Chapter 68
"Kau hebat, Togur. Kau dapat menandingi See-ong, tapi kau belum dapat mengalahkannya!"
"Hm, itu soal kedua. Yang penting sekarang kalian tak perlu takut kepada kakek itu, Suhu. Aku dapat melindungi kalian. Sekarang aku ingin membawa kalian keluar dari Sam-liong-to!"
"Apa?"
"Benar, kalian mau, bukan?"
"Ah, tentu kami mau, Togur. Tapi kami ragu terhadap See-ong!"
"Eh, kalian mau tetap tinggal di sini atau bagaimana?" Togura tampak tidak puas. "Bukankah See-ong tak perlu ditakuti lagi? Kalau dia marah-marah, aku dapat melindungi kalian, Suhu. Tak usah ragu atau takut!"
"Bukan begitu," Cam-kong tiba-tiba bicara. "Di sana masih ada Siang Le, Togur. Siauw-jin hendak mengingatkan dirimu bahwa kakek itu masih mempunyai murid!"
"Hm, tak apa. Kalian rupanya berhati kerdil. Siang Le dan kalian tak akan menang, Suhu. Kalau bocah itu pun membuat kalian ketakutan, maka biarlah kalian menjadi budak See-ong. Aku pergi sendiri!"
Togura tampak tidak senang dan memandang marah kepada kelima gurunya, serta Siauw-jin dan kawan-kawannya yang terkejut. Tentu saja mereka juga ingin bebas dan tidak di bawah kekuasaan See-ong yang merampas kemerdekaan mereka. Maka, begitu sang murid mau pergi dan siap berkelebat, tiba-tiba serentak semuanya menahan dan berseru sambil berloncatan.
"Nanti dulu. Tunggu, Togur, kami mau...!"
"Hm, begitu," pemuda ini tertawa bersinar-sinar. "Kalian jangan penakut, Suhu, terus terang aku jadi tak senang. Bukankah kalian diperintahkan mencari Siang Le? Nah, kita berangkat, sekalian pergi!"
Lima gurunya tertegun. Mereka teringat akan hal itu, mengangguk, dan berseri-seri. Ketika semua setuju dan tidak keberatan, Siauw-jin tertawa bergelak mendahului muridnya.
"Benar, sungguh tolol sekali. Bukankah kita mendapat kesempatan dengan perintah ini? Ha-ha, kita terlampau penakut, Nenek Naga. Kita harus malu kepada murid sendiri yang demikian gagah!"
Yang lain tersenyum. Memang mereka mendapat kesempatan keluar pulau karena See-ong meminta agar muridnya dicari. Siang Le telah meninggalkan Sam-liong-to tanpa izin. Ketika mereka berlompatan dan sebentar kemudian sudah berkelebat menyambar perahu, Togura sudah berada di tengah-tengah gurunya di dalam perahu tersebut.
"Heh-heh, kita memang pelupa, Siauw-jin. Agaknya kita semua pikun!"
"Benar, kita masih terlalu takut terhadap See-ong. Aih, kita tak boleh mengecewakan murid kita, Nenek Naga. Togur sudah dapat diandalkan dan dapat melindungi kita!"
Demikianlah, kakek dan nenek-nenek iblis itu tertawa di dalam perahu mereka. Mereka menepuk-nepuk dahi sendiri dan memaki diri sendiri. Togura tersenyum-senyum dan membiarkan dirinya disanjung-sanjung.
Ketika tak lama kemudian mereka sudah menyeberang dan Sam-liong-to tidak kelihatan lagi di belakang, pemuda ini berkelebat keluar dan berjungkir balik mendahului gurunya.
"Suhu, kita berlomba!"
Gurunya terkejut. Pemuda itu sudah lenyap terbang ke depan menggunakan Jing-sian-eng, dan tentu saja kakek serta nenek-nenek iblis itu terbelalak. Mereka tak mungkin menang. Tapi, karena sang murid sudah mengajak, mau tak mau mereka harus mengejar. Nenek Naga Bumi berseru keras dan tertawa, mengerahkan ginkangnya, berkelebat menyusul pemuda itu, dan sebentar kemudian yang lain-lain juga meniru.
Mereka menggerakkan kaki dan terlihatlah lima bayangan yang berkelebat tidak lumrah seperti manusia lagi; lenyap, muncul di sana, untuk akhirnya menghilang lagi. Cepat dan melebihi siluman, kakek-kakek dan nenek iblis ini keluar masuk hutan, muncul, dan sebentar kemudian beterbangan di antara padang rumput.
