Chapter 65
Namun, ketika Soat Eng menggeleng dan berkata bahwa penjahat sebenarnya kabur, ayahnya menyela serta menyuruh Kokthai pulang.
"Sekarang kau selamat, pulanglah dan perintahkan teman-temanmu berjaga lebih ketat!" Laki-laki itu mengangguk.
Setelah terdiam sejenak dan lega melihat nona majikannya baik-baik saja, Kokthai kembali ke tempatnya. Suku bangsanya masih bersenang-senang dan tidak tahu sama sekali mengenai kejadian itu, betapa dia diculik dan hampir dibunuh!
Ketika laki-laki itu pergi dan Pendekar Rambut Emas kembali bersama putrinya, pendekar ini meminta agar putrinya bercerita sekali lagi.
"Aku mengejar pencuri itu, dijebak, dan hampir celaka. Dan ketika maling hina itu hendak mencelakaiku serta mencekik leherku dengan laso panjang, tiba-tiba pemuda ini muncul."
"Hm, begitukah?"
"Ya, begitu, Ayah. Dan aku yakin bahwa pemuda ini berkomplot. Tentu dia pencuri cermin itu, sama seperti temannya pula!"
"Aku tak tahu apa-apa," Siang Le menyanggah, mendahului Pendekar Rambut Emas yang memandangnya tajam. "Aku berani bersumpah, Taihiap, dan juga berani dibunuh!"
"Sumpah orang sesat macam kau tak dapat dipercaya!" Soat Eng membentak. "Aku tak percaya semua omonganmu, Siang Le. Lebih baik mengaku dan katakan terus terang bahwa kau teman si pencuri hina itu!"
"Hm, bagaimana harus mengaku? Kenal pun tidak, Nona. Sungguh mati, aku tak tahu siapa dia dan baru kali ini kudengar urusan cermin itu!"
Soat Eng berapi-api. Dia tetap tidak percaya, ingin memaki dan menyambar ke depan untuk menghajar pemuda itu. Namun, ketika ayahnya batuk-batuk dan mengangkat lengan, tiba-tiba ayahnya berseru, "Nanti dulu, jangan tergesa-gesa, Eng-ji. Jangan sampai kejadian Ituchi terulang lagi!"
Soat Eng terkejut. "Kau tidak mau ceroboh, bukan?"
"Apa maksud Ayah?"
"Ingat, pemuda ini sudah berkata sebenarnya, Eng-ji. Kurasa aku percaya pada omongannya. Dia tidak bohong, mimik mukanya sungguh-sungguh. Hanya aku heran kenapa dia jauh-jauh ada di sini. Jangan-jangan gurunya berada di sekitar!"
"Tidak!" Siang Le menjawab lantang. "Aku datang sendiri, Taihiap. Aku tak bersama siapa-siapa!"
"Lalu apa maksudmu kemari?"
"Aku... aku..." Pemuda itu tiba-tiba gugup, melirik Soat Eng. "Aku hanya ingin tahu apakah putrimu selamat."
"He?"
"Benar, Taihiap. Dulu putramu dan putrimu ini lari dari Sam-liong-to. Aku khawatir karena mereka dicari-cari suhu. Karena kupikir mereka pasti kembali ke sini dan ingin kubuktikan, maka aku di sini. Sekarang kebetulan bertemu dengannya, malah bersama penjahat itu!"
"Hm!" Kim-mou-eng melihat sesuatu yang aneh. "Kau mencurigakan, Siang Le. Betapapun ada hal yang tidak kau katakan sebenarnya. Untuk ini aku curiga, kau terpaksa kutangkap."
"Boleh!" Pemuda itu tiba-tiba gembira, berseru dengan suara nyaring. "Aku memang bersalah, Taihiap. Aku menyadari bahwa diriku telah menimbulkan kecurigaan. Kau tangkaplah, aku tidak menyesal!"
Kim-mou-eng melengak. Kalau pemuda ini bicara seperti itu dan bahkan tampak gembira bukan main, dia heran sekali, mengerutkan kening, dan tentu saja menganggap murid See-ong ini luar biasa. Bayangkan, ditangkap musuh bahkan menyatakan kegembiraannya!
Pendekar Rambut Emas batuk-batuk dan mengerling putrinya dengan berhati-hati. "Eng-ji, agaknya ada sesuatu yang disembunyikan pemuda ini. Kau bawalah dia, kita kurung di belakang rumah!"
"Baik, kuseret dia, Ayah!"
Soat Eng yang tidak banyak bicara segera melompat ke depan, menyambar tali, lalu mengikat pemuda ini, menyentak, dan akhirnya berkelebat mendahului. Ayahnya mengawasi, dan aneh sekali pemuda ini tersenyum-senyum. Matanya sering menatap lembut wajah yang cantik itu, yang sering menunduk kalau mengencangkan tali simpul. Ketika semuanya tak luput dari pandangan Pendekar Rambut Emas, ia mengangguk-angguk, berdehem, dan melihat putrinya berkelebat menyeret pemuda itu.
"Ayah, mari pulang!"
Kim-mou-eng mengangguk. Dia juga bergerak ketika putrinya meluncur terbang, menyeret dan tidak memedulikan tawanan. Siang Le sudah dibawa gadis ini, dan untuk kedua kalinya Soat Eng menangkap pemuda. Dulu Ituchi, sekarang murid See-ong ini. Ketika Siang Le juga tidak mengeluh atau kesakitan saat diseret di tanah berbatu, Pendekar Rambut Emas bersinar-sinar.
"Hm, itukah kiranya?" Pendekar ini menduga-duga. "Murid See-ong jatuh cinta kepada putrinya?"
Namun, ia tidak melanjutkan dugaannya dan mengikuti sang putri. Akhirnya mereka tiba di perkemahan bangsa Tartar. Orang-orang gempar melihat ditawannya Siang Le. Kokthai sudah bercerita pada mereka bahwa seseorang menculik dirinya, bertempur, dan bertanding sengit dengan Soat Eng. Ketika pemuda itu diseret dan menjadi tontonan sepanjang jalan, aneh sekali Siang Le justru tertawa-tawa.
"Hai!" Pemuda itu memberi salam. "Selamat berpesta, maaf aku mengganggu kalian!"
Bangsa Tartar heran. Tidak adanya rasa takut atau cemas di wajah tawanan itu justru membuat mereka kagum. Mereka adalah orang-orang yang memang menghargai keberanian. Meskipun musuh, kalau gagah dan berani tentu akan mendapatkan pujian, simpati, dan rasa kagum dari suku bangsa ini. Maka, ketika Siang Le memberi salam dan mengangkat lengannya, beberapa di antara mereka membalas dan memuji, "Hebat, kau gagah dan berani!"
Soat Eng yang mendongkol akhirnya melepas pemuda itu dan menendangnya di belakang rumah, lalu menotoknya hingga roboh. Sehari dua hari ia menjadi bahan pembicaraan, sampai Swat Lian, istri Pendekar Rambut Emas, mendengar cerita suaminya.
"Pemuda itu menolong, Eng-ji, seharusnya kita berterima kasih. Tapi karena keberadaannya mencurigakan dan sinar matanya aneh, maka dia kutangkap!"
"Apanya yang aneh? Murid See-ong kenapa aneh?"
"Itulah, kau akan melihat sesuatu yang lain pada sinar mata pemuda ini, Istriku. Pandangannya yang aneh dan luar biasa terhadap Soat Eng!"
"Hm, maksudmu?"
"Kau lihat sendiri saja, barangkali kau akan lebih tahu!"
Swat Lian mengerutkan kening. Sebenarnya, mendengar ditangkapnya Siang Le, dia tidak setuju kalau dibiarkan saja. Pemuda itu murid tokoh sesat dan ayahnya tewas di tangan guru pemuda itu. Jadi, pemuda ini pun harus dihukum dan dibunuh! Tapi ketika suaminya tidak setuju karena See-ong tetaplah See-ong dan muridnya tak tahu apa-apa, sang nyonya menjadi penasaran dan marah.
"Aku ingin melihat apa yang aneh itu. Coba kubuktikan dan kuingin tahu!"
"Sst, jangan terang-terangan. Kau harus melihatnya secara sembunyi-sembunyi, Istriku. Kalau tidak, justru tak akan tahu."
"Maksudmu?"
"Suruh Eng-ji mengantar makanan, lihat sinar mata pemuda itu!"
