Chapter 69
Mereka adalah bangsa pengembara, liar, dan sehari-harinya suka adu otot. Kalau kita dapat menundukkan mereka dengan kepandaian kita, maka tak ayal lagi mereka pasti tunduk luar dalam kepada kita; semuanya, bukan hanya pemimpinnya saja, melainkan beserta pengikutnya dan rakyat! Bukankah mereka adalah orang-orang yang berwatak keras dan hanya tunduk kepada kegagahan? Nah, kalau kita mampu menunjukkan kepada mereka kegagahan kita, tentu mereka menjadi pengikut yang patuh, Nenek Naga. Togur dapat menjadi raja di sana dengan dukungan penuh rakyatnya. Ini yang dimaksud Siauw-jin!
"Oh!" Nenek Naga tertegun. "Jadi itu kiranya?"
"Ya, dan bangsa liar berbeda dengan bangsa Han, Nenek Naga. Bangsa Han adalah orang-orang sombong yang sudah merasa senang dipimpin kaisarnya, yang katanya titisan Dewa. Dan kalau bangsa Han pongah dengan sikapnya itu, maka bangsa liar seperti Khitan atau Uighur di luar tembok besar adalah bangsa yang hanya mau dipimpin oleh orang-orang yang kuat, lelaki-lelaki perkasa yang sanggup dan berani membuktikan dirinya sebagai laki-laki istimewa, tak percaya pada segala titisan yang banyak omong kosong itu!"
"Ha-ha, jelas?" Si Iblis Cebol terbahak. "Itu yang kumaksudkan, Nenek Siluman. Dan murid kita dapat menjadi raja dengan dukungan penuh. Apalagi dia adalah keturunan Gurba, pemimpin atau pahlawan bangsa Tartar, suheng Pendekar Rambut Emas!"
Semua sadar. Tiba-tiba mereka menjadi gembira karena itulah rencana yang bagus dan matang. Togura sendiri mengangguk-angguk. Diingatkan tentang ayahnya sendiri yang gagah perkasa dan bekas pemimpin bangsa Tartar, pemuda ini bersinar matanya dan bangga. Kelima gurunya juga bangga karena murid mereka bukanlah keturunan sembarangan. Pemuda ini adalah putra mendiang Gurba, suheng Kim-mou-eng, yang kedahsyatan dan kesaktiannya sudah mereka dengar.
Tapi ketika mereka berseri-seri dan siap menyatakan setuju, mendadak Toa-ci, nenek yang jarang bicara, mengangkat lengannya. "Nanti dulu, rencana ini memang bagus. Tapi bagaimana melaksanakan ini, Cam-kong? Apakah kita berlima harus maju berbareng? Maksudku, apakah kita harus bergerombol seperti anak-anak kecil begini?"
"Hm, aku kurang jelas. Bagaimana maumu?"
"Heh, heh, sekarang pihak laki-laki yang tolol!" Nenek Naga mengejek, mendahului temannya. "Yang ditanyakan Toa-ci adalah apakah kita semua harus berbareng menghadapi bangsa-bangsa liar itu, Cam-kong? Bukankah seorang di antara kita saja cukup? Kalau ini dapat dimengerti dan benar, maka Toa-ci hendak memaksudkan bahwa sebaiknya kita melakukan sekali tepuk, lima enam lalat tertangkap!"
"Aku tak mengerti," Cam-kong mengerutkan kening. "Coba kau jelaskan, Nenek Siluman. Dan biar Siauw-jin atau Togur mendengarkan ceritamu."
"Kalian bodoh. Suku-suku bangsa liar di luar tembok besar amatlah banyak. Yang baru dapat bersatu hanya beberapa saja, di antaranya adalah bangsa Tartar itu. Kalau kita beramai-ramai menundukkan suku bangsa pertama untuk kemudian pergi dan mencari lagi suku bangsa yang lain, maka pekerjaan ini terlalu lama. Toa-ci hendak meminta agar kita berpisah dan melaksanakan tugas sendiri-sendiri, tentu saja merencanakan dulu di mana kita berkumpul atau memusatkan diri setelah semua tugas dilaksanakan masing-masing dari kita!"
"Ah, begitukah?"
"Ya, begitu, Cam-kong. Dan kau boleh tanya apakah betul atau tidak!"
"Memang betul," Nenek Toa-ci menjawab, bersinar-sinar. "Aku hendak meminta itu kalau kalian setuju, Cam-kong. Dan kalau Togur suka, maka sekali tepuk beberapa lalat tertangkap!"
"Ha-ha, cerdik!" Siauw-jin akhirnya terbahak, gembira. "Kau benar, Nenek Siluman. Aku setuju!"
"Dan aku juga," Cam-kong mengangguk, akhirnya kagum. "Kau cerdas, Nenek Bau. Rupanya kaum wanita pembicaraannya hanya dapat dimengerti oleh kaum wanita pula!"
"Hih-heh, dan kau?" Nenek Naga memandang muridnya. "Bagaimana, Togur? Setujukah?"
"Aku setuju," pemuda ini ternyata mengangguk. "Kau benar, Subo. Tapi beritahukan bagaimana selanjutnya."
"Tanya saja Toa-ci. Eh, bagaimana selanjutnya, Toa-ci?"
"Kita berpencar, masing-masing mencari atau mengumpulkan suku-suku Khitan dan lain-lain. Satu di antara kita bergerak di tengah, yang lain akhirnya menuju ke sini dan menyatukan diri."
"Hm, bagaimana itu? Siapa yang di tengah?"
"Togur sebaiknya menuju suku U-min Naga Bumi, di situ bercokol pemimpinnya bernama Cucigawa. Kita yang lain-lain bergerak di luarnya menundukkan suku-suku Uighur atau Khitan, berkumpul, dan akhirnya menyatu dengan bangsa U-min ini setelah ditundukkan Togur!"
"Ha-ha, manis sekali!" Siauw-jin tertawa bergelak. "Kau cerdik dan ternyata pintar, Toa-ci. Bangsa U-min hampir setara dengan bangsa Tartar. Tapi kudengar suku bangsa ini dekat dengan kaisar, padahal kaisar dekat dengan Kim-mou-eng. Bagaimana ini?"
"Itulah, siapa yang dekat dengan Kim-mou-eng adalah musuh kita, Siauw-jin. Karena itu, biarkan murid kita menguasai bangsa ini agar hubungannya dengan kaisar kacau, berarti membalas pula dendam kita kepada Kim-mou-eng!"
"Ah, ha-ha... cerdik sekali, pintar! Eh, aku lagi-lagi setuju, Nenek Siluman. Dan kita siapkan rencana matang untuk menggempur Kim-mou-eng!"
"Nanti dulu, jangan tergesa-gesa," Nenek Toa-ci tersenyum lebar. "Rencana itu merupakan rencana jangka panjang, Siauw-jin, sebaiknya dibicarakan belakangan."
"Benar," Cam-kong kini bicara. "Dengan mengumpulkan atau menguasai suku-suku bangsa liar ini berarti kita telah menyiapkan pasukan yang besar, Siauw-jin. Dengan menguasai dan mengendalikan mereka, maka mudah bagi kita untuk menggempur Kim-mou-eng atau kaisar!"
"Ha-ha, cocok. Kalau begitu kita tentukan siapa yang menundukkan bangsa-bangsa Khitan atau Uighur. Aku pilih ke Khitan, lebih dekat, ha-ha!"
"Hidungmu!" Nenek Naga memaki. "Kau selalu mau cari enaknya, Siauw-jin, tak mau bersusah payah sedikit!"
"Sudahlah," Toa-ci menjawab. "Siauw-jin boleh ke Khitan, Naga Bumi. Kau ke Uighur dan aku serta yang lain ke suku-suku bangsa lain. Togur ke suku bangsa U-min, bagaimana?"
"Boleh," pemuda ini menjawab, berseri-seri. "Aku setuju, Subo. Dan kalian semua nanti ke sini. Eh, siapa nama pemimpin bangsa ini?"
"Cucigawa, Raja Cucigawa."
"Ha-ha, baik. Kalau begitu kita cepat saja berangkat!"
