Tiga pisau terbang menyambar ke arah gadis itu, tepat ketika Soat Eng terkesiap oleh lubang jebakan tersebut.
"Siut! Bret! Bret!" Soat Eng menjerit.
Dua pisau terbang itu mengarah ke matanya, memaksanya menangkis dan kehilangan konsentrasi. Ketika pisau itu terpental dan lawan terbahak, tubuhnya meluncur ke dalam lubang. Sebuah laso menyambar lehernya dari atas.
"Rrtt!" Kejadian itu berlangsung sangat cepat.
Soat Eng terkejut saat tubuhnya meluncur masuk ke dalam lubang, lalu tiba-tiba disambar laso hingga lehernya terjerat. Dia tersedak dan merasa tercekik. Saat dia meronta, tawa dari atas disertai tarikan kuat membuat lehernya tersentak hingga napasnya terhenti.
"Ngekk!" Suara itu membuat Soat Eng hampir pingsan.
Cekikan yang terlalu kuat, ditambah kebingungan dan kegugupan, membuat gadis ini hampir kehilangan kesadaran. Dia sungguh tak menyangka ada lubang jebakan di sana; dia memang belum mengenal kelicikan lawannya.
Namun, ketika Soat Eng tertarik ke atas dan keluar dari lubang dalam keadaan setengah pingsan, tiba-tiba terdengar bentakan seseorang yang langsung menyerang bayangan tersebut.
"Manusia hina, lepaskan Kim-siocia!" Bayangan itu terkejut.
Saat itu, dia sedang menarik dan bersiap melakukan totokan tunggal untuk merobohkan putri Pendekar Rambut Emas tersebut, bahkan bayangan kegembiraan telah merona di wajahnya. Tapi begitu bentakan terdengar di belakangnya dan sebuah pukulan dahsyat menyambar kepalanya, bayangan itu kaget dan terkesiap.
"Dess!" Dia tak dapat mengelak lagi.
Pukulan itu mengenai kepalanya. Laki-laki itu mengeluh, terbanting, dan terlempar bergulingan. Soat Eng terlepas secara otomatis dan jatuh berdebuk ke atas tanah karena lawan melepaskan lasonya.
Gadis itu pening dan mengeluh. Sejenak dia tak dapat menguasai kesadarannya karena bumi rasanya berputar. Soat Eng hampir pingsan akibat cekikan laso tadi yang begitu kuat. Ketika terdengar seruan tertahan dan penolongnya terlempar berguling-guling, Soat Eng menggoyang kepalanya. Tampak seorang pemuda gagah dan tampan terpelanting oleh pukulan baliknya, maklumlah, bayangan itu dilindungi oleh Khi-bal-sin-kangnya.
"Siang Le!" Soat Eng tertegun.
Bayangan yang terlempar itu juga tampak terkejut. Dia melompat bangun dan menatap penyerangnya. Saat dia terbelalak dan seruan itu membuatnya menggeram, tiba-tiba bayangan ini memaki dan mengumpat, lalu berkelebat melarikan diri karena gagal merobohkan Soat Eng.
"Hei!" Siang Le, pemuda itu berteriak.
"Tunggu dulu, manusia licik! Kau berhutang sebuah kecurangan kepada Kim-siocia. Berhenti!" Pemuda ini mengejar dan meloncat bangun. Dia tidak mau membiarkan lawan melarikan diri, yang tentu saja membuat Togura—si bayangan itu—marah.
Jika Siang Le ada di sana dan menolong Soat Eng, rahasianya bisa terbongkar karena pemuda itu bisa mengenali suara dan bentuk tubuhnya. Itulah sebabnya Togura melarikan diri, bukan karena takut, melainkan demi menjaga kedoknya. Ketika Siang Le mengejar dan melepas satu pukulan, tiba-tiba pemuda itu membalik dan menangkis.
"Dess!" Siang Le terpental.
Khikang lawan kembali melemparkannya hingga dia berteriak kaget. Lawan kembali mendengus dan melarikan diri. Siang Le tertegun, namun dia membentak lagi, bangun, dan kembali menyerang lawannya. Saat lawan menangkis dan dia terpental lagi, Soat Eng berkelebat dan membentak.
"Biarkan dia berhadapan denganku, minggirlah!"
"Dess!" Soat Eng menerima pukulan itu, mendorong Siang Le, dan mengerahkan tenaganya. Togura terkejut, terlempar, dan bergulingan bersama Soat Eng.
Jika gadis itu sudah bangun dan menyerangnya lagi, tentu dia akan kerepotan. Maka, begitu berteriak melengking tinggi, Togura melempar granat tangan.
"Bocah she Kim, lain kali kita bertemu. Biarlah kutunda kemenanganku, selamat tinggal!"
"Dar-dar!" Dua granat tangan meledak di depan Soat Eng dan Siang Le, membuat kedua orang muda itu terjungkir balik. Soat Eng memaki-maki; asap tebal menghalangi pandangannya dan dia merasa sangat marah. Ketika asap menipis dan dia hendak mengejar, lawan sudah menghilang. Siang Le berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di sampingnya.
"Kim-siocia, lawan telah pergi. Syukur kau selamat!"
"Hm!" Soat Eng membalik, menghadapi pemuda ini. "Bagaimana kau bisa datang ke sini? Mau apa?"
"Eh," pemuda itu terkejut. "Aku datang secara kebetulan saja, Nona. Tak sengaja melihat dirimu dicurangi oleh lawan itu!"
"Hm, tak sengaja? Kebetulan saja?" Gadis itu tak percaya. "Kau bohong, Siang Le. Kau dusta. Kau pasti membawa maksud tertentu, jangan-jangan dia itu temanmu!"
"Eh!" Pemuda itu tersentak. "Aku berani bersumpah bahwa aku tak kenal dengan si topeng buruk itu, Nona. Aku tak perlu berpura-pura atau berbohong padamu!"
"Aku tak percaya, kau tentu ada maksud!" Soat Eng menerjang dan menyerang pemuda itu. Dia membentak dan melayangkan tamparan dengan mengerahkan Khikang. Siang Le terpekik. Pemuda itu terkejut karena bukannya mendapat terima kasih, dia malah dituduh sebagai komplotan si bayangan bertopeng.
Saat dia mengelak dan Soat Eng mengejar, tamparan itu mengenai pundaknya.
"Dess!" Siang Le terlempar. Sama seperti dulu saat di Sam-liong-to, pemuda ini tak melakukan balasan. Dia bergulingan, meloncat bangun, dan mengelak ke sana kemari ketika lawan mengejarnya dengan tamparan atau tendangan.
Soat Eng curiga pemuda ini adalah teman si bayangan tadi—berpura-pura menolong lalu berbaik-baik dengannya—sebuah muslihat yang sering dilakukan orang-orang golongan sesat. Karena guru pemuda itu adalah orang sesat, Soat Eng tidak percaya dan terus menyerang dengan gencar. Siang Le akhirnya jatuh bangun.
Pemuda itu tak membalas dan berulang kali menyuruh gadis itu berhenti, bahkan bersumpah untuk meyakinkan lawan. Namun, karena Soat Eng tak percaya, hal itu justru menambah kemarahannya. Akhirnya, sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk pemuda itu.
"Dess!" Siang Le berteriak. Dia sudah mengerahkan sinkang untuk menahan, namun tetap terlempar dan terbanting. Rupanya Soat Eng mengerahkan hampir seluruh tenaganya. Pemuda itu mengeluh, kepalanya berputar, dan tengkuknya terasa patah. Saat gadis itu berkelebat dan semua teriakannya sia-sia, tiba-tiba Siang Le mengendurkan semua tenaganya ketika gadis itu menotoknya.
"Tuk!" Robohlah murid See-ong itu. Siang Le merintih dan wajahnya pucat. Dia menahan sakit karena totokan itu dilakukan dengan sangat keras; jari lentik itu berubah seolah menjadi baja. Dia terguling sambil mengeluh. Saat Soat Eng tertegun karena merasa totokannya tak ditolak, Siang Le berkata bahwa dia boleh dibunuh saja.
"Nah, puaskan hatimu. Boleh kau bunuh aku, Nona. Hantam kepalaku dan pecahkanlah!"
Soat Eng terkejut, lalu tiba-tiba marah. "Siapa mau membunuhmu? Tidak, aku menangkapmu, Siang Le. Kau akan kubawa pada Ayah dan Ibuku untuk diperiksa. Kau harus mengaku bahwa si topeng buruk itu adalah kawanmu!"
"Ah, terserah. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, Nona. Kalau kau tidak percaya dan tidak membunuhku, aku pun akan mengatakan yang sebenarnya pada Ayah dan Ibumu!"
Namun, sebelum gadis itu membawa pemuda tersebut, tiba-tiba berkesiur angin dingin dan Pendekar Rambut Emas, Kim-mou-eng, muncul seperti iblis!
"Eng-ji, apa yang terjadi? Kau bertempur dengan siapa?"
"Aih, kebetulan!" Gadis itu bersorak. "Pencuri Cermin Naga sudah tertangkap jejaknya, Ayah. Pemuda ini komplotannya! Dia kutangkap, tapi tak mau mengaku. Barangkali Ayah yang perlu memeriksanya agar dia tahu rasa!"
"Hm," Kim-mou-eng terkejut. "Bukankah ini murid See-ong?"
"Benar, Ayah sudah mengenalnya? Kalau begitu bagus, bisa lebih cepat selesai!"
Namun, sang ayah yang mengerutkan kening dan menggelengkan kepala tiba-tiba menyambar dan mengamati pemuda itu.
"Kau... hm, kau Siang Le?"
"Benar, Kim-taihiap!" jawab Siang Le girang dengan wajah berseri-seri. "Kau rupanya masih mengenal aku!"
"Hm, benar. Aku tak lupa wajahmu," pendekar itu teringat segala kejadian di Sam-liong-to. "Kau pemuda aneh dan rasanya tak pantas menjadi murid See-ong! Eh, ceritakan apa yang terjadi, Eng-ji. Apa yang kau maksud dengan Cermin Naga tadi dan apa hubungannya dengan pemuda ini?"
"Aku tadi bertemu pencuri hina itu, pandai memainkan Khikang dan Jing-sian-eng!"
"Apa?"
"Benar, Ayah. Aku juga terkejut. Pencuri itu datang dan menculik Kokthai. Dia..."
"Aku di sini," Kokthai tiba-tiba muncul sambil tersaruk-saruk. "Ayahmu menolongku, Siocia. Hampir mati aku dicekik siluman jahat itu!"
Soat Eng tertegun; dia tadi melupakan pembantu ayahnya itu. "Maaf, kau tak apa-apa, Paman? Kau tidak luka?"
"Tidak, tapi leherku sakit, Siocia. Penjahat itu mencekikku sampai rasanya mau putus. Bedebah, ke mana dia sekarang dan apakah Kim-taihiap sudah menangkapnya? Aku tadi melapor, mungkin kurang jelas... eh, apakah ini penjahatnya?"
Laki-laki itu terbelalak memandang Siang Le. Melihat wajah yang gagah dan tampan, dia terkejut bagaimana mungkin seseorang dengan wajah setampan itu ternyata seorang penjahat!