Halo!

Istana Hantu - Chapter 67

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 67

"Heh, kalau begitu cari mereka, Siauw-jin. Cari muridku itu dan juga putra-putri Pendekar Rambut Emas!" Siauw-jin dan teman-temannya mengeluh. Mereka jatuh bangun dihajar See-ong. Siauw-jin dibanting hingga pantatnya keras menghantam batu; bagian bokong setan cebol itu robek separuh, sungguh lucu.

Ketika kakek itu mengumpat, meski tak berani mengucapkannya dengan mulut, ia memerintahkan kelima iblis itu agar mencari Siang Le yang mungkin sedang mengejar atau mencari putra-putri Pendekar Rambut Emas yang hilang bak siluman. Namun, saat See-ong sedang marah-marah dan menggeram, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dan tertawa di belakang kakek itu.

"Heh, kau marah-marah seperti kambing kebakaran jenggot, See-ong. Muridmu telah kutangkap dan siap kubunuh!"

See-ong terkejut. Dalam amarahnya, ia sempat lengah. Seorang pemuda muncul dan tahu-tahu berdiri di depannya seperti iblis. Kakek itu tertegun, terpaku, dan tak mampu mengeluarkan kata-kata.

"Kau siapa?" bentak See-ong akhirnya, menggelegar bagai gunung dihantam petir. "Bagaimana kau bisa datang ke tempat ini dan menyembunyikan muka? Tunjukkan wajahmu, anak muda, tak perlu bertopeng!"

"Ha-ha, kau bodoh. Orang yang datang seperti caraku ini jelas tak menghendaki dirinya dikenal, See-ong. Kalau kau ingin tahu siapa aku, cobalah buka topengku dan lihat bisakah atau tidak!"

"Keparat, apa maumu?"

"Menantang bertanding, aku ingin merobohkanmu..."

"Siut!" See-ong tiba-tiba berkelebat dengan kecepatan luar biasa. "Kau jahanam keparat! Kalau begitu, mampuslah!"

Pukulan dahsyat yang menyambar Togura—pemuda itu—tiba-tiba ditangkis dan langsung bertemu *Khi-bal-sin-kang*.

"Dess!" See-ong berteriak kaget. Kakek iblis itu terpental berjungkir balik; pukulannya membalik dan menghantam dirinya sendiri. Namun, karena See-ong adalah kakek sakti, ia berhasil mematahkan daya tolak serangan itu dan melayang turun dengan wajah berubah.

"Jahanam keparat! *Khikang*! Bedebah, siapa kau anak muda? Kau memiliki *Khi-bal-sin-kang*?" seru See-ong dengan mata melotot sebesar jengkol. Ia terkesiap, memandang lawannya yang tertawa di balik topeng.

Ketika mereka kembali berhadapan, pemuda itu berseru, "See-ong, coba kau tebak siapa aku. Aku enggan memperkenalkan nama. Kalau kau cerdas dan tidak berotak kerbau, tentu kau mengenal siapa aku!"

See-ong tertegun. Dalam gebrak kilat tadi, ia merasa guncang. *Khikang* adalah ilmu yang hanya diwarisi keluarga Pendekar Rambut Emas beserta istri dan anak-anaknya. Karena putra Pendekar Rambut Emas hanya satu, yakni Thai Liong, kakek itu sempat mengira lawannya adalah Thai Liong. Namun, ia ragu karena perawakan pemuda itu lebih tinggi besar daripada Thai Liong.

Melihat keraguan itu, sang pemuda tertawa, "Nah, tidak tahu juga? Ha-ha, kau memang tolol, See-ong. Orang tolol macam kau ternyata bercokol di Sam-liong-to. Heh, aku ingin merebut pulau ini. Berikan baik-baik atau kau kutundukkan dan kuhajar dulu!"

Kemarahan See-ong meledak. Ia mengeluarkan teriakan nyaring dan menghilang menggunakan ilmu hitamnya, *Hek-kwi-sut* (Lebur Bersama Iblis).

"Slap!" Kakek itu lenyap. Togura berteriak waspada karena angin pukulan dahsyat menyambar dari belakang punggungnya. Pemuda itu segera melindungi diri dengan *Khi-bal-sin-kang*.

"Plak-dess!" Togura terbanting dan bergulingan, namun *Khikang* miliknya berhasil melindungi diri. See-ong pun tampak terkejut karena dirinya sendiri ikut terpental. Kakek itu terus menyerang dengan berkelebat, meski tak tampak. Togura jatuh bangun, namun ia terus mengejek, "Hayo, kerahkan semua tenagamu, See-ong. Pukulanmu terlalu empuk, selembut telapak tangan wanita!"

"Keparat, kurenggut topengmu, anak muda!"

See-ong kini menyerang ke arah wajah. Togura terpaksa menangkis setiap angin pukulan. Ketika mereka sama-sama terpental, kakek itu menggeram seperti harimau yang dicabuti kumisnya. Ia mulai letih, sementara pemuda itu masih tampak perkasa meski bermandi keringat. Saat Togura menantang untuk bertanding secara terbuka, kakek itu membuang ilmu *Hek-kwi-sut*-nya.

"Baik, coba kau robohkan aku, anak muda!"

"Ha-ha, baik, jaga ini, See-ong!" *Plak-dess!* Togura membalas, membuat kakek itu bergoyang. Pemuda itu menyerang lagi, namun hanya membuat si kakek bergoyang sedikit. Tiba-tiba, saat Togura menghantam, See-ong mengelak dan jari kakek itu menyambar cepat, merenggut topeng pemuda itu.

"Rrt-dess!" Togura terlempar dan langsung bergulingan untuk menutupi wajahnya. See-ong memaki karena tidak sempat melihat wajah lawannya. Saat See-ong mengejar, pemuda itu melarikan diri.

"Hei, tunggu! Perlihatkan wajahmu!" See-ong melepaskan pukulan, namun lawannya melarikan diri sambil memancingnya berputar-putar di Sam-liong-to. Kakek itu teringat lima pembantunya dan bersuit nyaring. Siauw-jin dan kawan-kawannya muncul.

Kakek cebol itu berpura-pura menyerang muridnya. Togura menangkis dengan tahu siasat gurunya, membuat Siauw-jin terbanting dan kakek itu memekik pura-pura kesakitan. Nenek Naga pun berbisik, "Togura, kau larilah ke bukit batu karang itu. Kami siapkan lubang untukmu!"

Nenek itu mencelat, pura-pura mengaduh saat ditepis, sementara Cam-kong juga berpura-pura terpental. Saat pemuda itu menghilang, See-ong membentak kelima pembantunya dengan marah. Siauw-jin dan yang lain hanya mengumpat sambil pura-pura mengejar.

"Haram jadah! Pemuda itu pasti bersembunyi. Ayo cari!"

Namun, kakek itu tidak akan pernah menemukan Togura, karena Nenek Naga Bumi dan kawan-kawannya telah melindunginya. Sementara itu, Togura tertawa kecil setelah berkumpul kembali dengan gurunya.

"Nah," pemuda itu gembira, "bagaimana, Suhu? Kalian melihat pertandinganku?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment