Halo!

Istana Hantu - Chapter 66

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 66

Maka, ketika hari itu ia berhasil menangkap dan mengurung pemuda tersebut, ada beberapa hal yang hendak diselidiki oleh sang pendekar.

Pertama, mengenai sikap atau watak pemuda itu setelah tidak lagi berada di Sam-liong-to.

Kedua, bagaimana atau mengapa pemuda itu tiba-tiba dapat muncul di situ, padahal Sam-liong-to dengan tempat tinggalnya berjarak ribuan li.

Jika tidak ada sesuatu yang istimewa, tidak mungkin pemuda itu datang jauh-jauh dari Sam-liong-to.

Ketika hal kedua itu segera diketahuinya dari sinar mata atau pandangan lembut pemuda tersebut terhadap puterinya, maklumlah Pendekar Rambut Emas bahwa kiranya pemuda ini datang karena kasmaran, rindu akan cinta.

Namun, karena pemuda itu adalah murid See-ong dan pendekar itu tahu kebencian istrinya terhadap See-ong, maka Pendekar Rambut Emas tidak bertindak lebih jauh, kecuali ingin mengetahui apa yang tersembunyi di balik maksud pemuda itu. Sebenarnya, secara pribadi ia tidak membenci pemuda ini.

Bahkan, Siang Le dianggapnya sebagai pemuda yang baik karena dulu di Sam-liong-to, pemuda itu berkali-kali mencegah gurunya serta bersikap hormat dan ramah.

Akan tetapi, karena pemuda itu tidak disukai istrinya dan perasaan istrinya harus dijaga, pendekar ini menarik napas panjang dan mengangguk-angguk.

"Hm, biarlah," katanya dalam hati.

"Biar dia lihat apa yang akan terjadi nanti. Istriku benar, perasaannya harus dijaga. Kalau aku keliru menyimpulkan pemuda ini dan ternyata ia berpura-pura, maka aku bisa malu terhadap istriku nanti. Biarlah, biar dia lihat sepak terjang pemuda ini lebih lanjut dan biarlah ia tak usah tergesa-gesa menilai."

Begitu pendekar ini mengangguk dan menarik napas, ia pun berkelebat memasuki kamarnya.

"Bagaimana, Togur, berhasil? Mana puteri Pendekar Rambut Emas itu?"

"Keparat, Siang Le menggagalkan niatku, Suhu. Hampir saja aku berhasil, tapi terpaksa gagal!" jawab Togura dengan murung saat ia kembali ke Sam-liong-to.

Pakaiannya kusut, wajahnya muram, dan berkali-kali pemuda ini meremas batu hingga hancur dan luluh menjadi tepung. Ketika gurunya, Hek-bong Siauw-jin, menyambutnya paling awal, pemuda ini menumpahkan kemarahannya.

"Apa yang terjadi? Kenapa dengan murid See-ong itu?"

"Hm, dia tiba-tiba muncul di sana, Suhu, membantu dan menyelamatkan gadis itu!"

"Pemuda itu di tempat suku bangsa Tartar?"

"Benar."

"Ah, kalau begitu kita laporkan kepada gurunya, Muridku. See-ong beberapa hari ini marah-marah karena muridnya tidak ada!"

"Jangan, nanti dulu," Togura mencegah sambil menggelengkan kepala. "Aku tidak mau See-ong tahu muridnya di sana, Suhu. Nanti rahasiaku terbongkar."

"Maksudmu?"

"Aku telah menghajarnya, menggunakan Khikang-ku. Kalau kita melapor dan Siang Le tahu, tentu ia segera menyadari bahwa yang bertempur dengannya adalah aku!"

"Hm, jadi bagaimana? Apa yang harus atau akan kau lakukan?"

"Aku penasaran, Suhu, dan aku ingin mengulang. Kau sebaiknya ikut!"

"Jangan!" Sesosok bayangan berkelebat, tiba-tiba muncul. "See-ong hari ini marah besar, Togur. Semua dari kita harus menemuinya, kita dipanggil!"