Togur yang tak menunggu gurunya lagi lalu berkelebat dan meminta agar guru-gurunya tidak banyak bicara lagi. Ia berangkat untuk menaklukkan suku-suku bangsa kecil lainnya agar disatukan dengan bangsa U-min yang dipimpin Cucigawa. Begitu pemuda itu berkelebat dan lenyap sambil tertawa, berturut-turut Siauw-jin dan yang lain menggerakkan kakinya menuju masing-masing bangsa yang dipilih. Siauw-jin menuju Khitan, sementara Nenek Naga Bumi menuju bangsa Uighur, tentu saja menimbulkan kegemparan di tempat-tempat itu. Ketika Nenek Naga Bumi dan yang lain sudah menjalankan tugasnya, Togura mendatangi bangsa U-min untuk menghadapi Raja Cucigawa.
"Hei, lepaskan aku. Aduh, tolong... tolong...!" Togura sudah membuat ribut ketika mendatangi tempat Cucigawa. Seorang gadis manis yang sedang membawa air tiba-tiba disambar dan menjerit-jerit karena Togura main remas dan cubit. Gadis itu cukup bahenol dan montok; selera muda murid Enam Iblis Dunia ini bangkit dan segera saja Togura melakukan aksinya. Ketika gadis itu menjerit-jerit dan pemuda tinggi besar ini membawanya lari ke perkemahan bangsa U-min itu, ribut dan gemparlah semua orang melihat ulahnya.
"Hei, lepaskan kekasihku!" Seorang pemuda tinggi tegap tiba-tiba muncul di kiri jalan, berlari dengan sebatang lembing di tangan kanannya yang bergetar. Togura tertawa-tawa dan tentu saja tidak takut. Ketika pemuda itu membentak dan menyerangnya, pemuda ini menggerakkan lengan menangkis.
"Krak!" Tombak atau lembing itu patah. Togura membuat kaget dengan tendangan kaki kirinya yang langsung membuat lawannya terlempar. Ketika pemuda itu berteriak dan Togura lari tertawa-tawa, pemuda ini mulai menantang Raja Cucigawa. "Hei, aku ke sini ingin bertanding. Suruh raja kalian keluar dan hadapilah aku!"
Teriakan atau seruannya ini tentu saja membuat marah. Bangsa itu geger, semua orang keluar rumah dengan senjata di tangan. Mereka mengira dia adalah Ituchi atau temannya, maklumlah, mereka baru saja diserang pemuda itu dan Ituchi juga tinggi besar seperti murid Siauw-jin ini. Togura berkulit coklat dan kehitaman seperti putra Raja Hu, dari kejauhan hampir mirip. Namun, ketika semua melihat bahwa pemuda ini bukan Ituchi, terkejut dan heranlah semua orang, juga marah.
"Hei, lepaskan gadis itu!"
Pemuda ini tertawa-tawa. Lima orang tiba-tiba maju menerjang, pakaiannya seperti prajurit dan tahulah Togura bahwa penjaga mulai melihatnya. Tadi dia masuk secara lihai dan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya, tidak diketahui, dan baru setelah dia menyambar gadis cantik itu dia memperlihatkan diri. Ketika lima orang itu menusuk, sementara pemuda kekasih gadis ini berteriak dan melompat bangun, Togura mempergunakan kepandaiannya yang luar biasa. Hilanglah pemuda itu dari pandangan lawan, melejit bersama *Jing-sian-eng* (Bayangan Seribu Dewa).
"Haii..!" "Siluman..!" Orang-orang itu ribut.
Mereka terkejut dan gempar karena lawan tahu-tahu menghilang, padahal mereka menusuk dan yakin bahwa lawan tak akan lolos. Namun, ketika lawan menghilang dan lenyap entah ke mana, mereka mendengar teriakan di sebelah kanan, diikuti jerit atau terlemparnya tubuh.
"Aduh..!" "Bangsat... des, dess!"
Mereka menengok. Ternyata pemuda yang mereka sangka siluman itu sudah berada di situ, mengibas dan meroboh-robohkan teman mereka yang lain yang sudah berdatangan. Tapi ketika semua terdorong dan pemuda itu tertawa-tawa, dia sudah berkelebatan di depan bagai siluman atau bayangan yang menyambar-nyambar.