Namun, ketika mereka tak dapat mengejar sang murid dan Togura lenyap entah ke mana, lima orang itu akhirnya cemas dan memanggil-manggil.
"Togur, tunggu! Kami tak dapat menyusulmu...!"
"Benar, jangan terlampau cepat, anak baik. Kami sudah letih dan mandi keringat!"
"Ha-ha!" suara itu tiba-tiba terdengar di depan. "Aku di sini, Suhu. Ayo susul dan percepat gerak kaki kalian!"
Lima orang tua itu terbelalak. Mereka sudah ngos-ngosan seperti kuda yang memburu napasnya, tak kuat, dan capai. Tapi, karena Togur ada di depan dan suara pemuda itu rupanya dekat, lima orang ini memaki dan kembali berkelebat cepat. Namun, apa yang dilihat? Tak ada apa-apa. Murid mereka itu entah di mana dan kembali mereka memanggil. Tapi ketika terdengar jawaban di depan sana dan mereka mengejar, ternyata murid mereka tidak ada lagi.
"Keparat, jangan permainkan kami, Togur. Kami sudah tua-tua!"
"Ha-ha, aku di sini, Suhu. Lihat!"
Togura yang berjungkir balik di belakang guru-gurunya tiba-tiba sudah ada di situ dan tertawa-tawa melihat gurunya melotot. Tadi pemuda ini duduk di atas pohon, tinggi sekali, menunggu gurunya. Ketika gurunya memaki-maki dan mereka jatuh terduduk dengan napas putus-putus, Ji-moi memaki muridnya dengan marah.
"Togur, kami sudah tua-tua, jangan dipermainkan. Kalau kami mampus, tentu kau juga rugi!"
"Ha-ha, tak usah sewot. Aku sengaja melatih kalian, Subo. Sudah lama kalian tidak diuji dan perlu latihan fisik. Bukankah kalian tak pernah lari-lari?"
"Apa? Kau menyuruh kami yang tua-tua ini untuk latihan fisik?"
"Ya, untuk menghadapi pekerjaan besar ini, Subo. Aku ingin menemui Pendekar Rambut Emas dan bertanding!"
"Gila!" kelima gurunya terbelalak. "Kau bisa ditangkap, Togur. Cermin Naga bisa dirampas kembali!"
"Tapi aku ingin menjajal kepandaianku, setelah dengan See-ong."
"Benar, tapi kalau di sana lain, Togur. Pendekar Rambut Emas itu dibantu istrinya yang sama lihai!"
"Aku tidak takut, aku tak gentar!"
"Hm, bukan masalah gentar atau tidak," Siauw-jin tiba-tiba meloncat, memasuki percakapan. "Tapi pencurianmu bisa segera diketahui, Togur. Dan sekali kau ketahuan, tentu hidupmu akan dikejar-kejar!"
"Aku tidak takut, aku dapat menyembunyikan diri dalam topeng!"
"Ah, kalau begitu kami yang kesulitan, Togur. Kami tak dapat membantumu!"
"Eh, kenapa begitu?"
"Tentu, meskipun kau bertopeng, tapi kalau kami muncul membantumu, maka Pendekar Rambut Emas dapat menduga bahwa kaulah pencurinya, Togur. Karena yang menjadi murid Enam Iblis Dunia hanyalah kau!"
"Hm, jadi bagaimana?"
"Sebaiknya kita main-main dulu, ke istana mengobrak-abrik!"
"Ha-ha, watakmu!" Togura tertawa bergelak. "Kau selalu suka membuat onar, Suhu, tapi aku tak ingin ke sana!"
"Kalau begitu kita menjungkirbalikkan dunia kang-ouw saja, kita datangi ketua-ketua partai dan culik mereka!"
"Ah, aku tak setuju. Bagaimana kalau murid kita menjadi raja?" Naga Bumi, nenek yang tampak bangga itu, tiba-tiba berseru. "Aku ingin murid kita sama dengan Kim-mou-eng, Siauw-jin, menjadi raja atau kaisar!"
"Maksudmu?"
"Kita tempatkan murid kita pada tempat yang tertinggi. Kita jadikan dia raja atau kaisar!"
"Hm!" Togura bersinar-sinar. "Kalau begitu kita ke kota raja?"
"Benar, kalau kau suka, Togur. Dan Kim-mou-eng ataupun See-ong akan kalah tinggi kedudukannya denganmu!"
"Ha-ha, boleh. Kalau begitu aku setuju!" pemuda ini tiba-tiba tertawa lagi, bergelak. "Kalau ke kota raja ada maksud dan tujuannya tentu saja aku mau, Subo. Tapi kalau hanya sekadar mengobrak-abrik, aku tak suka!"
"Nanti dulu," Cam-kong tiba-tiba berkata. "Kaisar dan para pembantunya boleh kita tundukkan, Nenek Naga. Tapi rakyat dan orang-orang lain belum tentu dapat!"
"Ah, kau mengecilkan niat ini?"
"Bukan begitu, hanya harap diingat bahwa menguasai kaisar bukan berarti menguasai rakyat, Nenek Naga. Dan menjadi raja atau kaisar tanpa pendukung rakyat tentulah tidak ada artinya!"
"Hm!" semua orang tertegun, teringat itu. Ketika mereka sadar bahwa menguasai kaisar belum tentu menguasai rakyat, maka Naga Bumi termangu dan nenek ini tampak kecewa.
"Sialan, kau menghancurkan gagasanku, Cam-kong. Kau tua bangka keparat!"
"Ha-ha, tak perlu memaki!" Siauw-jin tiba-tiba berjingkrak. "Gagasanmu tetap dapat dilaksanakan, nenek bau. Aku tahu cara yang tepat untuk ini!"
"Bagaimana?"
"Kita mendatangi bangsa liar di utara, saingan bangsa Tar-tar. Kita kuasai mereka dan tundukkan pemimpinnya!"
"Huh, sama saja. Caramu setali tiga uang, cebol. Kita tak akan berhasil dan murid kita hanya menggigit jari!"
"Tidak, kau salah. Bangsa liar dan bangsa Han jelas berbeda, nenek goblok. Bangsa liar masih belum mapan sementara bangsa Han sudah mapan. Mengganggu yang mapan memang bisa menimbulkan masalah, tapi memasuki yang belum mapan justru bisa menciptakan kemapanan. Ha-ha, kau bodoh tak dapat mencerna kata-kataku, nenek siluman. Tapi Cam-kong tentu tahu semua kata-kataku!"
Cam-kong tertegun. Nenek Naga Bumi melotot karena dimaki sebagai nenek goblok; kalau bukan Siauw-jin, tentu sudah dihajar dan dibantingnya mampus. Tapi ketika Cam-kong mengangguk-angguk dan rekannya yang tinggi kurus itu tersenyum aneh, tiba-tiba kakek ini batuk-batuk.
"Ah, cerdik sekali," kakek ini memuji. "Kau patut menjadi penasihat kami, Siauw-jin. Kata-katamu betul dan baru aku sekarang sadar."
"Maksudmu?" Nenek Naga Bumi penasaran. "Coba jelaskan ucapan setan cebol ini, Cam-kong. Barangkali kami kaum wanita memang kurang cerdas!"
"Ha-ha, wanita memang goblok! Kami kaum lelaki memang lebih cerdas, nenek bau. Dan dengar apa kata-kata Cam-kong!"
"Diam kau!" nenek ini membentak. "Jangan menjelek-jelekkan kaum wanita, cebol tengik. Atau kami akan menyerangmu dan membungkam mulutmu, tiga lawan dua!"
"Eh-eh, tak usah bertengkar," Togura melerai. "Kita di sini untuk menyatukan pendapat, Subo. Harap tak usah disimpan di hati kata-kata Siauw-jin ini. Dan kau..." katanya memandang Siauw-jin. "Tak usah mengejek, Suhu. Atau kalian semua kuhajar dan kucopoti lidahnya!"
Aneh, Siauw-jin menyeringai dan tertawa masam. Nenek Naga Bumi juga melotot namun tidak banyak bertingkah lagi; murid memarahi guru agaknya lazim! Ketika semuanya diam dan Cam-kong tertawa geli, maka kakek tinggi kurus itu mengurai kata-kata Siauw-jin.
"Siauw-jin benar, dan kata-katanya tepat. Terus terang aku kagum. Yang dimaksud si cebol ini adalah mendatangi suku-suku liar di utara, Nenek Naga, menundukkan mereka dan menunjukkan kepada mereka kekuatan kita."