Nenek Naga, yang kaget tapi girang bertemu muridnya, berseru. Ia muncul di situ untuk memberi tahu Siauw-jin bahwa muridnya tiba-tiba datang dan hendak mengajak iblis cebol itu pergi, tentu saja hal itu harus dicegah. Ketika nenek itu berkelebat dan berdiri di situ, Togura mengerutkan kening memandang Subo-nya ini.

"Ada apa, Subo? Apa yang mau dilakukan tua bangka itu?"

"Ssst, jangan keras-keras, Togur. Nanti makianmu didengar dan kita semua bisa celaka!"

"Aku tidak takut, aku justru ingin membebaskan kalian dari cengkeramannya!"

"Apa??"

"Benar, kalian mau, bukan?" Lalu, melihat kedua gurunya terbelalak antara girang tapi juga takut, pemuda ini berkata, "Subo, aku ingin mengadu kepandaian dengan kakek itu. Kalau aku menang, akan kubunuh dia dan kalian kubebaskan. Tapi kalau aku kalah, hmm... sebaiknya kalian membantu aku!"

Kedua orang itu terkejut.

"Togur," Siauw-jin tiba-tiba berkata, "sebaiknya jangan terlalu bernafsu dulu menghadapi kakek itu. See-ong dan Pendekar Rambut Emas imbang. Kalau kau belum dapat mengalahkan Pendekar Rambut Emas dan kalah oleh kakek ini, maka See-ong tentu membunuhmu. Sebaiknya coba dulu Pendekar Rambut Emas itu, baru See-ong."

"Kenapa begitu??"

"Pendekar Rambut Emas orangnya murah hati dan lemah, Togur, lain dengan See-ong. Kakek itu kejam, telengas. Kalau kau kalah olehnya tentu tak ada ampun, lain kalau kau kalah oleh Kim-mou-eng misalnya, apalagi kau masih murid keponakannya!"

"Ah, benar!" Nenek Naga berseru menimpali. "Apa yang dikata Siauw-jin tidak salah, Togur. Sebaiknya kau berhadapan dulu dengan Pendekar Rambut Emas daripada kakek iblis See-ong ini!"

"Tidak!" Pemuda itu berkata berani. "Kim-mou-eng atau See-ong bagiku sama saja, Subo. Aku tidak takut. Daripada jauh-jauh kembali ke sana, lebih baik di sini aku menguji kepandaianku dengan si tua bangka itu. Aku tidak takut, aku punya akal!"

Kedua gurunya terkejut. Kalau pemuda ini sedemikian nekat dan berani menghadapi See-ong, maka murid mereka sungguh mengagumkan. Togura menyatakan tidak takut dan mempunyai akal. Maka, ingin tahu akal apa yang dimiliki pemuda itu, Siauw-jin bertanya.

"Kau mempunyai akal apa? Bagaimana?"

"Hm, mudah. Aku menggunakan topengku kalau menghadapi tua bangka itu, Suhu. Kalau aku kalah, aku dapat melarikan diri tanpa diketahui. Kalau aku menang, aku dapat membuka topengku dan menunjukkan siapa diriku!"

"Ah, bagus, ha-ha!" Sang Suhu tertawa bergelak. "Kau pintar, Togur. Kau cerdik. Ah, kau dapat mencoba itu dan boleh hadapi See-ong!"

"Dan kalian melindungiku," pemuda itu berkata, matanya tajam bersinar. "Kalau aku kalah, kalian harus melindungiku, Suhu. Sembunyikan aku kalau See-ong mengejar!"

"Tentu, kami dapat melakukannya. Bagaimana, Nenek Naga?"

Nenek Naga Bumi mengerutkan kening. "Hm, bagaimana, ya? Asal See-ong tidak tahu, tentu aku setuju, Siauw-jin. Tapi kalau See-ong tahu, aku khawatir kita semua celaka!"