Sang istri tertegun. "Maksudmu dia..."
"Sudahlah, kau lihat dulu, Istriku. Siapa tahu dugaanku keliru dan kau lebih awas!"
Sang nyonya mendongkol. Suaminya ini seakan berteka-teki, yang dibuat teka-teki adalah murid See-ong, musuh besarnya! Namun, ia mengangguk dan menyuruh putrinya melaksanakan perintah. Secara diam-diam, sang nyonya mengintai dari tempat tersembunyi dan tampaklah olehnya kegembiraan pemuda itu ketika didekati Soat Eng. Putrinya memberi makan dan piring atau gelas setengah dilempar; sikap Soat Eng memang setengah kasar. Namun, ketika mata itu tetap lembut dan berseri-seri, Kim-mou-eng berbisik dan bertanya.
"Apa yang kau lihat? Betulkah dugaanku?"
"Keparat, tidak salah, Suamiku. Pemuda itu jatuh cinta terhadap Eng-ji!"
"Nah, ini yang agaknya membuat dia datang kemari. Betul katamu, pemuda itu mencintai putri kita!"
"Dan kau mau membiarkan hal ini terjadi?"
"Nanti dulu. Jangan marah, Niocu, aku tidak bilang bahwa Eng-ji harus membalas cinta pemuda itu. Tapi aku terus terang merasa suka dengannya!"
"Suka? Kau...?"
"Ssst, jangan keras-keras, Niocu. Suka bukan berarti hendak memberikan segala-galanya. Hanya aku tertarik karena pemuda ini lain dengan gurunya!"
"Aku tak peduli. Sebaiknya pemuda itu dibunuh, Suamiku. See-ong dan muridnya adalah orang-orang terkutuk!"
"Ah, kenapa begini? Kulihat muridnya tak ikut campur masalah gak-hu (ayah mertua), Niocu. Aku cenderung memiliki kesan baik terhadap pemuda ini."
"Aku tak peduli. Aku benci!"
Swat Lian yang mau keluar menyambar pemuda itu tiba-tiba dicekal dan dicegah suaminya. "Niocu, tahan kemarahanmu. Kalau pemuda itu kau bunuh, maka See-ong tak akan datang!"
Muka yang merah dan jari yang menggigil itu tiba-tiba berhenti. Sang nyonya tertegun dan tampak berubah, bibirnya digigit dan tinjunya mengepal. Ketika suaminya berbisik bahwa dengan ditangkapnya pemuda itu berarti See-ong akan datang berkunjung, Pendekar Rambut Emas menenangkan istrinya.
"Kau bersabarlah, kekang sedikit kemarahanmu. Biarlah pemuda itu di sini dan kita ganti balas mengundang See-ong!"
"Hm!" Bibir yang dingin itu dirapatkan. "Baiklah, Suamiku. Tapi kau harus berjanji bahwa pemuda ini harus dibunuh kalau gurunya sudah kita bereskan!"
"Itu masalah nanti. See-ong memang musuh kita, Niocu, tapi pemuda ini bukan. Kalau dia hendak membalas sakit hati atau dendam, barulah kita bertindak!"
Hari itu sang nyonya cantik berhasil diredam. Kemarahan Swat Lian memang tidak dikehendaki oleh Pendekar Rambut Emas. Pendekar itu hanya hendak menunjukkan bahwa Soat Eng rupanya dicintai murid datuk sesat See-ong itu. Hal ini menarik bagi Pendekar Rambut Emas karena murid See-ong ini dilihatnya lain dari yang lain. Masih diingatnya dengan baik sikap pemuda itu yang bertolak belakang dengan gurunya, yakni ketika ia tiba di Sam-liong-to dan berhadapan dengan See-ong, juga Enam Iblis Dunia yang tinggal lima (Tok-ong tewas terbunuh oleh mertuanya). Ketika gerak-gerik atau sikap pemuda itu sama sekali tak menunjukkan sebagai pemuda jahat, sebenarnya Kim-mou-eng tertarik dan heran juga, merasa aneh bahwa murid seorang tokoh sesat tidak seperti gurunya. Siang Le sepantasnya menjadi murid seorang tokoh baik-baik, kaum pendekar umpamanya.