"Bodoh, murid kita menggunakan topeng, tak perlu takut!"

"Benar, tapi kalau ilmu silat murid kita diketahui tentu berabe, Cebol. Togur harus memperhitungkan itu kalau benar-benar ingin selamat!"

"Ah, aku tidak akan menggunakan ilmu silat kalian," Togur membantah. "Aku hanya menggunakan Jing-sian-eng dan Khikang. Selebihnya aku dapat berhati-hati sendiri!"

"Nah," Siauw-jin tertawa, "kau dengar sendiri kata-kata Togur, Nenek Siluman. Tak perlu berkecil hati atau takut mendukung rencana murid kita!"

"Aku tidak takut, aku hanya berhati-hati..."

Ketika nenek itu merah mukanya mendengar tawa sang murid, berkelebat bayangan lain dan Cam-kong muncul.

"Hei!" kakek tinggi kurus itu berseru. "Kalian sedang apa di sini? Tak tahukah kalau See-ong memanggil?"

Lalu, tertegun melihat muridnya di situ, kakek ini mengerutkan kening dan bertanya, "Togur, kau sudah pulang? Mana puteri Pendekar Rambut Emas itu?"

"Dia gagal," Siauw-jin mendahului sambil menyeringai. "Kini Togur hendak menantang See-ong, Cam-kong. Kau bantulah dia dan mari dengar rencananya!"

"Apa?" kakek itu terkejut. "Mencari perkara?"

"Sst, dengar, Cam-kong. Togur penasaran karena tidak berhasil membawa puteri Pendekar Rambut Emas itu. Dia digagalkan Siang Le. Kau dengarlah rencananya sekarang dan lihat apa yang akan dia lakukan!"

Siauw-jin lalu menceritakan rencana muridnya, dan Cam-kong tertegun. Namun, ketika semua itu didengarnya baik-baik dan Togur akan menggunakan topeng untuk menyembunyikan wajahnya, kakek ini lega dan mengangguk-angguk.

"Baiklah, kita semua memang ingin bebas. Tapi harap Togur berhati-hati, jangan menggunakan ilmu-ilmu kita!"

"Ah, itu semua sudah dipikirkannya, Cam-kong. Murid kita akan lebih berhati-hati daripada yang kau kira."

"Baiklah, dan See-ong memanggil kita semua. Kakek itu marah karena muridnya pergi tanpa memberi tahu!"

"Ha, dan kita akan disuruh mencarinya? Keparat, tidak enak benar tunduk di bawah kekuasaan orang lain, Cam-kong. Kalau murid kita dapat mengalahkan See-ong atau paling tidak sejajar dan setingkat dengannya, tentu lebih baik kita menghamba pada murid sendiri!"

"Sudahlah," Togura berkata. "Kalian pergilah semua, Suhu. Dan bantu aku kalau See-ong belum mampu kukalahkan. Kalian harus melindungiku kalau aku terpaksa melarikan diri!"

Ketiga gurunya mengangguk. Cam-kong akhirnya kagum melihat keberanian muridnya, mendengar kata-katanya, dan semangatnya yang besar—keberanian seorang pemuda yang sedang berada di puncak semangat. Ketika pemuda itu berkelebat meninggalkan mereka, Cam-kong dan kedua temannya pun berkelebat memenuhi panggilan See-ong.

"Heh, kalian tidak tahu ke mana muridku itu pergi? Kalian benar-benar tidak tahu?"

Begitu See-ong marah-marah menegur tiga pembantunya ini ketika Siauw-jin dan yang lain muncul. Kakek tinggi besar itu melotot dan bertanya tentang muridnya yang menghilang tanpa memberi tahu. Ketika semua menggeleng dan menyatakan tidak tahu, kemarahan kakek itu memuncak. Siauw-jin disambar serta dibanting, disusul yang lain yang terkena tamparan dan tendangan.

"Kalian gentong-gentong kosong belaka. Kalian tak ada gunanya menjaga pulau!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment